
"walau bagaimana pun, kami juga harus meminta maaf. Semua ini tidak akan terjadi jika kami tidak terpengaruh hasutan orang lain" ujar Anita merasa sangat tidak enak hati pada Baron dan Luna.
"nyonya Anita... anda jangan terlalu sungkan. aku melakukan ini semua atas permintaan Luna, jadi mari kita lupakan apa yang terjadi" ujar Baron sembari menikmati hidangan yang tersedia.
Mata tua Baron menatap ke arah Leon yang terlihat wibawa,
“Leon... Dari apa yang aku lihat dan aku ketahui, kamu memiliki hubungan serius dengan cucuku Luna. Apakah benar?!” tanya Baron menatap lama ke arah Leon. Pria tampan itu membalas menatap ke arah Baron dengan kepercayaan diri yang tinggi,
“ benar Ojisan, aku sangat mencintai dan menyayangi Luna. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Luna di sisiku Bahkan setelah hari kelulusan Luna, aku akan datang menemui ojisan bersama daddy dan mommy untuk melamar Luna” ujar Leon mantap dan serius dengan apa yang di katakannya pada Baron, pria yang sudah berumur itu menatap dalam ke arah mata Leon. Tercermin keyakinan yang kuat dan Baron sama sekali tidak menemukan adanya keraguan dalam diri Leon.
Penilaian ku sejak awal tentang pemuda ini memang tidak salah, dia sangat pantas untuk cucuku Luna. Sikap dan keteguhan dalam dirinya sama sekali tidak membuatku sangsi... Aku tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan, beberapa tes lagi untuknya gumam Baron dalam hati bersikap tenang,
“Ojisan?! Apa kamu sudah layak memanggilku Ojisan?! Apa kamu yakin kamu pantas dan layak untuk cucuku Luna?!” ujar Baron membuat Raymond dan Anita menatap ke arahnya, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar. Anita menatap ke arah Raymond seolah bertelepati padanya,
Ini semua gara-gara Daddy, tidak mungkin tuan Baron tidak merasa tersinggung dengan sikap daddy pada Luna gumam Anita dalam benaknya memarahi Raymond.
Ini juga di luar kemampuan daddy, siapa yang bisa menduga kalo Luna cucu dari Tuan Baron gumam Raymond dengan raut wajah bersalah.
Leon diam sejenak lalu menatap ke arah Baron yang membalas menatap dingin ke arahnya,
“pantas atau tidaknya (mata tajam itu menatap ke arah Baron) Ojisan dan Luna bisa menilainya, aku sangat percaya diri dengan diri ku sendiri. Tentunya ojisan sudah mengetahui dan menilai dengan baik” ujar Leon, sebelah tangan Leon meraih gelas anggur dan meminumnya. Mata tajam itu tidak lepas menatap ke arah Baron yang menikmati teh hangat yang di hidangkan waiter.
Mata tua Baron menatap dingin ke arah Leon,
Sangat Arrogant, Dia memang layak di perhitungkan gumam Baron dalam hati.
Perlahan tatapan dingin itu berubah menghangat seiring dengan senyuman tersungging di bibir Baron, raut wajah terlihat senang melihat kesungguhan dalam diri dan keberanian Leon.
__ADS_1
“hahahaha.... anda sangat beruntung memiliki putra yang membanggakan seperti Leon. CEO terkenal, mapan dan arrogant dalam berbisnis, tidak gegabah dan memikirkan segala sesuatu dengan matang. Aku sangat tenang menyerahkan Luna pada mu” ujar Baron memberi lampu hijau pada Leon.
Raymond dan Anita yang tampak khawatir juga canggung ikut tersenyum senang dengan apa yang di katakan Baron, rasa bangga menyelimuti hati Anita juga Raymond pada Leon yang bersikap tenang.
“anda terlalu memuji tuan Baron, kemampuan Leon putra kami masih belum ada apa-apanya dengan anda yang seorang legend dalam dunia bisnis. Tentunya Luna mewarisi kehebatan anda, di usia muda dia sudah menjadi CEO dari perusahaan besar” ujar Anita merendah.
“aku tidak melakukan apa pun nyonya Anita, malahan semua itu adalah usaha Luna sendiri bersama sahabatnya Kiandra. Dia malah melarang ku untuk ikut campur dan menyembunyikan identitas sebenarnya dari mata dunia, karena itulah aku merasa tidak ragu menyerahkan Luna pada Leon” ujar Baron membuat kupu-kupu beterbangan dalam hati Leon.
Baron teringat dengan acara yang akan di adakan besok Lusa di kediamannya,
“Tuan Raymond, besok lusa adalah hari upacara peringatan kematian kedua orang tua Luna, jika anda tidak keberatan aku mengundang anda untuk datang” ujar Baron mengundang Raymond dan keluarga Willson.
“suatu kehormatan bagi saya dan keluarga untuk bisa ikut upacara penting ini” ujar Raymond tersenyum hangat.
Luna melihat Kaila yang melihat ke arah berlawanan dari tempat dia datang, dengan hati-hati Luna melangkah sambil terus memperhatikan Kaila yang melihat ke arah berlawanan. Setelah sampai di depan kamar kecil sebelah tangan Luna membuka pintu, di saat bersamaan Kaila melihat ke arah belakangnya dan terkejut melihat Luna yang terlihat baru keluar dari kamar kecil.
“ kakak ... kakak tadi ada di kamar kecil, kebetulan tadi saat keluar dari kamar kecil kakak bertemu dengan orang yang kakak rasa kenal. Jadi, kami berbicara sebentar di tempat lain” Luna memberi alasan yang cukup meyakinkan Kaila yang langsung ber’o’ ria.
“o iya.. Kaila ada apa mencari kakak?” tanya Luna masuk ke dalam kamar kecil dan berdiri di depan wastafel kamar kecil. Dia meletakkan tangan tepat di bawah mesin sabun cuci tangan, lalu membasuh bersih tangan di bawah guyuran air keran.
“hmmm itu... sebenarnya suasana di meja makan sedikit mencengkam, membuat Kaila merasa gugup. Jadi Kaila ke kamar kecil mencari kakak” ujar Kaila yang berdiri di samping Luna yang sedang mengeringkan tangannya.
Luna paham apa yang di rasakan Kaila, dia yakin saat ini Baron tengah menguji keseriusan Leon terhadap dirinya.
“Lebih baik kita kembali sekarang, sebelum mereka semua khawatir dan mengerahkan orang untuk mencari kita” ujar Luna mengajak Kaila kembali ke meja, kening Kaila berkerut ssaat mendengar ucapan Luna.
“mengerahkan orang? Maksudnya kak?” tanya Kaila berjalan beriringan dengan Luna.
__ADS_1
“dulu saat kakak masih kecil, ojisan dan kedua orang tua kakak sedang menghadiri pertemuan. Karena begitu asyik memperhatikan suasana di luar ruangan kakak sempat tersesat di tempat pertemuan itu, ojisan begitu khawatir sampai mengerahkan bawahannya untuk mencari kakak” Luna menceritakan apa yang pernah di alaminya pada Kaila, senyuman manis tersungging di wajah cantik Luna saat mengenang masa kecilnya.
“pasti saat itu sangat heboh ya kak?!” tanya Kaila penasaran.
“tidak hanya heboh saja semuanya sangat panik. Hari itu ojisan menyuruh orang untuk melakukan pencarian besar-besaran”
“lalu apa yang terjadi kak?”
“saat itu kakak sama sekali tidak mengetahui jika ojisan menyuruh orang untuk melakukan pencarian besar-besaran, kakak dengan tenang dan polos kembali ke ruang pertemuan sendiri”
“hahahahaha... Kaila bisa membayangkan bagaimana wajah semua orang melihat kakak dengan tenang ada di ruang pertemuan” Kaila tertawa mendengar cerita Luna, begitu juga dengan Kiandra yang berada di ruang kerjanya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1