Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 40


__ADS_3

Kagak ma juga gua berurusan ama ntu kucing betina, bagusan gue ikut nyari kesenangan bareng nich anak gumam Adam mengikuti Hugo, sebelum dia keluar dari lokasi pesta dai menyuruh body guard Leon untuk beristirahat di hotel itu.


Para body guard Leon saling berpandangan lalu menatap kembali ke arah Adam yang secara ambigu menjelaskan kondisi tuan muda mereka. Di lain tempat Hana tampak kesal dan marah, hatinya begitu panas karena rencananya gagal total.


Panas yang di rasakan Hana tidak sebanding dengan rasa panas yang di rasakan ular sanca saat itu. Pergerakan ular sanca sangat liar membuat suara nyanyian merdu keluar dari mulut Luna menggema di kamar itu. Peluh keringat membasahi mereka berdua yang masih bergelut dengan semangat yang menggebu-gebu, ular sanca bergerak keluar masuk hingga dia merasa pening dan memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya.


Cairan itu begitu banyak hingga merembes keluar dari jalan gua, mata cantik itu menatap sayu ke arah Leon yang masih berada di atasnya. Luna mengira jika permainan mereka sudah berakhir dan berusaha untuk mendorong Leon segera menyingkir. Namun di luar perkiraannya, gerakan yang di lakukan Luna membuat ular sanca yang sudah muntah banyak kembali terbangun dengan kondisi prima.


Mata itu menatap horor ke arah Leon yang menatap balik ke arahnya dengan pengharapan, tanpa menunggu persetujuan Leon kembali beraksi. Hingga permainan itu kembali berlanjut dengan keganasan ular sanca yang bergerak bahagia di dalam gua sana.


Cowok breng**k hah hah sampai kapan dia mau hah hah... gumam Luna dalam hati terhenti karena dia tidak bisa berpikir apa-apa. Dia benar-benar sudah terbuai dan terhipnotis dengan perlakuan Leon yang bermain dengan gentle, penuh kelembutan tapi bisa bergerak kasar dan membuatnya semakin hilang akal.


Mata elang Leon sempat melihat bercak darah yang menempel di seprai putih ranjang itu,


Maafkan aku...maafkan aku... aku benar-benar telah salah paham padamu.... aku berjanji setelah ini aku akan bertanggung jawab padamu... kamu bisa melakukan apa pun untuk menghukum ku.... aku akan menerimanya.... jika perlu aku akan menikahimu dan menjadikanmu milikku untuk selamanya... gumam Leon dalam hati masih melanjutkan kegiatannya. Ular Sanca masih sangat senang bermain, sama sekali tidak membiarkan gua hangat dan terus bergerak.


Permainan itu belum berakhir hingga pagi pun menjelang, Luna sudah tidak sanggup menemani Leon bermain. Entah kapan dia sudah jatuh tertidur dan membiarkan ular sanca Leon bergerak sesuka hatinya.


Mata elang itu melihat wajah cantik Luna dengan mata yang terpejam dan nafas yang teratur, ular sanca sudah muntah untuk ke sekian kalinya. Leon jatuh di samping Luna yang membelakanginya, ular Sanca masih ada di dalam sana masih tidak ingin keluar dari gua hangat itu. Tangan kanan kekar Leon berada di bawah bantal Luna lebih tepatnya di bawah kepala gadis itu, tangan sebelah kiri Leon memeluk pinggang langsing itu.


Sebelum tidur Leon menarik selimut dengan sebelah tangannya menutupi kedua tubuh mereka yang tidak memakai satu helai benang pun. Mereka berdua jatuh tertidur menuju alam mimpi, seolah tidak ingin terpisah Leon terus memeluk dengan menautkan jari jemarinya pada jari jemari lentik Luna.


***


Hana tampak begitu kesal dan emosi, rencana yang sudah tersusun rapi gagal karena Leon yang menghilang. Setiap lantai sudah di periksa oleh anak buah Simon, dia juga memaksa untuk bisa mengakses CCTV. Namun kebijakan hotel melarang Hana untuk menggunakannya, bahkan pihak hotel tidak mengizinkan orang asing memasuki ruang CCTV karena menjaga privasi tamu.

__ADS_1


“Breng**k, baji**an gagal semua rencana gue” Hana memukul-mukul kepala kursi bagian belakang pengemudi, Silvia dan Abby hanya diam menatap temannya melampiaskan kekesalan.


“kalian semua kagak ada yang becus” bentak kasar Hana pada temannya dan body guard yang mengemudikan mobil Hana.


“loh lu kok nyalahin kita-kita. Lu seharusnya yang di salahin, udah jelas-jelas kalo Leon ama lu. Kenapa kagak lu tahan tu anak?” ujar Silvia yang tidak terima di salahkan begitu saja.


“beg* tentu aja gue nyalahin lu bedua,kalo lu bedua lebih cepat ke lantai atas, si Leon udah di samping gue sekarang” bentak Hana kasar.


“ udah jangan pada ribut napa? Kalian malah meributkan sesuatu yang nggak guna, kagak nyadar akibat apa yang bakal di lakuin Leon” ujar Abby mengingat bagaimana kejamnya Leon yang tidak main-main dalam menghadapi musuhnya.


Para gadis itu bergidik ngeri membayangkan sosok Leon dengan tanduk runcing serta gigi taring yang siap menghukum mereka kapan pun.


“lantas sekarang gi mana? Gue masih sayang ama nyawa gue” ujar Silvia ketakutan.


“sebaiknya lu ngomong ama bokap lu Han,” ujar Abby pada Hana yang duduk di samping kanannya. Mereka pun memilih pulang ke kediaman masing-masing, begitu juga hana yang baru turun dari mobil setengah berlari mencari papanya yang bersiap akan tidur.


“Paaapiiii....” Hana membuka pintu kamar itu, matanya terbuka lebar saat melihat Cintia dan Simon.


Simon dan Cintia dalam keadaan tidak memakai apa pun dengan posisi perempuan on the top, kedua tangan Simon tampak terikat di jeruji kepala ranjang mereka.


“HAANNAAAA” terdengar suara keras Cintia yang segera menyambar selimut miliknya, terburu-buru menutupi tubuhnya dan Simon.


“udah papi bilang, kita nggak usah melakukannya. Lihat sekarang...” Bentak Simon yang berusaha melepaskan ikatannya.


“Hana, apa kamu sama sekali tidak bisa mengetuk? Main masuk begitu saja ke kamar mami” Cintia masih berada di atas tubuh Simon, kedua tangannya membantu membuka ikatan tangan Simon.

__ADS_1


“itu nggak penting sekarang mi. Pi aku dalam masalah sekarang” ujar Hana tampak panik dan cemas, kedua tangan Simon terlepas dari ikatan. Sebelah tangannya mendorong Cintia untuk turun dari atasnya, tentu saja perlakuan Simon membuat Cintia kesal.


Aku benar-benar sudah sangat bosan dengan perempuan tua ini, berbeda sekali dengan Silvi yang bisa memuaskan ku gumam Simon dalam hati, meraih celananya yang tergeletak di lantai.


“kamu kenapa lagi? Seharusnya sekarang kamu sudah bersenang-senang dengan pria kaku itu” ujar Simon meraih kemejanya. Banana miliknya sudah tidak bersemangat lagi mematikan semangat Cintia yang masih menggebu-gebu, dia terlihat sangat kesal dan frustasi.


Hana tidak mengambil pusing keadaan Cintia yang menatapnya dengan tatapan marah juga kesal, dia lalu menceritakan apa yang sudah terjadi di hotel KL. Sebelah tangan Simon meraih kemeja dan mengenakan kembali,


“Kamu tenang saja, papi akan melakukan sesuatu sekarang. Kamu tunggu saja kabar baiknya” ujar Simon telah selesai mengenakan pakaiannya. Dia sejenak menatap Cintia yang sedang berpangku tangan, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.


“pi... aku takut nantinya Leon akan...” Hana tampak sangat khawatir.


“sudah berkali-kali papi katakan untuk kamu selalu hati-hati, sekarang papi akan menyelesaikan kekacauan yang kamu lakukan” raut wajah Simon tampak sangat serius.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2