Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 158


__ADS_3

Adam segera masuk ke dalam lift di ikuti dengan Baron dan Soo He, perlahan pintu lift menutup dan turun menuju lobi hotel. Perasaan tidak tenang meliputi hati Baron dan Soo He,


Perasaan ku tidak enak, seakan sudah terjadi sesuatu pada cucuku. Terlebih keadaan tuan Willson... sepertinya permasalahan ini sangat pelik gumam Baron dalam hati.


Lift sampai di lobi hotel dan perlahan pintunya terbuka, Adam dan lainnya segera keluar dari Lift lalu melangkah melewati lobi hotel.


Alberto dan Jason tengah berada di lobi hotel untuk menyambut tamu terkejut saat melihat rombongan keluarga Willson yang meninggalkan hotel, pertanyaan semakin berkecamuk di benak mereka saat melihat Baron dan lainnya melewati lobi dengan cepat.


“Baron sama...” Alberto segera menghampiri Baron juga lainnya, begitu juga dengan Jason. Mereka berdua sangat terkejut saat melihat kondisi Kiandra,


“Nona Kiandra?!! kenapa dengan nona Kiandra, Baron Sama?” tanya Jason khawatir.


“nanti saja?! cepat ambil mobil, kita ke rumah sakit sekarang” perintah Baron pada Jason yang segera melangkah pergi mengambil mobil, begitu banyak pertanyaan di benak mereka. Namun pertanyaan itu urung di tanyakan mengingat kondisi Raymond dan Kiandra yang tidak sadarkan diri, Baron lalu memerintahkan Alberto untuk menyampaikan pada Para tamu juga awak media perihal upacara pernikahan Luna dan Leon di hentikan sampai pemberitahuan selanjutnya.


****


Rumah sakit....


Lampu ruang operasi tengah menyala menandakan jika saat itu sedang ada operasi, Anita, Kaila, Leon dan Hugo menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas. Air mata Anita terus menetes di pipi, tidak henti – hentinya dia berdoa dalam hati untuk keselamatan Raymond.

__ADS_1


Leon berdiri termenung dengan mata tajamnya menatap ke arah dinding putih di depannya, perasaan marah, kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Tubuhnya berada di rumah Sakit namun tidak hati juga pikirannya yang teringat pada Luna, tangannya masih bergetar saat mengingat moment penembakan dan Luna yang terjatuh dari balkon.


Hatinya hancur dan terluka, ada rasa benci serta amarah yang tidak tahu harus bagaimana Leon ungkapkan. Di sisi lain Kiandra tengah tertidur di ranjang rumah sakit dengan lengan yang terpasang jarum infus, Soo He duduk di kursi samping menatap sedih ke arah Kiandra.


Adam duduk pada sofa single yang berada di samping sofa Baron, diam – diam dia menatap ke arah Baron yang diam larut dalam pikirannya. Aura kegelapan menyelimuti Baron yang terlihat sangat kecewa dan marah,


Untuk pertama kalinya gua ingin banget Hugo ada di sini nemenin, suasana di sini ke rasa banget kayak di kuburan Angker.... Kia sayang cepetan bangun... Gumam Adam dalam hati mengalihkan tatapannya ke arah Kiandra yang terbaring, tersirat dari matanya tatapan memohon ke arah perempuan cantik yang masih belum siuman.


Mata Soo He menerawang jauh dalam benaknya terputar kilasan ingatan senyum cantik dan tingkah nackal Luna, tangisan dan suara manja cucunya terngiang oleh Soo He. Tidak terasa air mata mulai menetes dengan hati yang di liputi rasa khawatir juga cemas.


Soo He menangis sedih saat dia mengetahui apa yang terjadi pada Luna, saat menuju rumah sakit Adam perlahan menceritakan apa yang sudah terjadi sesuai dengan apa yang di lihatnya. Adam dapat melihat dengan jelas amarah di mata tua Baron, Soo He mendengar Luna terjatuh dari balkon kamar nyaris pingsan. Baron dengan sigap merangkul pundak istrinya berusaha menenangkan, Jason yang tengah mengemudikan mobil terlihat sangat marah dan sedih.


“ini di mana?” tanya Kiandra merasakan pening di kepalanya, tangannya yang terpasang infus terangkat memegangi kepala sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Adam spontan berdiri dari tempatnya duduk, dia hendak mendekat ke arah Kiandra namun langkahnya terhenti saat merasakan aura dingin di sampingnya. Perlahan dia kembali duduk sambil tersenyum canggung pada Baron yang memperhatikan Soo He juga Kiandra, Soo He sigap membantu Kiandra duduk dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang rumah sakit.


Pandangan Kiandra begitu kabur karena kaca mata yang selalu menempel sengaja di lepas oleh perawat,


“Kamu ada di rumah sakit, Kia” ujar Soo He dengan suara serak, tangan Kiandra yang meraba – raba sekitar ranjang langsung di mengerti olehnya yang langsung memberikan kaca mata itu. Segera Kiandra memakai kaca mata dan melihat ke samping di mana Soo He membalas menatapnya dengan tatapan sedih,


“Obachan....” ujar Kiandra, perlahan air mata yang sudah membasahi pipi tua Soo He kembali jatuh menetes. Melihat hal itu Kiandra langsung menangis sesenggukan,

__ADS_1


“huaaaaa.....huhuhuhuhu .... obaaachaan....” tangis Kiandra pecah saat teringat dengan apa yang menimpa Luna sahabatnya, Soo He segera memeluk Kiandra menenangkannya. Mereka berdua saling menangis menumpahkan rasa sedih yang mereka rasakan, Adam semakin menundukkan kepalanya sedih merasakan apa yang di rasakan oleh Kiandra.


“apa yang sebenarnya terjadi, Kia? “ ujar Baron dingin menatap tajam ke arah Kiandra yang masih menangis, Soo He perlahan melepaskan pelukannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Baron untuk protes. Namun dia langsung terdiam saat raut wajah yang tidak bersahabat dari Baron,


“O... o... ojisan... “ Kiandra sesenggukan menatap ke arah Baron.


“hapus air mata dan kuatlah, ceritakan sebenarnya apa yang sudah terjadi “ ujar Baron dingin, Ada rasa tidak senang di hati Adam mendengar ucapan Baron. Tapi, dia sama sekali tidak bisa melayangkan protes karena suasana yang mencengkam.


Kiandra diam berusaha menenangkan dirinya, sesekali terdengar hanya terdengar isak tangis darinya. Teringat akan sesuatu Mata Kiandra segera menatap ke arah Adam,


“Di... di.. di mana cowok breng**k itu” ujar Kiandra terlihat sangat marah. Baron menatap ke arah Adam dengan tidak senang karena pertanyaannya sama sekali belum terjawab, Adam menatap ke arah Soo He yang juga menunggu dia berbicara.


“cowok breng**k... siapa yang kamu maksud Kia?” tanya Adam tidak mengerti dan merasa sangat tertekan, semua tekanan itu di dapat dari Baron dan Soo He yang memandang tajam serta intens ke arahnya.


“KAMU TAHU SIAPA YANG AKU MAKSUD” Ujar Kiandra mulai marah membuat Adam shock, dia ingin mengalihkan pandangannya dari sorotan tajam mata Kiandra tapi kepalanya hanya bisa menunduk menatapi ke dua tangan terkepal.


“dia.. dia di rumah sakit ini juga, saat ini Tuan Willson tengah menjalani operasi di lantai bawah...” penjelasan Adam terhenti saat Kiandra mendapat informasi yang dibutuhkan, infus yang terpasang di tangannya segera di lepas paksa.


“Kia... kamu mau ke mana?” ujar Soo He khawatir, Baron ikut berdiri saat Kiandra turun dari ranjang pasien. Kiandra tidak langsung menjawab pertanyaan Soo He, dia langsung mengambil langkah cepat keluar dari kamar rawat itu.

__ADS_1


“kia... kamu masih lemah dan harus istirahat “ ujar Soo He memegangi lengan Kiandra yang mengabaikan dan pergi begitu saja.


__ADS_2