
Akhirnya pelayan itu menuruti keinginan Hana cs, itu semua semata di lakukannya demi menyelamatkan dirinya dari hutang piutang. Uang yang di tawarkan Hana lebih dari cukup untuk membayar hutangnya.
Pelayan itu tersadar dari lamunannya saat sebuah tangan meraih minuman di nampan yang Ternyata tangan itu adalah milik Hugo, mata pelayan itu membulat seketika saat minuman yang seharusnya di berikan pada Leon di ambil oleh Hugo.
Hana cs yang melihat dari kejauhan ikut terlihat panik saat rencana yang sudah mereka susun gagal oleh ulah Hugo.
“ opsss.. sorry ini minuman lu” ujar Hugo memberikan minuman yang di pegangnya pada Leon.
“kamu minum saja” ujar Leon menolak.
“kagak jadi, buat lu aja” ujar Hugo yang segera memberikan ke tangan Leon, kedua alis Leon hampir bertaut saat melihat Hugo pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Dia lebih senang menghampiri beberapa gadis yang tampak tertawa dan saling bercanda.
Penyakit lama... gumam Adam dan Leon serentak dalam hati. Mereka hanya menghela nafas melihat Hugo yang mulai tebar pesona dan rayuan mautnya pada gadis-gadis itu. Leon mulai meminum dan menikmati minumannya, Hana cs tampak bernafas lega dan senang melihat rencana mereka berhasil.
Hana meminta Abby untuk segera memesan kamar terbaik untuknya, Abby dan Silvia segera turun ke lobi untuk memesan dan mengambil kunci kamar terbaik di hotel itu. Hana sengaja membaur dengan tamu lainnya dengan terus memantau Leon yang mulai merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhnya.
***
Leon merasa sedikit aneh, dia pun meminta izin pada Mike dan mitra kerja sama lainnya untuk ke kamar kecil. Dia lalu melangkah keluar dari lokasi pesta menuju kamar kecil di lantai yang sama. Tubuhnya mulai terasa panas dan berbeda, nafasnya tidak beraturan. Keran di wastafel di nyalakan ke suhu aur yang dingin, tangan kekar itu menampung air dingin untuk membasuh wajahnya agar tersadar dari sesuatu yang bergejolak di tubuhnya.
Breng**k ada yang menjebakku, panas sekali... lebih baik aku sekarang kembali sebelum terjadi sesuatu... gumam Leon berusaha mengatur nafasnya dan segera keluar dari kamar kecil itu.
Hana berdiri di depan kamar kecil pria, dia memasang wajah khawatir menatap tunangannya yang berusaha mengatur nafas dan melawan keinginannnya.
“sayang... kamu kenapa?” tanya Hana menghampiri, bau parfum dari tubuh Hana semakin membuatnya sulit mengendalikan diri.
__ADS_1
“hah.... hah...hah... kamu ...haa... sedang apa di sini....” ujar Leon, matanya yang tajam berubah sayu.
“aku tadi lihat kamu seperti kesakitan dan sekarang wajah kamu memerah. Sayang, sepertinya kamu sakit” Hana memegangi kening Leon. Sentuhan Hana di keningnya membuat sesuatu terbangkit di dalam tubuh dan di bawah sana, Leon tetap terus berusaha untuk melawan pengaruh di dalam tubuhnya.
“ ini...hah... ini.... hah... pasti... hah... hah.. ulah kamu” ujar Leon kepayahan.
“sayang... ulah apa kamu maksud? Oke aku ngaku kalo aku memang memakai parfum itu buat menarik perhatian kamu, tapi kondisi kamu yang sekarang aku benar-benar nggak tahu” Hana tersenyum dalam hati.
Leon berusaha untuk melangkah menuju lift, Hana memegang lengan Leon membantu memapahnya. Wajah Leon terlihat tidak senang dengan apa yang di lakukan Hana, tapi dia sama sekali tidak bisa mendorong tubuh Hana menjauh karena keinginan kuat dalam dirinya yang menginginkan sentuhan. Ponsel Hana bergetar, sebelah tangan Hana meraih ponsel dari dalam dompetnya dan melihat sebuah pesan dari Abby. Hana tidak menyadari dan menyangka Leon tidak memperhatikan ponsel miliknya, walaupun Leon dalam kepayahan tapi mata elangnya masih dapat melihat jelas pesan itu.
Abby memberi tahu nomor kamar yang bisa di pesan Hana, dia juga sudah meminta petugas hotel menuju ke lantai mereka dan menunggu di depan pintu. Hana sedikit agak menjauh dari Leon membalas pesan dari Abby,
Aku sudah menduga ini pasti ulah cewek lakn*t ini.... aku harus bisa pergi dari dia gumam Leon dalam hati menekan tombol lift. Pintu lift terbuka, mata Leon melihat ke arah Hana yang masih sibuk dengan ponsel miliknya. Dia segera masuk ke dalam lift yang ternyata di dalam sana ada petugas room service, petugas itu menatap heran Leon yang berkeringat.
“tuan... anda tidak apa-apa?” ujar petugas itu tampak khawatir.
“aku.... aku tidak apa... apa” ujar Leon berusaha untuk mengatur nafas dan gejolak pasang di dalam tubuhnya.
Hana menyadari Leon tidak lagi berada di depan lift segera menghampiri lift yang sudah menutup, sesaat dia melihat Leon yang tersenyum smirk ke arahnya.
“breng**k, dia lolos. Abby telepon bodyguard gue buat jaga di pintu...” Leon sempat mendengar perintah Hana yang memerintahkan orang-orangnya untuk berjaga di lobi. Kondisinya yang seperti ini tidak memungkinkan baginya untuk melawan orang-orangnya Hana,
“tuan, apa anda butuh bantuan medis?” tanya petugas itu. Leon tentu saja menolak niat baik petugas itu, dia tahu jika awak media masih berada di depan lobi. Dia tidak ingin nama keluarga dan dirinya menjadi pembicaraan publik, petugas itu hendak kembali bertanya tapi tangan Leon mengisyaratkan untuknya tidak bertanya apa-apa lagi dan menjaga jarak dengannya.
Pintu lift terbuka, petugas itu melangkah keluar dengan mendorong troli berisi makan menuju kamar tamu. Sesekali petugas itu menatap ke arah Leon yang berdiri dengan kepayahan, tapi kemudian dia lebih dulu memilih menyelesaikan pekerjaannya baru membantu Leon yang tampak menderita.
__ADS_1
Leon memilih keluar di lantai yang sama dengan petugas itu, dia berusaha melawan gejolak di tubuhnya yang membara. Dia tahu Hana tidak akan menyerah begitu saja dan akan menyuruh semua body guard juga teman-temannya untuk berjaga-jaga di lobi.
Leon menatap setiap pintu kamar, semua terlihat terkunci rapat. Mata elang itu menatap ke arah troli petugas room service itu yang berhenti di depan sebuah kamar, dia lalu melangkah dengan cepat mendekat ke arah troli. Leon menyelinap masuk ke kamar itu tanpa sepengetahuan petugas yang sedang menata beberapa makanan di atas meja, dia memilih bersembunyi di dalam lemari dan segera menutupnya. Dari celah lemari Leon dapat melihat apa yang terjadi di kamar itu, tubuhnya benar-benar terasa panas. Mata elangnya menatap bagian harta benda yang mulai bereaksi dan menegangkan.
Tidak berapa lama beberapa orang berpakaian hitam berada di lantai itu mulai memeriksa setiap kamar dengan mengetuk dan menanyakan setiap tamu yang ada di sana. Beberapa pria itu kini sampai di kamar di mana petugas room service masih sibuk menata makanan di meja itu.
Petugas itu terkejut saat melihat beberapa pria berbadan tegap masuk ke kamar itu. Para pria itu bahkan dengan sengaja menyenggol hardcase gitar yang tersandar di atas kursi hingga jatuh ke lantai.
“ada apa ini? Anda siapa main masuk ke kamar ini?” petugas itu menatap cemas pada hardcase yang tergeletak di lantai. Dari hardcase gitar yang terlihat terawat dan rapi, petugas itu tahu jika benda di dalamnya berharga mahal. Dia tidak akan mampu mengganti jika barang di dalamnya rusak, Luna yang baru kembali dari kolam renang melihat heran pintu kamarnya yang terbuka dan terdengar keributan di dalam sana.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1