Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 81


__ADS_3

“baiklah besok pagi aku akan menyuruh sekretarisku mengantar pakaian untuk kamu”


“kenapa musti harus menunggu besok pagi? Di apartemen ini pasti ada mesin cuci baju kan, biar aku menggunakannya untuk mencuci bajuku” ujar Luna hendak melepaskan tangan dan turun dari meja kitchen itu, segera Leon menahan niatnya Luna.


“Mesin cuci? (Segera dia memutar otak untuk menahan Luna) aku tidak memiliki mesin itu, aku selalu menggunakan jasa laundry keluarga Willson” kilah Leon membuat Luna terdiam, dia terlihat kebingungan sambil menatapi pakaian yang di pakainya.


“Mau nggak mau ya terpaksa aku pulang dengan berpakaian seperti ini” ujar Luna santuy, Leon tentu saja tidak setuju dengan ide itu.


“No... Kamu tidak boleh pulang seperti ini, mana mungkin aku akan membiarkannya? Tidak boleh seorang pun melihat kamu seperti ini, malam ini kamu menginap saja di sini” ujar Leon posesif terhadap Luna.


“tapi...”


“Tidak ada tapi tapian, sekarang aku akan menyiapkan makanan untuk mu, oke” ujar Leon menoel hidung mancung Luna lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Hufff... Nyerah deh ama tuan muda satu ini... Gumam Luna dalam hati memperhatikan Leon mulai memasak daging yang sebelumnya sudah di marinasi dengan berbagai macam bumbu rempah.


Diam-diam Luna terpesona saat melihat Leon yang memasak makanan untuknya, lengan kemeja hitam yang di kenakannya tersingkap sampai lengan atas memperlihatkan tangan kekar yang terampil. Senyuman manis tersungging di wajah cantiknya kala memperhatikan tampilan Leon yang begitu menawan dan memikat hati, Leon terlihat begitu tampan saat beraksi bermain dengan peralatan dapur.


Leon menyadari jika sedari tadi Luna memperhatikannya, dia tersenyum sambil menggoyangkan wajan dan membalikkan daging yang hampir setengah matang. Luna memperhatikan punggung Leon yang kekar, ada suatu keinginan yang mendorongnya untuk merasakan kekuatan punggung itu.


Keinginan itu harus di urungkan Luna saat Leon sudah menyelesaikan masakannya, dia menata dengan sangat cantik di atas piring hitam yang terlihat sangat elegan. Dia mengangkat piring itu dengan tangan kekarnya lalu menghidangkannya di samping Luna yang masih senantiasa menunggunya.


Mata cantik itu berbinar-binar saat melihat tampian makanan di atas piring yang terlihat sangat cantik, tidak Lupa Leon juga menghidangkan wine merah yang tentunya berkualitas terbaik, dia lalu menuangkan ke gelas wine dan di letakkan di samping makanan Luna.


“wow... aku tidak pernah menyangka jika kamu bisa masak?! Kenapa kamu tidak jadi cheff dan buka restoran saja?” Luna begitu terpesona dengan tampilan daging dan wangi harum yang membuat Luna meneguk kasar air liurnya.


“kenapa aku harus memasak untuk orang lain? Keahlianku ini hanya untukmu saja” Ujar Leon memotong daging itu dengan ukuran kecil, dia lalu berdiri di hadapan Luna dia mengambil garpu dan menusuk salah satu daging lalu menyuapi Luna yang langsung mencobanya.


Mata Luna terbuka lebar saat merasakan daging yang empuk dan terasa meleleh di mulutnya, Leon tersenyum bahagia saat melihat ekspresi Luna yang terlihat sangat menyukai masakannya. Luna segera meraih garpu dan menusuk salah satu daging itu, dia lalu menyuapi daging itu pada Leon. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama, hingga tidak terasa makanan buatan Leon sudah habis dan perut Luna pun sudah berhenti berdemo.

__ADS_1


Leon memberikan segelas wine pada Luna yang di minumnya perlahan,


“apa kamu mau makanan penutup?” Ujar Leon menatap Luna dengan kedua tangannya mengungkung tubuh gadis cantik itu. Luna meminum wine di gelasnya sampai habis lalu meletakkan gelas di sampingnya kembali, mendekatkan wajahnya ke arah Leon sambil mengalungkan tangannya ke leher Leon.


Bibir mereka saling menempel, kesempatan itu tidak di sia-siakan Luna yang langsung memberikan wine dalam mulutnya ke pada Leon yang langsung meneguknya. Luna memperlihatkan senyuman nackal pada Leon,


“bagaimana rasa hidangan penutupnya? Apa kamu suka?” Luna menatap dengan kerlingan nackal ke arah Leon.


“apa kamu sengaja menggoda ku?” kedua tangan Leon menarik pinggang Luna agar mereka lebih dekat lagi.


“menggodamu?! Sepertinya Tuan muda sudah salah paham, aku hanya ingin membagi makanan penutup untuk mu” ujar Luna tersenyum nackal, Leon segera menggendong Luna layaknya menggendong anak kecil.


“Singa betina ku sudah sangat nakal, sekarang saatnya harus di hukum”


“Kyaa.... Hahahaha... Leon....” pekik Luna tertawa saat Leon menggendongnya sambil tertawa bahagia.


****


Dion baru saja menyelesaikan performance di sebuah bar GY, dia tengah menyimpan gitar dalam suitcase miliknya. Penampilannya begitu berbeda dari biasanya, membuat tamu di dalam bar itu terpesona saat melihatnya.


Beberapa saat yang lalu sebelum tampil....


Dion tengah berada di sebuah butik tengah menunggu Alex yang sedang memilihkan pakaian untuknya, sesekali dia menatap ke arah jam untuk memastikan masih ada waktu sebelum performance. Butik itu terlihat sepi dari tamu dan sudah mau tutup, Alex di temani pemilik butik datang menghampiri Dion dengan pakaian di tangannya.


“lebih baik kamu ganti pakaian dengan ini” ujar Alex sambil menyerahkan pakaian pada Dion yang segera mengambil atasan baju pilihannya. Dion segera membuka bajunya di hadapan Alex yang terkejut saat melihat sikap spontan itu, tubuh Dion terlihat begitu sempurna.


Badhum.... badhum.... badhum...


Alex merasakan detakan jantungnya yang berdebar-debar sangat cepat, Dion terlihat cuek menyerahkan pakaiannya yang kotor pada pria tampan berkaca mata itu. Wajah pemilik butik juga ikut memerah dengan tindakan spontan Dion yang juga menyadarinya,

__ADS_1


“maaf, tapi waktunya sudah sangat mepet” ujar Dion segera memakai atasan pakaian pilihan Alex.


“ti...ti...tidak apa-apa tuan” ujar pemilik butik sambil mengalihkan pandangannya.


“maaf toilet ada di mana?” tanya Dion pada pemilik butik yang segera menunjuk ke arah toilet, Dion segera pergi menuju toilet untuk memperbaiki penampilannya.


Alex menatap ke arah pemilik butik yang membalas menatap sambil tersenyum canggung.


“ itu... saya akan membayar pakaiannya sekarang” Alex memperbaiki letak kaca matanya, sebelah tangannya merogoh ke dalam saku jas untuk mengambil dompet miliknya.


“baik tuan, mari” Pemilik butik itu mengajak Alex ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Alex mengeluarkan credit cardnya untuk membayar pakaian Dion, setelah semuanya selesai pemilik butik itu lalu menyerahkan kembali credit card itu pada Alex.


Sesaat akan menyerahkan kartu itu, pandangan pemilik butik itu teralihkan saat melihat Dion yang baru saja keluar dari toilet. Alex meraih kartu miliknya yang masih di pegang oleh pemilik butik, dia menatap heran ke arah pemilik butik yang masih memegangi kartu miliknya dan belum juga menyerahkan padanya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2