
Setelah keluar dari kantor Leon, amarah Hana kembali meledak saat mendapati mobil kesayangannya yang terparkir di basement perusahaan Leon di rusak. Cat pada kap mobilnya telah rusak parah dan terkelupas.
“AAaaaaarrggggh... siapa yang udah berani merusak mobil gueeeee” teriak Hana dengan kesal. Abby dan Silvia terkejut saat melihat mobil sahabatnya.
“loh kok bisa jadi kayak gini,” Abby merasa heran karena saat mereka tinggalkan mobil itu masih baik-baik saja.
“ gue rasa pelakunya orang yang sama yang juga mengunggah video tentang rektor itu” Silvia menuduh Sarah dan Dion.
“dasar Jal*ng sial*n, liat aja gue bakalan balas dia” Hana sangat kesal masuk ke dalam mobilnya dengan membanting keras pintu mobil.
“tenang Han... kita-kita pasti bantuin lu...sekarang sebaiknya kita balik pulang oke...” Abby duduk di samping kemudi berusaha untuk menghiburnya.
“gi mana gue mau tenang, Abby. Lu berdua bisa liat gi mana sikap Leon ke gue, apa lagi tu cowok terus menerus nunda pernikahan. Setiap gue coba bicarain tentang pernikahan pasti dia bakal marah besar ama gue” Keluh Hana tidak tahan dengan sikap Leon yang semakin dingin padanya.
“ emang lu udah coba bicara dengan keluarga Leon, bukannya mommynya Leon sayang ama lu” tanya Silvia duduk di bangku belakang.
“boro-boro sayang... mommynya aja udah berubah sikap kegue. Terkesan dingin dan menghindari gue, begitu juga dengan adeknya” ujar Hana sambil mengeluarkan ponsel yang bergetar. Sebuah pesan wa dari Simon, Hana segera membuka kode ponselnya dan membaca.
Hana menghela nafas panjang membuat kedua sahabatnya heran, dia segera memperlihatkan pesan wa dari Simon kepada mereka. Sebuah ide brilian muncul di kepala Silvia,
“ Han... gue ada ide bikin Leon kagak bisa nunda pernikahan kalian lagi” ujar Silvia tersenyum licik.
“ide?! Ide apa?” Hana penasaran melihat ke arah belakang.
“sekarang kita balik dulu, udah bau banget nih” ujar Silvia mencium bau tidak enak dari mereka.
“ iya nih, mana pada udah gatel lagi” ujar Abby mulai menggaruk tangannya.
Hana lalu menghidupkan mobilnya menuju kediaman mewah Miller, mereka beruntung tidak terkena macet di jalanan hingga sampai di rumah Hana.
Cintia tengah asyik mengobrol dengan teman sosialitanya yang berkunjung ke kediaman Miller. Mereka sontak terkejut saat melihat keadaan Hana cs yang berantakan dan bau.
“sayang... kamu kenapa bisa begini...” ujar Cintia merasa tidak enak dengan teman-temannya.
“ udah deh ma... nanti aja Hana jelasin. Sekarang Hana mau mandi dulu” ujar Hana menaiki anak tangga di ikuti Abby dan Silvia.
__ADS_1
Mereka bergegas ke kamar Hana dan juga kamar tamu yang sering di gunakan Abby juga Silvia jika pergi menginap. Setelah bersih dan berpakaian rapi Silvia juga Abby pergi ke kamar Hana,
“Silvi, apa ide lu?” tanya Abby yang penasaran dengan ide Silvia.
“bentaran,” ujar Silvia melihat layar ponselnya sambil tersenyum.
“Yee lu malah senyum-senyum nggak jelas gitu, kasih tau aja napa sih” ujar Hana sudah tidak sabaran.
“Tenang dulu...” ucapan Silvia terhenti saat mendengar ketukan di pintu kamar Hana.
Tok...tok...tok...
“Nona Hana “ terdengar sapaan Maid dari luar pintu kamar.
“Masuk” ujar Hana menyuruh masuk, maid itu lalu membuka pintu lalu menghampiri Hana cs yang tengah duduk di ranjang.
“ada apa” tanya Hana ketus.
“Ini nona, tadi ada kurir datang mengantar ini untuk nona Silvia” Maid itu menyerahkan sebuah paket yang di tutupi plastik hitam. Paket itu tampak sangat mencurigakan bagi Abby dan Hana.
“Silvi, itu paket apaan?” tanya Abby begitu penasaran. Silvia segera membuka paket itu, ada botol parfum berbentuk cinta dan botolan kecil berisi serbuk berwarna kuning di dalamnya.
“apa ini? Wanginya....” Abby akan mencoba membuka dan menciumi harumnya segera di hentikan Silvia.
“ Jangaaaan...” bentak keras Silvia membuat Hana dan Abby terkejut.
“Kagak perlu histeri gitu juga kali Silvi,” Abby mengelus-ngelus dadanya.
“ ya lu main cium-cium aja, ini parfum bukan sembarang parfum” Silvia kembali menutup parfum itu.
“Emang ini parfum apaan” Hana penasaran.
“ini parfum berisi cairan perang**ng dosis tinggi yang bakalan meningkatkan ***** pria. Siapa pun prianya, dia bakalan kagak bisa kontrol nafsunya kalo udah nyium bau ini, apa lagi kalo lu ngasih ini juga. Di jamin Leon bakalan bikin lu terus berada di bawahnya” jelas Silvia, mendengar hal itu terkembang senyuman licik di bibir Hana.
“Jadi... Maksud lu...”
__ADS_1
Silvia lalu menjelaskan idenya pada Hana, senyuman licik kembali terhias di wajahnya. Dia menyukai ide brilian Silvia, tanpa membuang waktu Hana segera bersiap-siap. Tidak lupa parfum dan botol kecil pembangkit gair*h di masukkannya ke dalam tas kecil miliknya.
Abby dan Silvia juga mulai bersiap-siap dengan memakai pakaian pesta milik Hana. Abby memilih mengganti pakaiannya di kamar Hana, sedangkan Silvia lebih memilih ke kamar tamu untuk berganti baju di sana.
Silvia membuka pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam, dia mulai melucuti satu persatu pakaian di tubuh bagian atasnya. Tampaklah perbukitan yang berukuran cukup besar, pemandangan indah itu tengah di nikmati sepasang mata yang tengah berdiri tepat di belakang Silvia.
Kedua tangan itu lancang segera mere**s perbukitan indah membuat pemiliknya terkejut dan membalikkan tubuh Hendak memberi pelajaran. Silvia terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depannya,
“om simon!!!! Untung jantung Silvi nggak copot” bisik Silvia memelankan suaranya agar tidak terdengar orang lain, tangannya memukul lembut dada Simon.
“jika copot, tinggal di sambung lagi bukan” bisik Simon menatap penuh ***** pemandangan indah di depannya.
“Iiiihh om Simon... Itunya nackal ya” Silvia merasakan sebuah benda keras bersinggungan dengan perut datarnya.
“aku sudah sangat rindu dengan kamu, apa lagi dia...” Simon memulai Aksinya menciumi pundak Silvia.
“Jangan sekarang sayang, sebentar lagi aku akan pergi ke pesta bersama putrimu dan Abby. Mereka bisa curiga jika aku terlalu lama...” ucapan Silvia terhenti saat Simon sudah di butakan dengan nafsunya. Dia segera menyerang Silvia dengan ganas, mereka bahkan melakukannya bersandar di dinding yang menjadi pembatas kamar tamu dengan kamar Hana.
Silvia berusaha mati-matian mencegah nyanyian merdunya keluar saat dia mendengar suara Cintia yang berada di kamar Hana saat itu.
Dasar....ahh.... tua bangka sialan....nnnnshh.... gumam Silvia dalam hati mengutuk Simon yang terus menerus beraksi. Mereka terus melakukan di kamar tamu itu tanpa memedulikan Cintia, Hana dan Abby yang berada di samping kamar itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
mohon maaf karya Author terlambat up karena ada sedikit masalah teknis. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...