Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 172


__ADS_3

Tangan kiri Luna segera memegang tangan Matthew sambil wajahnya menghindar dari sendok makan yang di penuhi bubur,


“kena... hmmm pa... “ pertanyaan Luna terhenti saat luka di bahu kanan serta perut terasa nyeri, Matthew meletakkan kembali bubur itu ke nakas lalu memegangi kedua lengan Luna dengan raut wajah khawatir.


“apakah masih terasa sakit? sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu atau lukanya akan terbuka kembali” ujar Matthew sambil membantu Luna memosisikan dengan posisi senyaman mungkin, mata Luna sejenak terpejam lalu kembali menatap ke arah Matthew yang senantiasa duduk di sampingnya.


Sebelah tangan Matthew akan memegang kening Luna, refleks dia langsung merespons dengan mencengkeram kuat tangan Matthew.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Luna spontan bersikap waspada, Matthew sejenak terkejut dengan aksi Luna. Perlahan senyuman hangat terlukis di wajahnya yang tampan,


“Maaf, jika aku sudah bersikap lancang padamu” ujar Matthew sambil menurunkan tangannya perlahan, Luna diam menatap tajam ke arah Matthew. Benaknya di penuhi pertanyaan dan persoalan hal itu di sadari oleh Matthew,


“ba.... “ belum juga selesai Luna berbicara, Matthew terlebih dahulu berbicara.


“kamu pasti akan bertanya bagaimana kamu bisa berada di sini? “ ujar Matthew membuat Luna semakin menatapnya intens.


“apa Ojisan... “ ujar Luna yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Matthew, pria tampan itu lalu menjelaskan tentang rencana serta berita kematian palsu yang sengaja di buat oleh Baron.


Mata Luna terlihat berkaca – kaca sedih saat Matthew memberi tahu jika Baron sudah mengetahui kebenaran di balik meninggalnya kedua orang tua Luna, perasaannya hancur saat teringat dengan kebenaran itu. Air mata menetes jatuh di pipi Luna yang memerah, Matthew menatap iba ke arah perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta. Dia ingin mendekat dan menghibur Luna, tapi niat itu di urungkannya saat raut wajah Luna yang berubah dingin.


Rasa marah dan dendam berkecamuk di hati Luna saat teringat dengan tindakan Leon, tangan kiri Luna segera menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


“apa yang kamu lakukan, Luna? Kondisi mu masih belum pulih” ujar Matthew memegang kedua pundak Luna yang membelakanginya.


"aku tidak bisa membiarkan mereka yang sudah menghancurkan keluargaku, “ ujar Luna dingin hendak beranjak, rasa sakit dari luka sama sekali tidak berpengaruh bagi hati yang sudah di rliputi amarah. Tangan Matthew bergeser turun memegangi lengan Luna,

__ADS_1


“tenangkan dirimu Luna, luka mu masih belum sembuh. Itu akan berdampak bagi janin yang ada dalam kandunganmu” ujar Matthew membuat Luna terdiam sejenak, dia langsung mengalihkan tatapannya ke arah pria tampan itu.


“ja... janin? Apa maksudmu dengan Janin?” tanya Luna.


Matthew sejenak terdiam sambil terus menatap ke arah Luna,


“kamu.... apa kamu sama sekali tidak tahu jika... kamu sedang hamil?” tanya Matthew ragu – ragu, dia terkejut saat melihat reaksi Luna.


“Hamil!!” Luna tercenung sambil kedua tangannya memegangi perut yang terlihat sedikit berbeda.


“iya, kami tahu tentang kehamilanmu dari Ojisan. Sesaat dokter akan melakukan operasi, Ojisan datang memberi tahu tentang kehamilanmu” ujar Matthew dengan hati – hati menjelaskan.


“hamil... aku hamil..” Luna mengalihkan pandangannya ke arah perut yang mulai sedikit terlihat.


“ iya Luna ( tersenyum hangat sambil menatap Luna) dan saat ini usia kehamilanmu memasuki 4 bulan, dokter juga memberi tahu jika kamu memiliki bayi kembar” ujar Matthew memperhatikan ekspresi Luna.


Matthew tahu dengan apa yang akan di katakan Luna, dia juga melihat perubahan dari raut wajah Luna yang terlihat dingin.


“dari yang aku tahu, Le... “ ucapan Matthew terhenti saat kilatan kemarahan terpancar dari mata Luna, dia sedikit bergidik takut saat tatapan tajam penuh kebencian terpancar dari mata indah itu.


“Luna... “ panggil Matthew dengan lembut, kedua tangannya memegang kedua lengan Luna lalu turun perlahan menggenggam kedua tangan berjari lentik itu.


“maaf, jika aku terlalu ikut campur. Bukan maksudku untuk membela ‘ dia’.... aku tahu kamu sangat ingin memberi hukuman pada ‘dia’ dan keluarganya. Di saat kamu mendapatkan kesempatan itu dan berhasil mengirim mereka ke dunia ‘sana’, apa yang akan kamu dapatkan setelah itu? “ ujar Matthew membuat Luna menatap intens ke arahnya.


“ aku.... (Terdiam sejenak saat teringat dengan kenangan masa kecil Luna) mereka.... Mereka pantas karena mereka telah merenggut semuanya“ ujar Luna marah dengan mata berkaca – kaca.

__ADS_1


“Luna, rasa dendam hanya akan mendatangkan dendam yang baru dan semua hal itu tidak akan berkesudahan, saat kamu berhasil membalas mereka apakah appa dan eomma mu akan kembali? “ ujar Matthew bijak.


“Kamu bisa berbicara mudah seperti sekarang karena kamu tidak berada di posisi yang sama denganku, kamu tidak pernah tahu bagaimana rasa sakit saat kedua orang tua mu pergi untuk selamanya” ujar Luna sedih dan emosi tingkat dewa.


“Aku tahu Luna... Aku juga berada di posisi yang sama denganmu” Matthew menatap sendu Luna yang membalas dengan tatapan bingung.


“maksudmu?! “ tanya Luna.


“kedua orang tua ku juga sudah lama tiada, mereka meninggal karena pesawat yang di tumpangi jatuh di samudra” ujar Matthew membuat Luna merasa bersalah.


“Maaf... Aku benar - benar tidak tahu... “ ujar Luna merasa tidak enak hati.


“tidak apa – apa Luna, aku sudah merelakan dan ikhlas dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu mengajarkan kita untuk mengikhlaskan dan menerimanya, aku yakin kamu pasti bisa melewati dan kembali bersamanya... “ ucapan Matthew kembali terhenti saat Luna balas menatapnya dengan kemarahan.


“tidak akan pernah, aku tidak pernah kembali pada si breng**k itu. Saat ‘dia’ melepaskan tembakannya pada ku di saat itu hanya kebencian untuknya” ujar Luna.


“tapi Luna.... Bagaimana pun ‘dia’ daddy dari bayi miu” ujar Matthew.


“Tidak... mereka adalah anakku, ‘dia’ sama sekali tidak pantas dan berhak atas mereka. Aku membencinya... sangat membencinya, bukan hanya Daddynya saja yanh sudah merenggut kedua nyawa orang tuaku. ‘dia’ juga bahkan nyaris merenggut nyawa anakku” ujar Luna penuh amarah, Matthew dapat melihat dari mata Luna yang tersirat kebencian serta dendam.


Mata Matthew terbuka lebar saat pakaian yang di kenakan Luna terkena bercak darah pada bagian bahu,


“Luna... Tenang... Pliss, tenangkan dirimu. Lihatlah, luka mu kembali terbuka” ujar Matthew memegangi kedua lengan Luna, perempuan cantik itu mengalihkan tatapannya ke arah Bahu kanan yang terluka.


“aku akan memanggil dokter, “ Matthew membantu Luna untuk berbaring, setelah memastikan Luna berbaring dengan nyaman Matthew segera meraih ponsel yang tersimpan di saku celana.

__ADS_1


Dia segera menghubungi dokter keluarga, wajah tampannya terlihat sangat khawatir dan sesekali melihat ke arah Luna yang larut dalam pikirannya.


aku sangat membencimu... sangat membencimu... pada waktunya nanti aku akan membalas dengan mencabut nyawamu Leon Alden Willson gumam Luna dalam hati penuh dendam.


__ADS_2