Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 164


__ADS_3

Tap... tap... tap.... tap...


Terdengar langkah ramai yang menghampiri ruangan IGD, Matthew , Hans dan asistennya menatap ke arah suara derap langkah yang terdengar. Baron melangkah cepat dengan raut wajah yang sama dengan Matthew,


“bagaimana dengan Luna?” tanya Baron pada Matthew yang langsung menghampiri.


“ Baron sama ( memberi hormat ) anda tenang saja, saat ini Luna sedang di tangani oleh dokter” jelas Matthew.


Baron hendak bertanya lagi namun dia terdiam saat pintu ruangan IGD terbuka, beberapa perawat terlihat mendorong bankar di mana Luna terbaring lemah.


Dokter yang menangani Luna segera menghampiri Matthew dan lainnya,


“bagaimana keadaan cucu ku?” tanya Baron khawatir.


“ kami harus melakukan operasi sekarang, atau nyawa pasien akan terancam” ujar Dokter itu.


“operasi? Apakah itu akan berpengaruh pada janin yang ada dalam perutnya?” tanya Baron sukses membuat Matthew patah hati untuk ke sekian kalinya, begitu juga dengan Hans yang terlihat sedih.


“janin?! Apakah pasien sedang hamil?” tanya dokter itu terkejut dengan penuturan Baron, di saat bersamaan datang perawat membawa hasil tes sampel darah Luna. Hasil laporan dari sampel darah itu tidak hanya memberi tahu informasi golongan darah tapi juga tentang kehamilan Luna, dokter itu menatap serius hasil laporan lalu menatap ke arah perawat.


“kamu segera panggil dokter kandungan, kita tidak punya waktu banyak” ujar dokter itu.


Jantung Baron berdetak cepat, tubuhnya melemah dan hampir terjatuh dengan sigap Matthew memegang kedua lengan Baron. Matthew lalu memapah Baron untuk duduk sejenak di ruang tunggu IGD, Alberto dengan sigap memberikan sebotol air putih pada Baron yang sebelumnya penutup botol itu sudah di buka.


“tenang sahabatku, semua pasti akan baik – baik saja” ujar Hans duduk di samping sahabatnya.


Seakan tersadar akan sesuatu Baron mengalihkan pandangannya ke segala penjuru rumah sakit, matanya menangkap seseorang bersembunyi di sebuah sudut tersembunyi. Ada mata – mata yang terus memperhatikan setiap gerak gerik Baron, seseorang itu segera pergi meninggalkan IGD melangkah cepat menuju sisi lain rumah sakit.


Baron sudah bisa menebak seseorang itu adalah bawahan dari Leon, ternyata di tengah perjalanan menuju rumah sakit Leon menyuruh orang – orangnya untuk mencari keberadaan Luna yang terjatuh ke sungai.

__ADS_1


“cari Luna sampai ketemu, kalau perlu kalian terus awasi ojisan dan lainnya untuk mendapat informasi. Terus kalian kabari aku”


Isi perintah Leon yang di sertai dengan foto cantik Luna,


"baik Tuan Muda"


orang – orang Leon bergerak dengan cepat setelah membalas pesan itu. Mereka bahkan membaur dengan tim pencari yang di kerahkan Baron, bawahan Leon bahkan mengikuti Jason yang masih melakukan pencarian sendiri.


Baron seorang pemain lama tentunya dengan mudah membaca dan menyadari tindakan Leon, dia mengode ke arah Alberto yang langsung di mengerti olehnya.


Alberto dengan beberapa anak buahnya bertindak dengan cepat, mereka segera mengamankan bawahan Leon sebelum dia melaporkan informasi yang di dapat. Matthew dan Hans saling menatap bingung dengan sikap Baron yang berbeda, mata Matthew menangkap perasaan kecewa dan sedih yang terpancar di mata tua Baron.


“Baron... “ panggil Hans pada sahabatnya yang balas menatap, Baron dapat mengerti dengan tatapannya.


“maaf Hans aku akan jelaskan semuanya nanti” ujar Baron dingin.


Baron bisa saja memindahkan Luna ke rumah sakit lain, namun tidak di lakukannya mengingat kondisi Luna. Lampu ruang operasi menyala menandakan operasi tengah berlangsung, Baron tampak menanti dengan cemas akan kondisi Luna dan cemas jika sewaktu – waktu Leon akan datang lalu membuat kegaduhan. Dia bahkan lupa memberi tahu Soo He dan Kiandra yang menunggu kabar tentang Luna, beberapa panggilan tidak terjawab tertera pada layar ponsel milik Baron yang di setting Silent.


****


Sesaat operasi Luna berlangsung...


Operasi Raymond berjalan dengan baik walaupun sempat terkendala oleh kegaduhan akibat kondisi Leon terpukul hebat dengan kabar Luna, Raymond tengah terbaring lemah di kamar rawat VVIP dengan wajah terlihat sangat pucat. Pada hidung terpasang alat bantu bernafas dan berbagai alat yang juga terpasang di tubuh, Leon sudah terlihat tenang menatap sedih ke arah Daddynya.


Leon hanya sendirian menemani Raymond yang masih belum sadar pasca selesai operasi, adiknya Kaila harus menemani Anita yang juga terbaring di ranjang rumah sakit akibat shock. Anita sangat terpukul dengan kenyataan tentang apa yang telah di lakukan oleh suami serta ayah mertuanya, selama ini dia mengira ada orang baik berhati mulia yang mendonorkan jantung untuk Leon.


Perlahan – lahan mata Raymond terbuka dan berusaha menyesuaikan dengan keadaan kamar rawat itu, dia menatap ke arah Leon yang bermenung larut dalam pikirannya.


“Ll... Lll... Lee... Leon” panggil Raymond lemah namun sama sekali tidak terdengar oleh Leon, tangan Raymond yang terpasang infus menggapai ke arah Leon.

__ADS_1


“Llee... Leon... “ panggil Raymond sekali lagi membuat Leon tersadar dari lamunannya, dia langsung menatap ke arah Raymond yang balas menatapnya.


“daddy.... “ ujar Leon segera menghampiri dengan memegang tangan Raymond.


“ada apa, Dad? Apakah ada yang terasa tidak nyaman?“ tanya Leon cemas.


Mata Raymond menatap sayu dan perlahan menggelengkan kepalanya,


“luuu.... Lu... Naaa... “ ujar Raymond lemah, mata tajam Leon menatap sedih ke arah daddynya.


“dad tidak usah memikirkan apa pun, lebih baik sekarang istirahat agar daddy merasa lebih baik” ujar Leon melepaskan perlahan tangan Raymond lalu meletakkan di ranjang.


Tok.... Tok... ToK...


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar rawat Raymond, perlahan pintu itu terbuka memperlihatkan seorang body guard sambil sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Leon.


“Tuan muda” Body guard itu langsung menghampiri Leon, matanya sempat melihat ke arah Raymond dan langsung memberi hormat.


“Ada apa? “ tanya Leon kembali duduk di tempat duduk samping ranjang Raymond, body guard itu berdiri di samping Leon sedikit menunduk mendekat ke arah telinganya. Mengingat kondisi Raymond yang masih lemah, body guard itu berbicara sedikit berbisik pada Leon.


“Kami mendapat kabar, jika nona Luna sudah di temukan dan... “ belum selesai body guard itu menjelaskan Leon bangkit dan menatap ke arahnya.


“Di mana? “ tanya Leon dengan raut wajah serius, Raymond menatap lama ke arah Body guard dan Leon yang membelakanginya.


“llllleeon.... “ panggil Raymond lemah membuat pria tampan itu segera membalikkan tubuhnya.


“Dad.... maaf... aku.... “ ujar Leon terlihat dilema, hatinya ingin pergi menemui Luna namun niat itu di urungkan mengingat Raymond yang sendirian di kamar. Raymond mengerti paham dengan apa yang di rasakan oleh Leon, sambil tersenyum lemah dia memejamkan sejenak mata lalu kembali menatap ke putranya.


“Peer...pergilah” ujar Raymond lemah, tubuhnya masih terasa letih dan lemah. Mendengar hal itu Leon tersenyum senang dan sejenak menggenggam tangan daddynya, dia lalu menatap ke arah body guard yang masih menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2