Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 106


__ADS_3

“jika boleh tahu, bunga ini untuk siapa nona?” tanya Matthew menatap intens ke arah Luna, Leon merasa sangat gerah lalu menarik Luna mendekat ke arahnya. Sebelah tangan Leon segera memeluk pinggang Luna dari samping, Luna hannya menghela nafas panjang melihat sikap Leon yang terasa berlebihan.


“aku ingin memberikan bucket bunga untuk mommy dan adik perempuanku, hari ini aku dan tunanganku akan menghadiri acara makan malam bersama keluarga kami” ujar Leon mendahului Luna yang akan berbicara. Seketika Luna melihat ke arah Leon dengan tatapan terkejut, berbeda dengan Matthew yang menatap dingin dan tajam ke arah Leon yang sengaja tersenyum sambil terus memeluk pinggang Luna.


“tunangan?!!” Matthew menatap ke arah Luna yang menatap ke arah Leon, matanya sekilas melihat ke arah tangan lebih tepatnya ke arah jari jemari Luna. Rasa shock terlihat jelsa di wajah Matthew saat melihat jari manis Luna terpasang cincin berlian.


Untung Luna mengenakan cincin, hal ini tentu menguatkan alibi ku dan membuat pria-pria seperti dia mengambil langkah mundur gumam Leon dalam hati merasa puas melihat raut wajah Matthew yang berubah.


Luna memilih diam dan tidak menanggapi ucapan Leon, dia mengalihkan pandangannya ke bagian toko lain yang memajang beberapa boneka yang terlihat lucu dan imut.


Matthew menatap ke arah Leon lalu membalikkan tubuhnya untuk mencari bunga yang cocok dan sesuai dengan pesanan Leon, dia mengambil beberapa bunga dengan jenis dan warna yang berbeda. Matthew kembali ke meja kasir lalu meraih beberapa kertas yang menarik untuk menghias bunga pilihannya, dengan terampil dia membuat bucket bunga anggrek berwarna putih dan di padu padankan dengan bunga berwarna lain.


Satu bucket bunga sudah selesai, Matthew terus menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali memperhatikan Luna yang berdiri di depan rak di mana boneka di susun rapi di atas rak khusus. Mata biru Luna tertuju pada sebuah boneka beruang berukuran menengah, boneka itu terlihat lucu dan imut.


Apa lebih baik aku hadiahkan ini saja untuk adik Leon? Apa dia akan menyukainya? Gumam Luna terlihat ragu. Leon menghampiri Luna yang tengah memegangi boneka beruang pilihannya,


“Kamu suka?” tanya Leon sambil merangkul kembali pinggang Luna.


“hm... (menatap ke arah Leon lalu kembali menatap boneka beruang itu) apakah bagus?”


“bagus, jika kamu menyukainya beli saja” ujar Leon bermaksud membelikan untuk Luna.


“menurutmu, apakah Kaila akan menyukainya?” tanya Luna membuat Leon menatap ke arahnya.


“ Kaila?! jadi... boneka ini...” Leon terkejut karena telah salah paham, Dia mengira jika Luna menginginkan boneka itu.


“aku bermaksud memberikannya untuk Kaila, menurutmu apa dia akan suka?” tanya Luna menatap Leon dengan mata yang berbinar-binar.

__ADS_1


Leon hanya diam dan terlihat bingung harus menjawab apa, Matthew yang telah menyelesaikan pekerjaannya melangkah menghampiri Luna dan Leon bermaksud memberi tahu jika pekerjaannya telah selesai. Tidak sengaja dia mendengar pertanyaan Luna, hatinya semakin terpikat saat melihat mata Luna yang berbinar-binar.


“hadiah yang di berikan dengan hati yang tulus akan sangat di hargai, saya yakin orang itu akan bahagia juga senang menerima hadiah dari anda” ujar Matthew, Luna membalikkan tubuhnya melihat ke arah Matthew yang berdiri di belakang mereka.


Leon ikut menatap ke arah Matthew dengan pandangan dingin, dia merasa tidak senang dengan Matthew yang ikut campur dalam pembicaraannya dengan Luna. Mendengar perkataan Matthew membuat Luna bersemangat dan memutuskan untuk mengambil boneka beruang itu,


“kalau begitu aku ambil boneka ini” ujar Luna bersemangat, Leon ingin mencegah niatan Luna. Jujur Leon sama sekali tidak tahu apa yang di sukai adiknya, selama ini dia lebih sering memberi uang jika Kaila membutuhkan atau menginginkan sesuatu.


Setelah melakukan pembayaran, kedua bucket bunga dan boneka beruang segera di ambil alih oleh supir Leon dan di letakkan ke dalam mobil.


Luna dan Leon keluar dari toko bunga itu, Langkah mereka kembali terhenti saat mereka mendengar Matthew memanggil.


“Nona, tunggu sebentar” panggil Matthew , Luna melihat ke arah Matthew yang menghampirinya dengan bucket bunga alstroemeria berwarna kuning di tangannya. Leon kembali bersikap waspada dan menatap dingin ke arah Matthew, terlihat sangat jelas sekali oleh Leon jika Matthew memiliki pandangan berbeda pada Luna.


“ ada apa tuan Matthew?” tanya Luna, wajah cantik Luna benar-benar telah menghipnotis Matthew.


“maaf....” Luna menatap bunga yang di berikan Matthew.


“aku pernah mendengar bunga ini melambangkan persahabatan, semoga kelak di masa depan kita bisa menjalin tali persahabatan” ujar Matthew menatap hangat dan penuh arti pada Luna, mendengar hal itu tentu saja membuat level kecemburuan Leon meningkat drastis. Tangannya sudah merasa sangat gatal ingin memberikan pelajaran pada Matthew,


“Kau!!!” Leon hendak melayangkan pukulannya namun tangannya di pegangi dan di genggam oleh Luna. Gadis cantik itu merasa kondisi sudah tidak memungkinkan, dia segera mengajak Leon untuk masuk ke dalam mobil. Luna sengaja mencegah Leon yang sudah terlihat kesal, dia menyadari mereka berada di tempat umum. Salah bertindak Leon bisa menjadi sorotan dan hal itu akan membuat nama baik keluarga Willson menjadi sorotan orang banyak.


“terima kasih tuan Matthew, kalau begitu kami permisi” ujar Luna meraih bunga pemberian Matthew lalu menarik tangan Leon menuju ke mobil. Supir segera menyalakan mesin dan melajukan mobil menuju restoran.


Leon masih terlihat kesal dan marah, dia sangat ingin melampiaskan kemarahannya. Kekesalannya semakin memuncak saat melihat bucket bunga yang di pegangi Luna.


Gadis cantik itu dapat merasakan hawa tidak enak yang mengelilingi kekasihnya, tangan Luna masih di genggam oleh Leon yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya. Bucket bunga yang masih di peganginya di taruh ke samping di tempat ruang yang kosong,

__ADS_1


“sayang” panggil Luna pada Leon yang diam dan bersikap dingin sedingin es. Luna tersenyum manis lalu sedikit menggeser duduknya mendekati Leon,


“sayaaaang...” panggil Luna kembali dengan penuh kelembutan, mau tidak mau Leon menolehkan wajahnya pada Luna yang duduk di sampingnya.


Luna langsung beraksi dengan mendekatkan wajahnya sambil menutup matanya dan mencium lembut bibir seksi Leon, ciuman mendadak itu sukses membuat Leon terkejut sekaligus termenung seketika. Atmosfer yang semula terasa tidak enak dan dingin perlahan mulai berubah menjadi menghangat oleh ciuman yang tidak terduga, wajah Luna perlahan menjauh dan membuka matanya menatap pria yang kini wajahnya memerah karena serangan musuh yang tidak terduga.


Leon masih terdiam, matanya berkali-kali mengedip memastikan dia sedang tidak bermimpi. Untuk pertama kalinya Luna berinisiatif hingga membuat Leon tidak mampu berkata apa pun,


“ kamu masih marah” tanya Luna menatap Leon dengan mata birunya yang jernih.


“Haa..” Leon masih berusaha mengembalikan kesadarannya akibat serangan mendadak.


“sayang, kamu masih marah karena pria bernama Matthew tadi” ujar Luna membuat kecemburuan Leon yang sempat memudar kini meningkat levelnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2