
“kamu tunggu di sini, temani daddy” ujar Leon sambil melangkah keluar ruangan Raymond, body guard itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Leon.
Pintu ruang kamar rawat Raymond di buka begitu saja oleh Leon, Adam dan Hugo yang menunggu di luar ruangan serentak menatap ke arah sahabatnya. Mereka serentak bangkit dari tempat duduk lalu menghampiri Leon,
“Leon... bokap lu gi mana?” tanya Hugo, Leon sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hugo. Dia melangkah terburu – buru keluar dengan cepat menuju tangga rumah sakit, Adam dan Hugo saling berpandangan bingung dengan sikap Leon.
“napa tuh anak, ampe pertanyaan lu di abaikan gitu?” tanya Adam heran menatap ke arah perginya Leon, Hugo menatap sahabat yang berdiri di sampingnya sambil menaikkan bahu dan tangan terangkat setengah menandakan jika dirinya juga tidak tahu. Penasaran mereka memutuskan mengikuti Leon yang sudah lebih dulu pergi, mereka meninggalkan para body guard yang terlihat kebingungan.
Salah satu dari mereka memberi ide dengan membagi para body guard, sebagian anggota menjaga Raymond serta keluarga lainnya dan dua orang mengikuti Leon. Dua orang body guard bergegas menyusul ketiga pria tampan yang sudah menuruni anak tangga, mereka setengah berlari menuruni anak tangga agar tidak ketinggalan begitu jauh.
Leon bergegas menuju ruang operasi sesuai dengan informasi yang di dapatnya, langkah Leon dan para sahabatnya langsung di paksa berhenti oleh orang – orang Baron yang sudah berjaga dengan sangat ketat di lorong menuju ruang operasi.
“MINGGIR KALIAN !!!” bentak Leon kasar tidak senang dengan sikap dingin para bawahan Baron, dia berusaha menerobos barikade manusia yang menutup jalan. Para bawahan Baron hanya diam dan menunjukkan ekspresi wajah serta sikap dingin, mereka sama sekali tidak bergeming saat Leon mendorong ke samping.
“MINGGIR!!! “ ujar Leon tidak senang, dia menatap tajam ke arah para bawahan Baron yang membalas dengan tatapan serupa.
Lampu di atas ruang operasi masih menyala, Baron terlihat tidak tenang berdiri tepat di depan pintu yang memiliki kaca kecil di sana. Melalui kaca itu dia melihat ke arah ruangan di mana para dokter berusaha menyelamatkan Luna, penantian itu terasa sangat lama hingga dia mendengar keributan dari arah lorong jalan menuju ruang operasi.
Matthew dan Hans yang duduk di kursi tunggu melihat ke arah lorong, sempat terdengar oleh mereka suara keras Leon yang ingin pergi ke ruang operasi.
“ MINGGIR KALIAN SEMUA,” bentak Leon tidak sabar, Hugo dan Adam mendekat ke arah Leon dan memegangi lengannya.
“Bro, tenangkan diri lu. Bicarakan baik – baik” ujar Adam berusaha menenangkan Leon, tatapan tajam setajam pisau di layangkan Leon ke arah sahabatnya.
__ADS_1
“sorry Bro, tapi apa yang di bilang si otaku bener. Lu jangan gegabah” ujar Hugo menenangkan sahabatnya, Adam mengalihkan tatapan kesal ke arah Hugo yang mengedarkan pandangannya ke arah pintu ruang operasi yang berjarak cukup jauh dari mereka berdiri.
Hugo tercenung saat melihat sosok Baron yang masih membelakangi mereka, walaupun jarak cukup jauh dan pandangan terhalang oleh barikade mereka dapat mengenali kakek Luna. Tatapan Hugo membuat Adam dan Leon mau tidak mau ikut mengalihkan pandangan ke arah pintu ruang operasi,
“ojisan” ujar Leon, tatapan tajamnya perlahan melunak saat melihat Baron yang seakan membenarkan informasi yang di dapatnya.
“OJI....” panggilan Leon terhenti saat salah seorang bawahan Baron berbadan tegap menghalanginya.
“MINGGIR” Leon menatap dingin ke arah bawahan Baron yang menghalangi pandangannya.
“Lebih baik anda tinggalkan tempat ini sebelum kami bertindak”
Tidak ingin operasi nona mereka terganggu Para bawahan Baron segera mengambil tindakan langsung menyerang Leon ke arah bagian Kening, hal itu bertujuan untuk membuat Leon tidak sadarkan diri. Tentu saja hal itu tidak di biarkan oleh Leon yang langsung memberikan perlawanan, melihat sahabatnya di keroyok membuat jiwa Hugo dan Adam terpanggil.
Para pihak Keamanan rumah sakit langsung melompat ke tengah pertikaian, para perawat pria berusaha menahan Leon CS sambil memegangi mereka. Namun kesigapan petugas keamanan serta para perawat di salah artikan bagi dua kubu yang bertikai, mereka akhirnya menjadi bulan – bulanan hingga membuat mereka tersudut diam melihat ke arah dua kubu itu. Wajah mereka terhias luka lebam serta pakaian dan rambut berantakan, para petugas serta perawat itu terlihat sangat kecil di antara dua kubu yang masih berseteru.
Para perawat dan petugas keamanan hanya diam terduduk di sudut lorong menyaksikan kubu Leon yang membalas setiap serangan dari kubu orang – orang Baron, tidak ada satu dari mereka mengalah. Beberapa aset rumah sakit tidak luput dari serangan mereka, beberapa kaca yang ada di lorong rumah sakit pecah dan bangku – bangku terlihat berantakan.
Penjagaan Baron yang berlapis – lapis sedikit membuat Leon cs kewalahan, sudah ada beberapa bawahan Baron tergeletak di lantai tidak sadarkan diri terkena jurus maut Leon. Body guard Leon juga sudah tergeletak tidak berdaya dengan beberapa luka lebam menghiasi wajah mereka, hidung dan bibir mereka mengeluarkan darah akibat pukulan kuat para bawahan Baron yang terlatih.
Namun, para bawahan Baron masih harus berlatih keras untuk bisa menundukkan Leon yang sedari tadi menyerang. Pertarungan sengit itu terlihat tidak seimbang, tapi kemampuan bela diri para ketiga pria tampan masih bisa mengimbangi.
Keributan masih berlanjut memaksa Baron mengalihkan pandangan, matanya menatap dingin dan tajam ke arah Leon yang terus berusaha menembus barikade para bawahan. Dia terpaksa melangkah mendekati Leon cs dan para bawahan yang bertarung sengit, Matthew mengikuti Baron dengan berjalan di samping di ikuti Hans beserta Alberto mengikuti berjalan di belakang.
__ADS_1
Pertarungan kedua kubu terus berlanjut membuat Leon tidak fokus dengan sekitar, dia terus melakukan perlawanan dengan melayangkan pukulan tajam mengarah tepat ke arah Baron yang berada dekat dengannya. Semua yang ada di sana sangat terkejut dan langsung menghentikan pertikaian, mata semua orang terfokus ke arah Leon yang menatap terkejut saat pukulannya nyaris mengenai Baron.
Pukulan itu langsung di tahan dan di tangkap dengan satu tangan oleh Matthew yang berdiri tepat di samping Baron, matanya menatap ke arah Leon yang terlihat terkejut dengan aksinya. Baron menatap dingin ke arah tangan Leon yang hampir mengenainya jika Matthew tidak bertindak,
“oji.... San.... “ Leon shock matanya beralih ke arah Matthew yang balas menatap tajam, tangannya di cengkeram kuat oleh Matthew segera di lepas dengan sedikit mengentakkan. Leon mendekat ke arah Baron,
“ojisan.... Ojisan.... Maaf.... Maafkan... A... “ ucapan Leon terhenti saat sorot tatapan tajam Baron menatap kesal ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan? “ ujar Baron dingin.
“oji san.... Ini.... “
“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak menunjukkan wajahmu.... “
“ ojisan.... Maafkan aku... Beri aku kesempatan untuk bisa bertemu dengan Luna... Aku... Aku....”
“lebih baik kamu pergi sebelum kesabaranku habis”
“tidak Ojisan.... Aku akan berada di sini menemani Luna”
“ kehadiran mu sama sekali tidak dibutuhkan di sini, pergi” Baron menyuruh bawahannya untuk mengusir Leon Cs.
“MINGGIR KALIAN” bentak Leon saat dua orang bawahan Baron berdiri tepat di depannya, para bawahan Baron segera memegangi lengan Leon dan berupaya untuk membawanya pergi.
__ADS_1