
Kiandra hendak keluar dari kamar Luna terhenti saat menatap layar ponselnya bertuliskan nama Hugo dengan emoticon love, dia mengabaikan dan segera keluar dari kamar bermaksud untuk mencari Luna. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Hugo dan Adam yang masih berdiri di depan kamar Kiandra,
“Kia...!!!” panggil Adam heran saat melihat Kiandra keluar dari kamar Luna, begitu juga dengan Hugo.
“Adam... “ Ujar Kiandra terkejut, raut wajah panik perempuan cantik itu tertangkap jelas oleh Hugo dan Adam.
“kamu kenapa terlihat shock begitu, Kia?” Tanya Adam yang segera menghampiri Kiandra.
“Sorry Dam, aku nggak ada waktu untuk menjelaskannya” ujar Kiandra yang hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat lengannya di pegang oleh Adam.
“ Kia, kia... sebentar tenanglah dulu, sebenarnya ada apa?” tanya Adam memegangi kedua bahu Kiandra.
“aku nggak bisa tenang Dam, aku harus mencari Luna sekarang” ujar Kiandra sedikit panik.
“Luna?! Memangnya Luna ke mana?” tanya Hugo yang semakin penasaran, dia melihat ke arah Kamar Luna yang masih terbuka sedikit. Hugo memberanikan diri membuka pintu kamar itu dan tidak mendapati siapa pun di dalam sana, mata Hugo menatap ke arah laptop Kiandra yang tengah memutar video.
Kiandra sudah tidak bisa membuang waktu, dia harus segera mencari Luna.
“sudah tidak ada waktu lagi, aku harus mencari Luna sekarang” ujar Kiandra hendak pergi, namun lagi – lagi langkahnya di hentikan oleh Adam yang berusaha untuk menenangkannya.
“Kia... tenanglah dulu, ceritakan pada ku sebenarnya apa yang terjadi sehingga kamu panik begini” ujar Adam.
“maaf Adam, aku nggak bisa menjelaskannya... “
“apa karena bukti ini, Kia?!” ujar Hugo membuat ucapan Kiandra terhenti, Adam dan Kiandra serentak menatap ke arah Hugo yang tengah memegangi laptop. Kening Adam terlihat mengerut saat tidak mengerti dengan di maksud oleh Hugo,
“maksud lu apaan? Ada apa dengan bukti ntu?” tanya Adam penasaran, Kiandra sudah tidak bisa berlama – lama lagi. Dia melepas paksa tangan Adam yang memegangnya,
“Sorry Dam, “ ujar Kiandra yang bergegas menuju lift, Adam hendak menghentikan langkah Kiandra namun Hugo mencegahnya.
__ADS_1
“kenapa lu malah cegah gua buat ngejar Kia?” protes Adam kesal, Hugo tidak banyak bicara. Wajahnya terlihat bingung dan sedih, dia lalu memberikan laptop itu pada Adam yang masih terlihat bingung.
Mata Adam menatap ke arah Laptop saat dia mendengar suara yang sangat di kenalnya, Adam dan Hugo saling berpandangan satu sama lain. Raut wajah mereka terlukis rasa tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan,
“Gi mana kita menjelaskannya pada Leon, bukti ini... “ ucapan Adam terhenti saat teringat dengan Kiandra yang panik.
“lah malah bengong, ni otaku” ujar Hugo, tanpa pikir panjang Adam segera menyeret Hugo untuk ikut dengannya. Dia segera menyusul Kiandra yang sudah menghilang sedari tadi,
“lu kagak usah nyeret – nyeret, gua bisa jalan ndiri. Emang mau ke mana ampe lu nyeret gua?” protes Hugo tidak senang, mereka berhenti tepat di depan lift.
“Kita musti nyusul Kiandra, “
“Emang lu tau cewek lu mau ke mana? “
“Yang pastinya dia kagak bakalan mo ketemu bokap lu,”
“Yee ni anak, gua nanya malah di ledekin”
“Luna udah tahu semuanya,” ujar Hugo dengan raut wajah serius.
“sekarang sebaiknya kita menuju ke kamarnya om Raymond, smoga saja semuanya belum terlambat” ujar Adam bergegas masuk ke dalam lift yang pintunya baru saja terbuka.
Luna kini berada tepat di depan pintu kamar di mana keluarga Willson tengah bersiap – siap, raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat dengan aura gelap meliputi hati. Tangan Luna terangkat ke udara dan segera mengetuk pintu di hadapannya,
Tok... tok... tok....
Anita tengah memakaikan dasi kupu – kupu ke leher Raymond menatap ke arah pintu yang di ketuk, begitu juga Raymond sambil membereskan jas yang di kenakan.
“ sepertinya itu Kaila dad, mommy akan membuka pintunya dulu” ujar Anita menyangka jika itu adalah Kaila yang keluar sejenak untuk menemui Leon di kamarnya, Raymond menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. Matanya beralih ke arah cermin menatap ke arah tuxedo yang di kenakan, Anita melangkah menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
“Luna...” Sapa Anita saat melihat Luna berdiri tepat di depan, raut wajah perempuan cantik itu terlihat sangat serius. Raymond mengalihkan pandangannya ke arah pintu, keningnya berkerut saat melihat Luna yang bersikap sangat berbeda.
“Maaf nyonya Willson, ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan dengan tuan Willson” ujar Luna dingin membuat Anita yang menatapnya dengan tatapan bingung dan heran.
“Nyonya?!!! Aigoo Luna kamu sepertinya lupa lagi, padahal sebentar lagi kamu akan menjadi keluarga Willson” ujar Anita memegangi tangan Luna yang membalas dengan sikap berbeda dan senyuman sekedarnya, Mata biru Luna menatap ke arah Raymond yang berdiri di tengah kamar sambil merapikan penampilannya.
Mungkin saja stress menjelang pernikahan, aku juga seperti Luna saat akan menikah dengan Ray gumam Anita dalam hati menepis pikiran negatif.
“maaf, nyonya... tapi berikan waktu sebentar untukku berbicara penting dengan tuan Willson maksudku daddy” ujar Luna bersikap dingin, Raymond menatap ke arah Luna dan Anita dengan pandangan penuh tanda tanya.
Ada apa dengan Luna? Kenapa sikapnya terasa sangat dingin? apa Leon membuat masalah lagi hingga membuat Luna marah? Gumam kesal Anita dalam hati yang berpikir jika sikap dingin Luna ada sangkut pautnya dengan Leon.
Anita menatap ke arah Raymond yang membalas dengan tatapan bingung,
“ masuklah Luna “ ujar Raymond menyuruh Luna untuk masuk ke dalam kamar, Luna masuk tapi masih berhenti di depan pintu.
“Maaf mommy, tapi aku ingin berbicara secara empat mata dengan tuan Willson” ujar Luna secara tidak langsung meminta Anita untuk meninggalkan mereka berdua, Raymond dan Anita saling berpandangan bingung lalu Raymond mengode pada Anita untuk menuruti permintaan Luna.
“baiklah... mommy akan pergi menemui Leon di kamar samping, jika ada apa – apa... ” ujar Anita sambil melangkah keluar dari kamar, belum sempat dia berpamitan pintu kamar itu sudah tertutup rapat dan terdengar suara pintu yang di kunci dari dalam.
Anita menatap pintu kamar yang tertutup,
Ada apa ini? Kenapa mendadak perasaan tidak tenang menghinggapi perasaanku? Kenapa Luna berubah sikap menjadi sangat dingin.... gumam Anita dalam hati masih berdiri di depan pintu.
Mata Luna menatap Tajam ke arah Raymond yang membalas menatap dengan kebingungan, ke dua tangan Luna terkepal kuat hingga jari jemarinya memutih.
“ada apa Luna? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan daddy” ujar Raymond, Luna sama sekali tidak menjawab pertanyaan Raymond. Mata biru Luna semakin menatap tajam ke arah Raymond,
“ awalnya aku tidak mempercayai semua perkataan Hana hingga dia memperlihatkan ini pada ku ( memperlihatkan flashdisk di genggamannya) katakan.... katakan Tuan Willson jika apa yang aku lihat dan dengar itu adalah kebohongan” ujar Luna.
__ADS_1
“ap... apa maksud kamu Luna? Aku sama sekali tidak mengerti “ ujar Raymond terlihat kebingungan.
“ jangan berlagak bo**h, aku sudah mengetahui semuanya jika kau sudah membunuh ke dua orang tua ku” ujar Luna marah segera meraih senjata pistol berukuran kecil yang terselip di pahanya, pistol itu di arahkan Luna tepat ke arah Raymond yang menatap terkejut.