Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 111


__ADS_3

Pemuda ini?! Gumam Baron dalam hati, raut wajahnya yang terlihat kesal perlahan tampak tenang dan berwibawa. Tangan Leon terulur menanti jabatan tangannya di sambut baik oleh Baron, namun pria tua itu hanya menatap dengan diam tangan Leon lalu raut wajahnya terlihat dingin menatap pria tampan itu.


Baron mengenal pemuda tampan di hadapannya, dia sengaja bersikap dingin untuk menguji Leon yang perlahan-lahan menarik kembali tangannya. Luna merasa sedikit iba dengan Leon, tapi dia tidak bisa Berbuat banyak. Baron menatap ke arah Keluarga Willson, Simon dan Hana putri Simon, dia juga menatap para pengunjung yang sempat berkomentar negatif tentang Luna.


Kiandra yang menatap layar monitor ikut terkejut dengan kedatangan Baron dan Alberto, dia sudah memeriksa setiap ruangan CCTV tapi Baron tetap tidak terlihat.


“Lun... kenapa ojisan bisa ada di restoran? Target.... target...” Kiandra memeriksa keberadaan Target dari misi yang sedang mereka jalani. Luna menanti laporan Kiandra, kedua tangannya memegangi lengan Baron sambil memberi senyuman manis.


Kiandra menemukan keberadaan Target tengah menikmati minuman yang di hidangkan, sesekali target memperhatikan jam di ponsel yang tergeletak di atas meja.


“Lun, target masih berada di ruangan VVIP. Kelihatannya target sedang menunggu seseorang, misi di lanjutkan atau batal?!” Kiandra memperhatikan layar monitor menampilkan CCTV di mana Luna, Baron dan lainnya tengah berkumpul.


“sebentar... kalo ada celah aku akan segera mengeksekusi, kamu tetap awasi target” ujar Luna dengan hati-hati. Baron terlihat sangat tidak senang dengan apa yang di dengarnya, matanya menatap tajam ke arah Simon dan keluarga Willson.


“ojisan....” Luna menatap Baron dengan mata biru yang membulat sempurna.


Raymond menatap tidak percaya pemandangan di hadapannya,


Aku tidak menyangka jika perempuan yang sedari tadi aku rendahkan adalah cucu dari tuan Baron, pebisnis legenda yang namanya sudah tersohor di mana pun. Sekarang aku malah merasa sangat menyesal atas tindakan tadi gumam Raymond dalam hati sambil berdiri dari bangkunya.


Baron menatap ke arah Alberto yang berdiri di belakangnya, tanpa mengeluarkan kata sepatah pun Alberto seakan mengerti dan tahu dengan keinginan tuan besarnya. Alberto sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Baron dan Luna, dia segera bertindak dengan memanggil waiter dan manajer restoran untuk menyelesaikan pekerjaan.


“Ojisan...” Luna memandang ke arah Alberto, dia seakan tahu tindakan apa yang akan di lakukan Baron.


“mereka pantas mendapatkannya (Baron menatap ke arah Luna) mereka harus tahu akibat karena telah menyinggung Keluarga Yong-sun” ujar Baron, Luna menatap ke arah Leon lalu kembali menatap Baron.


“kalo itu sudah keputusan ojisan, Luna hanya bisa mengikuti saja. Walaupun mereka tidak mengetahui status Luna sebenarnya, Luna akan angkat tangan dan membiarkannya” ujar Luna cuek, membuat Baron seketika melihat ke arah cucu kesayangannya.


“Maksud mu?!”

__ADS_1


“Luna sengaja menyembunyikan fakta tentang Luna adalah cucu Ojisan, semua itu semata Luna lakukan agar bisa melihat siapa yang bisa berkerja sama dengan baik dan siapa yang penjilat” ujar Luna menatap tajam ke arah Simon dan Hana. Simon tampak pucat dan keningnya tampak berkeringat, berbeda dengan Hana yang terlihat kesal dan ingin membalas Luna.


“Elo....” belum juga Hana selesai berbicara, Simon segera memegang kuat lengan Hana.


“Aaaaww... Papi ...sakit.... Lepasin tangan Hana” keluh Hana terdengar manja. Simon mengabaikan keluhan Hana, dia menatap segan ke arah Baron dan Luna,


"Ma... maafkan saya dan putri saya yang bodoh ini. karena terpengaruh dengan ucapannya saya menuduh nona Luna dengan tuduhan yang tidak pantas" ujar Simon membuat mata Hana terbbuka lebar dengan sempurna.


"Pa..mmmmhhh" mulut Hana langsung di tutup dengan sebelah tangan oleh Simon yang menatap tajam ke arahnya.


“Lebih baik kamu diam dan ikuti papi sekarang” bisik Simon sedikit membentak Hana.


“TAPI Pi...” Hana masih ingin membalas Luna, tapi Simon cepat menarik tangan Hana sedikit memaksanya untuk keluar dari restoran itu. Baron tentu saja tidak membiarkan mereka pergi begitu saja, dengan kode darinya beberapa Waiter tampak menghadang mereka.


“ojisan... Sudahi saja sampai di sini, hmmm” ujar Luna menatap dengan penuh harap, dia merasa malas untuk meladeni Hana dan Simon. Tatapan Luna yang seperti itu membuat Baron tidak berkutik, perasaan marah bercampur kesal langsung menguap begitu saja saat cucu kesayangannya menatapnya penuh hangat.


Simon melihat ada sebuah kesempatan saat semua pandangan keluarga Willson dan lainnya tertuju pada kehadiran Baron, dia memutuskan untuk pergi. Hana masih merasa tidak puas ingin kembali berbicara, tentu saja Simon tidak membiarkan hal itu terjadi dia segera menarik tangan Hana untuk mau mengikutinya. Mulut Hana masih di tutupi dengan sebelah tangan Simon, sesaat sesudah keluar dari restoran Hana membuka paksa tangan Simon.


“Pi...” ujar Hana sangat kesal, dia terlihat masih tidak bisa menerima apa yang terjadi.


“lebih baik kita pulang sekarang juga” Simon menarik lengan Hana menuju mobil mewah yang sudah terparkir di pelataran restoran, supir segera membuka pintu untuk mempersilahkan Hana dan Simon masuk.


“Tapi pi...” Hana belum selesai berbicara di paksa masuk oleh Simon ke dalam mobil, setelahnya dia akan masuk ke dalam mobil. Simon berhenti sejenak saat ponsel miliknya berbunyi, sebuah notifikasi pesan baru saja masuk. Dia segera membuka pesan itu dan membacanya dengan sangat serius, Hana duduk di bangku penumpang tampak berpangku tangan dengan raut wajah kesal.


Beberapa menit berlalu Simon masih berdiri menatapi ponsel miliknya, Hana melihat ke arah Simon yang terlihat ragu-ragu.


“Pi... papi mau ikut pulang atau tidak sih?” Hana terlihat semakin kesal, Simon menatap ke arah putrinya.


“kamu... kamu duluan saja, papi masih ada urusan penting” ujar Simon sambil menutup pintu mobil. Hana terlihat shock dengan tindakan Simon, mulutnya terbuka lebar saat supir menjalankan mobil meninggalkan area pelataran restoran.

__ADS_1


“Apa itu baru saja terjadi?” Hana masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.


“iya nona... Tuan besar baru saja melakukannya” supir langsung mengomentari perkataan Hana, tatapan tajam segera di layangkan Hana pada supir yang melihatnya dari kaca spion di atas dashboard. Supir pun memilih membungkam mulutnya dan serius memperhatikan jalanan, dia mengendarai mobil dengan hati-hati.


***


Anita berdiri di samping suaminya sambil menatap ke arah Luna dan Baron, dia tampak canggung dan tidak enak hati atas perkataan suaminya pada Luna.


“Dad... bagaimana ini?! Bagaimana jika Tuan Baron mendengar apa yang Daddy katakan pada Luna?!” bisik Anita tersenyum canggung pada Raymond yang hanya terdiam. Raymond segera menghampiri Baron yang membalikkan tubuhnya hendak melangkah keluar restoran.


“Kita kembali” ujar Baron mengajak Luna untuk kembali pulang ke mansion utama.


“sebentar Tuan Baron” Raymond berdiri tepat di belakang Baron yang langsung membalikkan tubuhnya. Baron menatap Raymond dengan pandangan tanda tanya, tangan Raymond terulur ke hadapan Baron bermaksud untuk berjabat tangan.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Mohon maaf karena dalam beberapa hari ini author jarang update. Di karenakan sistem imun author yang semakin menurun membuat author harus istirahat total, mohon maaf pada para reader yang harus menunggu lama update dari karya-karya Author. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2