
Hal itu tentu saja tidak di biarkan oleh Leon yang melakukan perlawanan,
“Ojisan, aku ingin bertemu dengan Luna... Aku mohon ... Aku ingin berada di sisinya... “ Leon bersimpuh di hadapan Baron menatap penuh harap.
“setelah kamu mencelakai cucuku, sekarang kamu ingin menemuinya (menatap dingin dan tajam sambil berdiri tepat di hadapan Leon) jangan pernah kamu muncul di hadapan Luna, aku masih berbaik hati untuk tidak mencabut nyawa mu detik ini” ujar Baron sukses membuat Matthew dan Hans terkejut, mereka teringat dengan kondisi Luna yang bersimbah darah. Matthew terlihat sangat tidak senang dan darahnya seketika mendidih marah, secepat kilat dia melayangkan pukulan kuat ke arah wajah Leon.
Buuugh...
Pukulan itu mendarat tepat di wajah tampan Leon membuatnya jatuh terduduk di lantai lorong rumah sakit, sudut bibir hotnya sobek dan mengeluarkan darah. Hugo langsung mencengkeram jas yang di kenakan Matthew dengan tangan kanan terkepal siap melepaskan pukulan balasan, namun pukulan itu di tahan dengan tangan kiri Matthew yang membalas menatap tajam ke arahnya. Adam membantu Leon yang terduduk di lantai, namun tangan Leon mengode untuk Adam tidak membantunya.
“siapa lu? Berani – beraninya lu mukul sohib gua” ujar Hugo marah, Hans tentu saja tidak senang dengan perlakuan Hugo hendak membalas. Matthew menatap ke arah kakeknya sambil menggeleng perlahan menandakan dia tidak ingin di bantu,
“saat pertama kali aku bertemu dengan Luna saat itu untuk pertama kalinya aku merasa jatuh cinta... “ ucapan Matthew di balas tatapan tajam oleh Leon yang sangat tidak senang mendengarnya, wajah Adam terlihat sangat terkejut saat ada pria lain yang dengan berani menyatakan perasaannya untuk Luna di hadapan Leon.
“Bren***k... “ Leon segera bangkit dari duduknya hendak akan menyerang ke arah Matthew, namun dia menahan diri untuk tidak membalas saat Baron menatap tajam dan bersikap dingin. Matthew menepis tangan Hugo dari kemejanya lalu menghampiri Leon dan saling berhadapan,
“Kenapa?!! Tidak terima aku mencintai Luna? Kamu marah dan kesal, hingga ingin memukul ku” ujar Matthew semakin menyulut emosi Leon.
“TUTUP MULUTMU” ujar Leon kasar.
“kamu yang seharusnya diam di sini!!! (Leon menatap nanar ke arah Matthew) saat aku menemukan Luna yang sekarat di tepi sungai, aku berpikir dia di serang oleh musuh. Tapi dugaanku salah, aku sangat terkejut jika orang yang menyakitinya adalah orang yang di cintainya” ujar Matthew dingin.
Leon tercenung saat mendengar ucapan Matthew, dia sama sekali tidak bisa membalas ucapan pria tampan itu. Kenyataan sudah menampar telak diri Leon,
__ADS_1
“Untuk apa berbicara dengan manusia arogan seperti dia, Matthew. Membuang – buang tenaga dan waktu saja” ujar Hans menatap kesal ke arah Leon.
Baron masih berwajah dingin namun hatinya merasa segan pada Hans sahabatnya, teringat olehnya dulu saat mengatakan pada Hans jika Baron ingin Leon menjadi cucu menantunya. Hans tahu bagaimana perasaan Baron memegang sambil menepuk pelan bahu sahabatnya, seakan memberi tahu jika dia sudah melupakan semuanya.
Hugo dan Adam menatap iba sahabatnya yang terpuruk,
“Baron sama.... Maaf jika saya lancang, tapi apa yang terjadi hari ini karena kesalahpahaman. Leon sangat menyesali dengan apa yang sudah terjadi” ujar Adam berusaha meredam suasana.
Leon memberanikan diri menatap lalu menghampiri Baron,
“Ojisan...” Leon yang terkenal arogan kini terlihat rapuh dan terpuruk, dia bersimpuh di hadapan Baron yang sama sekali tidak menatap ke arahnya.
“ ojisan... Izinkan aku bertemu dengan Luna, aku ingin ...” ucapan Leon terhenti saat Baron memotong begitu saja.
“ojisan” panggil Leon masih berharap.
“ingat ini, jika kamu masih berusaha untuk bertemu Luna (menatap lurus ke depan) di saat itu adalah hari terakhir daddy dan keluarga mu bernafas, Cam kan perkataan ku” ujar Baron berlalu pergi di ikuti Hans, Matthew dan Alberto. Para bawahan Baron kembali berjaga di sana, beberapa di antara mereka yang kesakitan segera mendapat pertolongan pertama oleh perawat.
Leon termenung menatap ke arah punggung Baron yang melangkah ke arah pintu ruang operasi, matanya menatap ke arah pintu operasi di mana lampunya masih menyala menandakan operasi masih berjalan.
Hugo dan Adam mendekat ke arah Leon memegangi lengannya untuk membantu berdiri,
“bangun, Leon. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk lu bicara, Baron sama sangat marah dan itu bakalan berdampak pada keluarga lu. Lebih baik lu tenangkan diri” ujar Hugo menatap ke arah yang sama dengan Leon.
__ADS_1
“ tidak... Aku akan tetap berada di sini” ujar Leon menolak untuk pergi, para bawahan Baron kembali berdiri tepat di depan mereka bertiga. Mereka langsung memblokade tepat di hadapan para pria tampan itu, mata tajam Leon yang semula terlihat tajam dan menakutkan kini terlihat sayu sedih.
Raut wajah penuh harap tercetak jelas di wajah Leon yang terus menatap ke arah pintu ruang operasi,
Lunaaa... Kamu harus selamat... Demi aku... Kamu harus selamat gumam Leon dalam hati.
*****
Luna tengah menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu kanan serta perut kiri bagian bawah, dokter kandungan tengah memantau keadaan janin pada layar monitor USG.
“ bagaimana dengan kondisi janin? “ tanya dokter bedah yang berusaha mengeluarkan peluru di bahu kanan.
“kondisi para janin terlihat stabil, anda bisa meneruskan” ujar dokter kandungan, pada layar monitor USG menampilkan gambar dua janin yang tengah berkembang di perut Luna.
Dokter bedah melanjutkan pekerjaannya sambil terus memantau keadaan denyut jantung pada layar monitor lain, kembali dia fokus mengeluarkan peluru yang berhasil di temukan.
“Dokter.... Tekanan denyut pasien menurun” ujar dokter pembantu melihat grafik pada layar monitor perlahan bergerak turun.
“tambahkan darah” ujar Dokter bedah.
Salah seorang perawat berdiri di samping tiang tempat kantung darah tergantung segera memerah agar aliran darah bergerak cepat, dokter bedah segera bertindak cepat dan teliti.
Beberapa menit berlalu terasa seperti bertahun – tahun bagi Baron yang duduk di samping Hans, wajahnya terlihat sangat tegang menanti kabar dari balik pintu kamar operasi. Mata Matthew menatap ke arah kaca pintu operasi dengan gelisah, dalam hati tidak putus – putusnya di berdoa untuk keselamatan Luna berserta bayi yang di kandung.
__ADS_1
*Jika bisa tukar posisi, biar aku saja yang berada di atas meja operasi bukan Luna Tuhan... Tolong selamatkan Luna dan bayinya... Tuhan.... Tolong biarkan aku melihat senyuman di wajahn*ya lagi gumam Matthew dalam hati.