
“Lihat saja dokter phsyco, benda itu akan segera ada di tangan ku” ujar Luna yang langsung di tatap remeh oleh Reynold.
“silah kan saja nona besar mencobanya” ujar Reynold tersenyum penuh maksud, Luna menatap sinis ke arah Reynold lalu bangkit dari sofa itu. Dia lalu melangkah menghampiri pemilik butik yang berdiri di samping manekin, Luna lalu di antar oleh pemilik butik ke dalam ruang pas.
Kiandra lalu berbaring di tempat di mana Luna berbaring, Reynold lalu melakukan hal sama yang di lakukannya pada Luna. Setelah semua selesai Reynold lalu pamit pada Soo He,
“Oba chan, aku sudah harus berangkat sekarang. Aku akan memeriksa dan mengirim laporan secepatnya” pamit Reynold yang sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Soo He.
“baiklah, hati – hati di jalan. Kabari kami jika kamu sudah sampai di sana” ujar Soo He, Reynold lalu melangkah keluar butik. Dia lalu melambaikan tangannya untuk menyetop mobil taksi yang akan mengantar menuju bandara, dua tabung darah di simpannya dalam sebuah kotak khusus agar aman selama dalam perjalanan.
***
Hana duduk tenang pada sebuah sofa di dalam kantor yang di hiasi dengan furnitur mewah dan mahal, dia menatap ke arah pria dewasa yang duduk di hadapannya. Tangan kiri pria itu ter hiasi dengan tato yang terlihat menyeramkan, kedua tangan pria itu tengah sibuk menghitung uang yang berada di atas meja.
Pria itu adalah rentenir yang memaksa Hana dan Silvia untuk bekerja padanya, pada meja di ruangan itu terdapat sebuah papan nama yang tertulis sebuah nama di sana. Kim Jun nama dari rentenir yang terlihat senang dengan Hasil dari pendapatan Hana,
“ha ha ha ha ha aku sangat puas dengan pekerjaan kamu, jika begini terus secepatnya hutang – hutang papi mu akan lunas. Sangat berbeda dengan... “ Kim Jun terdiam sejenak saat terdengar ketukan di depan pintu ruang kerjanya.
Tok... Tok... Tok...
“masuk” ujar Kim Jun menyudahi menghitung uang itu, matanya menatap ke arah pintu ruang kerja yang terbuka. Tampak dua orang pria berbadan kekar menarik paksa Silvia untuk masuk, sebelah alis Kim Jun tampak naik dengan mata menatap tajam ke arah Perempuan itu.
“Ada apa?” tanya Kim Jun.
“ Dia mencoba untuk kabur lagi bos” ujar salah seorang pria kekar itu sambil mendorong tubuh Silvia untuk berdiri di depan mereka. Wajah Silvia terlihat kesal dan marah, tangan kanannya memegangi tangan kiri yang terasa sakit.
__ADS_1
Mata tajam Kim Jun menatap dingin ke arah Silvia, Raut wajahnya terlihat tidak senang mendengar laporan dari anak buahnya.
“gue nggak ada hubungannya dengan Simon, kenapa gue juga haus bertanggung jawab atas hutang – hutangnya? Bukannya kalian udah dapat anak dan istrinya Simon, mereka yang...” ucapan Silvia terhenti saat sebuah telapak tangan melayang tepat ke wajah mulusnya.
Plaaak...
Suara keras dari tamparan itu menggema di ruangan, Hana kini berdiri tepat di hadapan Silvia yang sedang memegangi pipinya. Terlihat jelas cap tangan berwarna kemerahan di pipi itu,
“Ngapain lo nampar gue, ja£@ng?” ujar Silvia kesal, tangannya pun hendak melayang ke arah wajah Hana tapi langsung di pegangi kuat olehnya.
“Lepasin gue, pe**n” Silvia berusaha melepaskan tangannya.
“lebih baik lo diam, ato gue bakalan ngasih tamparan lagi di pipi lo yang lain. Lo udah buat hidup gue hancur, sekarang lo bilang nggak ada hubungannya” ujar Hana tampak geram. Silvia terdiam sejenak, wajahnya tampak memucat saat mendengar ucapan Hana.
“ap ap apa maksud lo?!” ujar Silvia memberanikan diri bertanya.
Mata Silvia terbuka lebar saat mendengar penuturan Hana, dia tidak pernah menyangka semua rencananya di ketahui oleh perempuan yang kini memegang erat kedua pipinya.
"trus sekarang lo dengan enaknya bilang kagak ada hubungannya?! (menatap penuh amarah) Lo lihat aja gue bakalan bikin lo hancur kayak gue dan itu di mulai dari anak yang lo kandung ini" ujar Hana mendorong dengan kasar wajah Silvia.
Kedua tangan Silvia langsung memegangi perutnya dan menatap ke arah Hana dengan tatapan ketakutan,
"ap ap apa yang mau lo lakuin? jangan sakiti anak gue...." ujar Silvia ketakutan.
Walaupun Silvia memiliki sikap yang tidak baik dan egois, dia sangat senang saat di nyatakan hamil. Silvia tumbuh dalam keluarga broken dan anak tunggal, sedari kecil dia tidak merasakan kasih sayang ayahnya dan itu membuatnya merasa iri dengan Hana. Dia demi bisa merasakan kasih sayang dari sosok ayah berani bermain api dengan Simon, di saat mengetahui dirinya Hamil Silvia merasa sangat senang karena dia akan memiliki keluarga sendiri.
__ADS_1
Hana menatap Silvia dengan tersenyum smirk dan mata yang terpancar rasa kebencian yang mendalam, Silvia mundur beberapa langkah berusaha melindungi perutnya yang masih terlihat datar. Kim Jun berdiri dari sofa yang di dudukinya lalu melangkah menghampiri Hana dan Silvia, tangan pria itu melingkar memeluk pinggang Hana yang masih menatap tajam pada Silvia.
" kalian jaga dia dengan ketat, jika perlu ikat kaki dan tangannya agar tidak kabur. Rawat dia dengan baik, jangan sampai bayi yang ada dalam perutnya kenapa - napa. Bisa jatuh nilai jualnya nanti" ujar Kim Jun membuat Mata Silvia membulat sempurna. Dia tidak menyangka jika rentenir itu berniat menjual baby yang ada dalam perutnya, Silvia pun kembali berusaha untuk lari. Namun dia kalah cepat dengan anak buah Kim Jun yang langsung memegangi tangannya,
"lepasin gue... lepasin gue... " Silvia berusaha memberontak, Kim Jun mengode ke arah anak buahnya untuk membawa Silvia pergi dan mengunci di kamar khusus. Mereka menganggukkan kepala dan menarik paksa Silvia keluar dari kantor itu, meninggalkan Hana dan Kim Jun.
" jadi.. Apa kamu akan membantu ku?!" tanya Hana menatap ke arah Kim Jun yang membalas menatap ke arahnya.
"Dengan pembayaran yang layak, semuanya akan sesuai dengan kemauan mu" ujar Kim Jun menarik tubuh Hana untuk lebih dekat ke arahnya. Wajah mereka berada sangat dekat, perlahan wajah Kim Jun mendekat dan bibir mereka pun saling menempel satu sama lain.
gue akan balas setiap rasa sakit yang gue terima saat ini dan itu semua di mulai dari Leon juga Luna si cewek ja£@ng itu... gumam Hana dalam hati penuh dendam.
Hana merasa sangat dendam pada Luna dan Leon karena kehidupannya yang sempurna menjadi hancur, di mulai dari kematian Simon. Dia berasumsi jika dalang dari kematian Simon adalah keluarga Luna, hal itu di picu saat Hana melihat Simon yang di undang masuk oleh orang - orang Keluarga Luna.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...