Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 162


__ADS_3

Asisten itu menatap bingung ke arah pancingan di mana senar pancingan itu masih tertarik, seakan ada sesuatu yang menariknya.


“Tuan muda... sepertinya pancingan anda ada yang menariknya” ujar asisten Hans, Matthew menatap ke arahnya sejenak.


“putuskan saja, mungkin itu hanya ranting kayu atau benda yang tidak berguna” ujar Matthew melangkah pergi, tiba – tiba saja langkah pria tampan itu terhenti saat matanya menangkap sesuatu.


Dari jarak kejauhan Matthew melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, Hans yang berdiri di belakangnya ikut menatap ke arah cucunya menatap.


“kamu sedang lihat apa?” tanya Hans Penasaran.


“ hmmmm apa... itu... sepertinya itu darah” ujar Matthew melihat sebuah batu besar tertempel jejak darah berbentuk telapak tangan yang sudah mulai berubah warna, walaupun hari itu sudah menjelang sore tapi dia masih bisa melihat dengan jelas. Hans menatap ke arah batu yang di tunjuk oleh Matthew, jejak telapak tangan itu tidak hanya ada satu, ada banyak jejak yang menempel di berbagai batu.


Spontan Matthew mendekati batu besar dan mulai menelusuri jejak darah yang tertinggal, matanya terus memperhatikan dengan teliti di ikuti Hans berserta asistennya. Dengan Hati – hati Matthew melewati setiap batu dan membantu Hans, jejak darah itu mengarah ke arah rimbunan pohon.


“hati -hati Matthew... jangan gegabah. Bisa saja yang terluka ini binatang buas atau buronan yang kabur” ujar Hans khawatir.


Matthew berdiam diri sejenak sebelum melanjutkan penelusurannya, terbesit rasa khawatir di dalam hatinya saat mendengar ucapan Hans. Tapi, rasa dahaga penasaran di hati belum terpuaskan bagi Matthew, dia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya untuk menuntaskan rasa penasaran di jiwa.


Jejak darah itu tertempel pada sebuah pohon besar di balik semak belukar, langkah Matthew berhenti saat imajinasinya akan sesuatu mengkhawatirkan bermain di dalam pikirannya.


Bagaimana jika di balik semak itu adalah binatang buas yang siap menyerang, atau penjahat? Tapi ... aku sangat penasaran dengan apa yang ada di balik sana gumam Matthew dalam hati, matanya melihat ke sekeliling mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai senjata. Sebuah kayu berukuran sedang terjepit di antara berbatuan sungai, dia lalu mengambil kayu itu dan berusaha menariknya dengan sekuat tenaga.


Hans menyuruh asistennya untuk membantu Matthew, berkat bantuan asisten kayu berukuran sedang itu berhasil terambil oleh pria tampan itu. Dia lalu menghampiri rimbunan semak - semak dengan sikap waspada, Matthew mengambil nafas panjang lalu memegang kayu itu dengan kedua tangannya yang kekar.

__ADS_1


Kaki panjang Matthew menerobos paksa masuk ke dalam semak sambil mengambil ancang – ancang,


“HHHAAAAAA... “ Matthew melompat ke balik pohon dengan bersuara keras, dia sengaja melakukan untuk menakuti jika di balik pohon itu adalah binatang buas. Matthew terkejut saat melihat apa yang ada di balik pohon itu,


“LUNAAA...” panggil Matthew pada Luna yang tengah bersiap untuk menyerang, tangannya yang berlumuran darah memegangi sebuah batu yang di jadikan senjata untuk mempertahankan diri.


Melihat Matthew yang berdiri di depannya tubuh Luna ambruk ke belakang dengan posisi punggung tersandar ke pohon besar,


"Mat... thew" ujar Luna dengan nafas tersengal – sengal, dia sejenak memejamkan matanya menahan rasa sakit akibat luka yang di alami. Matthew melihat kondisi Luna terkejut dan hendak ingin menolong, tapi langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.


Wajah Matthew bersemu merah saat melihat tampilan Luna yang hanya mengenakan lingerie,


“maaf... “ spontan Matthew membalikkan tubuhnya mengucapkan maaf pada Luna yang kembali membuka matanya menatap bingung, pria tampan itu segera membuka kemeja yang di kenakan dan mengulurkan kemeja itu pada Luna.


“pakailah... “ ujar Matthew yang masih mengalihkan pandangannya, akibat luka yang di deritanya membuat Luna tidak bisa bergerak banyak.


“apa yang terjadi Luna? Siapa yang sudah menyerang mu ... “ ucapan Matthew terhenti saat tangan Luna berlumuran darah menutup bibirnya, mata Matthew menatap intens ke arah mata Luna yang terlihat sayu.


“a...ak... aku... “ Luna sudah tidak sanggup berbicara dan jatuh pingsan, Matthew dengan sigap memegangi kedua lengan Luna. Segera kemeja yang di lepaskannya di kenakan ke tubuh Luna,


“bagaimana kamu bisa terluka seperti ini? Aku harus membawamu ke rumah sakit segera” ujar Matthew berbicara pada diri sendiri.


Dia segera memasang kancing baju satu persatu, setelah semua kancing terpasang Matthew segera mengangkat tubuh Luna.

__ADS_1


“Maaf Luna...” ujar Matthew seakan meminta izin menyentuh tubuh Luna, dia segera membopong dan membawanya keluar dari balik pohon yang tertutup semak. Hans yang menunggu tidak begitu jauh termangu saat melihat cucunya yang menggendong seorang perempuan, dia tidak begitu melihat jelas wajah perempuan yang tertutup oleh rambut yang basah.


“Matthew... ternyata kamu nackal, begitu cepatnya kamu move on dari Luna” ujar Hans saat Matthew melewatinya dengan langkah cepat.


“ jangan salah paham, Grandpa. Ini Luna...” ujar Matthew sambil memperhatikan langkahnya, Hans dan asisten mengikuti Matthew yang terlihat tergesa – gesa.


“Luna” Hans begitu terkejut saat melihat kondisi Luna yang di gendong Matthew, dia segera melangkah cepat lalu berdiri tepat di hadapan Matthew yang menghentikan langkahnya.


“kenapa dengan Luna?” tanya Hans melihat ke arah Luna tidak sadarkan diri.


“dia terluka, kita harus segera membawa ke rumah sakit, Grandpa?!” ujar Matthew melewati Hans yang segera mengikutinya.


Mereka bergegas kembali menuju villa, asisten Hans dengan sigap membantu Matthew membuka pintu mobil. Hans duduk di samping Matthew memegangi kepala Luna, berbagai pertanyaan bergejolak di benaknya.


Mobil segera melaju menuju rumah sakit terdekat, Hans merogoh ponsel miliknya yang di simpan pada saku tersembunyi di balik jasnya. Matthew sedih dan cemas saat menatap wajah Luna yang pucat, tangannya mendekap erat tubuh Luna yang lemah. Asisten Hans sesekali melihat ke arah kaca spion,


“Cepat” ujar Matthew semakin khawatir, asisten Hans menekan pedal gas mempercepat laju mobil dengan terus memperhatikan dan mendengar GPS yang terpasang di dashboard mobil.


“aku akan menghubungi Baron” ujar Hans segera merogoh saku di balik jas yang di kenakan, ibu jarinya bergerak di atas layar ponsel mencari nomor ponsel milik Baron. Dia segera menghubungi Baron dan mengabarkan tentang Luna, tapi panggilan itu sama sekali tidak di jawab oleh Baron.


“Bagaimana grandpa?” tanya Matthew.


“Beliau tidak menjawab, lebih baik kita fokus menyelamatkan Luna. Saat di rumah sakit nanti, grandpa akan mencoba menghubungi Baron kembali” ujar Hans.

__ADS_1


Mobil memasuki halaman rumah sakit yang ternyata sudah di penuhi dengan awak pers, asisten Hans kebingungan akan memarkirkan mobil saat beberapa pers berdiri menghalangi laju mobil. Berkali – kali Asisten Hans mengklakson untuk membuat orang – orang itu mengosongkan area IGD,


“Bagaimana bisa begitu banyak media di sini? “ tanya Hans terkejut saat melihat pelataran rumah sakit sudah di penuhi dengan awak media yang menunggu.


__ADS_2