Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 137


__ADS_3

“Sillvi, lu ke sini sendirian? Abby mana?” tanya Hana yang tidak melihat keberadaan Abby. Silvia dan Abby sudah seperti anak kembar, di mana pun Silvia berada Abby pasti ada di sampingnya begitu juga sebaliknya.


“Abby... Abby udah berangkat ke HK beberapa waktu yang lalu, dia bilang mo nyusulin bokap dan nyokapnya ke sana. Gue... gu gu gue datang ke sini karena dapet info dari kepolisian tentang bokap lu” ujar Silvia terbata-bata.


“ha... kenapa polisi malah nge hubungi lu?” tanya Hana semakin heran.


“itu... itu... hmmm... itu...” Silvia tampak gugup dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Beberapa saat yang lalu...


Silvia berada di dalam kamar mandi, tangan kanannya memegangi alat test pack yang menunjukkan dua garis. Wajahnya seketika memucat dan kedua tangan memegangi perut,


“nggak... ini nggak mungkin... ini nggak mungkin... “ ujar Silvia panik, tangannya kembali menggapai alat test pack lainnya yang sengaja di beli banyak.


Berkali-kali dia mencoba mentest dan hasilnya tetap sama, tangannya bergetar memegangi alat test pack itu. Dia lalu memerhatikan ponsel yang tergeletak di samping wastafel, Silvia segera meraih ponsel itu dan menghubungi ponsel Simon.


Pihak kepolisian tengah berada di samping jurang, mereka mendapatkan laporan dari beberapa mobil yang melintas perihal mobil yang mengalami kecelakaan. Mereka segera meluncur menuju lokasi bersama pihak team SAR, sesampainya di lokasi polsi melihat dengan jelas sebuah mobil yang sudah hangus terbakar. Komandan polisi segera menyuruh anak buahnya untuk memeriksa sekitar lokasi kejadian, dalam tengah evakuasi mobil mewah milik Simon terdengar deringan ponsel di sekitar lokasi.


Salah seorang Team SAR menemukan ponsel yang berada pada tepian jurang, temuan itu segera di laporkan pada komandan polisi yang segera memerintahkan untuk mengamankan. Deringan dari ponsel itu terhenti dan beberapa menit kemudian terdengar kembali nada dering yang sama, ponsel iniyang berhasil di amankan segera di serahkan pada polisi.


Ponsel itu kembali berdering dengan nama Silvia berlambangkan hati tertera pada layar, polisi segera mengangkat telepon yang masuk dan memberi tahu tentang kecelakaan itu. Mendengar pernyataan polisi membuat Silvia shock sekaligus bingung, sambungan telepon itu di putuskan secara sepihak oleh Silvia.


“gi mana ini... Gi mana ini... Aku harus bagaimana? Anak... Anak ini... Apa yang harus aku lakukan pada anak ini?” ujar Silvia berkata pada diri sendiri.


Komandan polisi masih memegangi ponsel itu dengan tatapan heran saat sambungan telepon itu terputus secara sepihak, salah seorang polisi datang menghampiri dengan sebuah kantung untuk menyimpan barang bukti.


Ponsel temuan itu kembali berdering, pada layar datarnya tertulis nama Hana yang pada samping namanya tertulis putriku. Polisi menggeser icon tombol hijau pada layar ponsel itu, dia langsung mengangkat telepon itu dan berbicara dengan Hana.


***


Di saat sekarang...


Silvia terlihat kebingungan tidak tahu harus mengatakan apa, Hana menatap intens pada sahabatnya yang masih bungkam.

__ADS_1


“napa lu malah diem? Gue nanya kenapa polisi... eh bentar-bentar... “ Hana seakan tersadar sesuatu, Silvia semakin gugup dan terlihat panik.


“polisi nggak mungkin dong punya nomor ponsel lu, kecuali...” Hana semakin merasa curiga, dia semakin curiga dan yakin dengan apa yang di pikirkannya.


“itu... mhh.... i i i itu.... gu gu gue... gue... “ Silvia semakin gugup.


“Silvi, JANGAN BILANG KALAU APA YANG GUE PIKIRKAN NGGAK BENAR?!” ujar Hana mulai terlihat emosi.


“ma ma ma maksud lo, ap ap aapa Hana?” Silvia masih bertingkah tidak mengerti dengan apa yang di maksud Hana.


PPPLLAAAAAK...


Hana merasa sangat marah, dia tidak bisa menahan diri lagi dan menampar e keras ke pipi Silvia.


“DASAR PE**K LO, TERNYATA LO MALAH PUNYA AFFAIR AMA BOKAP GUE. KAGAK NYANGKA... SAHABAT SENDIRI MALAH NUSUK GUE DARI BELAKANG" Hana terlihat sangat marah pada Silvia yang sudah terduduk di lantai, tangannya memegang pipi yang tercetak jelas bekas kemerahan dari telapak tangan Hana.


“hikss...hikss... maafin gue Han... gue.. gue...” Ucapan Silvia terhenti saat Hana berjongkok di hadapannya, tangan kanan Hana mencengkeram kuat kedua pipi Silvia dengan penuh kebencian. Mata Silvia berkaca-kaca, setetes bening air mata buaya betina mengalir dari sudut matanya.


“nggak.... nggak benar Han hu hu hu hu ... gue nggak pernah godain bokap lu hu hu hu hu hu... kita... kita saling sayang dan cinta... hiks.... dan... dan....” tangis Silvia dengan tangis semakin menjadi sambil memegangi perutnya, Dia berusaha bangkit dan duduk bersimpuh. Kedua tangannya merangkul perut datar berusaha untuk melindungi bayi yang ada dalam kandungannya.


Mata Hana terbuka lebar dan terlihat murka saat melihat apa yang di lakukan Silvia, Dia berdiri tepat di hadapan Silvia yang duduk bersimpuh di depan kakinya.


“jangan bilang... jangan bilang kalo lo juga... “ ucapan Hana terhenti saat Silvia memberanikan diri menatap ke arahnya.


“Juga?!” ujar Silvia menatap bingung ke arah Hana lalu dia berusaha untuk berdiri menunggu jawaban.


“Han... apa maksud lo dengan kata ‘Juga’?” ujar Silvia penasaran.


"NYOKAP GUE JUGA HAMIL, PUAS LO” ujar Hana marah. Silvia terkejut saat mendengar ucapan Hana,


"gi... gi mana bisa?!” ujar Silvia yang tidak percaya begitu saja.


“YA BISALAH, NYOKAP GUE ISTRI SAH DARI BOKAP GUE BUKAN PE**K DAN PELAKOR KAYAK LO” ujar Hana.

__ADS_1


“nggak.. itu nggak mungkin" Silvia menolak percaya dengan apa yang di katakan Hana.


“kenapa nggak mungkin? Pernikahan nyokap gue bahagia dan semua itu di rusak oleh pela**r kayak lo” Hana masih melampiaskan amarahnya pada Silvia.


“ itu nggak mungkin Hana,”


“LO NGEYEL YA, UDAH DI BILANG JUGA KALO NYOKAP HAMIL ANAK DARI BOKAP GUE” ujar Hana tidak sabaran.


“itu nggak mungkin Hana, karena bokap lu udah kagak pernah nyentuh Nyokap lu lagi. Bokap lu sendiri yang ngasih tau ke gue kalo dia udah bosan dan ingin pisah” ujar Silvia mengeraskan suaranya, hal itu membuat emosi Hana semakin meledak.


“DASAR PE**K LU YA, ENAK BENER LU NGOMONG...” Hana menjambak rambut dan mulai menampar kembali wajah Silvia. Perlakuan Hana tentu saja tidak di terima oleh Silvia, dia pun mulai melakukan perlawanan juga pertahanan agar bayi di kandungannya tidak kenapa – kenapa.


Para maid dan body guard terlihat ragu-ragu ingin memisahkan Hana dan Silvia,


“gi mana nih?” ujar salah seorang maid khawatir.


“kita harus misahin mereka” ujar maid lainnya panik. Perkelahian dua orang perempuan itu terlihat tidak seimbang, Hana berhasil menduduki tubuh Silvia dan terus melampiaskan amarahnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2