Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 140


__ADS_3

Ibu dan anak sama-sama jahilnya, oke aku akan ikuti permainan ini gumam Baron dalam hati sambil tersenyum, dia tahu Luna tertarik dengan penawaran saham itu.


“tujuh puluh lima persen keuntungan masih belum seberapa, bagaimana jika lima belas persen saham dari goup Yama jika Luna menang!” ujar Baron yang langsung mendapat tatapan terkejut oleh semua orang, berbeda dengan Luna yang tersenyum smirk.


Hans terdiam menatap ke arah Baron yang tersenyum penuh maksud,


Lima belas persen!!! Hmmm.. itu.... (menatap ke arah Luna) untuk mendapatkan cucu menantu nilai itu sangat sepadan gumam Hans dalam hati merasa yakin.


Leon tentu saja tidak terima dengan ide taruhan itu, dia ingin berbicara tapi sudah di dahului oleh Hans.


“aku setuju” Hans menatap penuh keyakinan pada Matthew.


“tapi Grandpa, ini tidak benar” ujar Matthew merasa tidak senang dengan taruhan itu. Luna menatap ke arah Matthew dan Leon,


“kalo begitu, anda mengaku kalah?” tanya Luna yang membuat Leon dan lainnya menatap serentak ke arahnya.


“Luna!!! (mendekat ke arah Luna) kamu setuju dengan... ”ucapan Leon terhenti saat telapak tangan Luna yang mengenakan sarung tangan khusus menempel ke bibirnya.


“sayang ku kamu tenang saja... aku bertarung di saat aku merasa sangat yakin jika aku akan menang, jadi lebih baik kamu berdiri manis di sana” ujar Luna menunjuk ke arah samping Kaila. Leon masih terlihat tidak senang dengan taruhan itu,


“Luna, kamu yakin? Kalau tidak biar aku saja yang menggantikan mu” ujar Leon memegang busur panjang di tangan Luna.


“baby... trust me okay” ujar Luna sambil memegang pipi Leon dengan lembut, mata biru itu terlihat penuh dengan keyakinan. Leon akhirnya mengalah dan memilih mundur beberapa langkah, mata Luna memandang ke arah Matthew yang berdiri tepat di hadapannya.


“bagaimana tuan Matthew? Anda sudah mengaku kalah?” tanya Luna kembali. Matthew menatap Luna dan tersenyum manis padanya,


“aku terima!!!” Matthew terlihat lebih percaya diri. Luna mempersilahkan Matthew untuk terlebih dahulu menembakkan anak panahnya, kesempatan itu tentu saja tidak di sia-siakan oleh Matthew.


Dia lalu mengambil dua anak panah dan memasangnya pada busur panah, dia bersiap dan mulai meregangkan dengan kuat senar busur itu. Jari jemari Matthew melepaskan tali busur yang mendorong kuat anak panah menuju papan target, ke dua anak panah itu tertancap tepat di tengah lingkaran papan target.

__ADS_1


Giliran Luna untuk menembakkan anak panah, tangan kanan Luna memegangi dua anak panah dan meletakkan pada posisinya. Dia terdiam sejenak dan mengurungkan niat untuk menembak papan target, Luna menolehkan kepalanya ke arah Leon lalu mengode untuk menyuruhnya mendekat.


Leon memandangnya dengan heran dan melangkah mendekat ke arah Luna, dia menatap bingung ke arah gadis cantik itu yang melingkarkan kedua tangan ke pinggang. Kedua tangan kekar itu juga melingkar di pinggang Luna yang tersenyum manis ke arahnya, busur yang di pegangi Luna berada tepat di belakang tubuh Leon.


Pemilik mata tajam itu dapat merasakan di balik punggungnya dua anak panah terpasang dengan sempurna, pandangan mata Luna hanya tertuju satu fokus yaitu mata Leon yang kini tengah menatapnya balik. Melihat adegan romantis itu membuat Kaila dan Kiandra merasa meleleh, di sisi lain beberapa maid yang baru saja mengantarkan teh diam – diam ikut melihat pertarungan panahan itu dan merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Kaila dan Kiandra.


“oooo romantis banget... Nona besar sangat keren” bisik maid menatap dengan wajah mupeng.


“sssstttt... Kamu ngomong jangan keras – keras atau kita ketahuan” bisik maid lain memperhatikan terus pertarungan itu.


Apa yang di lakukan Luna tentu saja sangat di sukai Leon, Tangan kekarnya menarik pinggang Luna untuk berdiri lebih dekat lagi. Pemandangan itu tentu saja membuat Matthew merasa tidak nyaman, lain halnya dengan Hans yang menatap dengan penuh intimidasi ke arah belakang punggung Leon.


Baron tersenyum senang melihat kemesraan yang sangat di sengaja itu,


“sudahlah Hans... Kamu bisa melihat sendiri kalau mereka pasangan yang sempurna” ujar Baron membuat Hans tidak terima.


Kedua anak panah itu melesat tajam menuju papan target, tanpa terduga anak panah milik Luna menghancurkan dan membuat jatuh anak panah milik Matthew. Kejadian itu terjadi begitu cepat, mereka semua yang menyaksikan itu termenung melihat ke arah papan target kecuali Leon dan Luna.


Tangan Kiri Leon membelai wajah Luna dan perlahan mendekatkan wajahnya, bibir mereka saling menempel satu sama lain membuat para kaum jomblo merasa iri. Matthew tersenyum kagum dan mengakui kehebatan Luna, dia lalu memilih keluar dari ruangan itu agar tidak mengganggu pasangan Luna dan Leon.


Baron tersenyum jahil ke arah Hans yang menatapnya dengan wajah cemberut,


“Senang berbisnis dengan mu” ujar Baron kembali sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, Hans menghela nafas lalu menyambut jabatan tangan itu dengan hangat setelahnya mereka berdua menikmati teh hijau yang tersedia.


***


Perasaan bersalah, sedih dan takut kini bercampur aduk di hati dan benak Raymond, dia ingin beristirahat sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Bayangan foto orang tua Luna terus bermain – main di relung mata Raymond, Anita menatap suami yang terlihat larut dalam pemikirannya.


“dad... ada apa?” tanya Anita memegangi lengan Raymond.

__ADS_1


“sebaiknya... kita kembali ke rumah sekarang, aku merasa tidak nyaman dan sudah begitu merepotkan tuan Baron dan juga keluarganya” ujar Raymond.


"Daddy yakin?” tanya Anita menatap Raymond yang perlahan menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.


“terus bagaimana dengan pembicaraan tentang pernikahan putra kita Dad? Bukankah tujuan kita kemari untuk membicarakan hal itu" tanya Anita membuat Raymond kembali larut dalam pikirannya.


Benar juga, tapi apa mungkin pernikahan ini akan terjadi? jika suatu saat mereka mengetahui kebenaran itu bagaimana aku akan menghadapinya, tapi jika aku menolak lagi... mereka akan semakin curiga... dan kebenaran yang selama ini aku simpan akan terbongkar... apa yang.... gumam Raymond dalam hati terhenti saat mendengar deringan ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping ranjang.


Raymond berusaha bangun dari tidurnya di bantu oleh Anita yang mengatur beberapa bantal untuk menyangga punggung, setelah itu Raymond meraih ponsel memperhatikan layarnya sejenak lalu menggeser icon pada layarnya.


“Tuan besar, Tuan Simon meninggal dunia” ujar seseorang yang ada di seberang sana. Mendengar hal itu Raymond seakan mendapat angin segar dan kelegaan,


Rahasia ini akan selamanya terkubur, satu-satunya batu penghalang sudah tidak ada lagi gumam Raymond kembali dalam benak merasa senang. Rasa senang itu bukan lantaran berita kematian Simon tapi rahasia yang terus di simpan selamanya akan tetap terkubur.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2