
Saat menuruni anak tangga ponsel Leon berdering dengan beberapa notifikasi pesan yang masuk, mata elang itu menatap pesan yang tertulis nama Simon yang ditujukan untuk Raymon Daddy Leon.
“Sepertinya rubah tua itu sudah tidak sabar untuk bertindak” ujar Leon memperhatikan isi pesan di layar datar ponsel miliknya. Tanpa sepengetahuan Raymond, Leon telah menyadap dan mengalihkan semua pesan Simon ke ponsel Miliknya. Tentu saja itu semua berkat bantuan hacker sekaligus sahabatnya Hugo, Leon sengaja mengalihkan semua pesan Simon untuk daddynya. Selain menjaga agar Raymond tidak stress, dia ingin mengetahui kebenaran apa yang membuat Raymond bersikeras mempertahankan pertunangan eon dengan Hana.
Leon terlebih dahulu melangkah menuju lemari sepatu dan menyimpan sepatu Luna di dalam sana, setelahnya di melangkah ke dapur meraih gelas lalu mengisinya dengan air putih dingin. Sebelah tangannya menggeser ke atas dan ke bawah layar datar ponsel sambil terus menatap ponsel datar membaca pesan yang dikirimi Simon untuk Raymond.
Tuan Ray, anda tidak bisa memperlakukan ku seperti ini. Lebih baik anda memikirkannya lebih baik lagi sebelum hal ini terungkap
isi pesan Simon pada Raymond dengan sebuah foto, dalam foto yang terlihat blur dan tidak jelas itu ada sebuah dokumen yang di depan file itu tertulis sebuah nama. Namun nama itu tidak begitu hanya satu huruf yang terlihat begitu jelas.
“F... dokumen apa ini? Kenapa rubah tua itu mengirimnya ke daddy?” ujar Leon terus menatapi foto itu.
Di kediaman utama Raymond tengah tertidur pulas di samping Anita istrinya, keringat membanjiri kening dengan kepala yang bergerak ke kana dan ke kiri.
“tidak.... tidak.... jangan... maaf...ma ma maafkan aku...” terdengar igauan Raymond dalam tidurnya. Anita segera terbangun dari tidur nyenyak mendapati suaminya yang tengah bermimpi buruk,
“dad... daddy...” sapa perlahan Anita sedikit menggoyangkan tubuh Raymond yang masih mengigau. Keringat membanjiri seluruh tubuh Raymond, matanya terbuka lebar dan nafasnya terasa sesak.
“hah...jangan... jangan... hhah... hah...” ujar Raymond dengan wajah terlihat panik dan cemas.
“daddy tenang dad... (turun dari ranjang mengambil segelas air putih untuk Simon) minum Dad...” ujar Anita sambil memberikan segelas air putih pada Raymond yang masih berusaha mengatur nafasnya. Dengan tangan gemetaran Raymond meminum air yang di berikan oleh istrinya sampai habis, gelas kosong lalu di ambil Anita dan di letakkannya di nakas samping ranjang mereka.
Anita memperhatikan raut wajah Raymond yang terlihat mulai tenang walaupun masih terlihat raut wajah panik.
“dad... daddy kenapa?” Tanya Anita tampak khawatir, Raymond berusaha untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
__ADS_1
“tadi mommy sempat mendengar Daddy berkata maaf, kepada siapa daddy mengucapkan kata maaf?” tanya Anita yang terlihat sangat penasaran, Raymond menatap ke arah istrinya terlihat jelas dari sirat matanya yang terlihat rasa takut dan bersalah.
Raymond memeluk istrinya yang terlihat tidak mengerti apa-apa, dapat di rasakan oleh Anita degupan jantung yang berdetak cepat. Anita menepuk-nepuk perlahan punggung Raymond untuk menenangkannya, dia ingin bertanya lebih dalam lagi namun melihat suaminya yang terlihat tertekan rasa tidak tega mengurungkan niatnya.
***
Luna yang tengah tertidur nyenyak mulai merasa tidak nyaman dan gelisah,
Krrriiuuuuuk....
Terdengar jelas bunyi perutnya yang belum sempat di isi. Luna mencoba mengabaikan dan terus memejamkan matanya yang terasa sangat berat, seluruh tubuh pun terasa sangat lelah. Dia lalu mengubah posisi tidurnya dari miring ke kanan hingga miring ke kiri, mencari posisi yang nyaman.
Krrrriuuuuk....
Luna memaksa membuka matanya dengan raut wajah kesal saat kembali mendengar dan merasa perutnya yang lapar,
Ingatannya terputar sesaat sebelum dia berada di kamar itu,
Lupa gue, tu manusia narsis juga arrogant udah ngasih tahu gue kalo dia mau ke apartemen dia dulu sebelum ngantar gue balik. Jadi mungkin ini kamarnya, gumam Luna bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Matanya menatap berkeliling kamar itu, mendadak dia merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Lebih baik gue bersih-bersih dulu, kamar mandinya di mana ya? Gumam Luna sambil turun dari ranjang empuk itu. Dia mulai memeriksa kamar Leon sambil berusaha untuk menahan sesuatu, dia melihat sebuah pintu lalu membukanya. Luna menyangka pintu itu akan mengarahkannya ke kamar mandi, namun ternyata pintu itu menuju walk in closet. Luna lalu membuka pintu lainnya yang tidak beberapa langkah dari ruang walk in closet, dia segera masuk dan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang di kenakannya.
Dia berdiri membelakangi kaca besar wastafel kamar mandi itu, saat membalikkan tubuhnya mata Luna membesar saat melihat lukisan abstrak terhias hampir di seluruh tubuhnya.
“what the h**l, kenapa bisa sebanyak ini?” ujar Luna menyentuh setiap lukisan abstrak di tubuhnya. Matanya semakin terbuka lebar saat sesuatu mulai mengalir keluar, dia segera bergegas masuk ke dalam ruang shower. Tangan Luna segera mengambil keran shower, lalu memutar tombol keran untuk mengatur suhu airnya dan membersihkan sesuatu itu.
__ADS_1
Dasar cowok narsis, Banyak banget ?!! Udah berkali-kali di bersihin tetap aja keluar lagi gumam Luna kesal terus berusaha untuk membersihkan. Dia lalu melanjutkan bersih-bersih dengan mandi membersihkan seluru tubuh, setelah selesai dia mulai memeriksa beberapa kabinet di bawah wastafel untuk menemukan handuk.
Setelah menemukannya, Luna segera mengenakan di tubuh dan rambutnya. Dia menatapi pakaian yang di pakainya sudah tampak basah, akan terasa sangat tidak nyaman jika memaksa memakainya. Luna lalu melangkah keluar dari kamar mandi menuju walk in closet, dia mulai memeriksa setiap lemari yang ada. Dia melihat di salah satu lemari yang berisi beberapa tumpukan baju kemeja, Luna lalu meraih salah satu kemeja berwarna abu-abu dan mengenakannya.
Kkrrrriiiukk....
Untuk ke sekian kalinya perut Luna kembali berbunyi memberontak untuk segera di isi, dia lalu keluar dari walk in closet melangkah ke pintu lainnya. Pintu itu mengarahkannya keluar dari kamar Leon, dengan bertelanjang kaki Luna menuruni anak tangga. Dia melihat ke sekeliling apartemen itu sama sekali tidak menemukan pemilik dari apartemen itu,
Ke mana perginya si manusia narsis itu? Luna melihat berkeliling di lantai pertama apartemen milik Leon.
Matanya melihat dapur dengan kulkas besar berada di sana, segera dia melangkah ke dapur lalu mulai memeriksa setiap kabinet di dapur itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...