
Target Luna tidak lain tidak bukan adalah Bobby kembali duduk di kursinya. Dia meminum minumannya yang masih tersisa banyak, dia sama sekali tidak merasakan adanya perubahan rasa dari minuman yang sudah di campur dengan cairan bening oleh Luna. Mata Bobby kembali terfokus pada ponsel dan memperhatikan jam yang tertera di sana, Luna yang berada di tepian jendela terus mengawasi bagian bawah pelataran restoran dan orang-orang yang berlalu lalang. Dia harus bertindak hati-hati agar terhindar dari cedera dan Bobby yang berada di ruangan tepat di atas kepalanya.
Luna beruntung dirinya mengenakan pakaian yang bisa di bilang tidak menarik perhatian, dia pun kembali memperhatikan ke sekelilingnya. Kiandra berusaha mencari sosok Luna yang sama sekali belum keluar dari ruangan VVIP itu, dia terlihat sangat khawatir dan terus menatapi layar monitor mencari keberadaan Luna
“Kia...” bisik Luna agar tidak menarik perhatian.
“kamu ada di mana Lun?” Kiandra memeriksa setiap CCTV.
“Aku berdiri tepat di bawah jendela ruangan target” Ujar Luna berusaha mencari jalan lain. Kiandra memperhatikan ruangan di bawah ruangan target, jari jemarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop miliknya. Seketika pada layar laptop muncul denah restoran, Kiandra memperhatikan dengan teliti denah itu.
“Lun, tepat di bawah kamu ada jendela yang mengarah ke ruangan istirahat karyawan” Kiandra memperhatikan CCTV ruang istirahat karyawan. Luna tidak membuang waktu segera melakukan aksinya dengan perlahan turun dari pijakan di atas jendela itu, samar-samar dia mendengar suara berasal dari dalam ruang istirahat.
Kiandra melihat beberapa orang yang pernah di lihat dan di kenalnya berada di depan ruang istirahat, orang-orang itu tampak berjaga tepat di depan ruangan itu.
“Lun, sepertinya rubah tua dan Alberto ada di dalam ruangan itu” Kiandra memberi tahu Luna yang masih bergelantungan di tepian atas jendela.
“apa ada jalan lain Kia?” bisik Luna sambil terus bertahan, Kiandra memeriksa denah restoran.
Luna memperhatikan ke sekeliling jendela mencari pijakan untuknya agar dapat berdiri dan mengistirahatkan tangannya yang mulai terasa sakit, Kiandra terus memeriksa namun tidak ada tempat yang bisa di lalui oleh Luna kecuali ruangan Bobby. Dia terus memeriksa ke arah ruangan Bobby,
“Lun, hanya bisa melewati ruangan target” Kiandra kembali memperhatikan CCTV yang mengarah ke arah ruangan itu. Luna kembali berusaha mengangkat tubuhnya untuk naik kembali pada pijakan di atas jendela, dia berdiri di atas sambil merilekskan tangannya yang sempat kesemutan. Dia menggoyangkan tangan sambil mengkretekkan jari jemarinya, Luna tampak menghitung dalam hati sambil mengingat waktu saat memasukkan cairan itu ke dalam minuman.
Menurut perkiraanku, kalo si target meminum minuman di atas meja mungkin saja sekarang dia udah merasakan reaksinya gumam Luna memperkirakan jika targetnya mungkin sudah menuju ke alam sana, dia melihat ke arah tepian jendela ruangan target.
Luna sedikit melompat untuk mencapai tepian jendela itu, dalam sekali lompatan Luna berhasil meraihnya dan dengan perlahan dia mengangkat tubuhnya. Hati-hati Luna membuka jendela ruangan itu dan mengintip memastikan misinya berhasil, namun Luna sama sekali tidak menemukan Bobby. Kondisi tangan Luna sudah hampir mencapai batasnya, dia tidak memiliki pilihan lain mau tidak mau dia harus melewati ruangan itu.
Luna segera membuka perlahan jendela itu dan menarik tubuhnya ke atas, dia duduk pada tepian jendela yang terbuka melihat ke arah Bobby yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
Sebelah tangan Bobby memegangi dada dan matanya terbuka lebar, nafasnya terlihat tidak beraturan juga matanya tampak memerah. Luna tidak menyia-nyiakan waktu, dia masuk ke dalam ruangan itu lalu melangkah perlahan menuju pintu untuk bisa segera keluar dari ruangan itu.
“Lun, Kaila menuju kamar kecil sekarang untuk mencari kamu” ujar Kiandra.
“aku dalam perjalanan sekarang” Luna membuka pintu ruangan dan memastikan tidak ada orang.
"Aman Lun” ujar Kiandra yang kembali memperhatikan CCTV depan ruangan Bobby. Luna kembali memperhatikan tubuh Bobby yang tergeletak di lantai memastikan jika dia sudah menuju ke alam sana, ternyata di luar dugaan Bobby bergerak dan melihat ke arah Luna.
“d*mn it...” ujar Luna membuat kening Kiandra berkerut.
“kenapa Lun?” tanya Kiandra penasaran, namun Luna sama sekali tidak menjawab.
Bobby terlihat melemah seperti orang mabuk berat melangkah tertatih mendekat ke arah Luna, sebelah tangannya memegangi dada yang terasa sakit olehnya.
“si...si...siapa lu... aakkkh... aaarggh” ujar Bobby, penglihatannya mulai mengabur dan tidak terlihat jelas.
“Malaikat kematianmu” ujar Luna langsung menyerang Bobby yang mulai melemah, dengan kekuatan yang tersisa Bobby mencoba melawan.
Pertarungan di antara mereka terjadi, Bobby yang terlihat lemah melakukan perlawanan di sisa kekuatannya. Dada yang terasa sakit di abaikannya, Luna lalu melakukan serangan dengan memukul tepat ke arah jantung target. Seketika target berdiri mematung dengan mata yang membulat sempurna, pukulan telak dari Luna membuat dia langsung roboh ke lantai.
Ruangan itu tampak kacau balau akibat pertarungan mereka yang tidak seimbang, begitu pun rambut Luna yang terlihat sangat berantakan. Dia kembali memastikan jika Bobby benar-benar sudah di kirim menuju alam sana, setelahnya dia segera keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju kamar kecil.
“misi complete... Kia... jangan lupa untuk mengurus sisanya” Luna mengingatkan Kiandra untuk melakukan pekerjaan yang biasa di lakukannya.
Belum juga aku mengurusnya, orang-orang Ojisan pasti udah lebih dulu bergerak gumam Kiandra dalam hati menatap layar monitor di depannya.
“beres Lun... (mata Kiandra membulat sempurna saat melihat tampilan Luna pada monitor CCTV) OMG kenapa dengan penampilan kamu?” Tanya Kiandra terkejut melihat tampilan rambut Luna yang berantakan.
__ADS_1
“ ulahnya target... aku menuju kamar kecil sekarang, Kaila bagaimana?” Luna segera merapikan rambutnya dengan cepat agar tidak menimbulkan kecurigaan,
“Kaila sepertinya masih nyariin kamu Lun, becare full baby” Kiandra melihat Kaila yang melihat ke kiri dan ke kanan telat di depan pintu masuk kamar kecil. Luna menuruni anak tangga dan langsung berjalan menuju ke arah kamar kecil, dia dapat melihat Kaila yang berdiri di depan kamar kecil sambil melihat ke arah lain.
***
Leon duduk tepat di samping Raymond dan di hadapan Baron, dia terlihat tenang dan penuh percaya diri. Sama sekali tidak terlihat raut wajah gugup atau gelisah di wajah Leon, dia tampak tenang dan ikut menikmati teh yang di hidangkan oleh waiter restoran.
“tuan Baron, sebelumnya saya ingin meminta maaf pada anda dan Luna... Saya benar-benar tidak mengetahui jika Luna adalah cucu anda dan...” ucapan Raymond terhenti saat Baron memotong pembicaraannya.
“Tuan Raymond.... Luna meminta ku untuk menyudahi dan tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi tadi, kini semua itu sudah berlalu tidak usah di ingat lagi. Semua ini terjadi karena cucuku Luna sama sekali tidak ingin semua orang tahu siapa dia sebenarnya dan aku mengerti dengan keputusannya itu, aaku bisa melihat Kebanyakan dari mereka yang mendekati Luna memilik niat tidak baik” ujar Baron sambil menikmati makanan yang tersedia.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1