
Soo he hendak mencegah niat Kiandra langsung di tahan oleh Baron yang seakan mengerti dengan sikap Kiandra, saat membuka pintu kamar itu Kiandra berpapasan dengan perawat yang hendak memeriksa cairan infus.
“nona... nona sudah sadar... Eh nona... Tunggu sebentar.... Nona.... Nona....” belum juga selesai perawat itu berbicara, Kiandra melewati perawat itu begitu saja yang menatap bingung sambil terus memanggilnya. Jason yang menunggu sambil berjaga di depan pintu menatap ke arah Kiandra, mata mereka saling bertemu. Seakan bertelepati dalam hati Jason mengerti ke mana Kiandra akan pergi, tanpa banyak bertanya Jason mengikuti Kiandra begitu juga dengan Baron, Soo He, Alberto dan Adam.
*****
Ruang tunggu depan ruang operasi...
Tubuh Leon bersandar ke dinding dengan ke dua tangan berpangku, matanya menatap kosong dinding rumah sakit. Anita dan Kaila terus menatapi pintu ruang operasi yang masih berlangsung, Hugo menghampiri Leon sambil memegang pundak memberi semangat.
Tap... tap... tap...
Dari arah lorong koridor rumah sakit terdengar suara langkah cepat, semua yang berada di ruang tunggu menatap ke arah lorong itu. Kiandra datang seperti angin tornado yang siap melahap apa pun di sana, matanya terkunci ke satu arah di mana Leon yang berdiri di samping Hugo. Kedua tangannya terkepal kuat dengan kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya, tanpa pikir panjang Kiandra mendekat ke arah Leon.
Tangan Kiandra terkepal kuat segera melayang ke arah wajah Leon, dia melayangkan tinju terkuatnya ke arah wajah pria tampan itu.
Bugggh...
Pukulan telak Kiandra mendarat di pipi kiri Leon yang sama sekali tidak bergeming, tangan itu masih menempel di sana. Seketika rasa sakit menjalar dari tangan Kiandra saat pukulannya sama sekali tidak berefek pada Leon,
"aaaaaaaaawwww” teriak Kiandra sambil mengibaskan tangannya yang terasa amat sakit, Adam hendak membantu Kiandra langsung di cegah Jason yang merentangkan tangannya menghalangi. Matanya menatap dingin ke arah Adam lalu kembali menatap ke arah Kiandra yang masih menahan rasa sakit di tangannya, semua orang yang berada di sana menatap bingung dengan apa yang di lakukan perempuan manis itu.
__ADS_1
“aaarggghhh... Sakit tangan gue, keras amat tu muka” ujar Kiandra kesal menahan rasa ngilu.
“ Kamu ngapain” ujar Leon menatap dingin ke arah Kiandra yang langsung menatap penuh kebencian.
“ lu emang cowok breng**k, gua benci ama lu. Nyesel gua udah nge fans ama lu yang ternyata tega menyakiti sahabat gua” ujar Kiandra kesal, air matanya berlinang sambil kedua tangannya memukuli dada bidang Leon. Anita yang melihat hal itu tentu saja tidak terima, dia bangkit dari tempatnya duduk di temani Kaila.
Tangan Kiandra yang memukul dada bidang Leon segera di tepis kasar oleh Anita, tubuh Kiandra langsung di dorong kuat oleh Anita hingga perempuan cantik itu mundur beberapa langkah ke belakang.
“apa yang Kamu lakukan? Dasar wanita bar bar, Kenapa kamu memukuli putra saya? Sahabat kamu yang sudah menyerang dan melukai suami saya hingga sampai sekarang masih dalam operasi” ujar Anita tersulut emosi, Kiandra menatap tajam ke arah Anita.
“ suami kamu emang pantas mat*” ujar Kiandra marah, mendengar hal itu Leon sangat marah. Tangannya terangkat ke udara hendak melayangkan tamparan ke arah Kiandra, melihat hal itu Adam segera memasang badan dengan memeluk tubuh dan menyembunyikan perempuan itu dalam pelukan. Namun tangan kekar Leon sama sekali tidak bergerak, tangan pria tampan itu tertahan oleh pegangan kuat dari Jason yang balas menatapnya dingin.
Kiandra menatap ke arah Jason dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, dia sedikit mendorong Adam ke samping dan kembali berhadapan dengan Leon.
“ucapan gua tidak sebanding dengan lu yang udah menembak dan menyakiti Luna” ujar Kiandra membuat suasana pada Kubu Baron semakin dingin mencengkam, Jason melepaskan kasar pegangan tangannya pada lengan Leon saat mendengar perkataan Kiandra.
“dia sudah menyakiti daddy lebih dulu” ujar Leon meninggikan suaranya.
“ ITU LANTARAN LUNA TAHU JIKA KAKEK DAN DADDY YANG LU BANGGAKAN ITU UDAH NGE BUNUH KEDUA ORANG TUANYA,” ucapan Kiandra seperti petir yang menyambar di langit pada saat itu. Di luar rumah sakit hujan turun dengan deras seiring kilat petir dan gemuruh yang sahut menyahut, Anita dan lainnya terdiam saat mendengar apa yang di sampaikan Kiandra.
“tidak... itu tidak mungkin, daddy nggak mungkin... Itu pasti bohong “ ujar Kaila yang sama sekali tidak percaya, Adam dan Hugo hanya diam seribu bahasa. Mereka tidak mengatakan sepatah kata pun karena sudah mengetahui rahasia yang di sembunyikan Raymond selama ini,
__ADS_1
“kamu bohong, tidak mungkin suami saya melakukan hal itu” ujar Anita yang tidak terima atas tuduhan Kiandra.
“gua sudah menduga kalo lu bakal menyangkal (menatap ke arah Leon) lu ingat dengan bukti yang lu kasih ke gue... dan tentunya gue berhasil mengurai semua data kebusukan dari daddy lu” ujar Kiandra mengingatkan Leon pada data bukti yang sempat di mintai tolong olehnya.
Leon tentu saja tidak terima atas tuduhan Kiandra balik menantang,
“lalu di mana bukti itu sekarang?!” ujar Leon mempertanyakan bukti itu, karena keadaan yang kacau Kiandra lupa membawa peralatannya yang di tinggal begitu saja di kamar Luna. Perempuan berkaca mata itu terdiam sambil tangannya memegangi pakaian yang di pakainya, dia terlihat kebingungan. Adam menatap iba pada kekasihnya yang kebingungan, dia merasa dilema apakah harus memberi tahu atau tidak rahasia yang di simpan rapat oleh Raymond.
“kamu tidak bisa membuktikannya bukan?” ujar Leon menatap dingin Kiandra.
“tidak usah banyak bicara lagi Leon, kita harus menuntut mereka dengan kasus pencemaran nama baik dan juga penyerangan” ujar Anita emosi tingkat dewa.
Tangan Adam memegangi ponselnya di luar saku celana yang di kenakan, Matanya bertemu tatap dengan Hugo yang seakan bertelepati padanya.
Tahan dulu, Dam... kondisi sangat tidak baik.... gumam Hugo dalam hati mengode dengan matanya, Adam merogoh saku celana di mana ponsel miliknya tersimpan. Dia menatap ke arah Kiandra yang terdiam mencari cara agar kebenaran yang di rahasiakan Raymond terkuak,
Sorry Leon... tapi lu harus tahu dengan kebenaran ini... gumam Adam dalam hati sambil melangkah mendekat ke arah Leon.
“ Leon... “ panggil Adam mengalihkan pandangan Leon ke arahnya, mata tajam itu menatap bingung saat Adam memberikan ponsel miliknya.
Pada layar ponsel itu tengah terputar sebuah rekaman bukti tentang kejadian beberapa tahun silam, mereka semua yang ada di sana dapat dengan jelas mendengar suara milik Raymond yang panik. Bukti itu berpindah pada rekaman percakapan Simon ( papi Hana) dengan kakek Leon yang memerintahkan untuk melenyapkan semua bukti yang ada, Semua yang ada di sana semakin terkejut saat mendengar pembicaraan kakek Leon yang meminta Simon untuk membuat kecelakaan yang awalnya di sebabkan oleh Raymond di manipulasi.
__ADS_1
“.... buat kecelakaan itu seolah – olah kecelakaan biasa akibat cuaca buruk, jangan sampai ada satu bukti pun yang tertinggal. Kerjakan dengan sangat bersih” ujar Kakek Leon pada rekaman itu.