
“ itu sangat mudah untuk di lakukan Tuan, namun bayarannya tentu saja... “ ucapan Simon langsung di potong oleh kakek Leon.
“soal bayaran, kamu tenang saja. Aku akan menjamin segalanya sesuai dengan apa yang kamu harapkan”
Rekaman itu berakhir membuat semua yang ada di sana terdiam seribu bahasa, mata Leon menatap ke arah layar ponsel Adam di mana terdapat bukti lain berupa file yang tertulis pendonoran jantung dan hal lainnya. Soo He memegang dinding yang berada di sampingnya, dia sangat terpukul dan nyaris pingsan mendengar bukti itu.
“ Choon He... putriku.... “ Air mata Soo He menetes teringat dengan nasib putri serta menantunya, Baron memegangi tubuh Soo He lalu mengalihkan tatapannya ke arah Alberto yang langsung sigap ikut memegangi.
“bawa istriku kembali ke mobil lebih dulu” perintah Baron pada Alberto yang langsung melaksanakannya, merasa letih dan sudah tidak kuat lagi Soo He menuruti keinginan suaminya tanpa protes apa pun.
“maaf nyonya besar...” ujar Alberto yang memapah Soo He dengan hati – hati, mata Soo He menatap ke arah Baron yang membalas menatap lembut. Soo He dapat melihat dengan jelas luka yang sangat dalam di mata Baron, Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat dengan aura kegelapan membuat siapa saja merinding ketakutan berada di dekatnya.
Anita, Leon dan Kaila masih terdiam dengan raut wajah Shock, terlebih Leon yang sangat tidak menyangka dengan rahasia yang di simpan rapat oleh daddynya. Tangan kekar Leon memegangi dada bidang yang terbungkus oleh kemeja putih yang kini terlihat berbeda, kemeja serta jas putih yang di kenakan sudah berganti dengan beberapa noda darah milik Raymond.
Deg... deg... deg...
Detakan jantung yang berdetak di rasakan oleh Leon, matanya menatap ke arah Anita yang jatuh terduduk di lantai. Anita sama sekali tidak menyangka jika suami dan ayah mertuanya menyimpan rahasia besar,
“Ray.... hiksss... “ Anita sangat terpukul tidak mampu menatap ke arah keluarga Yong – Sun, Kaila langsung bersimpuh di lantai dan merangkul pundak mommynya.
“ja... ja... jadi... i... in...ini....” Anita tidak sanggup berkata apa pun, matanya menatap ke arah mata Leon lalu turun ke dada bidang putranya. Anita tidak bisa mengelak atau mematahkan bukti yang di dengarnya dari ponsel Adam, dia mengenali suara dari rekaman yang merupakan suara milik suami dan juga ayah mertuanya.
__ADS_1
“sekarang lu semua tahu... hikss... hiksss... Luna bisa aja habisin bokap lu dengan mudah, tapi tidak di lakukannya karena cinta ama lu dan lu dengan teganya menyakiti sahabat gua” ujar Kiandra marah.
“tidak... ini ... tidak mungkin.... ini pasti bohong, dari rekaman itu.... Dad.. Dad daddy bilang jika itu kecelakaan dan... ” ucapan Leon terputus saat Kiandra mencengkeram kuat jas yang di kenakan.
“itu bukan kecelakaan... tapi pembunuhan... bokap lu udah bunuh kedua orang tua Luna dan sekarang... lu... Lu juga udah nge bunuh sahabat gue beserta... calon keponakan gue” ujar Kiandra marah, air matanya menetes sedih menatap nanar ke arah pria tampan itu.
Leon terkejut dan langsung menatap ke arah Kiandra,
“apa?!!! Ap ap apa Apa yang kamu katakan? Luna... keponakan.. “ ujar Leon teerbata- bata.
“ya... Luna hamil dan lu udah bunuh Luna bersama calon anak lu... “ ujar Kiandra mendorong tubuh Leon hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
Anita semakin terkejut saat mendengar berita kehamilan Luna, pandangannya menjadi sangat gelap lalu tak sadarkan diri.
Para body guard bertindak sigap dengan membantu Kaila membawa Anita ke ruang perawatan yang tersedia, segera para perawat melakukan pertolongan pertama pada Anita.
Baron melangkah menghampiri Leon dengan tatapan amarah dan dendam yang berkecamuk, dia menatap dingin ke arah pria tampan itu.
“ mulai hari ini kalian adalah musuh keluarga Yong - Sun, jangan pernah kamu memperlihatkan wajahmu di depan kami. Jika suatu waktu kita bertemu hanya akan ada pertumpahan darah” ujar Baron dingin, mata tua itu menatap tajam setajam katana ke arah Leon yang terpukul. Dia lalu membalikkan tubuhnya hendak melangkah meninggalkan tempat itu,
“OOjisa... Ojisan... “ panggil Leon menghentikan langkah Baron.
__ADS_1
“ kamu tidak layak serta pantas memanggilku dengan panggilan itu (menatap ke arah Kiandra yang masih berdiri di samping Leon) Kia... ayo... ” ujar Baron yang pergi begitu saja, Kiandra memandang penuh kebencian sejenak ke arah Leon setelahnya di pergi begitu saja mengikuti Baron.
Jason menatap ke arah Leon yang terlihat sangat shock, terpuku, menyesal dan bersalah,
“nona muda sudah seperti adik bagi ku, saat dia mengatakan akan menikah denganmu rona bahagia terpancar di wajahnya. Sekarang senyuman serta suaranya sudah tidak bisa ku dengar lagi, aku bisa saja menghabisi mu sekarang tapi tidak ku lakukan karena kamu tidak pantas bagiku untuk menghabisi” ujar Jason pergi begitu saja.
Tubuh Leon kehilanga kekuatan tersandar di dinding rumah sakit, matanya menatap ke arah dua tangannya yang bergetar. Gambaran saat penembakan terlihat seiring dengan rasa bersalah dan penyesalan mendalam,
“AAAAAAAAAAAARRRRGGHHHHHHHHHHH” Leon berteriak keras sambil meninju keras ke arah dinding rumah sakit, seketika buku – buku jari tangan kekar itu bersimbah darah. Hugo dan Adam bertindak cepat menahan tubuh Leon,
“Leooon... tenang bro... tenang” ujar Hugo menenangkan Leon yang mengamuk.
“LUUUUNAAAAAAAA” ujar Leon menangis sedih, untuk pertama kalinya pria yang di juluki ‘Demon king’ itu menangis sedih. Ucapan Kiandra tentang kehamilan Luna terus terngiang di benak Leon, hatinya di liputi dengan perasaan bersalah dan penyesalan mendalam.
Dokter yang tengah melakukan operasi merasa terganggu dengan suara kehebohan di luar ruang operasi, dia lalu menyuruh perawat untuk melihat apa yang terjadi di luar. Tangannya terus bergerak dan berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Raymond yang terbaring di meja operasi, perawat itu keluar dan termangu melihat suasana berkabung di ruang tunggu operasi.
operasi saja masih berlangsung... Tapi suasana di sini sudah seperti kamar mayat saja... gumam perawat itu dalam hati menatap ke arah Leon yang sedang di tenangkan oleh kedua sahabatnya. HUgo melihat perawat yang keluar dari ruang operasi, dia mengira jika operasi raymond sudah selesai langsung memberi tahu Leon.
"Leon, tenang bro. Lihat itu" ujar Hugo meminta Leon untuk melihat ke arah pintu ruang operasi, teringat dengan daddynya yang masih di operasi Leon segera menghampiri perawat itu.
"bagaimana dengan keadaan Daddy?" tanya Leon khawatir.
__ADS_1
"pasien masih dalam proses operasi, dokter tengah bekerja keras untuk menyelamatkan tuan Willson. Jadi kami harap anda semuanya tetap tenang dan JANGAN BERISIK" ujar perawat itu ketus lalu pergi meninggalkan Leon cs, para pria tampan itu seketika terdiam dan saling menatap satu sama lain.