Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 56


__ADS_3

Luna berhasil menggigit pinggiran bibir Leon, ciuman itu pun terhenti seketika. Saliva tampak menetes di pinggir bibir Luna terlihat sangat se**i bagi Leon,


“tidak hanya beracun, tapi sangat suka menggigit. Membuatku semakin.... ” ujar Leon menatap Luna yang membalasnya dengan menatap tajam.


“lepasin tangan gue sekarang, ato lu bakalan terima akibatnya” ancam Luna pada Leon yang terlihat tidak mengacuhkan ancaman itu.


Tidak berapa lama mobil milik Adam menghampiri sejenak mobil Leon, Hugo tampak mengode dari dalam mobil Hugo di balik jendela mobil Leon yang tertutup rapat. Kode itu di mengerti Leon, mobil itu lalu melaju pergi setelah Hugo beberapa kali memberi kode.


Luna terus berusaha untuk membebaskan tangannya, bahkan dia mencoba membebaskan diri dengan metode yang di ajarkan oleh Jason. Namun semakin dia mencoba, ikatan itu semakin kuat dan sama sekali tidak terlepas.


Leon begitu menikmati pemandangan dalam pangkuannya, mata elangnya sama sekali tidak berpaling dari wajah cantik Luna dan mata biru yang menghipnotis. Tangan kanan Leon menekan tombol, perlahan kaca hitam menutup di antara bangku depan dan bangku belakang. Pengemudi dan Alex yang baru saja kembali tidak dapat melihat atau mengetahui apa yang terjadi di bangku belakang.


Tangan kanan Leon kembali menekan salah satu tombol yang berada di sebelah kanannya,


“jalan” Leon memberi perintah kepada pengemudi untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali. Mobil pun mulai bergerak, sayup-sayup terdengar olah Luna suara motor miliknya yang mulia menjauh.


“lepasin gue bre**k, mau lu bawa ke mana motor gue?!” maki Luna kembali penuh kemarahan. Ingatannya akan malam itu dan keadaannya dalam posisi yang rawan, membuat Luna semakin kesal dan marah.


Kedua tangan Leon kembali berada di pinggang Luna, bergerak dan mengelus membuat sengatan listrik semakin berkecamuk dalam diri Luna.


“ jika aku melepaskanmu, imbalan apa yang akan aku dapatkan?” Pria tampan itu tersenyum manis tepat di depan wajah Luna yang terlihat sangat tidak senang.


Perlahan senyuman manis tersungging di wajah Luna, mata biru nan indah menatap tajam ke arah mata elang itu.

__ADS_1


“lu mau dapat imbalan, tenang aja. Malaikat maut udah menjadwalkan diri lu akan di jemput sekarang juga” ujar Luna sambil memundurkan kepalanya dan bergerak sangat cepat untuk menghantam ke arah wajah tampan itu.


Leon sudah membaca gerakan Luna segera menghindar, tangan kirinya memegang kening Luna dan tubuhnya yang gagah menjatuhkan tubuh perempuan itu ke bangku di sampingnya. Kini posisi mereka semakin rawan, Leon berada tepat di atas tubuh Luna. Tangan yang terikat ke belakang terimp*t oleh tubuh Luna, membuatnya semakin kepayahan melepaskan tangannya.


“Arrrgh....” Luna menggeram kesal karena lagi-lagi dia dalam posisi yang sama sekali tidak menguntungkan untuknya.


"sayangku... belum saatnya dia datang untuk menjemputku” ujar Leon matanya menatap ke arah wajah Luna, tangan kanannya membelai lembut wajah cantik.


Jari jemari Leon singgah sejenak di bibir indah milik Luna, bibir itu sangat menggoda dan terasa begitu manis bagi Leon. Mata elang itu menatap dalam dan memancarkan sesuatu yang membuat mata Luna tidak bisa berpaling, Seolah-olah mata itu menghipnotis Luna.


“Lepasin tangan gue sekarang” ujar Luna mulai melunak, perlahan tapi pasti wajah Leon kembali mendekat ke arah wajah cantik itu. Bibir mereka saling bertemu kembali, mata Leon sejenak terpejam menikmati begitu juga dengan Luna.


Lidah mereka saling terpaut, saling mengabsen setiap detail yang ada dalam mulut mereka. Tangan Leon lalu bergerak nackal, memegang lembut dan sedikit meremas pinggang milik Luna. Tangan itu pun bergerak mencari pegangan di perbukitan yang tersimpan dalam jacket kulit itu.


“mmmh....” Luna terbuai dengan apa yang di lakukan Leon, tangan kekar itu menyusup masuk dari bagian bawah jacket. Bergerak melewati perut datar dan lembut, lalu berpegang pada perbukitan yang tersegel dengan pengamannya.


Sejenak tangan kiri Leon keluar dari aktivitasnya, tangan itu lalu bergerak ke bawah tubuh Luna. Dia meraih ikatan dasi dan mulai membuka ikatan, hanya dengan satu tarikan ikatan dasi itu terlepas. Kedua tangan Luna sudah terbebas berada di samping sisi tubuhnya, Hingga pada akhirnya...


Kriiing... kriiiingg... kriiing...


Terdengar deringan ponsel milik Leon merusak suasana yang saat itu tengah terjadi, Luna seakan terbangun dari buaian mimpi mulai memberontak dengan kedua tangan mendorong dada bidang Leon untuk menjauh darinya. Ciuman hangat dan bermakna itu pun terputus paksa oleh Luna yang tersadar dari hipnotis Leon.


“Awaaaas” ujar Luna sedikit mendorong tubuh Leon. Namun dengan memanfaatkan berat tubuhnya Leon tidak mau bangkit, bahkan tangan kanannya menggenggam tangan Luna yang berada di dada bidang itu. ponsel milik Leon terus berdering, tapi sama sekali tidak di acuhkan olehnya sampai deringan itu berhenti.

__ADS_1


Leon tersenyum senang saat melihat bibir Luna mulai membengkak akibat ulahnya. Bengkaknya tidaklah terlalu parah, tapi bagi pemilik mata yang jeli tentunya tahu apa yang tengah berlaku. tangan kiri Leon membelai lembut pipi kanan Luna,


“aku tidak mau beranjak dari mu, sebelum kamu mau menerima ku dan menjadi bagian terpenting dalam hidupku” Leon menatap sayu wajah Luna, jantungnya kembali berdetak cepat dan kuat. ada sebuah perasaan nyaman dan tenang masuk tanpa permisi kedalam hati Leon yang semula beku dan dingin.


“kagak sudi gue trima lu yang udah ngancurin hidup gue. Lu juga udah menghina, menuduh dan merendahkan gue. Dan sekarang lu bilang mau bertanggung jawab, gue bukan cewek di luaran sana yang bersedia untuk lu tidu**” Luna tampak begitu marah. Dia masih mengingat setiap perkataan Leon yang menginjak harga dirinya, menyuruhnya meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah dia perbuat.


Ucapan Luna bagaikan tusukan panah dan belati panjang menancap tepat di hatinya, tusukan itu terasa sangat menyakitkan. Perlahan dia bangkit dari tubuh Luna, mereka lalu duduk berdampingan dengan sikap sempurna.


Leon menatap ke arah Luna yang mengalihkan pandangannya ke pemandangan di luar jendela, dia lalu melihat pergelangan tangan Luna yang masih menggunakan sarung tangan. Dia tahu di balik sarung tangan itu ada bekas luka akibat ikatan dasinya, Leon mengalihkan pandangannya sejenak ke pemandangan di luar jendela kaca mobilnya.


Luna tampak sibuk dengan baju yang di kenakan, kedua tangannya pun bergerak cepat merapikan tata letak pengaman perbukitan yang sempat di mainkan oleh pria tampan di sampingnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2