
Asisten Hans melihat ke arah kaca spion lalu menjelaskan pemandangan yang sempat di lihatnya sewaktu berada di lobi hotel,
“Mungkin pers tidak sengaja melihat Tuan Willson yang tidak sadarkan diri di bawa oleh putra juga beberapa body guard, tuan besar” ujar Asisten Hans yang menekan tombol klakson membuat para pers membuka jalan.
“tidak sadarkan diri?!” tanya Hans menatap ke arah Luna.
“ benar Tuan besar, saat di lobi hotel tadi saya melihat mereka melintas dan kebetulan saat itu di lobi ada beberapa anggota pers” jelas asisten Hans memarkirkan mobil itu tepat di IGD.
Asisten itu hendak turun dari mobil, tapi Hans langsung mencegah.
“tunggu... jangan turun dulu” ujar Hans menahan Matthew yang hendak bersiap turun dari mobil, pria tampan itu langsung menatap ke arah kakeknya.
“kenapa Grandpa? Kita harus membawa Luna masuk atau kondisinya akan semakin parah” ujar Matthew tidak ingin membuang waktu barang semenit.
“jangan gegabah, jika kamu turun seperti ini dan pers melihat. Mereka bisa saja membuat berita negatif yang akan membuat nama baik Luna hancur” ujar Hans memperingati Matthew yang baru tersadar saat melihat penampilannya.
Tubuh bagian atas Matthew sama sekali tidak mengenakan kemeja alias bertelan*ang d*d*,
Benar kata Granpa, jika aku turun dengan begini orang – orang akan menyangka yang tidak – tidak tentang Luna. Apa lagi saat ini Luna mengenakan kemeja ku... Tentunya ini akan menjadi sasaran empuk bagi paparazzi gumam Matthew dalam hati hampir membuat kesalahan fatal.
Hans menatap ke arah asistennya yang mengenakan Jas,
“buka Jasmu,” ujar Hans yang langsung di patuhi oleh asistennya, dia lalu mengambil jas itu dan menyuruh Matthew untuk memakainya.
__ADS_1
Hans lalu membuka jas yang di kenakan dan menutupi kepala Luna, setelah memastikan aman asisten Hans segera turun dan membantu membuka pintu mobil. Matthew segera turun dan membawa masuk Luna ke dalam IGD dengan sangat cepat, para perawat serta dokter jaga terkejut saat melihat kedatangan pria tampan membawa perempuan yang dalam kondisi terluka.
“tolong selamatkan dia” ujar Matthew sambil membaringkan tubuh Luna di atas ranjang rumah sakit, dokter dan perawat segera menjalankan tugasnya. Salah seorang perawat meminta Matthew, Hans dan asistennya untuk menunggu di luar ruangan, Hans kembali mencoba menghubungi Baron.
Telepon itu akhirnya di jawab oleh Baron yang saat itu berada di helikopter pribadinya, dia dan beberapa orang anak buah tengah menelusuri aliran sungai untuk mencari Luna melalui udara. Baron mengode ke arah pilot untuk membuat ponselnya tersambung ke alat dengar yang terpasang di telinganya, pilot segera menekan beberapa tombol di sisi kirinya.
“halo,” ujar Baron, matanya membesar saat mendengar kabar dari Hans. Ada perasaan lega di hatinya saat mendengar cucunya telah di temukan,
"........................"
“aku akan segera ke sana” ujar Baron memutuskan secara sepihak sambungan telepon itu.
“ke Rumah sakit XT,” ujar Baron pada pilot yang langsung mengarahkan helikopter menuju rumah sakit XT, Alberto mendengar rumah sakit yang akan di tuju langsung menatap ke arah Baron.
“kita kembali ke rumah sakit itu lagi, Baron sama?” tanya Alberto.
“bukankah itu rumah sakit di mana tuan Willson juga di rawat di sana?!” ujar Alberto yang langsung membuat Baron tersadar, raut wajahnya langsung berubah tidak senang.
“bawa Reynold kembali sekarang juga” perintah Baron.
“Baik, Baron sama” Alberto mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang -orang Baron yang menemani Reynold.
Di negara KND...
__ADS_1
Reynold tengah duduk bersama dengan beberapa dokter dalam sebuah seminar, pikirannya sama sekali tidak fokus mendengar penjelasan salah seorang dokter yang pada saat itu menjelaskan tentang vaksin terbaru. Pikirannya masih tertuju pada laporan kesehatan Luna dan suara Kiandra yang terdengar panik.
Tiba – tiba saja di pertengahan penjelasan materi pintu ruangan seminar terbuka lebar, beberapa pria tangguh bersetelan rapi masuk dan menghampiri Reynold yang melamun. Para hadirin seminar terkejut langsung mengalihkan tatapan mereka ke pada para pria itu, Reynold masih larut dalam pikirannya tercenung saat melihat beberapa pria mengerumuninya.
Matanya menatap ke arah Para pria itu, tanpa ada penjelasan para pria itu mengangkat Reynold dari tempat duduknya dan membawa keluar dari ruangan seminar. Semua yang menyaksikan kejadian itu hanya duduk terdiam dan menatap dengan tatapan takjub, Reynold di bawa tanpa ada perlawanan berarti masuk ke dalam lift gedung di mana seminar di adakan.
“ada apa ini?” tanya Reynold tersadar, para pria itu sama sekali tidak menjawab. Wajah mereka terlihat sangat serius membuat Reynold sedikit gugup, pintu lift perlahan menutup.
Salah seorang dari pria itu menekan tombol lift yang menuju lantai teratas gedung itu, mata Reynold mengawasi setiap pergerakan mereka. Reynold menatap ke arah pria yang mengenakan alat komunikasi di telinganya, dia tahu jika pria itu adalah pemimpin dari para pria berbadan tegap. Mata pria itu menatap ke arah Reynold yang menatapnya dengan intens,
“ anda akan tahu nanti” ujar pria itu penuh teka teki, Reynold hendak bertanya kembali karena belum puas dengan jawaban yang di dapat. Dia akan mengajukan pertanyaan tapi langsung terdiam saat pemimpin itu berbicara pada alat komunikasinya,
"kami segera membawa dokter Reynold ke bandara, dalam waktu semalam beliau akan sampai di sana” ujar pemimpin itu membuat kening Reynold semakin berkerut, dalam benaknya di penuhi dengan banyak pertanyaan.
Pintu lift terbuka di lantai perlahan, para pria itu segera membawa Reynold keluar menuju atap gedung itu. Mata Reynold melihat ke arah badan helikopter yang memiliki inisial sama dengan milik Baron atasannya, dia langsung mengerti jika para pria yang membawanya adalah orang suruhan Baron.
Luna tengah di tangani oleh dokter dan perawat, mereka memeriksa luka yang terdapat di tubuh Luna. Salah seorang perawat tampak memasang jarum infus di lengan Luna, perawat lain tampak sibuk menyiapkan peralatan medis dan mulai mengambil sampel darah pasien.
Matthew mondar – mandir di depan ruang IGD memperhatikan pintu yang tertutup rapat, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan pandangan beberapa perawat serta pengunjung yang melting menatapnya. Wajahnya yang rupawan serta tampilan fisik yang mendukung membuat para perempuan kehilangan fokus, mereka semua terpana saat menatap penampilan Matthew yang mengenakan jas tanpa kemeja.
Dada bidang berotot terlihat jelas menggoda iman para kaum hawa yang sengaja berlalu lalang di depannya, Hans menyadari hal itu menatap tajam dengan alis mata yang terangkat sebelah.
“Lihatlah pesona cucu ku mampu membuat para perempuan lain bertekuk lutut, tapi dia malah sama sekali tidak bisa menaklukkan ‘dia’... “ ujar Hans mendengus kesal, asisten Hans yang berdiri di sampingnya menatap bingung. Matanya beralih menatap ke arah Matthew yang terlihat sangat cemas dan khawatir,
__ADS_1
“ dia yang tuan besar maksud, apakah nona Luna?” tanya asisten Hans hati – hati.
“siapa lagi kalo bukan Luna, saat pertama kali bertemu aku sudah sangat ingin dia bisa bersama dengan Matthew.... huhh... tapi takdir berkata lain” ujar Hans menghela nafas.