
“ na**s gua , amit-amit dah. Gua masih menyukai ini (memberi kode dengan kedua jari yang terkait) walaupun ya tampang gua masih di bawah lu. Masih banyak para Sinta yang menanti gua di luaran sana” ujar Hugo membanggakan diri, Adam juga bergidik ngeri mendengar apa yang di katakan Leon.
“ apa lagi gua?! lebih ji**k gua kalo ampe bermesraan ama... iiii... (Adam bergidik ngeri membayangkan apa yang tidak seharusnya) biar kata gua masih sendiri kagak mau juga gua ama lu” ujar Adam sedikit memberi jarak pada Hugo. Begitu juga dengan Hugo yang lebih memilih menggeser ke sudut lift, Alex hanya diam menatap ke arah ketiga para pria tampan itu.
“ apa semua jadwal sudah di atur?” tanya Leon pada Alex yang tidak menghiraukan percekcokan Adam dan Hugo.
“semuanya sudah di atur tuan muda, sebelum mengisi acara seminar di kampus...” Alex belum selesai berbicara langsung di potong oleh Hugo.
“Seminar? Kagak biasanya lu mau menghadiri acara begituan, sekarang tumben-tumbenan lu mau datang? “ Hugo masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“emang lu mau menghadiri seminar di kampus mana?” tanya Adam penasaran.
“ Kampus di bawah naungan Alden W corp.” Ujar Leon santai sambil melihat ke arah layar kecil di atas tombol lift.
“kampus UIN? Bukannya mantan tunangan lu juga kuliah di sana?!” ujar Hugo teringat dengan informasi tentang Hana.
“lantas?” Leon melihat ke arah Hugo yang acuh tak acuh.
“ya... apa ntar tu si kunti kagak bikin ulah dan mencari keributan ama lu? Secara waktu lu mutusin pertunangan ama tu kunti, dia kan kagak terima begitu aja” ujar Adam teringat penolakan Hana.
“Kunti?” kening Leon semakin berkerut saat Adam memberi julukan pada Hana.
“Julukan buat mantan lu, sesuai dengan sifatnya” ujar Adam santai menyandarkan punggungnya ke kaca di dalam lift itu.
“lalu kalian berdua juga memberi julukan padaku mon-mon?” tebak Leon menatap tajam pada Hugo dan Adam.
“ bukan... bukan.. mon-mon itu... itu... (berusaha mencari alasan yang tepat) mon-mon itu panggilan kesayangan kita ke elu” ujar Hugo lagi, Leon masih menatap ke arah Hugo yang tampak sangat tidak puas dengan jawaban darinya.
Mon-mon dari demon king, kagak mungkin lah kita-kita bakalan jujur ama lu yang ada alamat menuju alam sana kami be dua gumam Hugo dalam hati, matanya pun menatap ke arah Adam meminta bantuan dalam kondisi darurat.
giliran udah terjebak aja minta tolong gua, lihat aja akan ada harga mahal atas jasa gua ini gumam Adam dalam hati memicingkan sedikit matanya ke arah Hugo.
__ADS_1
“Leon, kapan waktu seminarnya?” tanya Adam mengalihkan pembicaraan. Leon menatap ke arah Adam yang berdiri di samping Alex yang langsung paham dengan arti tatapan itu.
“waktunya siang nanti tuan Adam” ujar Alex menjawab pertanyaan Adam.
“gua yakin si kunti pasti akan bertindak saat liat lu di sana” ujar Hugo lagi.
“malah hal itu yang aku ingin kan” ujar Leon melangkahkan kakinya keluar dari Lift saat pintu lift terbuka lebar.
“maksudnya?” tanya Adam dan Hugo penasaran, dia lalu menatap ke arah Alex untuk mendapat jawaban darinya. Mata Alex dengan mereka bertemu dan mengintimidasi untuk menjawab pertanyaan mereka, dia benar-benar tidak bisa menebak dengan apa yang ada di dalam pikiran tuan mudanya.
Yang benar aja tuan-tuan, mana mungkin aku bisa menebak isi pikiran tuan muda yang tidak menentu gerutu Alex dalam hati yang membuatnya menghela nafas panjang.
Mereka bertiga lalu keluar dari lift, mengikuti Leon melewati lobi mewah yang tidak terlalu ramai. Beberapa perempuan sempat melirik ke arah Leon cs, ada yang mencuri-curi pandang seperti hyenas di Safana menikmati pemandangan indah seperti oasis di gurun pasir.
Langkah kakinya terhenti di depan Pintu lobi yang terbuka secara otomatis saat merasakan sensor gerak dari Leon, dia langsung di sambut oleh Para body guard yang sudah menunggu tepat di pelataran apartement Leon.
Di pelataran itu terparkir Empat buah mobil mewah yang tersusun rapi di halaman depan lobi.
“Leon...”panggil Hugo sambil melangkah cepat bersama dengan Adam dan Alex menghampiri Leon yang sudah berdiri di samping mobilnya di mana pintu mobil itu sudah di buka oleh salah seorang body guard.
Pemilik mata elang itu hendak duduk di kursi belakang tapi di urungkannya saat mendengar Hugo memanggilnya.
***
Jari jemari Kiandra masih menari cantik di atas tabletnya di temani Luna yang berdiri di sampingnya. Kamar berantakan di biarkan saja oleh Luna, matanya terfokus pada layar tablet Kiandra. Tidak membutuhkan waktu yang lama Kiandra berhasil melacak kartu itu, sebuah titik biru berada di atas map dalam tablet itu.
Luna bisa saja membuat kartu baru untuknya, namun itu akan melalui proses dan berbagai pertanyaannya yang begitu melelahkan.
“oke, aku udah tahu di mana lokasi kartu kamu. Tapi sebelumnya sekarang kamu mandi lagi gih, liat semuanya berantakan dan bau kamu (mengendus ke arah Luna) asem banget” ujar Kiandra sambil memegang hidungnya yang mancung. Luna mencoba menciumi kembali tubuhnya yang sudah berkeringat dengan bau aneh, mencari-cari kartu dengan mengobrak-abrik kamarnya membuat dia yang semula rapi kembali berantakan.
“ ya udah kamu tungguin aku bentaran “ ujar Luna kembali masuk ke kamar mandi, dia sempat melihat jam di dinding.
__ADS_1
udah nggak ada waktu lagi gumam Luna dalam hati, dia segera bergegas memulai ritualnya. Kiandra pun turun ke lantai bawah menuju ruang makan, jari jemarinya sibuk menari di atas layar tablet yang datar..
Jason baru menyelesaikan tugasnya menatap heran ke arah Kiandra yang sedang duduk sendiri di ruang makan.
“anda tidak jadi berangkat kuliah nona?” tanya Jason heran, melangkah menuju wastafel di dapur samping ruang makan.
“belum Jason, aku masih nungguin Luna, o ya hampir lupa setelah kami berangkat kamu tolong rapikan kamar Luna dan jangan terkejut saat melihatnya” ujar Kiandra dengan mata masih menatap pada layar tabletnya. Jason bertanya-tanya dalam hati gerangan apa yang membuatnya akan terkejut saat melihat kamar Luna.
Kiandra melihat signal kartu Luna yang bergerak cepat, dia pun melakukan pekerjaan yang di senanginya. Sebuah video menayangkan CCTV berada di bagian sisi atas tablet yang menggambarkan lalu lintas jalanan.
Dari signal yang terdeteksi, kartu si Luna bergerak di antara keempat mobil ini. Kalo di perhatikan mobil ini sepertinya pernah aku lihat, tapi di mana ya? Gumam Kiandra mengingat-ingat. Dari CCTV itu Kiandra melihat pergerakan mobil itu sedikit terhambat akibat lampu merah.
Kiandra segera bangkit dari tempat duduknya melangkah cepat menuju kamar Luna, dia segera membuka pintu mendapati Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Luna, signal kartu kamu udah dapat” ujar Kiandra memperlihatkan tabletnya pada Luna. Mata cantik itu memperhatikan dengan teliti pergerakan dari kartu itu, CCTV yang menayangkan pergerakan empat mobil yang mulai melaju dengan cepat di jalan raya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Mohon maaf pada para reader karena author hanya up satu episode dulu. Insyaallah secepatnya Author akan up episode lainnya. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1