Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 148


__ADS_3

Beberapa hari sebelum hari pernikahan Luna dan Leon


Hana sedang menemani seorang tamu mengobrol di meja bar, tampak seorang waiter mendekat ke arahnya sambil berbisik sesuatu di telinganya. Mata Hana sejenak melihat ke arah pintu masuk club dan melihat seorang pria bersetelan rapi tengah menatap ke arahnya, dia sejenak berbicara dengan tamu yang duduk di sampingnya lalu berdiri dari sofa yang di duduki.


Dress mini yang di pakai Hana terlihat menantang membuat beberapa pasang mata pengunjung club menatap ke arahnya, dia melangkah mendekati pria bersetelan rapi yang di kenal olehnya. Pria itu adalah asisten atau lebih tepatnya mantan asisten Simon, dia kini bekerja di bawah naungan perusahaan besar milik keluarga Willson. Hana menatap ke arah kedua tangan asisten yang membawa sebuah kotak berukuran sedang berwarna coklat tua,


“selamat malam nona Hana” sapa Asisten itu menatap Hana yang kini berdiri tepat di hadapannya.


“kita ngomong di luar” ujar Hana mengajak asisten itu keluar dari club, mereka melangkah beriringan menuju luar club itu. Beberapa penjaga memperhatikan Hana dan tampak akan mengikuti, dia langsung memberi kode untuk tidak mengikuti mereka.


“ ada apa lo nyari gue?” tanya Hana menatap dingin pada mantan asisten itu.


"kedatangan saya kemari ingin memberikan ini untuk anda, nona” ujar mantan asisten itu sambil memberikan kotak coklat itu pada Hana. Kedua tangan Hana memegangi kotak yang terasa sedikit ringan, dia bisa merasakan beberapa benda yang membentur badan kotak.


“apaan ni?” tanya Hana penasaran.


“ di dalam sini berisi barang - barang milik tuan Simon, nona. Saat perusahaan di nyatakan bangkrut, saya mengumpulkan barang – barang milik tuan yang sama sekali tidak di sita oleh pihak bank dan juga rentenir” ujar mantan asisten itu menatap Hana yang hanya diam.


“kalau begitu saya permisi, nona” ujar mantan asisten itu undur diri meninggalkan Hana sendirian di depan club itu, ada perasaan iba yang terlihat dari mata mantan asisten itu saat menatap Hana yang dulunya seorang nona besar kini harus bekerja untuk membayar semua hutang – hutang Simon.


***


Luna dan Kiandra sedang berada di sebuah spa mewah untuk sejenak berehat dan memanjakan diri, setelah beberapa hari yang lalu mereka di sibukkan dengan acara kelulusan kini saatnya mereka melakukan kegiatan “me time”.


“kak berikan perawatan terbaik buat calon pengantin ini” ujar Kiandra pada perempuan cantik yang merupakan owner tempat spa itu.


“ tenang saja nona Kiandra, kami sudah mempersiapkan semua sesuai dengan pesan nyonya Soo He. Mari silahkan” ujar owner spa mengantar Luna dan Kiandra menuju ruang ganti. Luna hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Soo He dan Kiandra,


Mereka berdua bakalan rusuh kalo nggak di turuti... Gumam Luna dalam hati sambil menghela nafas panjang. Setelah mengganti pakaiannya Luna di ajak oleh salah seorang karyawan spa menuju ruangan khusus, tercium bau aroma terapi yang berasal dari lilin khusus.

__ADS_1


Luna terlihat sangat rileks dan merasa nyaman saat petugas spa memijat lembut kakinya, petugas spa itu memperhatikan Luna yang matanya tertutup dengan rapat. Ponsel milik Luna yang berada di atas meja kecil bergetar, pada layar ponsel itu tertulis nama ‘ si pencemburu’.


“nona...” petugas itu memegang lembut tangan Luna sambil sedikit menggoyangkan lengannya. Namun, Luna yang sudah nyaman tidak mengacuhkan dan memilih menikmati waktunya. Ponsel itu terus bergetar membuat petugas spa itu kebingungan, matanya kembali menatap ke arah Luna yang sama sekali tidak bereaksi.


Petugas spa itu ingin membangunkan Luna kembali namun tidak jadi saat ponsel itu sudah menjadi gelap kembali, dia lalu melanjutkan pekerjaannya memijat bagian telapak kaki Luna.


Tiba – tiba saja pintu ruangan tempat Luna sedang spa terbuka, seorang pria tampan berdiri tepat di depan pintu itu. Pria tampan yang telah membuat para kaum hawa patah hati saat menyatakan dirinya akan segera menikahi perempuan yang tengah melakukan spa, Leon menatap ke arah Luna yang masih menikmati pijatan dari petugas spa. Tatapan matanya menatap tajam ke arah petugas itu seraya memberi koe untuk keluar dari ruangan itu.


Mata Luna masih terpejam terlihat berkerut merasa ada yang salah, dia ingin membuka matanya tapi terasa sangat berat. Kakinya merasakan sentuhan hangat serta pijatan lembut yang langsung melukis senyum di bibir mungilnya, hidung mancung Luna mencium aroma yang sangat dia kenal


“aku tidak mengira jika ceo Alden corp. Akan mengambil paksa pekerjaan orang lain, apa jangan – jangan tempat spa ini sudah berganti menjadi perusahaan Alden corp.?” Tanya Luna dengan mata masih terpejam. Tangan kekar yang biasa di gunakan untuk menanda tangani setiap proyek yang bernilai fantastis, kini tanpa rasa canggung memijat lembut kaki perempuan cantik itu.


“untuk mu... Aku bisa melakukan apa saja” ujar Leon membelai kaki putih itu, perlahan bibirnya menempel pada kaki Luna sambil mengecup lembut. Sensasi itu memberikan rasa geli pada Luna, memaksa membuka mata yang semula terasa berat.


“Leon..” panggil Luna menatap ke arah Leon yang berada tepat di hadapannya. Mata biru itu terlihat merajuk tidak senang saat ‘ me time’ nya di ganggu paksa, Leon duduk di antara dua kaki jenjang putih yang terbuka.


“kenapa tidak mengangkat telepon dari ku?” tanya Leon sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Luna dan menarik tubuhnya untuk lebih mendekat lagi.


“Aku ingin mengajak mu mengambil cincin pernikahan, tapi sebelumnya kamu harus menanda tangani beberapa dokumen” Leon lalu menjentikkan jarinya mengode pada asistennya Alex yang berdiri di luar ruangan.


Alex segera masuk ke dalam ruangan itu dengan sebuah dokumen di tangannya, dia memberi hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya pada Luna dan Leon.


“nona Luna..” sapa Alex sambil tersenyum ramah.


“hai, Alex” Luna membalas dengan tersenyum ramah membuat Leon menatap ke arah Alex dengan menaikkan sebelah alisnya.


Alex segera mengubah sikapnya saat di tatap dingin oleh Leon,


“ He ehem... Nona ini dokumen yang harus di tanda tangani” ujar Alex sambil memberikan file itu pada Luna yang lalu membuka dan membaca file itu.

__ADS_1


Luna dengan hati – hati membaca file itu lalu menatap ke arah Leon, pada bagian atas file itu tertulis formulir sertifikat pernikahan. Setelah membaca dan memeriksa setiap detailnya tangan kanan Luna menengadah pada Alex yang menatap bingung ke arah tangan itu,


“Pen?!” Ujar Luna meminjam pena pada Alex yang langsung memberikannya, dia sejenak menatap kembali file itu dan terdiam cukup lama.


Leon menatap Luna yang terdiam lalu sedikit menggerakkan tangannya menyadarkan Luna, mata biru cantik itu menatap ke arahnya yang menatap penuh tanda tanya.


***


Hana baru saja keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya yang masih basah dengan handuk, matanya menatap kotak yang di terimanya dari mantan asisten Simon. Kotak itu tergeletak di atas meja kaca yang ada di kamar Hana, handuk yang di gunakannya di biarkan begitu saja tergeletak di atas ranjang single.


Hana mendekati kotak itu lalu membawanya dengan kedua tangan, dia lalu duduk di tepian ranjang sambil mulai membuka tutup kotak itu. Mata Hana melihat beberapa file yang sudah sama sekali tidak berguna baginya, dia lalu mengeluarkan semua isi dalam kotak itu.


Cling.... Cling.... Cling cling cling


Mata Hana melihat sebuah kunci yang terjatuh ke lantai tepat di dekat kakinya, dia lalu menyingkirkan kotak yang berada di pangkuannya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2