Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 115


__ADS_3

“hahahahaha aku yakin saat itu ojisan pasti menyuruh bawahannya untuk mengawasi kamu selama dua puluh empat jam ” ujar Kiandra tertawa, Luna mendengar komentar Kiandra.


“tidak hanya mengawasi, bahkan ojisan menyuruh puluhan orang untuk selalu berada di samping ku, benar-benar saat masa tersulit bagi ku” ujar Luna keceplosan berbicara pada Kiandra, membuat Kaila yang mendengar menatap bingung ke arahnya.


“haa... kakak bicara dengan siapa?” tanya Kaila membuat Luna sadar dengan ke tidak sengajaannya. Dia segera memutar otak agar Kaila tidak curiga,


“itu kakak tadi.. eee.. tadi.. hmm ngomong sendiri.. gitu" Luna tersenyum canggung, Kaila hendak bertanya kembali tapi di urungkannya karena mereka sampai di meja di mana keluarga mereka menunggu.


Luna dan Kaila kembali duduk di bangku masing-masing, Luna memilih duduk di kursi samping Baron.


“kenapa lama sekali?” tanya Baron pada Luna yang langsung menatap ke arahnya.


"tadi kak Luna bertemu dengan temannya kek... eh.. maksud Kaila ojisan, jadi mereka mengobrol dulu” ujar Kaila memberi tahu persis sama dengan alasan yang di katakan Luna. Kaila tampak canggung dan gugup karena bingung harus menyapa Baron dengan panggilan ojisan atau kakek, Baron hanya tersenyum mendengar ucapan Kaila.


“kamu bisa memanggilku dengan ojisan, sama seperti Luna dan Leon” ujar Baron membuat Luna langsung menatap ke arahnya.


Leon?!! Sepertinya Leon berhasil melewati tes dari ojisan, banyak hal yang terjadi saat aku menyelesaikan misi gumam Luna dalam hati masih menatap ke arah Baron, merasa dirinya masih di tatap oleh cucu kesayangannya Baron membalas menatap ke arah Luna.


“ojisan tahu apa yang ada dalam hati mu sekarang dan tentunya kamu sudah tahu apa jawabannya bukan?” ujar Baron membuat senyuman manis tersungging di bibir Luna, merasa senang dengan keputusan kakeknya.


Mereka semua kembali menikmati makan malam sambil berbicara hubungan Luna dan Leon, sesekali pria tampan itu menatap ke arah pujaan hatinya dengan tatapan penuh cinta dan sayang.


***


Raut wajah Simon tampak pucat pasi, dia tengah berjalan menaiki anak tangga menuju ruangan Bobby. Sebelum menaiki mobilnya, Simon mendapat pesan dari Bobby yang ingin bertemu dengannya secara empat mata. Baru saja dia masuk ke dalam restoran, Simon sudah di sambut baik oleh Alberto dan bawahannya.


“Tuan Simon” sapa Alberto dengan wajah dingin, bawahan Baron bersetelan jas rapi sudah berdiri di belakang Simon. Wajah mereka terlihat kaku dan bersikap dingin, Simon sempat menatap ke arah mereka setelahnya dia kembali menatap ke arah Alberto.


“a.. a...a ada apa ini?” Simon terlihat sangat gugup.

__ADS_1


“kami ingin berbicara dengan anda, silahkan lewat sini” Alberto melangkah lebih dulu menuju ruang istirahat karyawan restoran.


Alberto mengajak Simon untuk ‘berbicara dengan baik’, setelahnya Alberto berserta bawahan Baron meninggalkan ruang istirahat dan juga Simon dengan raut wajah yang pucat pasi.


Bobby yang menunggu Simon di ruang VVIP tampak fokus pada ponsel yang di pegangnya, dia mengirim pesan pada anak buahnya yang menunggu di parkiran restoran.


Jika dalam waktu satu jam aku tidak keluar dari restoran, kalian tahu apa yang harus di lakukan


Setelah membaca pesan dari bos mereka, anak buah Bobby terus mengawasi pintu masuk restoran. Tangan kanan Bobby juga memerintahkan anak buah lainnya untuk berjaga di pintu belakang restoran. Mereka bersikap sangat waspada, tidak tanggung-tanggung senjata yang tersimpan di periksa dan di simpan dengan baik di balik jacket juga jas yang mereka gunakan.


Simon berjalan cepat menuju ruangan VVIP di mana Bobby berada, sesampainya di depan ruangan itu tangan kanan Simon membuka pintu. Matanya terbuka lebar saat melihat ruangan VVIP itu terlihat seperti terkena badai dahsyat, Simon semakin terkejut saat menemukan Bobby yang tergeletak di lantai.


Simon dengan hati-hati menghampiri tubuh Bobby yang berada di lantai ruangan, sesekali dia melihat ke sekeliling ruangan memastikan jika tidak ada siapa pun lagi di ruangan itu. Tangan kanannya terlihat bergetar dan terulur ke arah leher Bobby, jari Simon menyentuh leher Bobby untuk memeriksa denyut nadi.


Simon jatuh terduduk di lantai saat dia sama sekali tidak merasakan denyut nadi milik Bobby,


“sh*t... aku harus pergi dari sini sebelum ada orang yang curiga pada ku” ujar Simon pada dirinya sendiri. Dia bergegas berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan itu, Simon juga memeriksa ke sekelilingnya memastikan tidak ada siapa pun.


Simon menuruni anak tangga darurat, dia melangkah cepat menuju pintu depan restoran. Langkahnya terhenti saat melihat Baron dan keluarga Simon berada tepat di depan pelataran restoran.


Simon tentu saja tidak ingin berurusan dengan Baron, peringatan dari Alberto sudah cukup memberikannya mimpi buruk yang membuatnya tidak akan tidur nyenyak. Dia lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi dan memerintahkan supirnya untuk menjemput di restoran, Tidak lupa dia menyuruh supir untuk menjemputnya di belakang restoran.


Simon melangkah mundur lalu membalikkan tubuhnya berjalan menuju belakang restoran, dia sejenak menunggu tepat di depan pintu belakang restoran. Anak buah tangan kanan Bobby melihat Simon yang berdiri sambil memperhatikan ponsel miliknya, keningnya berkerut menatap Simon yang seharusnya saat ini bertemu dengan bosnya.


Anak buah itu segera menghubungi tangan kanan Bobby yang berada di depan restoran dan memberi tahu tentang Simon,


“Bos, Rubah tua itu ada di pintu belakang restoran” lapor anak buah tangan kanan Bobby.


“Dia di sana? Bagaimana dengan bos besar?!” tanya tangan kanan Bobby lagi.

__ADS_1


“tidak ada bos, bos besar tidak terlihat”


“kamu terus awasi dan ikuti dia” ujar tangan kanan Bobby turun dari mobilnya, dia melangkah menuju ke dalam restoran. Dia bertanya pada bagian resepsionis di ruangan mana bosnya berada, bersama dengan beberapa anak buahnya mereka menaiki anak tangga menuju ruangan VVIP yang di tunjuk oleh waiter.


Mereka semua bersikap waspada saat berjalan di lorong menuju ruang VVIP, tangan kanan Bobby dan anak buahnya kini berdiri tepat di depan pintu masuk ruang VVIP.


***


Luna dan Baron berada di pelataran restoran di temani oleh keluarga Willson, tangan Luna memegangi lengan Baron.


“dangsin-ui namjaneun yeojeonhi heeojigileul wonhaji anhneun geos gatgun-yo, geuleul boseyo geuneun dangsin-egeseo jeonhyeo nun-eul tteji anhseubnida (sepertinya priamu masih tidak ingin berpisah, lihatlah dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya darimu )” ujar Baron menggunakan bahasa negara kelahiran istrinya yaitu negara KR. Dia sengaja menggunakan bahasa negara kelahiran obachan Luna agar Leon dan keluarganya tidak tahu apa yang mereka bicarakan,


“hal-abeojido halmeoni gatji anhseubnikka? hal-abeojido ssigssighage samulai geom-eul ppob-a jeungjohal-abeojiui on gajog-i boneun ap-eseo jjilleossda (bukankah ojisan juga begitu dengan obachan? Bahkan ojisan dengan berani membawa pedang samurai dan menancapkannya tepat di hadapan kakek dan nenek buyut)” ujar Luna tersenyum manis pada Baron yang langsung menatap ke arahnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2