Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 138


__ADS_3

“kalian tolong pisahin cepat” Maid lainnya mendorong body guard ke arah perkelahian itu.


Para body guard langsung memegangi Hana dan Silvia,


“AN**NG LO YA... PE**k.. SINI LO TA*K” ujar Hana ingin kembali menghajar Silvia.


“hina gue sepuas lu, tapi gue punya bukti apa yang gue ucapkan bener” ujar Silvia yang langsung mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman.


Mata Hana terbuka lebar saat mendengar rekaman yang berisi suara Simon dan Silvia,


“Ayolah sayang, aku sudah tidak tahan”


“sebentar sayang, aku nyari ko***m dulu”


“nggak usah, kita langsung aja”


“tunggu sebentar sayang, kita harus main aman. Aku nggak mau nantinya hamil dan...”


“Mmmuaachh... (terdengar suara ciuman) tidak apa-apa kamu hamil sayang, secepatnya aku akan menggugat cerai Cintia dan menikahi kamu. Aku sudah sangat bosan dengan perempuan tua itu dan tidak pernah lagi menyentuhnya, tapi kamu berbeda sayang... kamu...”


Hana sangat geram dan emosi tingkat dewa, dia merasa sangat jijik saat mendengar percakapan Simon dan Silvia. Gadis itu tersenyum smirk ke arah Hana lalu menekan tombol untuk mematikan suara rekaman itu, bukti percakapan itu membuat Hana berpikir cukup lama sambil menatap ke arah Silvia.


Kalo papi nggak pernah nyentuh mami lagi, trus... gi mana bisa mami hamil... gumam Hana dalam hati, dia lalu melangkah menuju kamar Cintia sejenak terdiam saat menatap pintu kamar yang terbuka lebar.


Hana melihat ke arah ranjang tampak Cintia tengah duduk bersandar, di pangkuannya ada bantal yang menopang tangan dengan tisu tergenggam. Mata dan hidung Cintia tampak memerah, air mata membasahi pipi yang sesekali di sekanya dengan tisu.


“mi... mami mendengar semuanya?” tanya Hana menghampiri Cintia dan duduk di samping ranjang. Cintia hanya menganggukkan kepala dan kembali menyeka air matanya yang jatuh, Hana memegang tangan Cintia berusaha memberi semangat.


Wajah Cintia semakin tertunduk merasa malu dan tidak bisa menatap putrinya Hana, dia merasa bersalah karena dia juga melakukan perselingkuhan dengan body guard kediaman mereka. Berbeda dengan Hana yang menyangka jika Cintia merasa sedih saat mengetahui perselingkuhan Sahabat dekat dengan Simon papinya.


“Mi... mami tenang ya... ada Hana di samping mami....” Hana berusaha menghibur Cintia yang mulai menangis sesenggukan.

__ADS_1


“miii...” Hana ikut menitikkan air matanya menatap iba ke arah Cintia, dia mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh sambil mengusap lembut punggung maminya.


“hikss....hiksss...” terdengar isakkan tangis Cintia yang semakin merasa bersalah, Hana menyandarkan kepalanya ke pundak kanan Cintia. Tidak sengaja matanya melihat ponsel Cintia yang masih menyala, matanya terbuka lebar saat menatap sesuatu di sana.


Diam-diam Hana mengambil ponsel itu dan membaca apa yang tertera di sana, beberapa pesan tampak di kirim Cintia pada nomor ponsel yang Hana tahu bukanlah nomor ponsel milik Simon. Mata Hana terbelalak membesar saat melihat nama pemilik nomor itu, perlahan Hana melepaskan pelukan sambil mata terus menatap ponsel milik maminya.


Mata Cintia terbuka lebar saat Hana memegang ponselnya, dia lalu mencoba untuk merebut tapi kalah cepat dengan Hana yang sudah bangkit dari duduknya dan melangkah mundur menjauhi Cintia.


“ha ha ha ha .... ternyata... nyokap, bokap gue sama-sama tukang selingkuh... ha ha ha ha... dan gue dengan bodohnya percaya gitu aja dengan kebohongan kalian“ ujar Hana terpukul mengetahui kenyataan sebenarnya.


“Han... Hana... mam... mami..” Cintia terbata-bata tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada putrinya. Dia hendak turun dari ranjang untuk menghampiri Hana tapi, tangan Hana terulur ke depan menghentikan Cintia untuk mendekatinya.


“kalian semua benar – benar menjijikkan” ujar Hana merasa kesal dan tampak berusaha menahan tangis. Dia terlihat begitu marah dan emosi tingkat dewa, teringat dengan kondisi maminya Hana pun memilih pergi keluar dari kamar itu. Saat akan melangkah menuju kamarnya dia melihat ke arah Silvia yang masih di pegangi oleh para body guard, amarahnya pun semakin menjadi saat teringat rekaman suara itu.


“KENAPA PE**k INI MASIH DI SINI?” tanya Hana marah. Para body guard dan maid terlihat saling berpandangan, mereka terlihat ragu – ragu untuk menyuruh Silvia pergi.


“lo nggak berhak ngusir gue, walau gi mana pun gue hamil anak bokap lu. Jadi..” belum selesai Silvia berbicara Hana langsung memotong pembicaraannya.


“TUNGGU APA LAGI SERET PE**K TU KELUAR DARI SINI DAN JANGAN PERNAH BIARKAN DIA NGINJEK RUMAH INI LAGI, NGELIAT WAJAHNYA UDAH BIKIN GUE JIJIK” perintah Hana pada para body guard yang langsung menganggukkan kepala dan mulai memaksa Silvia untuk keluar dari rumah mewah itu.


“lepasin gue breng**k, gue bisa jalan sendiri” ujar Silvia melangkah keluar kediaman sambil menatap tajam ke arah Hana.


Awas lu Hana, gue bakalan bales penghinaan ini berkali-kali lipat. Dengan bayi yang ada di perut ini, gue akan merebut seluruh kekayaan dan membuang lo juga perempuan tua itu ke jalanan gumam Silvia dalam hati penuh dendam ke arah Hana, dia lalu melangkah keluar dari kediaman mewah itu.


***


Raymond perlahan – lahan mulai sadarkan diri, dia melihat ke sekeliling ruangan dan ke sisi sampingnya. Dia menatap Anita yang membalas menatapnya dengan perasaan lega,


“Daddy...” ujar Anita memegangi tangan Raymond, Kaila yang ada di samping Anita ztampak turut senang dan tersenyum ke arah Raymond.


“gi mana daddy? Apakah masih terasa sakit?” tanya Kaila yang duduk di samping ranjang, Raymond menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


Dia lalu melihat ke sisi lain di mana Leon berada, wajah tampan itu terlihat begitu cemas dan khawatir dengan kondisi Raymond. Kepala Raymond bergerak ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekeliling kamar itu, dia tidak melihat keberadaan Baron dan keluarga Young Sun lainnya. Kilasan kenangan masa lalu tergambar jelas di benak saat dia teringat foto kedua orang tua Luna, perasaan bersalah menyelimuti hati Raymond.


Anita yang duduk di samping Raymond menatap cemas dan khawatir, Raymond nampak terdiam seribu bahasa dan matanya kembali di pejamkannya.


“Dad... apa daddy merasa lelah?” tanya Anita memegang tangan kiri Raymond.


Mata Raymond kembali terbuka lalu kepalanya menoleh ke arah istri dan putrinya, perlahan di menganggukkan kepalanya. Anita lalu menatap ke arah Leon dan Kaila,


“kalian berdua beristirahatlah, biar mommy yang menjaga daddy di sini” ujar Anita.


“Mommy yakin?!” tanya Kaila memegang pundak Anita yang menganggukkan kepalanya.


“Mom jika terjadi sesuatu, segera panggil kami” ujar Leon yang langsung di angguki oleh Anita, dia lalu mengajak Kaila untuk keluar dari kamar.


Baron dan Hans sedang duduk di atas kursi lipat khusus sambi menikmati teh hangat yang di hidangkan, di antara mereka ada meja yang di atasnya di suguhkan beberapa cemilan. Mereka menatap ke arah halaman yang langsung menghadap ke arah halaman luas, di ujung sisi lain terdapat papan target yang sudah tertancap beberapa anak panah di sana.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2