
******
Iringan mobil mewah keluarga Yong – Sun meluncur cepat kembali ke hotel tempat acara pernikahan yang batal di laksanakan, di tengah perjalanan Baron memerintahkan seluruh orang – orangnya untuk menyisiri aliran air terjun yang berada tepat di samping hotel itu.
Jason yang mengiringi di belakang mobil Baron tampak berputar arah, raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Dia pun berinisiatif ikut melakukan pencarian bersama dengan tim pencari, dalam hati dia terus berdoa untuk keselamatan nona mudanya.
“nona... di mana pun kamu berada.... semoga anda baik – baik saja... “ ujar Jason yang terus melakukan pencarian.
Mundur sejenak pada saat aksi penembakan di kamar Raymond...
Tangan Luna yang berlumuran darah memegangi tepian pagar pada balkon kamar itu, Leon melangkah cepat menghampiri Luna yang terlihat mulai melemah. Namun kejadian itu berlangsung sangat cepat, akibat pagar basah karena embun yang turun membuat tepian pagar menjadi sedikit licin. Tangan Luna tergelincir beserta dirinya yang langsung terjatuh bebas dari balkon, mata Luna sempat melihat ke arah Leon dan Hugo yang berada di tepian pagar beranda dengan tangan berusaha menggapai dirinya.
Tubuh Luna terjatuh tepat ke dalam aliran sungai air terjun, mata biru itu terbuka lebar saat merasakan dinginnya air sungai itu. Luna segera berusaha berenang ke permukaan namun dia kepayahan karena luka serta gaun pengantin yang di kenakan, tubuhnya pun terbawa arus sungai yang deras. Senjata yang semula di pegangnya sudah menghilang entah ke mana, kepala Luna hilang timbul akibat arus sungai. Berkali – kali dia berusaha muncul di permukaan sungai untuk mengambil udara, Luna membiarkan tubuhnya terbawa arus sungai dan berusaha menjauh dari setiap batu – batu yang bisa membuat terluka lebih serius sekaligus cedera.
Tangan Luna berusaha menggapai ke setiap sisi batu agar dia semakin tidak terbawa arus, namun usahanya sia – sia karena gaun pengantin yang terus membuatnya terseret. Dewi fortuna berpihak pada Luna yang dalam usaha terakhirnya melihat batang pohon yang tersangkut dan melintang pada aliran sungai itu, tangan kiri Luna segera memegang kuat batang pohon itu. Tenaganya nyaris habis akibat terbawa hanyut serta luka yang ada di tubuhnya, pakaian pengantinnya kembali terseret aliran air sungai membuat Luna kembali terbawa arus sungai.
Tubuh Luna terbawa aliran sungai berarus cukup deras, dengan sisa kekuatannya tangan yang terluka menarik paksa pakaian pengantin itu hingga terlepas. Kini Luna hanya mengenakan lingerie berwarna senada dengan pakaian pengantin, dia langsung berusaha berenang ketepian dengan mengikuti arus. Kepalanya tetap berada di atas permukaan air, rasa dingin dari air sungai dapat di atasi Luna.
__ADS_1
Latihan fisik yang ekstrim membuat tubuh Luna terlatih, darah segar masih mengalir dari pundak dan perut bawah bagian kiri. Nafas Luna tersengal – sengal dan tidak beraturan, kekuatan tubuhnya sudah mencapai batas tetap di paksa Luna dengan menyeret tubuhnya ke tepian.
Tubuh terasa berat dan pemandangannya mulai mengabur, Luna terus berusaha mencapai sebuah batu besar dan menyandarkan tubuhnya. Rasa sakit di rasakan Luna mulai tidak terasa beriringan kesadarannya yang menurun, samar – samar dia menatap pemandangan di depannya sambil mengatur nafas yang tidak beraturan.
Matthew duduk tenang di sebuah batu besar, matanya menatap aliran sungai yang mengalir deras. Suara aliran sungai serta semilir angin bagaikan musik alam yang menenangkan baginya, tangan kekar itu memegangi sebuah tongkat panjang berserta tali senar yang ujungnya sudah masuk pada aliran sungai.
“jangan melamun, awasi pancinganmu” ujar kesal kakek Matthew yang berada tidak jauh darinya, dia lalu mengalihkan tatapannya menatap ke arah kakek yang juga tengah memancing.
“Iya, tenang saja grandpa” ujar Matthew memegangi tongkat pancing itu, pikirannya kembali melayang pada pernikahan Luna yang di hadirinya.
Entah apa terjadi pada pernikahan Luna dan Leon yang di batalkan begitu saja tanpa ada penjelasan berarti, Matthew dan kakeknya ikut hadir menatap bingung pada petugas hotel yang mulai berbenah. Hans pun mencoba menghubungi Baron yang juga memberi tahu jika acara pernikahan Luna di batalkan tanpa penjelasan apa pun.
“kita sudah datang dari jauh kemari, sayang juga jika kita tidak melakukan... “ ujar Hans mengode ke arah Matthew yang langsung mengerti.
“oh ayolah Grandpa, ini bukan waktu yang tepat. Luna dan Keluarganya sangat sedih sekarang, seharusnya kita menemui dan mendukung mereka” ujar Matthew mengalihkan pandangannya ke arah Alberto yang akan pergi, dia segera menyuruh Ian asistennya untuk bertanya pada Alberto di mana Luna dan keluarganya.
Ian segera melaksanakan perintah Matthew dengan menemui Alberto, dia terlihat berbicara serius dengan raut wajah yang sama persis dengan tuannya. Setelah berbincang Alberto terlihat undur diri untuk menyusul Baron, Ian menemui Matthew dan menjelaskan informasi yang di dapatnya.
__ADS_1
Hans ikut mendengarkan informasi yang di sampaikan oleh Ian, tidak begitu banyak Informasi yang di dapatkan Ian.
Apa yang telah terjadi? Kenapa pernikahan Luna di batalkan? Saat bertemu sebelumnya mereka terlihat baik – baik saja Gumam Matthew dalam hati yang larut dalam pikirannya.
Hans menatap ke arah pancingan milik Matthew yang bergerak,
“Matthew... itu pancingan mu terbawa arus“ ujar Hans pada Matthew yang masih larut dalam pikirannya.
“Matthew... Matt..” panggil Hans membuat Matthew yang melamun tersadar, dia melihat ke arah pancingan yang sudah terlepas dari tangannya. Pancingan itu jatuh ke sungai dan nyaris terbawa arus, Matthew dengan sigap melompat ke sungai dan memegang kuat tongkat pancingan.
Seluruh baju Matthew basah kuyup akibat tercebur ke dalam sungai yang kedalamannya sedada bidang, dia pun nyaris terbawa arus tapi dengan cepat meraih tepian berbatu dan menarik diri keluar dari sungai. Hans menghela nafas melihat cucunya yang kebasahan,
“aku sudah bilang jangan melamun saat memancing, inilah akibatnya” ujar Hans mengode ke arah asistennya untuk segera mengambilkan handuk, Matthew menghampiri kakeknya lalu meraih handuk dari tangan asisten yang berdiri di sisi samping Hans.
“maaf Grandpa...” ujar Matthew mulai mengelap dirinya, tongkat pancingan di serahkan pada asisten Hans.
Hans menghela nafas panjang menatap ke arah Matthew yang berhasil di bujuk untuk menemaninya memancing yang merupakan kegemarannya, saat dalam perjalanan menuju hotel tempat acara pernikahan Hans menemukan spot pemancingan. Diam – diam dia meminta asistennya mencari Villa untuk mereka dapat menghabiskan waktu setelah acara pernikahan nanti, Hans tahu betul jika Matthew tengah galau di tinggal nikah oleh Luna.
__ADS_1
Demi menghibur cucu yang galau Hans meminta asistennya untuk menyiapkan segala keperluan, Matthew yang hendak pulang terkejut saat semua keperluan memancing sudah tersedia. Mau tidak mau dia mengikuti keinginan Hans dan kini dia harus pulang dengan baju basah kuyup akibat alat pancing yang hampir terbawa arus.