
Sebelum pergi berenang untuk menyegarkan dirinya, Luna meninggalkan pesan pada petugas room service untuk masuk saja ke dalam kamar dan menata makanan yang di pesannya di atas meja. Kini saat dia kembali ke kamarnya, dia malah mendengar keributan di kamar miliknya.
“ada apa ini?” tanya Luna menatap tajam ke arah beberapa pria itu. sebelum kembali ke kamarnya, Luna menyempatkan kembali berdandan seperti biasanya. Wajah cewek culun itu kini menghiasi wajahnya hingga membuat beberapa pria itu memandang rendah padanya.
Mata elang Leon terbuka lebar saat melihat gadis yang selama ini di carinya kini berada beberapa langkah di depannya.
Cewek ini.... akhirnya aku bisa hah... hah... menemukan cewek hah... hah.... hah ini... Tapi hah kenapa bertemu Saat hah hah kondisi seperti ini....hah hah sangat menyiksa gumam Leon yang mulai tidak fokus.
Nafasnya tidak beraturan dan terasa berat, dia menelan ludahnya secara kasar saat melihat rambut Luna yang terikat ke atas memperlihatkan lehernya yang basah.
Breg**k... hah... hah.. sial*n hah... pengaruhnya semakin kuat, aku hah... hah...harus secepatnya pergi hah.. hah.. secara diam-diam dari sini... Setelah itu hah hah membuat perhitungan hah hah dengan cewek lakn*t itu gumam Leon dalam hati merasa terdesak dengan keadaannya kini. Para pria itu menghampiri Luna yang menatap tidak senang ke arah pria yang memandang rendah padanya.
“lebih bagusan lu cewek diam aja. Kita di ini mari sedang nyari orang” ujar salah satu pria itu mendorong bahu Luna untuk menyingkir dari jalannya. Mata indah Luna seketika membesar saat melihat hardcase miliknya berada di lantai kamar.
Petugas itu segera menggeleng dengan cepat saat mata Luna menatap ke arahnya meminta jawaban, mata petugas itu menatap ke arah pria memberi tahu Luna jika mereka yang melakukannya.
“apa kalian yang sudah menjatuhkan gitar gue?” tanya Luna tidak senang. Para pria itu tidak menggubris memilih melaksanakan pekerjaannya memeriksa setiap sudut kamar itu. salah seorang dari mereka bahkan akan membuka pintu lemari di mana Leon sedang bersembunyi, nafasnya mulai tidak beraturan. Tangannya sudah terkepal erat bersiap melayangkan pukulan untuk merobohkan pria yang akan membuka pintu itu.
“hei.... siapa kalian sebenarnya brani amat ngeledah kamar gue? Dari pakaian lu pada, gue yakin lu pada bukan anggota kepolisian apa lagi dari kemiliteran. Lebih baik lu pada cabut ato Gue laporin lu semua ke pihak berwajib dan menuntut kalian atas perlakuan kagak menyenangkan, merusak properti orang lain dan masuk tanpa seizin gue” ujar Luna sambil meletakkan kembali hardcase miliknya ke tempat semula, dia bisa saja menjatuhkan semua pria itu dan melempar mereka keluar dari kamar miliknya atau mengirim mereka satu persatu ke alam lain.
Namun, Luna yang harus menjalani peran ganda untuk menutupi jati diri dia yang sebenarnya, kini dia harus menahan rasa gatal di tangannya untuk memberi pelajaran pada para pria yang memandang rendah padanya. Tangannya memegang ponsel yang siap untuk menghubungi pihak berwajib, melihat ancaman dari gadis itu para pria itu mengode untuk keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Petugas room service itu cukup terkejut dengan apa yang terjadi, Luna menatap ke arah petugas itu jatuh terduduk di lantai kamar. Dia lalu melenggang santai melangkah menuju minibar untuk mengambil air mineral lalu menyerahkannya pada petugas itu.
“te....terima kasih nona.... (meminum air itu sampai habis, petugas itu menatap ke arah Luna lalu berdiri kembali) maaf nona atas gangguan tadi” ujar petugas itu masih merasakan lemah di kakinya.
“ siapa mereka? Dari sikap mereka terlihat seperti mencari sesuatu” ujar Luna yang merasa heran.
“ saya juga tidak tahu nona, tadi mendadak mereka masuk begitu saja dan memeriksa setiap sudut kamar ini” ujar Petugas itu, dia teringat dengan pria yang bertemu dengannya di dalam lift.
Apa jangan-jangan mereka mencari tuan tadi? Gumam petugas itu sejenak termenung di depan Luna, sebuah jentikan dari jari jemari Luna menyadarkannya dari lamunan.
“ se... sekali lagi maaf nona... ka... ka... kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya” ujar petugas itu undur diri meninggalkan Luna sendirian di kamar. Leon masih mengawasi dari balik celah pintu lemari, dia melihat petugas room service yang membungkuk sejenak pada Luna lalu menutup pintu kamar itu. Leon terus berperang dengan dirinya bahkan meremas kuat lengannya agar tidak terpengaruh dengan gejolak perasaannya.
Leon yang berada di dalam lemari menunggu beberapa menit memastikan tidak ada siapa-siapa di kamar itu, setelah itu dia segera meraih ponselnya berusaha untuk menghubungi Adam, Hugo dan body guardnya. Ibu jari itu menggeser-geser di layar ponsel canggih miliknya, tanpa sengaja ponsel itu terjatuh ke lantai dasar lemari menimbulkan suara cukup keras. Leon hendak mengambil ponsel itu, namun terhenti saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka.
Luna baru saja selesai membilas diri, handuk putih terlilit menutupi tubuhnya yang seksi dan handuk putih lainnya berada di atas kepala menutupi rambut yang basah. Dia baru saja keluar dari kamar mandi berhenti sejenak saat mendengar suara gaduh dari arah lemari, matanya menatap ke arah hardcase yang sudah tersandar kembali di kursi. Tangannya segera meraih pistol laras pendek yang di sembunyikan di sudut hardcase itu, perlahan-lahan Luna mendekati pintu lemari sambil sebelah tangan kanannya memegangi senjata api.
Mata elang Leon yang sayu termenung saat melihat paras asli Luna sebenarnya, gejolak di dalam tubuh Leon kembali beraksi saat melihat tampilan Luna dengan kecantikannya yang hakiki. Perlahan-lahan tangan Luna meraih gagang pintu lemari, senjata apinya sudah siap sedia. Dengan cepat Luna membuka pintu lemari dan dengan cepat pula Leon memegangi tangan Luna yang memegang senjata untuk tidak mengarah kepadanya.
Leon dengan kuat mendorong Luna hingga tubuh bagian belakangnya menyentuh dinding dingin itu.
“aaaakh...aaaargg...” kedua tangan luna terkunci oleh tangan besar Leon. Mata Indah itu membulat sempurna saat melihat sosok pria di depannya yaitu Leon tengah mengunci kedua tangannya di atas kepal.
__ADS_1
“elo.... ngapai lu ada dalam lemari gue” Luna terkejut, dia lalu berusaha keras untuk melepaskan tangannya dari pegangan kuat itu. Nafas Leon terdengar memburu dan berat saat melihat ke elokkan pemandangan di depannya yang masih tertutup selembar handuk.
“lepasin gueee...” ujar Luna dengan sangat geram menatap nanar ke arah Leon yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Leon memegangi kedua tangan Luna dengan sebelah tangan dan menekan kuat ke arah dinding. Sebelah tangannya yang bebas segera meraih senjata api yang berada di tangan Luna, lalu membuang jauh secara asal senjata itu ke lantai kamar.
Teriakan Luna sama sekali tidak terdengar orang di luar kamarnya yang memiliki sistem peredam suara. Luna yang akan berteriak kembali terhenti saat Bibir seksi milik Leon tanpa permisi langsung menempel di bibir Luna yang di tutupnya dengan rapat. Mata Leon menatap ke arah mata Luna yang menatapnya dengan marah karena telah lancang mengambil paksa ciuman pertamanya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1