Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 80


__ADS_3

Kkrrrriiiukk....


Untuk ke sekian kalinya perut Luna kembali berbunyi memberontak untuk segera di isi, dia lalu keluar dari walk in closet melangkah ke pintu lainnya. Pintu itu mengarahkannya keluar dari kamar Leon, dengan bertelanjang kaki Luna menuruni anak tangga. Dia melihat ke sekeliling apartemen itu sama sekali tidak menemukan pemilik dari apartemen itu,


Ke mana perginya si manusia narsis itu? Luna melihat berkeliling di lantai pertama apartemen milik Leon.


Matanya melihat dapur dengan kulkas besar berada di sana, segera dia melangkah ke dapur lalu mulai memeriksa setiap kabinet di dapur itu. Pintu kulkas pun di bukanya mencari sesuatu yang bisa di makan, hanya ada bahan mentah di dalam kulkas itu. Perut bagian tengah kembali berdemo untuk di berikan makanan,


“makan apaan ya? Uugggh nyesel aku nggak dengarin ama ikutin saran si Jason, apa aku order aja ya. Ponsel aku... Hmmm....” Luna berbicara pada diri sendiri, dia akan melangkah kembali ke kamar Leon tapi terhenti saat perutnya terus menerus berdemo.


“Hadeuuuh.... Ni perut kagak bisa di ajak kompromi” Luna kembali membalikkan tubuhnya melihat telur yang tertata rapi di Dalam laci kulkas. Dia lalu membuka-buka seluruh pintu kabinet di kitchen,


Apartemen semewah ini tapi aku sama sekali nggak nemuin mie instan, di mana -mana aku hanya nemuin sesuatu yang nggak penting gumam Luna kesal karena sama sekali tidak menemukan makanan darurat di kala tanggal tua.


Mau tidak mau Dia mengambil telur lalu membuka bagian frezer untuk mencari nugget ataupun bahan makanan lainnya, tapi dia hanya menemukan daging yang tertulis kualitas terbaik di dalam sana. Luna menghela nafas berat lalu mengambil daging itu, sesaat dia teringat sesuatu lalu mengedarkan pandangannya.


“tuan muda arrogant aku ambil makanannya ya” ujar Luna setengah berteriak yang tentu saja tidak akan terdengar oleh Leon yang kala itu berada di ruang kerjanya.


“oke, sekarang aku harus ingat apa aja yang di katakan Jason, pertama kalo nggak salah dagingnya di....hmmmm... Di apain ya? Di bakar mungkin kali ni atau mungkin di.... hmm...” ujar Luna yang mulai menyalakan kompor listrik, tangannya meraih wajan lalu meletakkan daging berserta wadah dan pembungkusnya. Dia memperhatikan daging di mana wadahnya sudah meleleh,


“loh kok jadi gini? Aduuh gi mana caranya nich?” ujar Luna yang kebingungan melihat Daging yang ingin di makannya menempel bersama wadah dan plastik pembungkusnya. Dapur yang semula wanginya seharum Pewangi ruangan yang segar berubah menjadi bau gosong dan hangus.


Bau itu menyebar di ruang tengah hingga ke ruang kerja Leon yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


Sniiff.... Sniif... Sniiff....


Hidung Leon mencium sesuatu yang terbakar dan berbau hangus, dia lalu bangkit dari kursi kerja melangkah keluar menuju Dapur. Mata elangnya terkejut saat melihat Luna yang membelakanginya berada di dapur dengan kondisi dapur yang kacau balau, senyumannya seketika terkembang saat menatap Luna yang kebingungan memegangi wajan. Di dalam wajan itu ada makanan gosong yang sangat jelas tidak bisa di makan sama sekali, beberapa bahan yang tergeletak di meja kitchen tepat di belakang Luna.

__ADS_1


“ternyata kamu memiliki bakat memasak yang begitu luar biasa” ujar Leon membuat Luna terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya. Dia segera melempar wajan berserta makanan gosong itu ke sink yang berada di sampingnya, Luna menatap ke arah Leon dengan tatapan tidak berdosa.


Pria tampan itu lalu melangkah mendekati Luna, kedua tangan gadis itu berada di belakang tubuhnya memegangi tepian sink.


“tidak perlu kamu menyembunyikan barang bukti itu, karena aku sudah melihatnya” ujar Leon menatap Luna yang memasang wajah polos sambil menutupi perbuatannya.


“itu.. itu... hmm” ucapan Luna terhenti saat...


Kkrrriiiuuuk....


Wajah Luna seketika bersemu merah, kedua tangannya sontak memegangi perut yang kembali berbunyi. Senyuman segera terlukis di wajah tampan Leon, saat dia mendengar jelas suara perut Luna.


“aku akan membuatkan kamu sesuatu, tunggulah di meja makan, oke” Leon mencubit lembut hidung mancung Luna. Dia lalu membuka laci untuk mengambil apron dan memakainya, Luna takjub melihat Leon yang mengambil pisau dan dengan terampil memotong beberapa bahan makanan.


“aku tidak menyangka jika seorang CEO dingin dan arrogant seperti mu bisa masak” ujar Luna yang mengintip dari samping Leon yang tengah membumbui daging yang dia mengambilnya dari frezer. Dia sangat cekatan, rapi dan bersih, mata elangnya menatap ke arah Luna.


"Dingin... Arrogant?!" ujar Leon berhenti sejenak membumbui daging itu, dia melangkah menuju sink untuk membersihkan tangannya sejenak lalu menghampiri Luna. Dia meraih pinggang Luna lalu mengangkat tubuhnya melangkah ke arah meja kitchen dan mendudukkan Luna di samping tempat di memotong-motong bahan yang akan di olah.


"ternyata CEO arrogant di takuti banyak orang juga seorang yang mes**"


"aku hanya akan bertindak seperti ini pada mu saja. apa lagi kamu menggodaku dengan berpakaian seperti ini" ujar Leon baru menyadari jika Luna memakai kemeja miliknya dan celana pendek miliknya, Kedua tangan Luna berada di pundak pria tampan itu.


“Pakaian ku udah kotor dan basah, trus di lemari mu sama sekali tidak ada pakaian cewek. Jadi ya... aku terpaksa mengenakan pakaian milikmu” ujar Luna membuat Senyuman hangat terlukis di wajah tampan itu, punggung jari tangan Leon membelai lembut wajah Luna.


"kenapa aku harus memiliki barang perempuan di sini?" tanya Leon menatap bingung Luna.


"bisa jadi kan kalo si mak lampir itu nginap di sini dan pakaiannya juga ada di sini. apalagi si mak lampirkan mantan tunangan mu?!" ujar Luna mengalihkan pandangannya. Leon mendekatkan wajahnya ke arah Luna dan mulai mengendus di sekita leher jenjangnya.

__ADS_1


"sniff... sniff... sepertinya aku mencium sesuatu"


"apa?!"


"aku mencium kecemburuan di sini, Tenang saja sayang, aku tidak akan membiarkan perempuan itu berada di apartemen ini. Apalagi pertunangan kami hanya pertunangan bisnis dan tidak lebih dari itu" jelas Leon membuat Luna kembali menatap ke arahnya.


"si... si.... siapa yang cemburu" kilah Luna membuat Leon tersenyum nackal padanya.


“baiklah, kamu tunggu sebentar aku akan menghubungi sekretaris ku untuk menyuruhnya membelikan pakaian untuk mu” ujar Leon mengambil ponsel miliknya di saku celana lalu mencari nomor kontak sekretarisnya, belum juga Leon menelepon ponsel itu langsung di ambil oleh Luna.


“tuan muda... Apa kamu tidak lihat jam berapa sekarang?” tanya Luna memperlihatkan jam di ponsel milik Leon yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


“Lalu?!” tanya Leon tidak mengerti.


“memangnya jam segini masih ada toko yang buka?!” Ujar Luna, Leon terdiam sejenak lalu menatap ke arah Luna.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2