Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 43


__ADS_3

Tatapan Leon begitu menusuk membuat sesuatu dalam diri Luna terbangkitkan, tatapan mata elang itu sangat panas dan memberi efek tidak nyaman dan jantung yang berdetak kencang.


“Ngapain lu natapin gue...” Luna mulai tampak gelisah dan gugup, Tangan kanan Leon membelai lembut wajah cantik itu. Gadis itu hendak memberikan perlawanan, tapi tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi dan sudah kehabisan tenaga. Punggung jari jemari Leon membelai lembut pipi kemerahan dan mata indah yang menatap tajam padanya.


“Aku ingin...” ucapan Leon terhenti saat mendengar getaran ponsel miliknya yang tertinggal di dalam lemari itu. Dia memilih mengabaikan dan ingin melanjutkan apa yang akan di bicarakannya.


“ Aku...” raut wajah Leon tampak kesal membuat Luna menatapnya heran, Pria tampan itu bangkit dari ranjang melangkah menuju lemari untuk mengambil ponsel miliknya.


Mata elang itu menatap layar ponsel yang tertulis nama Hugo di sana, dia melihat ke arah Luna yang membalasnya dengan menatap tajam seakan ingin menghabisinya saat itu juga. Leon tersenyum sejenak lalu melangkah menuju kamar mandi, ibu jarinya menggeser tombol icon di ponselnya.


Mumpung ntu baji***n di kamar mandi, gue musti cabut dari sini Atau dia bakalan bikin gue nggak bisa bangun dari tempat tidur gumam Luna dalam hati berusaha untuk bangkit dari ranjang itu. Dia mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari ranjang, rasa sakit segera menyebar di seluruh tubuhnya.


“Anying... ssssshhhhh... sakiit banget. ini semua gara-gara si mesum itu, dasar cowok breng**k mesum” umpat kekesalan Luna, tangannya meraih pakaian yang berserakan di lantai kamar. Dia menguatkan tubuhnya dan mencoba mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.


Luna segera mengenakan pakaiannya, dia melihat ponsel miliknya yang terletak di meja rias begitu banyak pesan dan telepon yang masuk dari satu nama yakni Kiandra. Tanpa membuang waktu Luna mengenakan seluruh pakaian dan sepatunya, karena terburu-buru dia tidak memakai penyamarannya. Meraih hard case gitar yang tersandar di samping kursi, tidak lupa dia mengambil senjatanya yang terjatuh di kolong ranjang.


Samar-samar Luna mendengar air shower yang mengalir menandakan jika Leon sedang mandi, dia segera memilih pergi meninggalkan kamar itu. Dia melangkah cepat keluar dari kamar menuju lift, tanpa di sadari Luna kartu mahasiswa yang di berikan temannya kemarin terjatuh tepat di depan pintu.


Jantung Luna berdegup kencang, rasa sakit di bagian lembah itu tidak begitu terasa lagi. Sesekali dia melihat ke belakang untuk memastikan Leon tidak mengikutinya sampai Pintu lift terbuka, dia segera masuk dan menekan tombol lift menuju lobi.


***


Adam, Hugo, Alex dan beberapa body guard Leon baru saja sampai di hotel KL, mereka mendapat informasi dari Leon dia masih berada di hotel itu termasuk nomor kamar di mana dia berada saat ini. Alex memerintahkan para body guard untuk menunggu di lobi, sebelah tangannya menenteng satu stel baju milik Leon yang di ambilnya dari apartement milik Leon.


“sepertinya si kucing betina dan keluarganya udah nggak sabaran ingin menjadi bagian keluarga Willson, bahkan berani buat jebak si Leon” ujar Hugo di depan pintu Lift, Adam menekan tombol lift untuk menuju ke lantai atas.

__ADS_1


Beberapa staff yang lewat menyapa ramah ke arah Adam dan lainnya, sebagai owner hotel mewah itu Adam membalas sapaan dengan ramah dan sopan penuh wibawa.


“sepertinya mereka sudah kehilangan cara, apalagi baru saja gua mendapat informasi jika beberapa cabang perusahaan Miller colapse” Ujar Adam menatap ke atas pintu lift yang terpampang sebuah layar yang menunjukkan angka-angka.


“dengan memakai cara murahan seperti ini, saya tidak bisa membayangkan hal apa yang akan di lakukan tuan muda nantinya” Alex merinding membayangkan kemarahan Leon, dia seakan bisa melihat aura kegelapan.


Ting....


Pintu lift terbuka, para pria itu akan melangkah masuk ke dalam lift terhenti sejenak saat melihat seorang gadis cantik keluar dari lift itu. Adam dan Hugo termenung saat gadis cantik itu tidak lain adalah Luna berjalan melewati mereka, mata indah itu melihat sekilas lalu ke arah pria yang berdiri termenung saat melihatnya.


Luna melangkah dengan lebar menuju lobi dan keluar dari pintu hotel.


“ajim.... cakep bener dah tu cewek. Gue musti....” Hugo akan melangkah bermaksud mengejar Luna terhenti saat merasakan ada yang menarik kerah bajunya.


“jiaaah, si bambang. Sok-sokan nahan gua, sendirinya juga ngeliatin ntu cewek” ujar Hugo sambil tertawa cengengesan menangkap basah tindakan Adam.


Alex sudah sedari tadi masuk ke dalam Lift, menekan tombol untuk menahan agar pintu lift tidak menutup.


“Anda berdua apa masih ingin di sini?” tanya Alex pada Hugo dan Adam yang masih berdebat di depan lift. Mereka melihat Alex yang sudah berdiri di dalam Lift ikut masuk ke dalam , setelanya Alex melepaskan jarinya dari tombol lift lalu menekan tombol menuju lantai di mana Leon berada saat ini.


Leon baru saja menyelesaikan ritual mandinya, handuk putih melingkar di pinggang di bawah perut sixs pack . Dia menatap pantulan bayangannya di kaca kamar mandi yang besar


Dada bidangnya terlihat mengilat dengan titik-titik air yang masih menempel di seluruh bagian tubuhnya. ( waduuuh... parah nih si babang... bikin author jadi kagak fokus dah... nge halu yang kagak-kagak).


Sebelah tangannya memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah, senyuman nackal tersungging di wajah tampannya saat melihat beberapa bekas kemerahan panjang terukir di beberapa tempat sekitar dada bidang dan punggungnya. Sebelah tangan lainnya membuka pintu kamar mandi, kakinya yang panjang melangkah keluar menuju ranjang.

__ADS_1


Mata elang itu yang semula bercahaya memancarkan kesenangan berubah galau dengan sangat cepat, ranjang itu kini sudah tidak berpenghuni. Leon melangkah ke arah balkon berharap gadis itu berada di sana,


ke mana perginya dia? ****... aku lupa menanyakan namanya gumam Leon kembali masuk ke dalam kamar, dia bahkan mengintip ke bawah kolong ranjang namun sosok gadis itu tidak di temukannya. Dia juga melihat barang-barang gadis itu sudah raib, hanya meninggalkan makanan yang terhidang di meja tanpa ada yang menyentuh sama sekali. Wajah tampan itu tampak sangat kesal, dia seakan merasa seperti seorang pria bayaran yang di tinggalkan begitu saja.


Tok... tok... tok...


Terdengar ketukan dari arah pintu kamar, Leon segera melangkah menuju pintu. Sebuah benda tergeletak di lantai kamar tepat di depan pintu menyita perhatian Leon, tangan kekar itu meraih benda yang ternyata adalah kartu mahasiswa milik Luna.


“Luna Freya... (senyuman smirk tersungging di bibir **** itu) aku akan segera mendapatkan kamu dan tidak akan pernah membiarkanmu lepas dari genggaman ku” ujar Leon menatap foto Luna yang berada di kartu itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2