
“haaah.... Hanya berada dekat dengan mu ... dia... terbangun... “ Leon tampak berusaha untuk menahan gejolak di dadanya. Kedua tangan Leon berada di punggung Luna, mendorong pelan tubuh Luna ke arahnya hingga Leon dapat memeluk tubuhnya.
Badhum.... Badhum.... Badhum....
Leon dapat mendengar detak jantung Ko yang berdetak cepat seperti lajunya kereta shinkansen, mata elangnya perlahan memejam sejenak menikmati alunan degup jantung Luna yang menurutnya menenangkan. Dia memeluk erat tubuh Luna berusaha untuk menekan gelombang dahsyat seperti angin tornado, raut wajahnya tergambar jelas rasa tidak nyaman berusaha menahan ular sanca yang mulai gelisah dan memberontak.
Luna menyadari hal itu, entah apa dan bagaimana dia pun dapat merasakan apa yang di rasakan Leon. Perlahan Kedua tangan Luna memegangi kedua pipi Leon, mendekatkan bibirnya kembali yang langsung di sambut senang oleh Leon.
Luna seakan tidak menyadari dengan apa yang di lakukannya dan menyetujui apa di ingin kan Leon saat itu, Tangan Luna perlahan-lahan membuka kancing kemeja hitam milik Leon. Ciuman itu terus berlanjut dengan Leon yang mendominasi, Jari jemari Luna menyentuh dada bidang pria tampan itu. Ada sebuah pertanyaan besar di benak Luna saat tidak sengaja menyentuh sesuatu yang memanjang di tengah dada Leon,
Garis ini.... Garis ini adalah bekas operasi besar.... gumam Luna dalam hati saat merasakan garis bekas operasi di bagian dada bidang itu.
Leon tidak diam begitu saja, dia juga beraksi dengan menyentuh lembut punggung Luna sambil mencari sesuatu. Setelah menemukannya segera dia melepaskan hingga perbukitan yang di selubungi dan di amankan dalam pagar teraman. Entah kapan pakaian itu tersingkap hingga memperlihatkan pemandangan indah. Di mana-mana masih terlihat jelas lukisan abstrak yang di berikan Leon, ciuman itu kini menuruni leher jenjang menuju jalan setapak yang menghubungkan perbukitan.
Penjelajahan pun di mulai, tidak ada satu tempat pun yang luput dari penjelajahan yang di lakukan Leon.
“hngh... hngh...” alunan nyanyian Luna tertahan oleh lengan kirinya yang menutup bibirnya. Dia terus berusaha menahan agar nyanyiannya tidak terdengar oleh siapa pun.
“lepaskanlah tanganmu... uugghh.... biarkan aku nnnggh... mendengar suara indahmu...” bisik Leon yang masih melanjutkan kegiatannya.
“hmmm.... nnnnghh...hnnghh...”
Perlahan kegiatan itu berlanjut ke tahap selanjutnya, pengamanan yang bertugas melindungi kini sudah melonggar. Ular Sanca sudah keluar dari persembunyian mencari jalan menuju gua tempatnya bersemayam.
Luna seperti terhipnotis dengan belaian dan sikap lembut Leon, dia bersimpuh dan berpegangan pada kepala sofa membelakangi Leon. Rambut panjang Luna yang tergerai di pinggirkannya ke sebelah kiri hingga memperlihatkan tengkuk lehernya yang putih.
__ADS_1
Perlahan Leon menciumi tengkuk leher itu dengan lembut, membelai tangan Luna dan memegangi pinggang rampingnya.
Ular sanca menemukan jalan menuju ke gua tempat persembunyiannya, kepalanya pun memasuki mulut gua memperhatikan kedalaman gua. Perlahan ular sanca mulai masuk dan bergerak dengan keinginannya, namun ular sanca kebingungan dan bergerak cepat saat tersesat dalam gua itu.
Ular sanca terus bergerak berusaha mencari jalan keluar, gerakan semakin di permudah oleh aliran air yang keluar dari dalam gua.
“sayang... Terus pertahankan... hhnggh... Sebentar lagi.... Sebentar lagi...uuughh... Selesai” bisik Leon pada Luna yang mengalihkan wajahnya ke arah pria tampan itu. Bibir mereka kembali bertemu, tounge mereka terpaut satu sama lain.
Uar sanca berulah mempercepat pergerakannya, dia terliat panik saat tidak menemukan jalan keluar. Dalam kepanikannya ular sanca merasa sangat pusing dan mual.
“hnnngh.... uuumm.... aaah...” nyanyian Luna terdengar sangat merdu, gejolak dalam dirinya semakin menguat akibat aliran listrik bertenggangan tinggi yang di alirkan Leon.
Ular sanca sudah merasa sangat teramat pusing, dia sudah tidak bisa menahan untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Dia pun memuntahkan semua isi perutnya dengan sangat banyak di dalam gua itu, ular sanca berdiam diri sejenak dan menenangkan diri di dalam gua itu.
Luna memalingkan wajahnya ke arah Leon yang tengah mengatur nafasnya, mata mereka saling bertemu dan wajah yang sangat dekat. Perlahan bibir mereka kembali bertemu, saling menyalurkan aliran gelombang listrik yang membangkitkan tenaga di dalam tubuh mereka masing-masing.
Ular sanca berada di dalam gua merasa panas dan terjepit oleh dinding gua yang mengaktifkan sistem pertahanannya, bukannya melarikan diri ular sanca malah masuk semakin dalam ke gua itu. Dia pun merasa pulih dari rasa pening dan muntahnya, ular sanca menjadi bugar kembali dan bersiap untuk mencari jalan keluarnya.
Leon memegangi pinggang ramping Luna agar tidak terjatuh saat serangan tidak terduga, kali ini bukan berpegangan di lakukan Luna. Dia memegang pundak Leon dan mencengkeramnya dengan sangat kuat, merasa pergerakan serangan yang semakin kuat Luna memeluk erat dengan mengalungkan tangannya ke leher pria tampan itu.
Ular sanca mengarahkan kepalanya ke atas berharap bisa melalui pintu gua bagian dalam yang di temukannya, dia bergerak dengan semangat mengira sudah menemukan jalan keluar dari gua itu. Namun prasangka ular sanca meleset, dia malah semakin terjebak semakin dalam dan merasa terjepit. Gua sempit itu membuat seluruh tubuh ular sanca bereaksi memperlihatkan urat-urat yang menandakan kehebatannya.
Lagi dan lagi ular sanca merasakan perutnya sudah penuh, kepalanya terasa sangat pening. Sekali lagi dia memuntahkan semua isi perutnya di dalam gua terdalam itu, muntahannya begitu banyak hingga memudahkan ular sanca bergerak mundur.
Serangan yang di lancarkan Leon membuat tubuh Luna kelelahan, pertempuran mereka pun berakhir di menangkan telak oleh Leon.
__ADS_1
***
Di luar Ruangan rektor para body guard yang menjaga pintu tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya wajah mereka saja yang memerah saat tidak sengaja mendengar nyanyian merdu Luna dan Leon. Rektor baru itu terpaksa duduk di kantor para dosen menunggu Leon keluar dari ruangannya, body guard Leon selalu menyuruhnya pergi saat dia akan ke ruangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, hampir dua jam lamanya Luna dan Leon berada di dalam ruangan rektor. Belum ada tanda-tanda Leon atau Luna akan keluar dari ruangan itu, kantor dosen sudah mulai sepi karena beberapa dosen sudah ada yang pulang.
Apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa tuan muda Leon dan nona Luna belum juga keluar dari sana? Kedua body guard itu juga terlihat aneh gumam rektor yang terus memperhatikan dari kantor dosen.
Sementara itu Kiandra, Alex dan Dion masih menunggu di cafe, Sarah sudah pulang lebih awal setelah mendapat telepon dari sugar daddy nya yang ingin bertemu. Alex nyaman berbaur dan berbicara dengan Kiandra juga Dion, sesekali mereka bercanda satu sama lain.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1