
“Perkenalkan nama saya Raymond....” belum selesai Raymond memperkenalkan diri, Baron langsung memotong pembicaraan Raymond.
“Raymond Willson, siapa yang tidak mengenal keluarga Willson. Keluarga terkaya dan sangat berpengaruh di negara ini” ujar Baron menatap dingin tangan Raymond, mata tuanya kembali menatap ke arah wajah Raymond yang menunggu jabatan tangannya di sambut oleh Kakek Luna. Perlahan Baron menyambut uluran tangan Raymond di barengi dengan senyuman penuh kewibawaan, Raymond lalu melihat ke arah Luna yang masih berdiri di samping Baron.
“saya sangat tersanjung bisa di kenal oleh orang penting seperti anda, jika anda tidak keberatan maukah anda dan Luna ikut makan malam bersama kami?!” tanya Raymond membuat Luna seketika menatap ke arahnya. Perubahan sikap Raymond tentunya sudah di tebak dengan mudah oleh Luna, Baron melihat ke arah Luna yang memberi senyuman manis serta anggukan kepala untuk menyetujui undangan dari Raymond.
“Kamu yakin?!”ujar Baron menatap lama ke arah cucunya, Luna mengangguk sekali lagi dengan yakin. Dia melihat mata dan wajah Raymond yang memperlihatkan raut wajah penuh harap, Luna tahu Raymond ingin berbicara sesuatu dengannya.
“Luna....” Raymond menatap ke arah Luna yang balas menatapnya balik. Luna tahu Raymond akan meminta maaf atas sikapnya,
“Tuan Raymond... (menatap sejenak ke arah Baron lalu kembali menatap ke arah Raymond) ojisan sangat suka dengan teh. Aku akan meminta waiter untuk menyediakannya” ujar Luna membuat Raymond menatap langsung ke arahnya. Raymond terkejut saat mendengar ucapan Luna, seketika ada perasaan lega di hatinya. Raymond lalu mempersilahkan Baron untuk bergabung bersama mereka, mata Baron menatap ke arah Alberto mengode dengan sedikit kepalanya. Alberto membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat lalu melangkah pergi menuju ke ruangan manajer, dia menemui manajer dan mengajaknya untuk ke ruang CCTV.
“silahkan Tuan Baron” Raymond mempersilahkan Baron untuk duduk di meja mereka. Waiter segera menghidangkan minuman dan makanan untuk Baron, tidak lupa teh kesukaan Baron yang terhidang dalam pot tea keramik buatan khusus.
Luna yang duduk di samping Baron sudah tahu jika dia tidak akan membiarkan Simon dan Hana begitu saja, gadis cantik itu hanya bisa menghela nafas melihat sikap kakeknya yang tidak menerima begitu saja dengan penghinaan yang di lontarkan mereka. Kiandra yang melihat mereka dari CCTV ikut menggelengkan kepalanya, dia kembali fokus Memperhatikan target yang tengah mengetik sesuatu di ponsel miliknya.
“Lun, target bergerak menuju ke kamar kecil” ujar Kiandra, jari jemarinya bergerak cepat di atas keyboard miliknya. Kesempatan yang tentunya tidak di sia-siakan Luna, dia menggeser kursinya ke belakang membuat semua orang yang duduk di meja itu menatap ke arahnya. Luna melemparkan senyuman manis pada semua orang,
“maaf permisi, semuanya” ujar Luna undur diri. Leon hendak berdiri bermaksud menemani langsung di cegah oleh Luna dengan mengodekan tangannya,
“aku hanya akan ke belakang sebentar” ujar Luna mengisyaratkan dirinya hendak ke kamar kecil. Semua tersenyum dan mengizinkan Luna untuk menyelesaikan urusannya, Luna melenggangkan kakinya menuju ke arah kamar kecil.
__ADS_1
Tanpa siapa pun mengetahui dan memperhatikan, langkah Luna berubah jalur dan mengarah menuju ke ruangan target misinya. Kiandra memperhatikan dari CCTV yang terpasang di setiap sudut restoran,
“gi mana Kia?” tanya Luna yang berdiri di pintu depan ruangan khusus VVIP.
“target masih berada di toilet, cepat Luna waktu kamu hanya sepuluh menit” ujar Kiandra yang terus mengawasi pergerakan di toilet dan ruangan lain, mata Kiandra menangkap sosok Simon yang masuk kembali ke dalam restoran.
“Lun, Rubah tua kembali masuk ke dalam restoran. Dia memilih lewat belakang dan menuju ke ruangan... sepertinya dia akan menuju ruangan kamu Luna” ujar Kiandra, dia memeriksa riwayat pesan dari ponsel target yang sudah di bajaknya. Target misi Luna mengirim pesan pada Simon di ruangan mana dia berada,
“berapa menit lagi Kia?” tanya Luna bergerak cepat masuk ke dalam ruangan target, dia melihat minuman milik Target yang masih tersisa banyak.
“dalam waktu lima menit dia akan sampai di ruangan itu” Kiandra memperhatikan Simon yang menaiki anak tangga darurat menuju lantai atas. Rupanya pergerakan Simon juga di awasi Alberto yang berada di ruangan CCTV, dia bergegas menuju tangga darurat bersama beberapa orang berpakaian rapi.
Saat melihat CCTV Alberto menyadari jika ada yang salah dengan CCTV restoran,
Luna berada dalam ruangan VVIP, dia mengangkat sedikit roknya mengambil sesuatu yang tersimpan pada sabuk yang terpasang di pahanya. Dia meraih sebuah botol kecil yang berisi cairan bening lalu menuangkan ke dalam minuman di atas meja, Dia bersikap waspada dengan mempertajam pendengarannya.
Praaangg...
Terdengar suara pecahan dari luar ruangan, mata Luna melihat ke arah pintu ruangan.
“Kia?” Luna hampir menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
“target di luar ruangan sekarang, kamu tidak bisa keluar sekarang” ujar Kiandra menatap layar monitor CCTV, dia melihat target yang tidak sengaja bertabrakan dengan seorang waiter.
Waiter yang tengah membawa nampan berisi pesanan dari pengunjung VVIP di ruangan lain, target yang fokus dengan ponselnya tidak sengaja menyenggol tangan waiter mengakibatkan nampan berserta pesanan pengunjung lain jatuh ke lantai membuat kegaduhan di luar ruangan.
Luna menatap ke sekeliling ruangan berusaha mencari tempat untuk bisa bersembunyi, matanya tertuju pada jendela yang tertutup. Dia lalu membuka jendela dan memperhatikan ke sekeliling jendela, mata Kiandra terbuka lebar saat target berada tepat di depan pintu ruangan VVIP.
“Lun... target berada tepat di depan pintu, kamu harus bergerak cepat” Kiandra memperingati Luna yang tengah melihat ke arah atas jendela, tanpa membuang waktu Luna berdiri di tepian jendela. Dia lalu berusaha untuk meraih tepian jendela bagian atas, jarak yang terlalu jauh memaksa Luna memutar otaknya.
Waktu yang tersisa tidak banyak, dia melihat ke arah pintu dan terus bersikap waspada. Luna melihat ke bagian bawah jendela, ada bagian pada jendela di sana yang bisa di jadikan pijakannya. Kedua tangan Luna berpegangan pada tepian jendela, dengan hati-hati dia berusaha menutup satu persatu jendela yang terbuka. Hal itu di lakukannya agar target tidak curiga, dengan langkah berani Luna melepaskan pegangannya dan mendarat tepat pada bagian yang bisa di jadikannya pijakan. Jendela itu tertutup seiring dengan pintu ruangan VVIP yang terbuka, target menatap ke dalam ruangan dan memperhatikan setiap sudutnya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Mohon maaf karena dalam beberapa hari ini author jarang update. Di karenakan sistem imun author yang semakin menurun membuat author harus istirahat total, mohon maaf pada para reader yang harus menunggu lama update dari karya-karya Author. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...