Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 103


__ADS_3

“teruskan” ujar Leon menatap sejenak nomor asing yang menghubunginya. Leon mengabaikan panggilan itu dan memilih fokus pada penjelasan Alex, semua yang hadir tampak bertanya-tanya gerangan siapa yang menghubungi Leon.


Kiandra menatap layar ponsel merasa heran karena panggilan darinya tidak tersambung, dia menepuk keningnya sendiri setelah menyadari sesuatu.


Terang aja ni tuan muda kagak angkat, Kia.... kia.... Kelamaan main ama ‘pacar’ jadi lupa kalo tuan Muda nggak kenal ama nomormu gumam Kiandra dalam hati mengomeli diri sendiri, dia sejenak menatap ke arah Luna yang menatapnya heran.


Luna memegangi sebuah baju di depan tubuhnya dan memperlihatkan ke arah Kiandra bermaksud meminta pendapatnya, dia heran saat melihat sahabatnya yang bertingkah aneh. Dengan gerakan kepala dia mengode ke arah Kiandra yang menjawab dengan cengengesan dan kembali fokus ke ponsel yang di pegangnya. Luna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabatnya, Lia memperlihatkan beberapa gaun yang dia bayangkan sangat sempurna di tubuh Luna.


Kiandra lalu menulis sebuah pesan di ponsel lalu mengirimkannya ke nomor ponsel Leon, dia tampak antusias menunggu balasan dari Leon.


Di ruang rapat Leon dan kolega bisnis tengah fokus dengan penjelasan dari Alex, seketika penjelasan dari Alex kembali terhenti saat ponsel Leon kembali bergetar di atas meja. Semua mata langsung menatap ke arah ponsel Leon dan bertanya-tanya gerangan siapa yang mengganggu jalannya rapat mereka, Leon terlihat sangat tidak senang. Matanya menatap layar ponsel dengan kening berkerut saat sebuah pesan masuk dari nomor yang sebelumnya menghubungi, dia lalu membuka ponsel dan membaca pesan itu.


Tuan muda Leon Maaf saya mengganggu anda, saya Kiandra sahabat Luna. saat ini kami berada di butik, menurut anda gaun mana yang cocok untuk Luna?


Isi pesan dari Kiandra dengan beberapa foto Luna yang tengah sedang mencoba beberapa gaun, Leon terpana saat melihat foto Luna dengan berbagai macam gaun yang di kenakan. Sebuah senyuman tersungging di bibir Leon membuat semua yang hadir di ruang rapat terlihat kebingungan,


“Dam, taruhan. gua yakin yang gangguin si demon king pasti calon nyonya keluarga Willson” bisik Hugo yakin seratus persen.


“haa, tau dari mana lu?” bisik Adam menatap ke arah Leon yang masih fokus dengan ponselnya.


“liat aja sikap sahabat lu ntu, senyum-senyum kagak jelas. Lu kan tau sendiri si demon king orangnya gi mana, dia paling kagak senang saat rapat di ganggu oleh apa pun dan siapa pun” bisik Hugo yang terus memperhatikan sikap Leon yang masih menatap ponsel. Ibu jari Leon tampak mengusap-usap layar datar ponsel miliknya,


“kenapa tidak di teruskan? Apa kalian lebih senang melakukan perjalanan bisnis ...” belum selesai Leon berbicara Alex kembali meneruskan penjelasannya, mata elang Leon sejenak memperhatikan seluruh ruang rapat mendapati Hugo tersenyum cengengesan dengan menaik turunkan kedua alis mereka. Adam seakan merasakan bahaya mengancam segera fokus dengan rapat itu, Leon kembali menatap ponsel tampak mengetik sesuatu di sana.


Kiandra ikut melihat-lihat beberapa gaun di rak yang tersedia, dia merasakan ponselnya bergetar segera membuka dan membaca pesan dari Leon. Senyuman tersungging di bibir Kiandra saat Leon mengirim foto gaun yang menurut Leon sangat cocok untuk Luna, kening Kiandra tampak berkerut saat Leon mengirimkan nomor rekening yang diketahuinya itu adalah nomor rekening bank miliknya.


Kiandra kembali mengirim pesan pada Leon,

__ADS_1


Dari mana anda bisa tahu nomor rekening bank saya?


Kiandra tampak menunggu balasan pesan dari Leon, sesekali dia Melempar senyum pada Luna yang merasa tingkah sahabatnya sangat aneh. Sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponsel Kiandra,


Mudah saja....


Tangan Kiandra menepuk keningnya sendiri karena baru teringat jika Leon bisa mendapatkan data dirinya dari kampus UIN,


Kia....Kia... Tentu aja ni tuan muda tau dengan nomor rekening kamu, secara dia dewan komite kampus... rutuk Kiandra dalam hati sambil menepuk lembut kepalanya. Setelah mendapat pesan singkat dari Leon, sebuah notifikasi bank masuk ke ponsel Kiandra.


Bibir ranum Kiandra tersungging Senyuman manis semanis uang yang baru saja masuk ke dalam rekeningnya, hal itu membuat Luna dan Lia saling berpandangan saat melihat tingkah Kiandra yang semakin aneh.


“efek kelamaan jomblo” ujar Luna dan Lia serentak melihat tingkah Kiandra yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kiandra mendengar ucapan Luna dan Lia mengalihkan pandangan ke arah mereka,


“hehehe...” Kiandra hanya cengengesan ke arah Luna.


“bukan hehehe... gi mana menurut kamu gaun yang ini?” tanya Luna yang sudah terlihat bad mood. Dia benar-benar bingung dengan beberapa gaun pilihan Lia yang semuanya terlihat sangat bagus dan indah, Kiandra berpura-pura melihat beberapa gaun lalu menjatuhkan pilihannya pada gaun yang sesuai dengan pesan dari Leon.


Sementara itu di ruang rapat, wajah Hugo tampak murung saat di mendapat pesan cinta dari Leon uppss bukan pesan cinta tapi sebuah ultimatum yang membumi hanguskan kesenangan yang baru di rasakannya.


Sepertinya kamu sangat cocok untuk perjalanan bisnis ini....


Isi pesan itu seperti sebuah bom molotof yang membuat senyuman Hugo hilang seketika, dia segera mengetik sesuatu di ponsel dan mengirimkannya langsung ke Leon. Hugo menatap Leon yang hanya menanggapi dengan sikap Dingin, wajahnya terlihat datar sangat berbeda saat membaca pesan yang di yakini Hugo dari Luna. Dia menghela nafas lega saat kembali mendapat pesan singkat dari Leon,


Dasar demon king, kagak bisa di bawa canda dikit aja. Mana ni rapat boring banget dah, masih lama kagak nih... gumam mengomel Hugo dalam hati.


Rapat itu pun terus berlanjut hingga selesai, sesekali Leon melirik ke arah ponselnya memastikan jika ada pesan atau panggilan telepon dari Luna.

__ADS_1


***


Sore menjelang malam Hana tampak tengah bersiap-siap, dia mengenakan gaun pilihan Cintia yang tergeletak rapi di atas ranjangnya. Wajah Hana terlihat sangat cemberut dan kesal, dia di paksa Simon untuk menemaninya makan malam dengan beberapa klien Simon.


Cintia tengah membantu Simon menggunakan jas dan merapikan dasi yang di kenakannya,


“apakah Hana sudah selesai?” tanya Simon yang sedang mengancingkan lengan kemejanya.


“mungkin sudah pi” ujar Cintia sambil mengibaskan tangannya ke pundak jas Simon untuk membersihkan sesuatu di sana. Pria itu menatap Cintia sejenak,


“kamu yakin tidak ikut bersama kami?”


“nggak pi, mami ingin di rumah saja hari ini. Badan mami terasa sangat tidak nyaman dan lemah”


“kamu sakit? Wajah kamu terlihat pucat” Simon menatap wajah Cintia yang langsung membalikkan tubuhnya untuk bercermin dan menatap ke arah kaca. Wajah pucatnya terpantul sangat jelas di cermin, Simon menatap heran ke arah cermin yang memantulkan wajah Cintia.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2