Assassin Cantik dan CEO Arrogant

Assassin Cantik dan CEO Arrogant
Ep. 51


__ADS_3

Jason membantu Luna membuka pintu kandang, sebelum keluar tidak lupa Luna menciumi pucuk kepala jaguar kesayangannya dan mempersiapkan daging kesukaan Ratu.


Setelah semuanya beres Luna segera membersihkan tubuhnya dan bersiap kuliah, dia memakai pakaian yang terkesan kuno. Tidak lupa dia mengaplikasikan make up untuk penyamarannya, sebelum keluar kamar dia memeriksa setiap barang yang ada.


Loh... KTM gue mana ya? Gumam Luna mulai mencari-cari dari dalam tas, hardcase gitarnya, tempat hingga setiap sudut kamarnya. Sudah cukup lama Kiandra menunggu Luna di mobil miliknya, dia terus menerus melihat jam di dashboard mobilnya, tapi batang hidung Luna sama sekli belum tampak.


Nih anak ngapain ya? Lama bener keluarnya, apa dia bersemedi dulu minta nomor togel? Kiandra mulai menggerutu dalam hati sambil melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Dia menaiki anak tangga membuka pintu kamar Luna yang sudah berubah menjadi hutan belantara.


“OMG.. Luna kamu ngapain? Ini kamar kamu kenapa bisa begini? Apa angin tornado barusan lewat di sini?” tanya Kiandra terkejut mendapati kamar Luna yang sudah berganti rupa.


“aku lagi nyari KTM punyaku, kamu liat nggak?” tanya Luna masih mencari di kamar itu, lalu melihat ke arah Kiandra yang menjawab dengan gelengan kepala.


“emang kamu taruh di mana?” tanya Kiandra kembali, tangannya meraih ponsel pintar dari dalam tas. Jari jemarinya bergerak lincah di atas layar datar itu.


"seingatku..." Luna terdiam sejenak mengingat di mana dia meletakkan kartu miliknya.


Setiap Kartu milik mahasiswa UIN memiliki perangkat lunak tersendiri, fungsi dari kartu itu begitu penting. Tidak hanya sebagai tanda pengenal mahasiswa, kartu itu memudahkan setiap siswa meminjam buku di perpustakaan Negara dan memiliki fungsi lainnya. Kartu itu juga memiliki chip yang berguna apabila kartu itu hilang atau di curi, selain itu dapat juga mengetahui keberadaan mahasiswa di mana pun berada.


Luna terus berusaha mengingat di mana dia terakhir kali melihat kartu itu, sekilas dia teringat saat bertemu dengan teman satu kampusnya sesaat sebelum dia melakukan misi. Temannya itu mengembalikan kartu milik Luna yang di temukannya, setelah itu Luna kemudian teringat kejadian yang amat sangat ingin di lupakannya.


Mata cantik Berwarna biru itu membesar saat teringat sesuatu, sebelum dia keluar dari kamar lacknut itu dia menyimpan Kartu dalam saku jacket miliknya.


Apa mungkin terjatuh saat itu? Luna berusaha untuk terus mengingatnya.

__ADS_1


“Lun... Aku udah lacak kartu kamu dan dia berada di satu Titik, sebentar akan ak cek lebih dalam lagi...” Kiandra mengambil tabletnya lalu sebelah tangannya bermain cantik di atas layar datar itu.


Di apartemen mewah Leon yang baru saja menyelesaikan ritualnya, kini dia tengah memakai kemeja berwarna biru tua. Dia mengenakan celana dasar berwarna hitam polos dan ikat pinggang yang terlihat biasa namun harganya membuat para Kaum rakyat jelata menjerit. Tangan kanannya mengambil dasi berwarna senada dengan baju kemeja memiliki pola motif berwarna merah tua menghiasi seluruh Dasi.


Leon tengah bersiap berdiri di depan cermin besar dalam walk in closet pribadinya, dia terlihat begitu sempurna. Jas yang terlampir di atas kotak lemari kecil dengan kaca di bagian atasnya, seperti estalase tempat yang mana lemari itu berfungsi menyimpan beberapa jam mahal, dasi hingga pernak pernik lainnya. Rambut miliknya di tata sedemikian rupa oleh tangan kekar miliknya, tidak lupa dia mengenakan wewangian khas dengan keharuman yang menciri khaskan dirinya.


Setelah semuanya terlihat perfect, Leon keluar dari walk in closet. Sepatu mahalnya bergema terdengar hingga ruang tamu di mana Alex tengah menemani Adam dan Hugo yang mampir ke apartemen Leon.


Mata elang itu melihat ke arah ke dua sahabatnya tengah meminum minuman hangat yang di hidangkan oleh maid yang baru saja datang.


“kalian sudah datang?” ujar Leon sebelah tangannya memasang buah baju di lengan kemejanya.


“sesuai dengan yang udah lu instruksikan, gua udah mengubah dokumennya” ujar Adam memberikan dokumen yang sangat dibutuhkan Leon. Sebelum Alex datang Leon menghubungi Adam untuk membawakan dokumen yang sangat dia butuhkan untuk rapat nanti.


Leon memeriksa file itu dengan seksama, sebelah tangannya membolak-balikkan lembaran dokumen itu.


“Sebelum ke perusahaan, gi mana kalo kita sarapan di luar. Kebetulan cecunguk satu ini sedang merintis dunia kuliner dengan berinvestasi pada sebuah restoran” ujar Adam memberi tahu pada Leon dan Alex yang tengah bersiap akan berangkat ke kantor.


“wah benar ini, pagi-pagi ntu lebih bagus memberi rejeki pada kaum fakir miskin kayak gua” Hugo bangkit dari sofa single yang di dudukinya.


“dasar modus lu, bilang aja mau minta kami merekomendasikan bisnis restoran lu ke klien kami” sindir Adam menatap ke arah Hugo yang cengengesan.


Leon melangkah lebih dulu keluar dari apartemen mewahnya diiringi Alex yang membawa tas berisi laptop dan beberapa dokumen di pegangnya, KTM milik Luna di simpan Leon di saku kemejanya dia berencana akan mengembalikan KTM itu saat setelah mengisi seminar di kampus. Hugo dan Adam melihat Leon sudah melangkah lebih bergegas mengikutinya, mereka melangkah menuju lift apartemen mewah itu. Alex segera menekan tombol lift sesaat mereka semua sudah berdiri di depan lift, tidak lupa dia meraih ponselnya mengirim pesan memberi tahu pada para body guard untuk bersiap-siap.

__ADS_1


“tungguin napa sih mon? Seneng bener ninggalin kita-kita” gerutu Hugo yang keceplosan memanggil Leon dengan nama singkatan dari Demon. Adam dan Hugo yang berdiri tepat di belakang Leon, segera membalikkan tubuhnya menatap ke arah mereka.


“Mon?!” Leon menatap ke arah Hugo yang tersadar dengan kesalahannya, Alex dan Adam hanya menggelengkan kepala mereka memandang dengan pandangan prihatin melihat ke arah Hugo yang sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Leon menunggu jawaban dari Hugo yang terlihat sedang berpikir keras untuk memberi alasannya, namun rupanya dewi fortuna mendukung Hugo. Pintu lift terbuka mereka berempat masuk ke dalam lift itu, Hugo melihat ke arah Adam memberi kode padanya untuk mengalihkan pembicaraan. Alex menekan tombol lift untuk menuju lobi apartemen, setelah itu dia berdiri di samping Leon.


“gua bantuin lu, tapi tentu ada harganya” Bisik Adam ogah rugi pada Hugo yang berdiri di sampingnya. Mata Hugo sedikit memicing ke arah Adam yang tersenyum licik ke arahnya,


“dasar kagak berpripertemanan lu, bukannya bantuin dengan ikhlas malah mengambil keuntungan dari gua” bisik Hugo kesal. Leon menatap ke arah Hugo masih menunggu jawaban.


“ kenapa tidak di jawab? Aku sudah menunggu jawaban sedari tadi, tapi kalian berdua malah bermesraan di belakang ku” ujar Leon membuat Adam dan Hugo bergidik ngeri.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Mohon maaf pada para reader karena author hanya up satu episode dulu. Insyaallah secepatnya Author akan up episode lainnya. Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2