
“Sudah begitu lama kami tidak bertemu, ternyata dia masih mengingatku. Aku sangat senang saat beliau memberi tahu tentang kamu cucunya ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kami. aku harap Luna cucuku tidak membuatmu kesulitan” ujar Baron sambil menatap ke arah Luna yang menghampiri mereka bersama dengan Ratu dan Kiandra.
“tidak sama sekali Baron sama, Luna... (menatap dengan tatapan berbeda) maksudku nona Luna sangat berbakat dan pintar, ide-ide yang di kemukakan olehnya brilian juga menarik” ujar Matthew, matanya tampak bersinar seperti kerlingan bintang yang bersinar indah. Tercetak jelas dan nyata urat kecemburuan menghiasi kening Leon yang menghitam, tatapannya semakin dingin ke arah Matthew yang tersenyum manis pada Luna.
Kiandra tersenyum dalam hati saat merasakan panasnya api kecemburuan yang membakar Leon, pria tampan itu bahkan sengaja berdiri tidak begitu jauh dengan Luna.
Waduuh... Panasnya udah mencapai level maksimum nich, sangat bagus dan baik buat bikin ayam panggang gumam Kiandra dalam hati, bibirnya tersungging senyuman jahil. Luna melihat ke arah Kiandra dengan tatapan heran,
“kamu kenapa Kia? Senyum-senyum nggak jelas gitu?” bisik Luna berdiri di samping Kiandra.
“hehehe... aku baru kepikiran mau bikin ayam panggang, apa lagi apinya udah tersedia dengan panas yang sempurna” bisik Kiandra membuat kening Luna berkerut. Mata Kiandra mengode ke arah Luna yang menyuruhnya menatap ke arah Leon, mata biru cantik Luna menatap ke arah Leon yang menatap tajam pada Matthew.
hmmm ternyata priaku sedang di bakar api cemburu... pantas aja ni anak kliatan seneng kagak jelas, tapi... priaku yang cemburuan ini terlihat imut seperti Ratu saat sedang ngambekkan gumam Luna dalam hati, wajah cantiknya semakin bersinar saat dia tersenyum manis.
Matthew melihat senyuman itu seketika terpesona dan tidak dapat mengalihkan pandangannya sama sekali,
Alangkah bahagianya jika senyuman itu tertuju pada ku, Luna... kamu gadis pertama yang membuatku jatuh dan patah hati di saat bersamaan gumam Matthew dalam hati menyadari jika senyuman dan tatapan Luna hanya tertuju pada Leon yang diketahui olehnya adalah tunangan gadis cantik itu.
Luna masih tersenyum manis menatap pria miliknya tengah di bakar api kecemburuan, bukan hanya Luna saja Soo He dan lainnya juga bisa merasakan dan mencium bau asam kecemburuan yang menyengat.
Kaila yang semula merasa takut dengan keberadaan para hewan buas, kini semakin ketakutan saat melihat tatapan intimidasi dan hawa kegelapan yang mengelilingi Leon. Dia bisa melihat demon king yang menyeringai kejam di atas kepala Leon, Kaila menatap kasihan ke arah pria yang sedang di tatap tajam oleh kakaknya.
Demon king udah nampakin wujudnya, tamat dah ntu riwayat cowok gumam Kaila dalam hati merasa kasihan pada Matthew. Pandangannya pun berubah penuh keheranan saat menatap Matthew yang bersikap santai dan mengabaikan Leon,
Ni cowok kayaknya udah bosan hidup apa? Kagak ada takutnya, aku aja udah terkena radiasinya eeeh... dia malah nyantai gitu gumam heran Kaila melihat Matthew yang sama sekali tidak terpengaruh.
__ADS_1
Soo He tersenyum canggung pada Raymond dan Anita yang di abaikan oleh Baron, kakek Luna terlalu asyik berbicara dengan Matthew dan melupakan keberadaan keluarga Willson.
“uchi no danna san,” panggil Soo He lembut membuat Baron mengalihkan pandangan ke arahnya. Dia lalu mengode dengan lirikan mata ke arah keluarga Willson yang menatap ke arah Baron dan Matthew,
“Ooohh... maafkan saya tuan Raymond karena terlalu asyik berbicara hingga melupakan anda dan keluarga” ujar Baron meminta maaf pada keluarga Willson.
“Tidak apa-apa tuan Baron, kami memakluminya” ujar Raymond. Baron lalu memperkenalkan Matthew kepada keluarga Willson, saat Baron memperkenalkan Matthew pada Leon tatapan dingin sedingin kutub selatan terasa sangat jelas.
Matthew dengan gentle mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, tatapan tajam di layangkan Leon ke arah pria di hadapannya. Pria tampan itu juga membalas dengan tatapan intimidasi, Kiandra dan Luna seakan dapat melihat pertarungan antara dua Iblis di atas kepala Leon dan Matthew.
Leon menjabat tangan Matthew sambil tersenyum pengusaha, kilatan mata mereka saling bertabrakan layaknya kilatan petir yang saling bertabrakan. Urat-urat dari tangan kekar terlihat menyembul keluar dari kedua tangan para pria tampan itu, suasana terasa begitu dingin mencekam.
“sudahi aja tu acara tatapan mesranya, kalo diteruskan ntar yang duduk di pelaminan bukannya Luna tapi...” ujar Kiandra seketika mencairkan suasana yang membeku.
Kedua pria tampan itu bergidik ngeri membayangkan apa yang di guraukan oleh Kiandra,
“hahahaha aku tidak bisa membayangkan saat kak Leon duduk bersanding dengan tuan Matthew” Kaila tertawa terbahak-bahak, rasa takut yang di rasakannya menghilang seketika saat membayangkan Leon juga Matthew.
“tinggal menentukan saja, siapa yang bakalan memakai gaun pernikahannya” ujar Luna tersenyum jahil.
Leon dan Matthew segera mengambil jarak terjauh sambil saling membuang muka, Leon memilih menghampiri Luna dengan sebelah tangannya merangkul pinggang gadis cantik itu dan menarik untuk berdiri lebih dekat dengannya.
“kamu tidak di izinkan untuk membayangkan apa pun” ujar Leon kesal, senyuman manis tersungging di bibir Luna yang senang menggoda prianya. Melihat kedekatan Luna dan Leon membuat Matthew sedikit cemburu, dia lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah Baron.
“baiklah Baron sama, aku permisi dulu. Besok aku akan kembali kemari bersama grandpa” ujar Matthew undur diri.
__ADS_1
“kenapa mesti begitu? Lebih baik kamu menginap saja di sini, soal granpa mu aku akan menyuruh Alberto untuk menjemputnya esok” ujar Baron mengundang Matthew untuk menginap di kediaman utama. Soo He langsung menatap ke arah Baron dengan mata membulat sempurna,
pria tua ini, bukannya memadamkan api malah makin membuatnya semakin besar gumam kesal Soo He dalam hati. Luna menatap Baron yang juga membalas menatap ke arahnya, gadis cantik itu dengan cepat mengerti tujuan dan maksud dari Baron mengundang Matthew.
“baiklah jika anda dan keluarga tidak keberatan” ujar Matthew menerima dengan senang hati tawaran dari Baron. Soo He hanya bisa menghela nafas dan lagi-lagi tersenyum canggung pada keluarga Willson,
“kami tidak akan keberatan, semakin banyak orang akan semakin bagus. Benarkan sayang?!” ujar Leon pada Luna yang hanya menatap ke arahnya. Baron lalu memanggil Alberto untuk meminta mempersiapkan kamar untuk Matthew, mereka semua lalu di undang masuk oleh Baron ke kediaman utama kecuali Ian asisten pribadi Matthew.
Ian harus kembali ke perusahaan untuk mempersiapkan file kontrak kerja sama, dia juga mengambil pakaian serap milik Matthew yang tersimpan di bagasi mobil. Pakaian itu tersimpan rapi dalam tas khusus dan di berikan pada Alberto untuk di simpan di kamar tamu, setelah berpamitan Ian masuk ke dalam mobil mewah itu dan melajukan mobil itu keluar dari kediaman utama.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1