
Luna membalas menatap ke arah mata Leon, bayangan wajah ayahnya yang tersenyum membangkitkan rasa amarah dan dendam di jiwa. Sekali lagi Luna hendak menembak Raymond dengan cepat menekan pelatuk senjata miliknya,
“LUUUNAAAAA” Leon dengan sigap melepaskan tembakan lebih dulu hingga mengenai bagian dada atas sebelah kanan Luna yang terbuka, semula dia bermaksud menembak tangan Luna agar senjata yang di pegang terjatuh.
Tangan kiri Luna memegangi dada bagian atas yang mulai mengeluarkan darah, dia menatap tajam ke arah Leon yang masih mengarahkan senjatanya pada Luna.
“Luna... buang senjata mu“ ujar Leon yang semula menatap tajam dan menusuk, perlahan tatapan itu berubah melembut saat melihat mata Luna yang terlihat begitu terluka. Tangan kekar Leon yang memegangi senjata terlihat bergetar pelan, mata tajamnya terlihat berkaca - kaca menatap ke arah wajah Luna yang menahan rasa sakit di bahu kanan.
Luna menatap penuh amarah ke arah Raymond yang sudah tidak sadarkan diri, kilasan bayangan kebersamaan Luna dengan orang tua terproyeksi di benak perempuan cantik itu. Rasa amarah yang memuncak membuat Luna kembali melepaskan tembakan dari senjata yang di pegangnya,
Dor.... dor....
Luna menekan pelatuk senjatanya yang kembali memuntahkan timah panas, peluru itu melesat menembus mengenai lengan salah seorang body guard Willson yang sigap melindungi Raymond. Tembakan itu beriringan dengan Leon yang kembali melepaskan tembakan dan kini mengenai bagian perut sebelah kiri Luna, suara tembakan yang menggelegar membuat Kiandra mempercepat langkahnya menuju kamar keluarga Willson.
Suara tembakan itu juga di dengar oleh Hugo dan Adam yang melangkah cepat di belakang Kiandra, mereka bertiga terkejut saat melihat kondisi kamar. Kiandra mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dan menatap ke satu arah di mana Luna berada, matanya terbuka lebar saat melihat kondisi sahabatnya yang tersudut di balkon kamar. Terlihat jelas dua luka tembakan bersarang di tubuh Luna dengan darah yang mulai membasahi gaun pengantin di kenakannya,
“Luna...” Kiandra termangu melihat kondisi Luna yang mundur beberapa langkah ke arah balkon kamar.
Luna memegangi luka di perut bagian bawah kiri, pandangannya mulai mengabur akibat darah yang mengalir sangat banyak. Matanya menatap sayu ke arah Leon yang balas menatapnya sedih, senjata yang di pegang Leon terjatuh begitu saja ke lantai kamar. Dia segera menghampiri Luna yang memegang tepian balkon, akibat luka tembak yang di deritanya Luna kehilangan keseimbangan.
Semuanya terjadi begitu cepat, Luna terjatuh bebas dari balkon beranda kamar yang berada tepat di samping tebing air terjun.
“Lunaaaaaaa.... “ Kiandra yang menyaksikan kejadian itu sontak berteriak keras, pandangannya seketika menggelap dan dia tidak sadarkan diri segera di sambut oleh Adam yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Leon terlihat shock menatap ke arah di mana Luna terjatuh, namun karena aliran air terjun tertutup kabut tipis dan balkon kamar berada di atas tebing yang tinggi membuat Leon tidak bisa melihat di mana pastinya Luna berada.
Mata tajamnya menatap aliran air terjun berusaha mencari keberadaan Luna,
“daddy... bangun dad...” ujar Anita panik melihat kondisi Raymond yang sekarat, Leon mengalihkan pandangan menatap ke arah keluarganya.
Leon segera menghampiri Anita yang panik, kedua tangannya berlumuran darah karena menutup luka di bahu Raymond.
“Kia... Kia.... Kia bangun sayang...” Ujar Adam khawatir dengan kondisi Kiandra yang tidak sadarkan diri.
Kondisi di kamar saat itu sangat kacau, Hugo menatap ke arah Raymond yang pingsan sedari tadi. Kaila dan Anita tampak menangis tersedu – sedu sambil memanggil Raymond,
“Leon... kita harus bawa bokap lu sekarang ke rumah sakit” ujar Hugo yang langsung di angguki oleh Leon, mereka dengan di bantu body guard segera mengangkat tubuh Raymond dan membawa ke luar dari kamar itu.
Di dalam Lift itu Baron dan Soo He menatap bingung saat melihat Leon juga lainnya menggendong Raymond yang tidak sadarkan diri.
“Leon,” ujar Soo He menatap ke arah Leon juga Anita.
“apa yang terjadi dengan tuan Willson? Apakah...” ucapan Baron terhenti saat Anita yang sangat marah berdiri di depan mereka,
“ini semua ulah dari cucu kalian (hendak menyerang ke arah Baron, namun segera di tahan oleh Kaila yang merangkul ke dua pundak Anita) jika sampai terjadi sesuatu pada suami ku. Maka aku akan membuat perhitungan dengan kalian beserta cucu kalian” ujar Anita emosi.
“ mom... Please... Mom... Tenang... “ ujar Kaila menenangkan Anita.
__ADS_1
“tenang nyonya Anita... tenanglah dulu (menatap ke arah Raymond yang sekarat) kita bicarakan nanti saja, sebaiknya sekarang kita membawa tuan Willson ke rumah sakit” ujar Baron menenangkan Anita, teringat dengan kondisi Raymond mau tidak mau mereka semua masuk ke dalam lift.
Soo He dan Baron saling menatap bingung, mereka sangat mengenal bagaimana sifat Luna yang tidak akan menyerang begitu saja tanpa sebab.
“sebaiknya kita ikut mereka ke rumah sakit, setelah keadaannya tenang baru kita bertanya gerangan apa yang sudah terjadi” bisik Baron pada Soo he yang membalasnya dengan menganggukkan kepala.
“aku akan menghubungi Luna.. “ bisik Soo He pada Baron yang langsung membalas dengan menganggukkan kepalanya, tangan Soo He merogoh tas yang di pegangnya untuk mencari ponsel.
Adam tidak mau ketinggalan segera mengangkat tubuh Kiandra, dia bergegas menuju lift di mana pintu lift itu segera menutup. Soo He dan Baron terkejut saat melihat kondisi Kiandra yang tidak sadarkan diri, mereka berdua lantas keluar dari lift yang sudah di penuhi oleh Leon dan lainnya.
“Kia... “ ujar Soo He terkejut segera menghampiri Adam yang menggendong Kiandra, body guard lain segera menahan pintu lift agar tidak menutup.
“kalian duluan, gua akan nyusul” ujar Adam saat melihat kondisi Raymond, Hugo menganggukkan kepalanya dan segera menyuruh body guard itu menekan tombol lift menuju ke lobi hotel.
Soo He terlihat sangat khawatir melihat kondisi Kiandra,
“kenapa dengan Kiandra?” tanya Soo He memegangi tangan Kiandra, wajah perempuan cantik berkaca mata itu terlihat sangat pucat.
Adam tidak segera menjawab pertanyaan Soo He, sambil terus membopong Kiandra tangannya terulur menekan tombol lift.
“tenangkan dirimu, istriku. Lebih baik sekarang kamu hubungi Luna” ujar Baron membuat Adam menatap ke arahnya seketika, raut wajahnya tergambar jelas kesedihan dan kekhawatiran.
Adam bisa saja memberi tahu keadaan Luna pada Baron dan Soo He, tapi di urungkan olehnya saat melihat kondisi Kiandra yang sama sekali belum siuman.
__ADS_1
“maaf Nyonya... Tuan.... tapi sebaiknya Kiandra kita bawa ke rumah sakit sekarang, perihal Luna... dalam perjalanan nanti aku akan menjelaskan apa yang ku ketahui” ujar Adam sedih, Soo He yang akan bertanya lagi namun terhenti saat pintu lift perlahan terbuka.