
Dihalaman Pondok Hidayah siang ini. Dibawah pohon mangga besar yang mungkin usianya sudah puluhan tahun, dengan daun yang cukup lebat juga terlihat banyak buahnya meski belum ada satu pun yang terlihat masak.
Cuaca hari ini terasa cukup panas menyengat. Desir angin hanya sesekali terasa semilirnya. Burung burung kecil yang pagi tadi riang bernyanyi, kini tidak tampak satu ekor pun. Mungkin mereka memilih hinggap ditempat yang lebih teduh karena tak kuat dengan sengatan teriknya matahari siang ini.
Ajimukti duduk bersandar di batang pohon mangga yang besar itu. Ditangannya terselip sebatang rokok yang masih menyala yang setengahnya sudah menjadi abu beterbangan. Sementara Dullah tampak terkantuk kantuk bersandar disisi pohon belakang Ajimukti. Setengah wajahnya ia tutup dengan songkok hitam, hanya kedua matanya yang terlihat sedikit terbuka dengan kedipan yang nampak berat.
"Wuidih, enak betul ya, paman dan keponakan santai santai dibawah pohon."
Suara seseorang itu sedikit mengagetkan Ajimukti dan Dullah, membuat mereka menegakkan duduknya seketika.
Khalil dan Imam dengan wajah mengejeknya entah sejak kapan sudah berdiri dan menyedekapkan tangan mereka didada masing masing.
"Pantas saja ya, Mam. Mereka tidak bisa ngaji, lah kerjaannya cuma rebahan kayak gini." Cibir Khalil dengan wajah menyindirnya.
"Sudah kebiasaan lah, Lil. Sudah tidak perlu ditanya lagi. Model kayak mereka ya sudah pasti model yang hobby nya malas malasan macam gini?"
Ajimukti tersenyum, mematikan rokoknya lalu sedikit menggeliat, membuat wajah kedua orang dihadapannya semakin memperlihatkan ekspresi tidak sukanya.
"Silahkan lho mas kalau mau ikut duduk. Tempatnya teduh adem."
Khalil dan Imam sontak tertawa.
"Sorry sorry saja, Hey. Nggak semaqam kita duduk sama santri receh kayak kamu." Ucap Imam tanpa basa basi.
"Ngaca dong, woy!" Imbuh Khalil.
Ajimukti menundukkan kepalanya dan diam diam tersenyum. Dullah yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka dari tempat duduknya terlihat mulai menahan emosi, lalu menggelengkan kepalanya.
"Maqam ya?" Tanya Ajimukti kemudian dengan masih menundukkan kepalanya. Lalu bangun dari duduknya.
Melihat Ajimukti berdiri, Khalil dan Imam mencibir, saling pandang dan bergantian menaikkan alis mata mereka. Seakan mereka sudah puas bisa mengolok olok Ajimukti.
"Berbicara tentang Maqam. Bukankah itu semacam tingkatan dalam ilmu tasawuf para Sufi ya, Mas?" Tanya Ajimukti tanpa memandang Khalil dan Imam didepannya. Ia justru mengibas ibaskan belakang sarungnya membersihkan debu yang menempel di sarungnya. Mendengar itu, sontak membuat Khalil dan Imam tertawa lepas.
"Heh, Kamu itu benar benar bikin kami bisa tertawa selepas ini." Ucap Khalil dan lagi lagi ia tertawa lepas, diikuti Imam yang juga tertawa.
"Tahu apa kamu soal tasawuf? Ngaji juga baru sehari udah sok sok'an ngomongin tasawuf?" Imam tak henti hentinya terbahak.
Ajimukti hanya tersenyum. Dullah yang mendengar itu hanya tersenyum senyum sendiri.
"Ngaji dulu yang bener, bocah." Celetuk Imam lagi sepertinya belum puas.
Ajimukti membuang sisa rokoknya. Lalu memasukkan kedua tangannya disaku samping baju koko nya.
Berdiri tenang seolah olokan Khalil dan Imam tidak pernah ia dengar.
__ADS_1
"Maqam dalam ilmu tasawuf para Ulama Sufi terdapat tiga pendapat, Mas. Menurut al-Qusyairi, ada tujuh maqam. Taubat, Wara’, Zuhud, Tawakkal, Shabar, dan terakhir Ridha.
Menurut Al-Thusi memiliki pendapatnya yang lain, yaitu Taubat,
Wara’, Zuhud, Faqr, Shabar, Tawakkal dan Ridha. Sedangkan menurut al-Ghazali
maqam memiliki urutan Taubat, Shabar, Syukur, Raja’, Khauf, Zuhud,
Mahabbah, Asyiq, Unas, Ridha. Nah, Mas Mas ini termasuk maqam yang mana dan dari pendapat yang mana?"
Deg!
Seketika Khalil dan Imam melongo mendengar Ajimukti menjabarkan tentang ilmu maqam sedemikian detailnya. Tapi bukan Khalil dan Imam kalau tidak bisa menyangkal.
"Luar biasa." Imam bertepuk tangan. Bukan bangga melainkan setengah mengejek.
"Ternyata kamu hobby baca ya? Baca dari buku mana kamu?" Lanjut Imam lagi.
"Oh. Kalau nggak pasti kamu suka browsing browsing di Google kan ya?" Imbuh Khalil.
Ucapan Khalil sontak membuat tawa Imam pecah. Tawa yang mengejek.
"Teruslah tertawa sampai kalian tidak bisa tertawa lagi." Batin Dullah yang sejak tadi hanya memilih diam menyaksikan mereka mengejek Ajimukti.
"Ayo, bocah. Apalagi ini yang kamu tahu?" Lanjut Khalil dengan ekspresi mengejek.
Lagi lagi kedua pemuda itu tertawa terbahak bahak begitu lepas.
"Menghafal ya? Emmmm, saya cuma sempat menghafal satu ayat di Al Qur'an. Surat Al Hujurat ayat 11 kalau tidak salah. Emmm, tapi kok mendadak lupa ya, Mas. Mas Khalil atau Mas Imam pasti hafal dong. Tolong dong mas bacain. Yang awal awalnya saja." Ucap Ajimukti masih dengan posisinya semula.
Khalil menelan ludah. Imam memberi kode pada Khalil dengan sikutnya. Ajimukti memperhatikan gerak gerik Imam itu.
"Mas pasti hafal kan?" Lanjut Ajimukti.
Dullah yang juga melihat ekspresi kedua pemuda itu, tersenyum kecut. Entah apa lagi yang dibatin nya.
"Emmm. Anu. Ya kalau mau tahu ya cari itu di Al Qur'an. Sekalian sama yang ada terjemahannya." Ucap Imam.
"Toh kalau kita kita yang bacakan. Mana paham kamu. Kamu saja iqro' baru lembar lembar awal." Sahut Khalil yang tak henti hentinya mengejek Ajimukti.
Ajimukti kali ini tak mau kalah. "Loh, kan ada pakarnya. Seorang santri senior sedang berada dihadapan saya. Masak saya harus repot repot nyari Al Qur'an dulu sih, Mas. Please lah tolong bacakan sekalian artinya!"
Kini tak hanya Khalil. Imam pun kini hanya menelan ludah mendengar ucapan Ajimukti itu.
"Apa mas mas senior ini jangan jangan nggak hafal ya?" Celetuk Ajimukti.
__ADS_1
Sontak Dullah terdengar cekikikan mendengar itu membuat ekspresi Khalil dan Imam penuh ketidaksukaan.
"Eh, jangan sembarangan bicara kamu, bocah."
"Iya. Jangan meremehkan kami sebagai senior kamu disini."
"Iya iya maaf maaf mas mas senior. Tolong bacakan ya. Sekaliiii ini saja." Rengek Ajimukti dengan nada memelas.
Khalil dan Imam saling pandang lalu saling memberi kode dengan gerakan mata mereka.
"Gimana, Mas?" Desak Ajimukti.
"Ya... Kita.. Emm.." Imam mulai gelagapan.
"Emmmmm?" Ajimukti mengikuti ucapan Imam itu.
"Kita, kita nggak biasa ngaji didepan junior. Nanti. Emmm, nanti kita dikira riya' lagi." Sahut Khalil mulai terbata bata.
"Loh, kok riya' sih, Mas. Kan itu justru bisa memotivasi santri junior untuk bisa seperti mas mas ini." Pepet Ajimukti membantah alasan Khalil.
"Ya pokoknya kita, kita nggak mau. Emmmm nggak mau saja koar koar meskipun kita tahu."
"Kenapa, Mas?" Ajimukti terus mendesak.
Ekspresi wajah Khalil dan Imam mulai tampak pucat antara malu dan gengsi. Ajimukti paham ekspresi mereka. Ia melangkah sedikit maju.
"Alkibru bathorul-haqqi wa ghamthun-nas." Suaranya begitu merdu layaknya seorang qari'.
Sejenak Khalil dan Imam melongo. Sama sama menelan ludah hingga jakun mereka jelas terlihat pergerakannya. Tiba-tiba dada mereka terasa sesak.
"Kenapa, Mas? Mohon dikoreksi." Suara Ajimukti menyadarkan mereka.
"Iya iya. Be..benar itu. Iya. Cuma, cuma kurang tartil saja." Sahut Khalil sambil menyikut lengan Imam.
"Benar kata, kata Khalil. Ku...kurang tartil saja. Tingal. Tinggal be...benerin mahrojnya saja." Imam tak kalah gemetarannya hingga suaranya pun sama terbatanya seperti Khalil.
Ajimukti tersenyum. Berjalan beberapa langkah kebelakang mereka berdua lalu tiba tiba merangkul pundak kedua pemuda yang kini berdiri mematung itu.
"Mas mas senior tahu tidak? Yang saya baca barusan itu apa?" Ucap Ajimukti kemudian.
"Itu tadi Hadits riwayat Muslim nomor 91. Bukan Qur'an Al Hujurat ayat 11." Lanjut Ajimukti setengah berbisik.
Glek! Khalil dan Imam kembali menelan ludah. Ajimukti merasakan getaran dari tubuh mereka.
“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
__ADS_1
Bersambung...