
Cakrawala di ujung langit barat sudah hampir memudarkan warna jingganya. Pelan pelan langit ke abu abuan mulai melahap Surya yang tinggal biasnya. Di teras ndalem, Kyai Aminudin tampak senang setelah mematikan telfonnya.
Manan yang tak sengaja melintas hanya bisa mengerutkan keningnya keheranan ketika menyaksikan betapa raut wajah Kyai Aminudin yang terlihat sangat bahagia.
"Manan, sini sebentar!" Seru Kyai Aminudin begitu melihat kelebat Manan.
Manan segera saja menghampiri Kyai Aminudin. Dan menyempatkan mencium tangan Kyai nya itu.
"Wonten dawuh, Kyai?" Tanya Manan kemudian pada Kyai nya itu.
"Tidak tidak tidak! Saya hanya ingin memberimu kabar baik. Kamu tahu apa?" Tanya Kyai Aminudin membuat Manan sekali lagi mengerutkan keningnya.
"Kabar baik apa itu, Kyai?" Manan memberanikan diri untuk bertanya.
"Ajimukti. Ajimukti berhasil memenangkan kompetisi itu. Luar biasa sekali. Tidak pernah saya duga sama sekali. Anak itu mampu mengalahkan santri santri dari pesantren lain." Ucap Kyai Aminudin terlihat bersemangat.
Senyum Manan pun seketika merekah dari bibirnya.
"Alhamdulillah Kyai." Ucap Manan sembari mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Kamu beritahu khodam ndalem, Nan. Besok kita adakan perayaan untuk kemenangan Nak Aji ini." Ucap Kyai Aminudin bersunggut sunggut.
"Sendiko dawuh, Kyai." Sahut Manan sedikit menundukkan badannya. "Yasudah kalau begitu saya permisi dulu, Kyai." Lanjut Manan seraya undur diri dari teras ndalem Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin hanya mengangguk ringan.
Manan dengan langkah cepat berjalan ke arah lorong kamar kamar santri, lalu berhenti di salah satu kamar santri di lantai bawah.
"Assalamu'alaikum, Lek Dul." Suara Manan sembari mengetuk pintu kamar itu tak beraturan.
Tak lama pun pintu dibuka. "Wa'alaikumsalam. Ada apa kamu, Nan? Gedor gedor pintu kayak orang kesetanan saja." Tegur Dullah begitu melihat Manan yang sudah meringis di depan pintu.
Manan tak segera menyahut, dia langsung saja menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur Ajimukti.
"Mau kopi?" Tanya Dullah kemudian.
"Boleh, Lek."
"Sebenarnya kamu itu kenapa, Nan?" Tanya Dullah sekali lagi sembari mengaduk gelas kopinya. "Nggak ada angin nggak ada hujan gedor gedor kamar orang."
Manan bangun dari rebahannya lalu menghela nafas. "Ini soal Ajimukti, Lek Dul."
Dullah melongo lalu segera menghampiri Manan. "Mas Aji? Kenapa dengan Mas Aji? Mas Aji baik baik saja kan, Nan? Apa mas Aji sudah ngabarin kamu? Terus...Hupp."
Spontan Manan menutup mulut Dullah. Lalu segera melepaskannya. "Maaf maaf, Lek Dul."
Dullah masih menatapnya tajam dan penuh rasa penasaran.
"Lek Dul, tenang dulu. Kalem. Tanyanya satu satu. Jangan main brondong gitu. Bingung saya nya." Keluh Manan.
"Terus ada apa dengan Mas Aji?" Dullah membungkukkan badannya ke arah Manan membuat Manan harus sedikit memundurkan wajahnya.
"Ajimukti menang, Lek Dul. Juara pertama!" Seru Manan kegirangan.
"Wah! Kamu serius, Nan?" Dullah pun seketika mengguncang bahu Manan.
"Iya lah, Lek."
"Apa Mas Aji sudah kabari kamu?"
"Kyai Aminudin yang bilang. Mungkin Gus Faruq kalau nggak ya Habiba yang ngabarin."
"Terus terus terus. Kyai Aminudin bilang nggak kapan mereka balik ke pondok?" Tanya Dullah sejurus kemudian.
__ADS_1
Manan menggeleng, "Nggak sih, Lek. Cuma ini saya di suruh bilang ke Kang Kang Khodam buat nyiapin acara perayaan besok."
Dullah mengerutkan kening, "Perayaan untuk kemenangan Mas Aji?"
Manan mengangguk cepat.
Dullah mengelus dagunya, "Segitu berartinya ya kompetisi ini Dimata Kyai Aminudin. Emmm, tapi baguslah."
"Pansos, Lek Dul. Kayak nggak tahu saja gimana Kyai Aminudin." Ketus Manan.
"Husssh, nggak boleh ghibahin Kyai, Nan. Su'ul adab itu namanya."
Manan justru tertawa terbahak.
"Ngomong ngomong mana kopinya, Lek?"
Dullah sesegera menepuk jidatnya sendiri.
"Sampai lupa saya, Nan. Kamu sih mbulet aja tadi."
"Tuh kan, malah nyalahin saya."
Dullah terbahak lalu kembali beranjak dan meraih gelas kopi yang sudah siap untuk disajikan.
Sementara itu, diam diam dari luar kamar ada salah satu santri yang mencuri dengar obrolan mereka ini. Terlihat berlari menuju tangga dan berhenti di tempat beberapa santri terlihat berkerumun.
"Kang Budi. Kang Budi." Ucap santri itu dengan nafas terengah-engah begitu tiba di antara para santri yang berkerumun itu.
Sejurus kemudian, tatapan para santri yang ada tertuju ke arah santri yang sedang berusaha mengatur nafasnya itu.
"Ada kamu? Kayak habis dikejar setan saja." Sahut Budi terlihat penasaran.
"Gini, Kang. Anu." Santri itu masih terlihat terengah-engah.
"Itu Kang. Ada kabar dari ndalem. Ajimukti, Kang." Ucap santri itu kembali.
Seketika mereka memusatkan pandangan ke arah si santri itu.
"Ajimukti? Ada apa?" Tanya Khalil.
"Apa dia kalah?" Timpal Imam sedikit sinis.
"Pasti dia kalah. Mana mungkin menang lawan santri pesantren lain cuma modal keberuntungan." Imbuh Khalil lagi.
"Bu...bukan itu, Kang. Sebaliknya." Sahut si santri itu kemudian masih dengan nafas tak beraturan.
Sontak trio senior dan para santri saling beradu pandang.
"Maksud kamu?" Budi sedikit geram.
"Dia menang, Kang. Ajimukti juara pertama."
Seketika mereka terbelalak kaget.
Budi pun sontak mengepalkan tangannya.
"Mana mungkin anak itu menang?" Gumam Budi yang rahangnya mulai mengeras.
"Iya. Kamu dapat info dari mana?" Sahut Khalil.
"Jangan ngawur kamu!" Timpal Imam tak kalah geram.
"I..ini.. ini serius, Kang. Saya... saya dengar langsung dari Manan. Dia dikabari langsung sama Pak Kyai." Ucap santri itu gemetaran melihat ekspresi marah Budi.
__ADS_1
Budi menonjok tembok di sebelahnya. Membuat para santri yang lain merinding.
"Hahh! Kenapa bocah itu malah menang?" Gerutu Budi benar benar terlihat emosi.
Duk!
Sekali lagi ia meninju dinding tembok.
Para santri pun mematung melihat ekpresi kemarahan Budi.
"Tenang, Bud. Sebaiknya kita tanya langsung sama Pak Kyai." Usul Khalil sekaligus mencoba menenangkan Budi.
"Tidak perlu!" Budi menyibakkan tangannya.
"Apalagi yang kamu dengar, Hah?" Budi meraih kerah baju santri itu, membuat ciut nyali si santri dan terlihat gemetaran.
"I...itu... itu, Kang. Katanya... Katanya... Mmmm...mau diadakan.. Pe..perayaan, Kkkk..Kang." Ucap santri itu benar benar ketakutan sampai tida berani memandang wajah Budi.
"Hahh."
Duk!
Sekali lagi Budi meninju tembok. Tangannya masih mengepal kencang. Tangannya memerah. Otot dilengannya terlihat jelas. Dan terdengar gemerutuk dari gigi giginya yang beradu.
Semua membungkam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan untuk bernafas pun mereka tidak ingin desah mereka sampai terdengar. Semua tertunduk mematung.
Budi masih saja menunjukkan kekesalannya. Membuat yang lainnya merinding, menggigil ketakutan.
"Yasudah semua, -bubar!" Ucap Budi dengan sedikit bentakan.
Tanpa menunggu lama semua santri itu segera berlari menjauh dari tempat Budi saat ini. Mereka tidak mau menjadi pelampiasan kemarahan Budi.
"Lil, Mam. Kalian mau kemana?" Seru Budi yang melihat Khalil dan Imam ikut beranjak.
"Tadi katanya..." Sahut Khalil tidak ingin salah bicara.
"Kalian tetap disini!" Budi memotong ucapan Khalil.
"Kita tidak bisa menganggap remeh anak itu. Ternyata diam diam dia sama seperti santri songong itu." Gerutu Budi.
"Lalu kita harus bagaimana, Bud?" Sahut Khalil.
Budi mendongak sejenak. Sepertinya sedang mengatur sebuah siasat.
Budi menghela nafasnya.
"Saya akan segera meminta bapakku mempercepat hubunganku dengan Habiba. Bila perlu langsung meminangnya. Tidak perlu lamar lamaran segala." Ucap Budi kemudian dengan tatapan nanarnya.
"Kalau sudah bisa menguasai pesantren ini sepenuhnya. Sudah menjadi Dzuriyah ndalem. Saya akan lebih leluasa bertindak." Imbuh Budi.
"Benar sekali, Bud. Memang sebaiknya itu disegerakan saja." Timpal Khalil.
"Biar kita tidak perlu lagi melihat santri santri songong itu lagi di sini." Imbuh Imam.
Budi masih terlihat kesal, raut wajahnya belum berubah sejak tadi. Tangannya sesekali masih terlihat mengepal menunjukkan otot otot yang mengeras di lengannya.
Langit sudah mulai gelap. Jingganya yang tinggal sisa sisa bias kini benar benar sudah tidak terlihat pancarannya. Gema suara sholawat tarhim sudah mulai berkumandang dari corong corong masjid sebagai pengingat bahwa waktu Maghrib tinggal sepenggalan lagi.
"Saya siap siap adzan dulu. Kalian cari tahu besok akan ada acara apa untuk merayakan kemenangan santri baru itu."
"Siap, Bud!"
Bersambung...
__ADS_1