
Terik siang cukup menyengat. Gumpalan awan putih yang tergantung di langit pun seolah menghindar dari sengatan teriknya sang Surya membuat bumi di bawahnya penuh dengan biasan cahaya panas.
Diantara panasnya siang ini, diantara tanah yang tidak terjilat teriknya matahari karena sorot yang tertutup pohon besar. Sobri, duduk di bawah pohon besar itu menikmati angin yang hanya sesekali terasa hembusannya.
Tak jauh darinya, di bawah pohon besar yang lain, seorang lelaki tua pun sedang terlihat bersandar pada batang pohon itu. Sobri sekilas mengamati lelaki tua itu, sepertinya lelaki tua itu bukan orang sini, pikirnya. Tanpa disadari lelaki itu pun kini berbalik menatap ke arah Sobri lalu melempar senyumnya membuat Sobri sedikit canggung.
Tak lama setelah itu, lelaki tua itu nampak berjalan mendekat ke arah Sobri.
"Sepertinya hari ini cukup panas ya, Nak?" Tanya lelaki tua itu.
"Iya, Mbah. Bukan cukup lagi, tapi sangat panas." Sahut Sobri sedikit terkekeh.
Lelaki tua itu pun nampak tersenyum, "Tidak juga, Nak. Cukup kalau bagi saya. Ya, jika dibanding panasnya api neraka." Kini lelaki tua itu memperlebar senyumnya.
Sobri pun ikut tersenyum, "Kalau itu sih jelas, Mbah. Tapi semoga kita dijauhkan dari siksa api neraka, Mbah." Sahut Sobri.
"Aamiin, jika memang begitu, Nak. Tapi kalau manusia model kita itu, yo ra ketang sitik bakal ngicipi di dilat genine neroko." Ucap lelaki tua itu santai dan datar.
Sobri mengerutkan keningnya, "Kenapa begitu, Mbah? Kan asal kita di dunia ini bisa menjaga semua yang membuat kita tidak kejegur di neraka ya Gusti pasti akan menghindarkan kita dari panasnya api neraka, Mbah?" Tanyanya kemudian.
"Ngomong gampang, Nak. Nglakoni nya tidak segampang saat ngomongnya. Tumindak apik'e menungso itu tidak sebesar obsesinya untuk masuk surga, Nak. Dan itu fakta." Ucap lelaki tua itu lagi.
"Cuma kalau ada maunya manusia bisa terlihat sangat baik. Baiknya cuma kalau dilihat orang. Kadang malah sengaja diperlihatkan, diumbar, dilacurkan ngono wae. Seolah olah kebaikan itu konsumsi publik dan modal utama nggolek raine menungso liyane." Lanjutnya kemudian.
Sobri mengangguk, "Simbah benar, tapi kalau yang memang baik apa iya tetap mencicipi api neraka, Mbah? Apa itu adil? Bukankah Allah itu Al 'Adl?" Tanyanya kemudian.
Lelaki tua itu tersenyum, "Adil nggak adil, Nak. Manusia memang cenderung suka menuntut keadilan ketika apa yang didapat tidak sesuai dengan yang sudah dilakukan, ketika hak nya tidak seimbang dengan kewajiban, itu bagi manusia. Tapi manusia lupa, bahkan istighfar mereka saja masih perlu di istighfari."
Sobri mengerutkan keningnya, "Maksudnya bagaimana, Mbah?"
Lelaki tua itu tersenyum, "Manusia selalu merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan, tapi selalu tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan. Manusia selalu punya hukumnya sendiri. Ketika mereka berbuat kebaikan, seolah merasa dirinya lah yang terbaik. Ketika mereka rajin beribadah lantas merasa dirinya lah yang paling alim."
Sobri mengangguk, "Simbah benar. Itulah sifat manusia, Mbah."
__ADS_1
Lelaki tua itu kembali tersenyum, "Itulah kenapa saya bilang, wajar sik ra ketang sitik weruh rasane geni neroko."
Sobri mengangguk lagi.
"Sampeyan kerja disini?" Tanya lelaki tua itu kemudian.
"Saya disini nyantri, Mbah." Jawab Sobri.
Lelaki tua itu mengangguk, "Saya senang ketika melihat anak muda sregep ngaji. Dengan banyaknya pemuda yang nyantri, semoga kelak berpotensi semakin banyak menelorkan kyai kyai alim di negeri yang mulai morat marit ini."
"Aamiin, Mbah. Pangestune mawon." Sahut Sobri.
"Tapi ya harus benar benar nyantri lillahi ta'ala. Bukan karena niat lain lain." Imbuh lelaki itu kemudian.
"Insya Allah, Mbah."
"Tidak ada orang kaya tanpa kerja, orang yang kerja sampai pensiun saja belum tentu kaya. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, orang yang belajar saja belum sepenuhnya pintar. Tidak ada pangkat tanpa Ragat, orang yang ngentekno Ragat saja belum tentu dapat pangkat. Begitu juga jadi Kyai, Nak. Tidak ada kyai tanpa ngaji, orang yang ngaji saja belum tentu jadi kyai. Opo meneh sing ra ngaji." Imbuh lelaki tua itu lagi.
Sobri mengangguk ringan.
"Simbah benar." Sobri pun ikut tertawa.
"Tapi kalau saya ngaji bukan untuk menjadi Kyai, Mbah. Saya hanya ingin hidup saya yang hanya sebentar ini tidak sia sia." Lanjut Sobri.
"Itu bagus, Nak. Manut kersane Gusti. Kyai itu bukan gelar yang harus dikejar. Itu pilihan dari umat. Ketika umat merasa bahwa si A pantas menjadi Kyai, maka amanah itu harus dijalankan sebagaimana mestinya. Dadi Kyai sing ngayomi." Ucap lelaki tua itu lagi.
"Insya Allah, Mbah. Saya juga tidak mau muluk muluk. Sebatas bisa memanfaatkan apa yang sudah saya dapat saja sudah cukup. Mengamalkan apa yang harus saya amalkan, sudah bersyukur." Sahut Sobri.
Lelaki tua itu mengangguk ringan, "Orang Jawa punya Tembung sing sak apik'e, Nak."
"Tembung? Tembung apa itu, Mbah?" Tanya Sobri sedikit penasaran.
"Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani, yang artinya ya jika di depan ya harus bisa menjadi teladan, namun ketika di tengah ya harus bisa membangun semangat, nyagak'i sing neng ngarep, ndukung sing neng mburi. Dan jika di belakang, harus bisa memberikan dorongan. Mendukung yang di depannya, nyengkuyung. Kita harus optimis, Nak. Harus bisa di depan, di tengah juga di belakang." Jawab lelaki tua itu.
__ADS_1
"Ya, Mbah. Saya paham itu." Sobri lagi lagi menganggukkan kepalanya ringan.
"Seperti siang ini, Nak. Kita mengeluh sampai mencari tempat teduh. Itu karena kurangnya kita bersyukur. Dikasih panas sambat, dikasih hujan sambat. Manusia itu pancen mbingungne. Tapi pas panas begini coba kita lihat bakul bakul es, mereka senang, dagangannya laris. Pengusaha kerupuk, senang, bisa menjemur dagangan mereka. Petani senang bisa menjemur gabah gabahnya. Kalau pas hujan banyak ngeluh jemuran nggak kering, becek, nggak bisa kemana mana. Tapi petani senang, tidak perlu menyirami tanaman mereka, dan lain lainnya." lagi lagi lelaki tua itu terkekeh.
"Simbah benar. Manusia memang begitu, Mbah. Jarang mau nepakne. Orang leher pegal saja yang disalahkan bantalnya kok, Mbah." Sobri pun mau tidak mau ikut tertawa.
"Iya, Nak. Padahal dalam setiap apapun, kesalahan misalnya. Tersangka utamanya itu ya ada di balik cermin jika kita mau berkaca." Timpal lelaki tua itu kemudian berdiri.
"Yasudah, Nak. Dilanjut. Welinge Simbah, sampeyan harus sregep ngajinya. Negeri ini butuh penyegaran rohani tidak melulu penyegaran ekonomi." Ucap lelaki tua itu lagi.
"Mau kemana, Mbah?" Tanya Sobri kemudian ikut berdiri.
"Saya mau ke sarean ujung sana, nyekar ke makam sahabat saya." Ucap lelaki tua itu.
"Baik, Mbah. Hati hati." Ucap Sobri sembari tersenyum.
"Sampeyan juga." Lelaki itu pun membalas senyum Sobri kemudian mulai mengayunkan kakinya dan melangkah meninggalkan bawah pohon yang teduh itu dan kembali menerabas sengatan teriknya matahari siang ini.
Sobri tersenyum sendiri sembari memandang kepergian lelaki tua itu berlalu dari hadapannya. Lelaki tua dengan udeng khas Jawa itu sudah berjalan cukup jauh dari hadapannya.
"Simbah itu sepertinya ngalim." Gumamnya.
Tapi seketika Sobri tersentak. Wajahnya penuh ekspresi keterkejutan.
"Jangan jangan Simbah itu Wali Mastur?" Gumamnya lagi.
Sobri melihat ke arah kepergian lelaki itu, lelaki itu sudah tidak nampak jangkauan matanya. Sobri pun bergegas untuk mengejar lelaki tua itu.
"Pasti belum jauh, masih sempat untuk saya kejar untuk tahu namanya." Gumam Sobri sembari berlari mengejar lelaki tua itu.
Namun Sobri tidak lagi menemukan kelebat lelaki tua itu.
"Kemana simbahnya itu ya? Perasaan tadi belok sini?" Gumamnya sendiri sembari garuk garuk kepala.
__ADS_1
"Oh, iya, Sarean. Simbahnya tadi bilang akan ke sarean nyekar sahabatnya. Mungkin saya bisa bertemu Simbah itu disana." Lagi lagi Sobri bergumam dan segera bergegas mempercepat langkahnya menuju pemakaman umum desa itu.
Bersambung...