BROMOCORAH

BROMOCORAH
Siapa Yang Mengirim Mereka?


__ADS_3

"Dasar tidak becus." Lelaki berkumis tebal kini terlihat maju kearah Ajimukti. Lelaki itu pun bersiap untuk menyerang Ajimukti, tangannya terlihat mengepal. Ajimukti tersenyum mengejek. Ia tahu, lelaki berkumis tebal itu hanya bermodal badan besar dan tenaga saja, juga wajah yang terkesan menakutkan, untuk bela diri, Ajimukti yakin lelaki ini tidak memiliki basic bela diri sama sekali, itu terlihat dari caranya menyerang tanpa kuda kuda.


Lelaki itu kemudian berlari menyongsong Ajimukti dan mengarahkan tinjunya. Ajimukti belum melakukan pergerakan, tapi begitu kepalan tangan lelaki itu hampir mengenainya segera Ajimukti menyampingkan tubuhnya lalu tangannya dengan gesit meraih lengan lelaki itu dan menariknya ke depan. Dengan cepat Ajimukti segera melakukan pukulan keras ke arah tengkuk leher lelaki itu yang menyebabkan lelaki itu seketika terjerembab ke tanah dengan sangat keras.


Lelaki berkumis tebal itu mengerang dan mengaduh ketika wajahnya berbenturan dengan tanah di bawahnya.


Lelaki yang sempat mendapat serangan Ajimukti sebelumnya kini pun kembali menyerang. Dengan cepat tanpa memberi lelaki itu kesempatan, Ajimukti segera meraih lengan lelaki itu dan memutarnya kebelakang tepat di punggungnya. Lelaki itu mengerang kesakitan. Kini Ajimukti menghantam punggung lelaki itu dengan sikutnya sekuat tenaga. Lelaki itu pun kembali tersungkur ke tanah.


"Br*ngs*k kau bocah!" Lelaki berkumis kembali berdiri dan kembali berusaha melakukan serangan.


Ajimukti segera bersiap. Belum sempat lelaki berkumis itu menyerang, sebuah tendangan yang cukup keras sudah mendarat di rahangnya membuatnya kembali jatuh ke tanah. Lelaki berkumis itu bahkan tidak bisa melihat pergerakan Ajimukti yang begitu cepat itu.


"Boleh juga kau." Kini lelaki berjaket Levis mulai ikut turun tangan. Ia pun segera mengepalkan tangannya dan bersiap menyerang Ajimukti.


Ajimukti menangkis pukulan lelaki berjaket Levis itu, lalu sedikit melempar senyum yang membuat lelaki berjaket Levis itu meradang merasa di rendahkan Ajimukti. Ajimukti segera melakukan sapuan dengan kakinya dan tepat menghantam pinggang samping lelaki berjaket Levis itu. Lelaki itu pun terlempar sebelum serangannya mampu mengenai Ajimukti.


"Sialan!" Lelaki berjaket Levis itu mengumpat.


Lelaki lain yang bibirnya sudah terlihat berdarah kembali menyerang, sementara lelaki lain juga secara bersamaan mengarahkan serangan ke arah Ajimukti. Ajimukti segera menghindari dua serangan itu. Dengan, ia berhasil meraih kerah salah satu lelaki itu dan segera menariknya, kini lelaki itu dihantamnya kembali dengan sikutnya lebih keras. Terdengar bunyi 'krak!' tepat saat sikut Ajimukti menyentuh punggung itu. Lelaki itu seketika berteriak dan mengerang.


Disaat yang hampir bersamaan Ajimukti melompat dan mematahkan serangan lelaki lain, kemudian tangannya mengepal dan dengan sangat cepat tinjunya sudah menghantam rahang bawah lelaki itu. Lelaki itu terlempar, dari mulutnya menyemburkan darah, kemudian jatuh dan pingsan tak sadarkan diri.


Melihat dua rekannya dilumpuhkan Ajimukti, lelaki berkumis tebal pun bangun dan sekali lagi memaksa menyerang Ajimukti. Ajimukti tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya memundurkan badannya dan sedikit memutarnya lalu sikutnya kembali menghantam ulu hati lelaki berkumis itu. Seketika lelaki berkumis tebal itu pun terbatuk batuk dan kemudian muntah darah.


Lelaki berjaket Levis meradang, matanya melotot tajam hampir keluar dari kelopak matanya.


"Benar benar cari mati kau, bocah!" Teriaknya seolah tidak mengakui kekalahannya.


"Hidup mati bukan ditangan kalian." Ajimukti masih bersiap dengan kuda kudanya.


"Banyak omong kau!" Lelaki berjaket Levis itu kemudian kembali melancarkan serangannya.


Krak!


Tinjunya tepat menghantam telapak tangan Ajimukti. Lelaki itu kemudian memegang kepalan tangannya. Ia merasa tulangnya ada yang patah. Lalu menjerit mengerang kesakitan.


"Br*ngs*k kau!" Lelaki itu kembali mengumpat sembari terus memegang pergelangan tangannya yang tulangnya sepertinya ada yang patah.


"Maafkan saya, Pak. Saya hanya membeli apa yang bapak bapak tawarkan pada saya saja." Melihat lawannya sudah kesakitan Ajimukti melepas kuda kudanya.


"Dan saya pikir apa yang bapak bapak tawarkan terlalu murah bukan untuk saya?" Ajimukti kini berjongkok dan tatapan matanya tepat menatap mata lelaki berjaket kulit itu. Seketika wajah lelaki itu pucat pasi dan penuh ketakutan dengan tatapan mata Ajimukti kepadanya itu.


Melihat kegaduhan itu, beberapa warga segera berlari mendekat ke arah Ajimukti.


"Mas Kyai, enten nopo?" tanya salah seorang warga itu. Sementara warga yang lain segera menahan ketiga lelaki yang terkapar di tanah. Para lelaki itu pun segera ketakutan dengan banyaknya orang di tempat itu.


"Sudah, Pak. Nggak ada apa apa. Mereka hanya sedang tidak ada kesibukan dan mencoba menawarkan apa yang mereka bisa." Sahut Ajimukti masih belum beranjak dari posisinya yang menghadap lelaki itu.


"Saya tidak tahu siapa yang menyuruh kalian. Saya pun tidak ingin tahu. Yang pasti sampaikan pesan saya. Suruh orang yang menyuruh kalian itu untuk bersilaturahmi sendiri pada saya." Ucap Ajimukti pada lelaki berjaket Levis di depannya. Lelaki itu hanya mengangguk dengan gemetaran.

__ADS_1


"Ngapunten, Mas Kyai. Apa tidak sebaiknya kita laporkan saja mereka ke polisi." Seorang warga memberi saran pada Ajimukti.


Mendengar itu para lelaki itu semakin ketakutan. Ekspresi wajah mereka pun semakin terlihat pucat dan gemetaran.


"Tidak perlu, Pak. Mereka pun hanya korban. Ada orang dibelakang mereka." Sahut Ajimukti kemudian.


"Pergilah kalian! Dan ingat pesan saya tadi." Ucapnya kemudian pada lelaki dihadapannya.


Dengan masih memegang pergelangan tangannya yang kini terlihat bengkak, lelaki itu segera mengangguk cepat dan berdiri. Kedua lelaki lain pun juga segera bangun dan membopong seorang lelaki yang sempat tak sadarkan diri karena pukulan Ajimukti tadi.


Dengan masih ketakutan keempat lelaki itu pun segera masuk kedalam mobil dan berlalu dari tempat itu. Para warga pun segera menghampiri Ajimukti.


"Mas Kyai, apa tidak apa apa?" Tanya salah seorang warga.


"Tidak apa apa, Pak. Terima kasih untuk bantuannya." Sahut Ajimukti kembali berdiri dari posisi sebelumnya.


"Maaf karena kami justru terlambat datang." Ucap warga yang lain.


"Sudah, Pak. Tidak apa apa, Pak." Sahut Ajimukti dengan tidak lupa seulas senyum tersirat di bibirnya.


"Saya yakin, hanya empat orang itu saja, bukan masalah besar untuk Mas Kyai. Bukan begitu, Mas Kyai?" Celetuk salah seorang warga lain.


"Tentu saja. Bagaimanapun juga Mas Kyai ini pasti mewarisi darah bela diri Kyai Salim." Imbuh warga yang lain.


Ajimukti hanya tersenyum mendengar celetukan celetukan para warga itu. Tak lama setelah berbincang sesaat Ajimukti pun segera kembali ke pesantren.


Setiba di pesantren Sobri tidak menaruh curiga sama sekali dengan apa yang baru saja Ajimukti hadapi pagi ini. Ia hanya melihat keringat yang membasahi kening Ajimukti di pagi sedingin ini.


"Sempat olahraga sedikit, Kang. Lama nggak olahraga jadi langsung keringatan." Sahut Ajimukti sembari melepas baju kokinya dan kini hanya mengenakan kaos putih polos.


"Memang sepertinya enak, Gus. Pagi pagi olahraga joging di sekitaran sini. Tahu gini tadi saya ikut, Gus." Celetuk Sobri kemudian.


Ajimukti hanya tersenyum, lalu duduk di kursi tengah ndalem nya. Sobri pun segera membawakan minum kepada Ajimukti dan ikut duduk bersamanya. Tak lama setelah itu Manan pun terdengar memanggil Ajimukti dari arah pintu luar ndalem. Begitu mendengar jawaban Ajimukti dari arah ruang tengah, Manan pun segera menyusul ke ruang tengah.


"Jik, kamu tidak apa apa?" Tanya Manan terlihat khawatir.


Sobri yang mendengar itu pun sedikit mengerutkan kening dan menatap Ajimukti juga Manan secara bergantian.


"Tidak apa apa, Nan." Sahut Ajimukti datar sembari menyeruput minuman yang di bawakan Sobri untuknya.


"Ada apa, Gus? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sobri penasaran.


"Begini, Kang. Tadi tidak sengaja saya bertemu warga yang melintas di depan pesantren pas saya rencana mau ke warung. Warga itu bilang katanya ada yang menghadang Ajik di jalan tapi mereka berhasil di lumpuhkan Ajik." Ucap Manan menerangkan pada Sobri. "Apa benar begitu, Jik?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti hanya tersenyum, sementara Sobri terlihat tersentak kaget mendengar itu.


"Nopo leres, Gus?" Tanyanya kemudian.


"Hanya beberapa orang yang nggak ada kerjaan, Kang. Bukan masalah besar." Sahut Ajimukti singkat.

__ADS_1


"Tapi siapa mereka, Gus? Dan ada masalah apa?" Tanya Sobri masih memburu penjelasan.


Ajimukti menaikkan bahunya, "Saya pun tidak tahu, Kang. Juga tidak menanyakan itu. Yang pasti mereka hanya orang orang suruhan. Ada seseorang yang sengaja membayar dan mengirim mereka. Tapi siapa saya juga tidak tahu." Sahut Ajimukti.


"Orang suruhan, Jik?" Manan terdengar kaget.


Ajimukti mengangguk ringan.


"Tapi kira kira siapa orang yang membayar dan mengirim mereka, Gus?" Tanya Sobri sarat penasaran.


Ajimukti hanya kembali menaikkan pundaknya, "Entahlah, Kang. Saya tidak mau ambil pusing. Tidak lama juga kita akan tahu. Setelah ini pasti dia akan datang sendiri." Sahut Ajimukti nampak tenang.


"Siapa pun itu, Jik. Pasti orang yang tidak terima dengan posisi kamu saat ini." Sahut Manan kemudian.


"Apa mungkin Kyai Aminudin, Gus?" Tanya Sobri kemudian.


"Entahlah, Kang. Saya tidak mau berprasangka. Siapa pun orang itu, ya kita lihat saja nanti. Tujuannya apa juga kita akan tahu nanti begitu orang itu keluar sendiri." Sahut Ajimukti lagi.


"Tapi njenengan estu nggak kenapa kenapa tho, Gus?" Tanya Sobri sedikit terlihat mencemaskan Ajimukti.


"Seperti yang Kang Sobri lihat sendiri. Saya baik baik saja. Dan lagi orang orang yang dikirim tadi bukan ahli bela diri. Bukan bermaksud riya', tapi orang orang itu bukan masalah besar." Ucap Ajimukti sembari menyandarkan punggungnya.


"Pantas saja tadi bilangnya olahraga." Melihat Ajimukti yang memang baik baik saja, Sobri sedikit mulai tenang.


Ajimukti hanya tersenyum saja dengan ucapan Sobri itu.


"Masalah ini jangan sampai ke telinga Lek Dullah ya, Kang. Saya khawatir nanti juga bisa bisa sampai ke Sibu." Pesan Ajimukti pada Sobri.


"Nggeh, Gus. Sendiko." Sahut Sobri sembari mengangguk ringan.


"Juga jangan sampai kedengaran Pak Lek Anggoro ya, Nan." Ajimukti beralih pada Manan.


"Iya, Jik. Kamu tenang saja." Manan pun memastikan ini tidak sampai ke bapaknya.


"Tapi bagaimana jika Pak Dhe Prastowo tahu, Jik. Pasti nanti ada warga yang menyampaikan ini ke Pak Dhe Prastowo." Imbuh Manan kemudian.


"Biar nanti saya yang bilang sendiri sama Pak Lek Pras, Nan." Sahut Ajimukti.


Manan hanya mengangguk ringan.


"Tapi apa mungkin ya, Jik. Orang orang itu suruhan Kyai Aminudin Abahnya Habiba?" Manan kembali mengutip pemikiran Sobri tadi.


"Saya pun mencurigai beliau, Gus." Imbuh Sobri.


"Iya, Jik. Bukankah hanya Kyai Aminudin yang tidak suka dengan keberadaan kamu disini karena merasa posisinya kamu ambil alih." Timpal Manan.


"Entahlah. Yang pasti kita jangan berburuk sangka dulu sebelum kita benar benar ada buktinya." Ucap Ajimukti kemudian.


Sobri dan Manan hanya kembali mengangguk serempak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2