BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kenali Dunia


__ADS_3

Malam merambah menjilat semesta dengan gelapnya. Bekas hujan selepas Maghrib menyisakan bau anyir tanah yang basah. Obrolan di ruang tamu di rumah Prastowo baru saja dimulai. Cangkir cangkir kopi yang di suguhkan Sumiatun masih mengepulkan asapnya dan menyebarkan bau harum kopi tumbukannya sendiri bertaut dengan kepulan asap rokok yang tak berkesudahan.


"Jadi saya harap Pak Lek sama Bu Lek besok bisa menyempatkan waktu untuk menemani saya silaturahmi ke rumah Kyai Aminudin untuk menemani saya mengutarakan hajat saya itu Pak Lek." Ucap Ajimukti pada Prastowo.


Prastowo menghela nafasnya, "Tentu saja, Mas. Ini sebuah kehormatan bagi saya." Sahut Prastowo kemudian.


Sumiatun hanya tersenyum mengingat bagaimana ia berharap bahwa Ajimukti bisa bersanding dengan putrinya, Ajeng, namun semua hanya sebuah harapan semata.


Diam diam Ajeng menguping obrolan Ajimukti dari balik tembok ruang tamu itu. Dia hanya bisa menghela nafas, lalu setelahnya ada senyum mengembang dari bibir mungilnya.


"Kamu bagaimana kabarnya, Dul?" Tanya Prastowo kemudian pada Dullah.


Dullah meletakkan rokoknya pada asbak di depannya.


"Kamu sedang berbasa basi atau bagaimana, Pras? Bukankah kita sering berkomunikasi melalui telfon? Emmm, atau kamu sedang ingin mencari bahan obrolan saja." Goda Dullah sembari terkekeh.


Prastowo hanya kemudian tertawa, tapi pandangannya sedikit melirik ke arah Sobri.


"Kapan kamu akan melamar Ajeng, Bri? Apa kamu tidak meri sama Gus mu ini?" Ucap Prastowo sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi tempatnya duduk.


Seketika itu Sobri tersentak lalu menelan ludahnya. Dullah yang menyadari keterkejutan anaknya hanya bisa menahan tawa lalu menepuk pundak Sobri.


"Kamu ditantang seperti itu apa hanya akan diam, Le. Jangan mempermalukan bapakmu tho. Anak seorang Bromocorah iku sing gliyak ojo nglokro." Ucap Dullah menyemangati Sobri.


Sobri tersenyum sembari menghela nafasnya.


"Saya numpang kamar mandi, Pak Lek." Ucap Sobri membuat yang berada di situ menatapnya heran.


"Kamu itu, Le. Di ajak bicara malah kabur." Gumam Dullah.


Sobri tak menyahut, ia kemudian hanya berdiri dan melenggang pergi.


"Mungkin Sobri masih kikuk, Lek. Sabar dulu saja." Sela Ajimukti setelahnya.


Ajeng masih di tempatnya, menyandarkan bahunya ke tembok sembari mendengar obrolan di ruang tamunya samar samar.


"Tidak baik menguping. Kenapa tidak ikut mengobrol diluar saja." Tegur Sobri yang tiba tiba sudah berdiri di belakang Ajeng.


Ajeng sedikit terlonjak lalu menoleh ke arah Sobri.


"Sampeyan mengagetkan saya saja, Mas." Ucap Ajeng.


"Mas? Sejak kapan sampeyan manggil saya Mas?" Tanya Sobri sembari sedikit tersenyum.


Ajeng sedikit terhenyak. "Oh, Maaf maaf. Maksud saya, Kang Sobri." Sahutnya sedikit malu kali ini.


"Sebaiknya kita ke depan." Ucap Sobri kemudian beralih pembicaraan.


"Sampeyan saja, Kang. Saya disini saja." Sahut Ajeng tertunduk.


Sobri kemudian menghela nafas, "Baiklah kalau begitu."


Sobri meraih kursi plastik tak jauh darinya kemudian mengambil duduk berhadapan dengan Ajeng.


"Loh, kok sampeyan malah disini, Kang?" Tanya Ajeng keheranan.


"Ada hal yang ingin saya bicarakan." Sahut Sobri.


Ajeng sedikit mengerutkan keningnya.


"Tidak usah penasaran, karena saya akan langsung saja membicarakannya." Ucap Sobri melihat ekspresi wajah Ajeng.


"Ini mengenai kamu juga saya, Dik. Saya pikir kamu sudah tahu apa yang akan saya bicarakan. Mungkin sudah saatnya. Bagaimana menurut kamu?" Tanya Sobri kemudian.


Ajeng masih tertunduk, dia berusaha mengatur debaran jantungnya.


"Saya harus menjawab apa, Kang?" Tanyanya lirih.


"Apa yang seharusnya menjadi jawaban kamu." Sahut Sobri kemudian.


"Apa itu artinya sampeyan sedang mengkhitbah saya?" Tanya Ajeng memastikan.


Sobri sedikit tersenyum, "Jika dirasa sudah seharusnya. Kenapa tidak." Sahut Sobri.


"Saya takut, Kang." Ajeng nampak gelisah kali ini.


"Takut? Apa yang menjadi ketakutan kamu?" Tanya Sobri.


"Oh, apa ini berkaitan dengan Gus Aufa?" Tanya Sobri pada akhirnya menebak.


Ajeng tak memberi jawaban dengan lisannya, namun dari sikapnya Sobri sudah tahu jawabannya. Ia hanya kemudian tersenyum.


"Dik, sampeyan tahu kan da' maa yuriibuk ila maa laa yuriibuk, tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu." Ucap Sobri kemudian.

__ADS_1


Ajeng mengangguk lalu setelahnya tersenyum.


"Saya tidak ragu, Kang. Saya hanya takut." Ucap Ajeng sekali lagi.


"Takut itu karena sampeyan ragu, Dik." Sobri mendebat kali ini.


Ajeng menghela nafasnya, "Baiklah kalau begitu, Kang."


Sobri mengerutkan keningnya, "Baiklah apanya, Dik?"


"Saya bersedia." Ucap Ajeng malu malu.


Sobri tersenyum kemudian berdiri.


"Loh, mau kemana, Kang. Kok malah pergi?" Tanya Ajeng sedikit keheranan.


"Saya baru saja di pojokan sama bapak sama Pak Lek Pras, Dik. Sekarang saya sudah punya jawabannya." Sahut Sobri sembari berlalu dari hadapan Ajeng.


Sobri kembali diantara Prastowo, Dullah juga Ajimukti. Meraih sebatang rokok lalu menyulutnya.


"Sudah, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Sampun, Gus." Sahut Sobri.


"Piye tho, Le. Pak Lek mu ngakak bicara kamu malah ke kamar mandi." Ucap Dullah tertuju pada Sobri.


"Saya kan juga butuh referensi untuk menjawab, Pak. Tidak waton ngwangsuli." Sahut Sobri setelahnya.


"Maksudmu referensi apa, Le?" Tanya Dullah semakin tidak paham dengan Sobri.


Sobri tersenyum, meletakkan rokoknya lalu beralih pada Prastowo.


"Saya akan meminang Ajeng, Pak Lek. Nopo kintene dipun pangestoni?" Tanya Sobri pada Prastowo.


Semua yang ada di ruang tamu itu seketika mengalihkan pandang ke arah Sobri.


"Kamu serius, Le?" Tanya Dullah memastikan.


Sobri tersenyum kecut, "Anak seorang Bromocorah harus tegas, Pak. Mboten pareng klemak klemek. Nggeh tho Pak Lek?" Sahut Sobri kemudian mencari pembelaan Prastowo.


Prastowo hanya kemudian tertawa, "Nek ngene Iki plek koyo bapak'ane, Dul." Ucap Prastowo melirik Dullah.


"Anak'e, Pras. Ya sebelas dua belas tho yo." Sahut Dullah sembari terkekeh.


"Lalu bagaimana, Pak Lek?" Tanya Sobri kemudian pada Prastowo.


"Dik Ajeng sudah mengiyakan, Lek. Tinggal Pak Lek sebagai walinya Dik Ajeng." Balas Sobri.


"Kamu maunya bagaimana?" Tanya Prastowo kemudian.


"Ya, sudah, Lek. Saya sudah dapat jawabannya." Sahut Sobri.


"Nah, begitu kok masih ditanya." Prastowo terkekeh.


"Jadi besanan kita, Dul." Imbuh Prastowo beralih pada Dullah.


"Alhamdulillah, lalu kapan rencananya, Kang?" Tanya Ajimukti yang sedari tadi hanya menyaksikan kebahagiaan dua keluarga yang nantinya akan menjadi satu keluarga itu.


"Belum tahu, Gus. Saya manut Dik Ajengnya saja." Sahut Sobri.


"Sing di nut sopo, Bri? Kamu itu calon imam, bukan kamu manut Ajeng tapi Ajeng yang harusnya manut kamu." Sela Prastowo.


"Jika konsepnya begitu keliru, Pak Lek. Itu berlaku bila nanti saya dan Dik Ajeng sudah halal. Untuk sekarang, pihak saya yang manut pihak wanita karena wanita itu memiliki wali, dia berbeda dengan laki laki yang berdiri sendiri dalam artian memiliki keputusannya sendiri." Sahut Sobri.


Prastowo mengangguk, "Memang tidak salah jika saya sreg dengan anakmu, Dul." Ucapnya kemudian.


"Baiklah, Bri. Memang untuk satu itu saya dan sibune Ajeng perlu rembukan lagi." Ucap Prastowo kemudian.


Sobri hanya kemudian mengangguk.


"Kalau memang sudah begitu, Le. Ada hal yang ingin bapak berikan padamu." Ucap Dullah kemudian.


Sobri kemudian mengerutkan keningnya.


"Apa itu, Pak?" Tanyanya kemudian.


Dullah nampak merogoh sesuatu dari dalam sakunya.


"Berikan ini pada Ajeng." Dullah memberikan sebuah cincin yang hanya ia bungkus dengan plastik kecil.


"Ini?" Sobri sedikit tersentak.


"Bagaimana bapak menyiapkan ini?" Tanya Sobri keheranan.

__ADS_1


"Itu tidak bapak beli, Le. Itu milik ibumu yang ibumu titipkan pada bapak. Ibumu meling untuk memberikan itu pada Ajeng. Hanya saja bapak butuh tahu dulu semuanya. Dan sekarang ternyata sudah jelas. Tidak salah ibumu menitipkan ini sama bapak. Ternyata ibumu sudah seyakin ini." Ucap Dullah kemudian.


Sobri mengamati itu, lalu memberikannya pada Sumiatun yang duduk di sebelah Prastowo.


"Tolong ya, Bu Lek." Ucap Sobri pada Sumiatun.


Sumiatun hanya kemudian mengangguk dan tersenyum tanpa berkata apapun. Ingin rasanya ia saat ini menumpahkan air matanya, namun ia tidak bisa. Ada rasa syukur yang tidak bisa ia utarakan saat ini.


Diam diam Ajeng yang menyaksikan itu tersenyum dan kemudian berlari ke dalam kamarnya. Kali ini ia tidak sekalipun ragu akan pilihannya itu.


"Allahumma innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a’lamu wa anta 'allaamul ghuyuubi. Fa in ra'aita lii fii Sobri khairan fii diinii wa aakhiratii faqdirhaa lii." Bisik Ajeng sembari terduduk di tempat tidurnya.


Disaat Ajeng dan Sobri sedang berbahagia. Di tempat lain, disalah satu sudut Pondok Hidayah, diantara gelap dan lampu temaram.


"Sedang sendiri saja?" Tegur seseorang pada pemuda yang terduduk di antara gelap itu.


"Oh, kamu, Hexa. Duduk sini." Ucap ramah pemuda yang tak lain adalah Manan.


"Lanjutkan saja. Sepertinya kamu sedang asik melamun." Sahut Hexa lalu melenggang pergi.


"Sok tahu kamu. Sudahlah, duduk sini, temani saya ngopi." Manan menunjuk termos kecil yang sengaja di bawanya dari dalam kamar.


Hexa tersenyum kecut, lalu duduk tak jauh dari Manan.


"Rokok." Manan menyodorkan sebungkus rokok di depannya ke arah Hexa. Tanpa sungkan Hexa meraih sebatang rokok itu dan menyulutnya.


"Kamu tidak ikut Guse?" Tanya Hexa mengawali percakapan setelah dirinya duduk.


"Tidak. Mereka sedang ada urusan serius dan itu tidak ada kaitannya dengan saya." Sahut Manan.


"Oh..."


"Kamu sendiri apa sedang tidak ada kesibukan?" Tanya Manan setelahnya.


"Memangnya santri seperti saya selain membuat heboh pesantren ada kesibukan apa lagi?" Sahut Hexa acuh dan ketus.


"Saya lihat kamu sudah lebih baik dari sebelumnya, ya,. setidaknya sikap kamu." Ucap Manan tidak bermaksud memuji Hexa.


Hexa tersenyum kecut. "Ada kalanya seseorang memang harus bisa menempatkan diri. Begitu kan kata Gus Faruq?"


"Hmmm, baguslah."


"Sudah lama kamu disini?" Tanya Hexa kemudian.


"Yah, ada kalau sepuluh tahun." Sahut Manan singkat.


"Apa nyantri harus selama itu? Tidak tertarik kah untuk menikmati dunia luar pesantren?" Tanya Hexa kemudian.


"Kenapa harus keluar sementara di dalam lebih menjamin." Sahut Manan.


"Apanya yang menjamin?" Tanya Hexa terdengar sedikit penasaran.


"Pesantren itu tidak sekecil pikiran kamu. Kamu menganggap pesantren itu kuno, ndeso, udik dan primitif. Tapi justru di pesantren di ajarkan apa yang di dunia luar tidak ada. Diluar kamu hanya akan belajar dunia dunia dunia. Tapi di sini, kamu akan di ajarkan dunia dan akhirat." Sahut Manan singkat tanpa mempersulit penangkapan Hexa.


"Bagaimana kamu yakin diluar tidak bisa belajar akhirat?" Tanya Hexa.


Manan tersenyum, "Memang begitu kan?"


"Sekali waktu luangkan waktu keluar. Kamu akan tahu bagaimana akhirat diluar sana. Tidak semua hanya melulu memikirkan dunia." Sahut Hexa.


Manan mengerutkan keningnya, ia sedikit tidak percaya, untuk pertama kalinya ia melihat sisi berbeda dari Hexa yang selama ini di kenalnya. Hexa yang jauh dari pikirannya selama ini.


"Kamu berbicara seolah kamu menemukan akhirat di luar pesantren?" Tanya Manan kemudian.


"Tidak. Seperti yang kamu tahu. Saya paling bosan membahas itu. Akhirat akhirat akhirat. Seolah itu miliknya dan pantas untuk dibicarakan." Sahut Hexa.


"Lalu?" Tanya Manan sedikit penasaran.


"Ya saya ingin seperti ini saja. Tidak munafik. Kita hidup di dunia, butuh dunia, lakukan hidup selayaknya di dunia." Sahut Hexa singkat.


"Lalu bagaimana dengan akhirat kamu? Bukankah hidup di dunia ini hanya sementara, paling lama enam puluh tahun. Di akhirat yang abadi. Bagaimana kamu menyelamatkan akhirat kamu?" Ucap Manan setelahnya.


"Kenali dunia untuk menyelamatkan akhirat. Jika saya sudah kenal dunia, saya yakin akhirat saya bisa selamat. Meski tidak sepenuhnya selamat." Sahut Hexa ketus.


Manan mengerutkan keningnya. "Mengenali dunia? Maksudnya?" Tanyanya kemudian.


"Tidak ada maksud. Kamu akan tahu jika kamu sudah mengenalinya sendiri." Sahut Hexa lalu menghisap rokoknya terakhir kali dan membuang puntungnya.


"Terima kasih untuk rokoknya. Saya permisi. Kamu lanjutkan saja melamunnya." Ucapnya seraya berdiri dari duduknya.


"Kenapa buru buru?" Tanya Manan tidak bermaksud menahan.


Hexa tidak menyahut, ia hanya kemudian melenggang pergi begitu saja.

__ADS_1


"Anak itu, aneh sekali. Hmmm..." Gumam Manan sembari menatap kepergian Hexa.


Bersambung...


__ADS_2