
"Apabila seorang tamu masuk ke rumah seorang mukmin, maka masuk pula bersama tamu itu seribu rahmah dan seribu berkah. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap suap makanan yang dimakan oleh tamunya seperti pahala haji dan umrah."
Kyai Aminudin terdengar mendengus, "Kamu memang anak muda yang tidak tahu cara bersopan santun yang benar terhadap orang tua." Ucapnya kemudian.
Kini ia nampak berjalan mendekat ke arah Ajimukti. Nyai Sarah sedikit khawatir dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu, mengingat kejadian waktu itu yang membuat suaminya itu begitu murka.
"Masuklah jika tidak ingin terus berdiri di sana. Saya tidak ingin di anggap orang yang terlalu tidak tahu diri karena tidak bisa menghormati tamu." Ucap Kyai Aminudin yang kemudian berhenti di samping kursi lalu duduk disalah satu kursi itu.
"Bagaimana kamu tahu kami tinggal disini?" Kyai Aminudin langsung saja melempar pertanyaan begitu Ajimukti duduk di kursi depannya.
Ajimukti tersenyum, "Orang baik akan selalu dikelilingi orang baik juga. Dan banyak orang orang baik yang akhirnya menuntun saya sampai di tempat ini." Sahut Ajimukti sedikit menyandarkan badannya.
"Kamu menyindirku?" Kyai Aminudin nampak tidak suka dengan jawaban Ajimukti kali ini.
"Tentu saja tidak, Kyai. Saya hanya bicara sesuai kenyataan saja." Ajimukti kemudian hanya tersenyum.
Kyai Aminudin mendengus sinis, "Lalu ada perlu apa menemui saya? Bukankah urusan kita sudah selesai? Apa belum cukup puas?" Tanyanya kemudian.
"Yang pasti, yang pertama dan yang utama, saya ingin bersilaturahmi dengan Kyai." Jawab Ajimukti.
Senyum Kyai Aminudin menyeringai, "Hah, selain pandai bersandiwara, kamu juga pandai berbasa basi rupanya."
"Tidak, Kyai. Kenapa saya harus berbasa basi. Memang tujuan utama saya itu." Ajimukti meyakinkan.
"Mana bisa saya percaya begitu saja sama orang seperti kamu. Kamu pasti punya tujuan lain. Lekas katakan! Saya tidak punya banyak waktu untuk mendengar basa basi kamu." Kyai Aminudin nampak menatap tajam Ajimukti dengan tatapan sinisnya.
Ajimukti menaikkan pundaknya. "Saya ingin bantuan Kyai Aminudin. Sumbang sih ilmu Kyai Aminudin dibutuhkan di pesantren."
Nyai Sarah yang baru selesai mengantar minum dan mendengar ucapan Ajimukti itu sejenak menatap Ajimukti. Ada kesungguhan dalam cara berbicara Ajimukti. Tapi akhirnya ia pun hanya bisa diam, karena semua keputusan ada ditangan suaminya itu.
Kyai Aminudin kembali tersenyum sinis sembari mengibaskan tangannya, "Bukankah sudah ada Faruq, Ali juga teman teman kamu santri yang jauh mumpuni. Dan saya sudah tidak tertarik untuk di pusingkan dengan urusan pesantren. Ingat itu!" Kyai Aminudin sedikit menekan diakhir ucapannya.
"Kenapa? Bukankah cara meminta bantuan saya ini sama dengan ketika bapak saya menemui Kyai dulu?" Ajimukti mengingatkan Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin semakin tidak suka dengan gaya bicara Ajimukti ini.
"Saya tetap tidak lagi tertarik dengan semua tawaran kamu itu." Kyai Aminudin menolak dengan tatapan tajamnya yang langsung beradu pandang dengan tatapan Ajimukti.
"Al-'ilman nafi'an bil-'amalin... Ilmu itu manfaat bila di amalkan, bukankah begitu ya Kyai." Ajimukti tidak melepas pandangannya dari pandangan Kyai Aminudin.
Kini Kyai Aminudin justru yang membuang wajahnya, "Hah, Kamu memang pandai bicara." Ucapnya kemudian.
"Sudah hanya itu saja yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Kyai Aminudin setelahnya.
"Masih ada lagi, Kyai." Ucap Ajimukti kemudian.
Kyai Aminudin menaikkan bola matanya melirik Ajimukti. "Apa lagi? Jangan berbelit belit."
Ajimukti sedikit melebarkan senyumnya, "Tentu saja tidak, Kyai. Saya tidak akan berbelit belit, berbasa basi apalagi sungkan."
Kyai Aminudin kembali mendengus.
"Lalu apa lagi yang ingin kamu sampaikan? Cepat katakan!" Kyai Aminudin sedikit mulai gusar.
Ajimukti menghela nafasnya, lalu memandang Kyai Aminudin juga Nyai Sarah secara bergantian. Merasa di pandang seperti itu, ada sedikit rasa kekhawatiran di hati Nyai Sarah.
"Saya ingin melamar Habiba, Kyai."
__ADS_1
Deg!
Seketika Kyai Aminudin tersedak kemudian melotot tajam mendengar ungkapan Ajimukti itu. Bola matanya membesar hampir sebiji salak. Nyai Sarah pun juga tak luput dari rasa keterkejutannya.
"Apa yang kamu katakan! Coba saya ingin dengar sekali lagi." Kyai Aminudin ingin memastikan bahwa ia sedang tak salah dengar.
Ajimukti tersenyum, "Saya ingin melamar Habiba, Kyai." Ucapnya mengulang kata katanya.
Seketika Kyai Aminudin tertawa lepas, lalu dengan cepat ekspresinya berubah menjadi terlihat sangat murka.
"Ternyata selain tak punya tata krama terhadap yang lebih tua, kamu juga sangat tidak tahu diri ya." Ucapnya sembari menatap Ajimukti penuh kemarahan.
"Apa ada yang salah dengan ucapan saya tadi, Kyai?" Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya, selebihnya ia tetap tenang saat mengucapkan semua itu.
"Apalagi rencana kamu sekarang? Dulu kamu menyamar menjadi santri. Sekarang ingin melamar Habiba. Hah...! Benar benar tidak tahu diri kamu." Kyai Aminudin mengacungkan telunjuknya tepat ke arah Ajimukti.
"Saya tidak ada rencana apapun, Kyai. Apa menurut Kyai pernikahan bisa sebagai mainan?" Ajimukti berkata sembari mengangkat kedua tangannya setinggi pundak.
"Hah, hentikan bualan konyol kamu itu. Dan jika sudah selesai omong kosong kamu itu. Segera tinggalkan rumah ini?" Ucap Kyai Aminudin dengan nada yang sangat angkuh.
"Kyai mengusir saya?" Tanya Ajimukti mengarahkan pandangannya pada Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin mendengus.
"Bagaimana, Kyai? Kyai menerima lamaran saya pada Habiba atau menolaknya?" Ajimukti seolah memaksa Kyai Aminudin untuk menjawab dan seperti tak menghiraukan kemarahan Kyai Aminudin saat ini.
Nyai Sarah meraba punggung tangan Kyai Aminudin. Sebenarnya ia pun tahu bahwa Habiba juga sangat mencintai pemuda di depannya ini. Tapi ia tak dapat berkata apa apa saat ini.
"Saya akui, kamu cukup punya nyali untuk bicara seperti itu dihadapan saya." Kyai Aminudin kembali menatap tajam ke arah Ajimukti.
"Omong kosong!" Sahut Kyai Aminudin sedikit meninggikan suaranya.
"Tidak ada omong kosong disini, Kyai." Ajimukti masih tidak mau mengalah.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu Habiba mau sama kamu? Hah...?" Kyai Aminudin masih meninggikan suaranya.
Ajimukti tersenyum, "Kenapa saya harus menunggu Habiba mau? Bukankah waktu Kyai hendak menjodohkan Habiba dengan Mas Budi juga tanpa persetujuan Habiba?"
Kyai Aminudin kembali tersedak, "Kamu! Hentikan bualan kamu itu! Kamu menyindir saya?" Kyai Aminudin kini mulai sedikit membentak Ajimukti.
"Tenanglah, Bah." Nyai Sarah hanya bisa mencoba menenangkan suaminya sebisanya.
"Kamu tanyakan pada Habiba, dan saya pastikan Habiba pun tidak akan sudi menerima lamaran omong kosong kamu ini!" Kyai Aminudin menyeringai.
Ajimukti tersenyum lebar, "Maaf, Kyai. Apakah ketika kita membeli seekor kambing, kita harus bertanya pada kambing itu, apakah mau kita beli atau tidak? Bukankah kita hanya akan bernegosiasi dengan pemilik kambing itu ya, Kyai?" Ucapnya kemudian.
"Kamu! Jaga bicara kamu! Kamu menyamakan Habiba dengan seekor kambing? Kurang ajar!" Kyai Aminudin hampir bangun dari duduknya dan menunjuk tepat di depan wajah Ajimukti, tapi Nyai Sarah kembali menahannya.
"Bukan begitu maksud saya, Kyai. Itu hanya perumpamaan saja. Tapi bukan kah benar perumpamaan saya itu?" Ajimukti masih tidak merubah posisinya, ia masih setenang tadi.
Nyai Sarah seketika itu sadar, apa yang di ungkapkan Ajimukti hanyalah membalik sikap suaminya ketika akan menjodohkannya dengan Budi kala itu. Tapi ia pun tidak menyangkan bahwa Ajimukti akan seberani ini berbicara.
"Sudah! Hentikan ocehanmu. Bahkan jika Habiba pun mau, saya tidak akan pernah Sudi menerima kamu sebagai menantu saya? Anak kurang ajar seperti kamu, mana pantas untuk Habiba." Kyai Aminudin meradang, raut wajahnya dipenuhi amarah.
"Kenapa baru sekarang Kyai merasa Habiba berharga dan tidak pantas urusan perasaannya dinegosiasikan? Kemana hati nurani Kyai ketika Kyai memaksa Habiba menerima lamaran Budi saat itu?" Ajimukti kini tak tanggung tanggung memojokkan Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin seketika hanya bisa memandang tajam ke arah Ajimukti, wajahnya diselimuti amarah, rahangnya terlihat mengeras dan tegas.
__ADS_1
Ajimukti menghela nafas, "Yasudah, Kyai. Saya meminta maaf jika ucapan saya kali ini banyak menyinggung perasaan Kyai. Saya sudah laduk sama Kyai. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin saya sampaikan, saya pamit, Kyai." Ucapnya sembari berdiri.
"Tunggu!" Kyai Aminudin tiba tiba menahan Ajimukti ketika baru akan berdiri. Ajimukti pun kembali terduduk.
"Saya tahu ucapan kamu tadi tidak serius, kamu hanya berniat membalas perlakuan saya kepada Habiba waktu itu." Ucap Kyai Aminudin kemudian. Ajimukti memandang Kyai Aminudin, dan kemudian sebuah senyum pun mengembang di wajahnya.
"Untuk satu itu, saya sudah menyadari kesalahan saya. Entah kamu percaya atau tidak. Tapi saya menyadari, Habiba adalah satu satunya harta yang saya punya saat ini. Jadi apapun yang membuat Habiba bahagia, restu saya ada di dalamnya." Lanjutnya kemudian.
Ajimukti hanya menghela nafas, ia ingin mendengar apa yang akan Kyai Aminudin ungkapkan selanjutnya.
"Sebagai bapaknya Habiba, meski selama ini saya menutup mata dan menampiknya, tapi saya pun tahu Habiba sejak awal sudah menyimpan perasaannya padamu. Jadi jika kelak ucapan kamu ini sudah benar benar sebuah ungkapan yang serius tidak sekedar untuk memukul saya, sampaikan itu langsung pada Habiba, dan ingat jangan samakan Habiba seperti kambing." Kyai Aminudin kembali melanjutkan kata katanya.
Ajimukti tersenyum, Nyai Sarah pun juga tersenyum, ia tak menyangka suaminya akan berkata seperti itu. Ternyata apa yang terjadi, sudah mampu melunakkan keras hati Kyai Aminudin.
"Boleh saya menyela?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Hmmm... Katakan!"
"Apakah Kyai tidak bisa mempertimbangkan permintaan awal saya tadi?" Tanya Ajimukti mengingatkan Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin tersenyum, raut wajahnya yang tadi diselimuti amarah, kini berangsur angsur terlihat teduh.
"Saya sudah cukup nyaman disini. Saya tidak mau dipusingkan dengan dunia pesantren. Saya yakin, jika ada ilmu saya yang bermanfaat, tidak harus di pesantren pun saya bisa mengamalkannya." Sahutnya kemudian.
Ajimukti mengangguk paham, "Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan, Kyai. Saya tidak bisa memaksa."
"Berapa lama Kyai Aminudin mengontrak rumah ini?" Tanyanya kemudian.
Kyai Aminudin menghela nafas dan desah nafasnya yang berat begitu terdengar.
"Tidak lama. Hanya menunggu Habiba selesai di pesantren." Sahutnya datar tanpa ekspresi.
"Setelah itu?" Ajimukti memburu.
Kyai Aminudin terdiam, pandangannya sedikit kosong.
"Entahlah, Nak Aji. Mungkin kami akan pindah ke kampung halaman Abah. Karena disini saya sudah tidak ada tempat tinggal. Rumah kami peninggalan bapak saya juga sudah saya jual." Nyai Sarah menyela.
Ajimukti mengangguk ringan. Ia tidak ingin terus melempar pertanyaan yang akan menyudutkan Kyai Aminudin dan Nyai Sarah saat ini.
"Baiklah, Kyai, Nyai. Sepertinya saya harus sudah undur diri. Sekali lagi saya minta maaf jika ada kata kata saya yang menyinggung." Ajimukti kini berdiri dan segera menyalami Kyai Aminudin. Kyai Aminudin tak menolak ketika Ajimukti mencium punggung tangannya.
Setelah itu Ajimukti pun undur diri dari rumah kontrakan Kyai Aminudin dan kembali ke rumah Gitun. Di rumah Gitun Ajimukti segera dilempari berbagai pertanyaan, terutama dari Manan juga Sobri.
"Pak Suko, apa saya bisa minta tolong sekali lagi pada Pak Suko." Tanya Ajimukti pada saat mereka sudah selesai dengan pertanyaan pertanyaannya pada Ajimukti.
"Apa, Mas Aji. Katakan saja! Jika saya bisa, tentu saya akan senang bisa membantu." Sahut Suko kemudian.
"Tentu Pak Suko tahu siapa pemilik rumah yang dikontrak Kyai Aminudin itu kan?" Tanya Ajimukti kemudian.
Suko mengangguk, "Tahu, Mas. Ada apa memangnya?" Tanya Suko penasaran, yang lain pun mengalihkan pandangan ke arah Ajimukti dengan juga penuh rasa penasaran.
"Saya ingin menawar rumah itu untuk saya beli sebagai rasa terima kasih saya pada Kyai Aminudin. Sepertinya Kyai Aminudin dan Nyai Sarah betah tinggal di kampung ini." Ucap Ajimukti kemudian.
Mendengar itu, seketika yang berada di ruangan itu sedikit terkejut dengan apa yang akan Ajimukti lakukan.
Bersambung...
__ADS_1