
Khalil dan Imam masih diposisi semula. Belum bergeser dari tempatnya mematung. Jangankan beranjak, untuk beralih posisi saja lutut mereka sudah lemas rasanya. Seolah seluruh darah ditubuh mereka berhenti dari alirannya.
Ajimukti kini kembali berdiri dihadapan mereka. Tangannya merogoh sesuatu dari balik saku koko nya. Apalagi kalau bukan rokok.
Ajimukti mengambil sebatang lalu menyalakannya. Angin yang silir semilir membuatnya harus menutup ujung batang rokoknya agar korek apinya mau menyala.
Pelan perlahan penuh kenikmatan Ajimukti menghisap sebatang rokok yang kini terselip diantara mulutnya. Dan Bussssh!!! Asap mengepul dari sana.
Ajimukti mengamati ekspresi kedua pemuda di depannya itu. Posisinya masih belum berubah. Stabil dalam perdiaman. Hanya sikut mereka yang saling memberi kode, entah apa maksudnya.
Dalam posisi berdiri, Dullah yang sejak tadi hanya diam mengamati keseruan itu kini menyandarkan punggungnya ke batang pohon mangga tempat mereka saat ini.
"Ada apa mas mas senior?" Tanya Ajimukti kemudian. Mereka saling beradu tatap. Tidak ada jawaban dari keduanya.
"Kenapa baru satu hadits saja sudah membuat kalian berdua gemetaran? Kalian kan senior? Bahkan kalian bertiga khodam Kyai Aminudin. Santri kepercayaan ndalem." Lanjut Ajimukti. Mereka hanya masih diam mendengar itu.
"Oh iya. Ngomong ngomong Budi kemana, Mas? Kok dari kemarin siang saya tidak melihatnya. Bukankah kemana mana kalian selalu bertiga?"
"Itu. Emmm. Anu. Budi... Budi sedang kurang. Kurang enak badan." Jawab Khalil terbata. Mulutnya gemetaran.
"Sakit?" Tegas Ajimukti.
Khalil dan Imam hanya mengangguk lemah.
Ajimukti tersenyum lalu kembali menghisap sisa rokoknya.
"Saya hanya heran saja. Kenapa sebagai senior yang harusnya bisa sebagai contoh untuk para junior justru bersikap seperti ini. Maaf, Mas. Bukan maksud saya ingin menghakimi panjenengan berdua. Tapi seperti yang kalian lihat. Tampang seperti saya mah tahu apa." Ajimukti kembali menghisap rokoknya.
"Dari kemarin saya diam bukan berarti saya tidak bisa bicara, Mas. Saya ingin ngajeni panjenengan sebagai senior saya. Bagaimana pun saya di dunia pesantren bisa dibilang anak kemarin sore. Datang kesini seperti anak ugal ugalan. Tapi tidak semestinya sebagai seorang santri, apalagi santri senior yang tentunya sudah banyak makan asam garam ilmu agama bersikap seperti yang selama ini kalian tunjukan pada kami." Lanjut Ajimukti.
"Bukankah Rasulullah sudah berwasiat kepada kita melalui Sahabat Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, Laa tasubbanna ahada, janganlah engkau menghina seorang pun!" Ajimukti terus menyudutkan mereka berdua dalam posisi mati kutu.
"Yaa ayyuhal-ladzina aamanuu, Laa yaskhar qaumun min qaumin'asa an yakuunuu khayram-minhum....ila akhiri ayat. Itu surat Al Hujurat ayat 11 yang sebenarnya. Kalian pasti tahu apa artinya tanpa harus saya bacakan. Saya tidak mau dibilang riya' dan tidak menghargai senior." Ucap Ajimukti kemudian.
Jleb! Khalil dan Imam berubah ekspresi wajahnya. Kini terlihat makin masam mendengar Ajimukti membacakan ayat itu dengan suara merdunya, begitu tartil, lancar dan tanpa sedikit pun ada mahroj yang salah.
__ADS_1
Ajimukti menyadari itu. Ia tidak ingin semakin membuat kedua seniornya semakin gelagapan.
"Yaa ayyuhal-ladzina aamanuujtanibuu katsiiran minadhdhanni inna ba'dhadh-dhanni itsmu, itu yang di ayat selanjutnya kalau tidak salah. DON’T JUGDE THE MAN FROM THE COVER. Tapi..." Ajimukti menghentikan ucapannya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah mereka.
"Seruan itu untuk mereka yang beriman..." Lanjutnya kemudian lalu memberi kode kepada Dullah dan melangkah meninggalkan Khalil dan Imam yang masih konsisten dalam kekakuan.
Sebelum berlalu mengekor Ajimukti. Dullah sempat menepuk pundak Khalil. Membuat Khalil semakin terlihat gemetaran.
"Dondong opo salak, duku cilik cilik. Ngandong opo mbecak, mlaku timik timik." Dullah berlalu mengikuti langkah Ajimukti sambil mendendangkan lagu anak anak Jawa. Ajimukti hanya tersenyum mendengar pengasuhnya itu bernyanyi seolah memang sedang benar benar bahagia suasana hatinya.
Dan bukan tanpa maksud Dullah mendendangkan tembang dolanan itu. Itu sebuah pukulan jika saja mereka mampu menguliti kata disetiap tembang karya Kris Biantoro itu.
Untuk beberapa saat, susanana hening. Khalil dan Imam masih terpaku berdiri mematung disana. Dibawah pohon mangga yang besar itu. Jantung mereka berdebar. Masih gemetaran meski Ajimukti sudah tidak ada disana.
Menyadari Ajimukti sudah benar benar berlalu. Khalil menarik nafasnya, mencoba mengembalikan konsentrasinya. Pun dengan Imam, ia pun terlihat menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannnya kuat kuat.
"Buset. Makan apa sih itu anak?" Ucap Khalil kemudia lalu menjatuhkan tubuhnya bersandar ke batang pohon mangga itu. Imam pun terduduk.
"Kesambet kali, Lil." Celetuk Imam.
"Bisa bisanya kita yang senior di skak matt kayak tadi." Khalil menggerutu.
"Kita pikirkan cara membuat anak itu tahu dan membuka matanya lebar lebar siapa kita ini. Mau main main kok sama santri senior kayak kita."
"Betul, Lil. Kita kasih tahu Budi juga. Dia harus tahu ini.".
"Bisa makin ngelonjak itu anak kalau kita diamkan. Baru dua hari saja sudah berani guruin kita." Imam masih terus menggumam.
Tak berselang lama mereka beranjak dari tempat itu. Wajah merah padam mereka dan ekspresi penuh emosi benar benar terpancar jelas dari raut wajah keduanya.
Sementara itu ditempat Ajimukti berada saat ini. Disebuah kamar yang tidak terlalu luas. Ajimukti menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Ada yang masuk nggak ya lek ucapan saya tadi?" Gumam Ajimukti kemudian. Dullah yang baru melepas kancing baju koko nya, duduk di samping kaki Ajimukti yang terbujur.
"Harusnya sih masuk, Mas. Pukulan banget itu tadi.".
__ADS_1
" Ya, mudah mudahan setelah ini mereka bisa sedikit menghargai orang lain, Lek."
"Tapi jujur, Mas. Melihat ekspresi mereka tadi saya puas sekali."
Ajimukti hanya tersenyum.
"Kalau mereka punya malu. Besok besok pasti sudah menutup wajah mereka kalau ketemu kita lagi, Mas." Lanjutnya.
"Pelan pelan kita pasti bisa memukul mereka tanpa harus menggunakan kepalan tangan, Lek."
"Iya, Mas. Kalau saya sendiri. Uh, sejak awal sudah saya cincang itu anak anak. Sudah saya krawu mulut pedas mereka." Dullah terlihat menggemaskan ketika mengucap itu.
Ajimukti tertawa. Lalu tiba tiba terbangun dari rebahannya membuat Dullah kaget.
"Ada apa, Mas?"
"Saya lupa sesuatu, Lek."
Dullah mengerutkan keningnya. "Ada apa, Mas?"
"Saya lupa bilang sama Kang Hamid untuk sementara waktu ba'dalin Kang Marwan ngajar fiqihnya kelas tiga, Lek."
Dullah tertawa. Ajimukti kini yang gantian mengerutkan keningnya.
"Kok Lek Dul tertawa. Ada apa, Lek?"
Dullah malah geleng geleng kepala, semakin membuat Ajimukti penasaran.
"Semua sudah saya atur, Mas. Mas tenang saja. Fathul Mu'in, Lubbul Ushul, Faro'idul-Bahiyah, bukan Kang Hamid yang handle selama Kang Marwan pulang kampung, tapi Kang Harun. Soalnya saya pikir nanti kasihan Kang Hamid kalau harus ngajar fiqih dua kelas. Sementara Kang Harun kan hanya Mabadi' kelas satu. Jadi saya pikir lebih banyak waktu. Ya meski begitu saya juga sudah bilang sama Kang Hamid untuk bantu bantu Kang Harun, Mas."
Ajimukti tampak menarik nafas lega.
"Sampeyan pancen ngeten, Lek." Sambil memberikan jempolnya kearah Dullah.
Dullah hanya tersenyum dan kembali geleng geleng kepala.
__ADS_1
Dullah melanjutkan melepas baju koko nya. Untuk sesaat suasana kembali hening sampai sebuah ketukan pintu memecah keheningan kamar itu.
Bersambung...