BROMOCORAH

BROMOCORAH
Obrolan Jaman Edan


__ADS_3

Sore ini, Ajimukti sedang menemani Manan jalan jalan di sekitar perkampungan tak jauh dari pesantren Fadhlun Muthoriq.


"Nikmati dulu, Nan. Besok kita mesti balik ke Pondok Hidayah." Ucap Ajimukti pada kesempatan itu.


"Rasanya masih betah disini, Jik. Selain tempatnya asri, warga sekitaran juga ramah, selain itu Kang Kang Santri disini semuanya pinter pinter ngajinya, jadi bisa nambah wawasan saya." Sahut Manan kemudian.


Ajimukti kemudian tersenyum, "Apa kamu tinggal disini saja, Nan?" Ucapnya dari senyum kemudian sedikit tertawa.


"Waduh, nggak ada kamu bisa keok saya, Jik. Plonga plongo." Manan pun kemudian ikut tertawa.


"Saya harus banyak ngeruk ilmu dari kamu ini, Jik. Biar ketularan pinter kayak santri santri disini." Imbuh Manan setelahnya.


Ajimukti lagi lagi tersenyum, "Nggak usah jadi orang pinter, Nan. Cukup jadi orang paham saja."


"Kok gitu, Jik?" Manan sedikit mengerutkan kening.


"Kalau jadi orang pinter, kalau sudah pinter, kemungkinan minteri yang lain ada. Tapi kalau orang paham, semakin dia paham, semakin bisa mahami yang nggak ngerti." Jelas Ajimukti


Manan kemudian mengangguk, "Kamu benar, Jik. Kamu itu memang selalu punya pemikiran yang jauh dan susah ditebak." Puji Manan kemudian.


Ajimukti hanya menaikkan sedikit bibirnya juga alis matanya. "Kita duduk disana dulu, Nan." Ucapnya sembari menunjuk cakruk tempat biasa warga ronda kalau malam hari.


"Saya juga salut, Jik. Santri santri disini kalau malam pasti sregep sregepe eram tahajud. Saya saja kalau nggak bulan Ramadhan jarang tahajud." Ucap Manan sedikit malu sembari ikut duduk disebelah Ajimukti.


"Justru kamu itu tipe orang yang beruntung, Nan." Sahut Ajimukti sembari menyalakan sebatang rokok.


"Beruntung? Beruntung apanya, Jik? Kamu itu lho." Sahut Manan sembari geleng geleng kepala.


"Ya, beruntung tho? Disaat yang lain tahajud kamu bisa tidur ngleker." Ajimukti kini tertawa.


"Wah, kamu mengejek saya ya, Jik?" Manan memasang wajah cemberutnya kali ini.


"Tidak, Nan. Beneran. Kamu itu beruntung. Cuma kamunya saja yang nggak sadar." Ucap Ajimukti sembari menikmati hisapan demi hisapan rokok di tangannya.


"Nggak sadar piye tho, Jik?" Manan sedikit mengerutkan alis matanya.


"Kamu tahunya orang tahajud itu sregep ngibadahe tho?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ya jelas tho, Jik." Sahut Manan cepat.


Ajimukti tersenyum, "Padahal mereka itu rata rata takut sama siksanya Allah, bukan karena rindu Pengeran, karena banyak khilaf yang mereka lakukan sebelumnya, makanya mereka tahajud. Gawe njaluk pangapurane Gusti Ben gak keno azab suk mbene. Secara tidak langsung, bagi mereka, Allah itu menakutkan, ancaman, makanya kalau nggak merayu Allah, mereka bakal apes disananya. Beda sama kamu, kamu bisa tidur ngleker, karena kamu merasa aman dari azab-Nya Allah, enjoy nglakoni urip dan yakin bahwa Allah itu Maha Memberi Rahmat dan tidak akan menyiksa." Ucap Ajimukti sedikit cengengesan.


Manan yang mendengar itu pun sontak tertawa terbahak, "Ah, kamu itu, Jik. Ada ada saja."

__ADS_1


"Loh, kan ya memang harus gitu, Nan. Jaman akhir itu khusnudzon sama Pengeran itu hal sing wis luar biasa lho." Sahut Ajimukti lagi.


Lagi lagi Manan hanya bisa tertawa dengan ucapan Ajimukti itu.


"Jaman akhir, Nan. Ada orang ngaji bawa kitab itu sudah hebat. Ada orang ngaji ngrungokne thok itu juga wis hebat. Ada orang nggak paham, Datang ke Majelis itu juga sudah gini, Nan." Ucap Ajimukti sembari mengacungkan jempol ke arah Manan.


"Banyak itu, Jik." Sahut Manan sembari lagi lagi tertawa.


"Lha makanya itu, Nan. Kalau orang paham, datang ke Majelis itu wajar. Lha ini nggak paham tapi datang, kan luar biasa. Wayah ngguyu yo melok ngguyu, kan hebat namanya."


Manan masih dengan ekspresi seperti sebelumnya. "Penting urun ngguyu, Jik."


Ajimukti pun juga sembari tertawa ringan, "Pokoknya seneng, Nan. Kayak kata saya kemarin, laa khaufun 'alaihim, itu sifat wali." Ucapnya kemudian.


"Kalau bicara suasana hati, Jik. Itu sama dengan bicara kahanan, keadaan, Jik. Rata rata, orang nek wis kepentok kahanan, lupa rasanya senang itu bagaimana." Sahut Manan kemudian.


"Wajar, Nan. Kita susah karena memikirkan besok nasib anak kita bagaimana, nasib cucu cucu kita bagaimana, itu karena kita lupa, kita ada ya karena Gusti Allah, kita punya rezeki ya karena Allah. Nantinya, orang lain diluar sana banyak yang kaya, padahal bukan anak atau cucu kita, berarti yang menjadikan mereka kaya itu bukan kita. Tapi kadang kita sebagai manusia seakan akan menjadi pelaku sejarah. Kadang kadang kan banyak di sekitar kita tho, Nan. Susah karena mikir, nanti kalau anak cucu mereka tidak mereka tinggali warisan bagaimana? Padahal! Yang nggak punya warisan tapi kaya juga banyak tho? Itu karena manusia bukan siapa siapa, di depan aturan Allah, kita bukan siapa siapa. Yakin saja, ketika Rahmat Allah tidak terbatas, anak cucu kita juga tetap hamba Allah. Selama masih mengimani Allah, Allah itu Al Kaafi, Dzat Yang Mencukupi. Allah itu Ar Razziq, Dzat Yang Memberi Rezeki." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kamu benar, Jik. Manusia seperti kita, kadang lebih senang menyimpan drama dengan cara mengeluh dan mengeluh saja. Senang bersandiwara dalam kekhawatiran. Padahal mereka punya Allah." Sahut Manan kemudian.


"Iya, Nan. Padahal Allah itu kalau punya sifat itu Sifatun Lazimatun, sifat yang berkelanjutan dan permanen, karena Allah itu Al Baqi, Dzat Yang Baqa', kekal, terus menerus. Ketika Allah mensifati Dirinya Ar Razziq, Dzat Yang Memberi Rezeki, orang dari jaman Nabi Adam sampai kiamat akan tetap mendapat rezeki, karena yang punya sifat itu Allah, bukan menteri keuangan, Nan." Ucap Ajimukti sembari menepuk lutut Manan.


Manan lagi lagi hanya tertawa.


"Itu sama seperti ketika Allah mensifati Dirinya Al Hadi, Dzat Yang Memberi Petunjuk, Nan. Maka agama ini pernah ditinggal Akromunnas, Khoirunnas yaitu Rasulullah, pernah ditinggal sahabat Khoirul Qurun, pernah ditinggal Wali Songo, sekarang agama di di pegang Modin, utusan dari Kemenag yang mengurusi agama karena digaji, dipegang mubaligh yang keras menyuarakan agama mergo disalami templek yo akeh. Tapi toh agama tetap jalan, padahal yang membawa sudah tidak ada yang ideal. Tapi sekali lagi, Nan. Allah itu Al Hadi, yang memberi petunjuk itu tetap Allah. Jadi apapun kasusnya, Nan. Agama tetap akan ada karena Allah selalu akan memberi petunjuk." Ajimukti menekan diakhir ucapannya.


Manan mengangguk.


"Tapi sekarang ngenes, Jik. Sekarang agama kayak cuma bahan pansos, glamourisme sosialita, seperti ajang persaingan. Dan... Ya macam macam lah. Seperti yang kamu tahu sendiri, Jik." Sahut Manan.


Ajimukti tertawa, "Wis Ben, Nan. Mungkin mereka ahli tasawuf, jadi gak tekan orang orang kayak kita ini mengikuti trend semacam itu."


"Apa iya gitu ya, Jik?" Manan pun ikut tertawa.


"Yang penting khusnudzon saja, Nan." Imbuh Ajimukti.


"Bagaimana bisa khusnudzon, Jik. Kamu lihat saja di media manapun. Gadis gadis sekarang, biyuh biyuh! Jilbaban sih jilbaban, tapi stylenya, kaos super ketat, sampai semua tonjolan, lekukan kelihatan semua, apa itu nggak sama saja bohong, Jik?" Manan terkekeh.


"Ya, trend, Nan. Jaman edan. ora melu ngedan ora uman." Sahut Ajimukti lagi.


"Kasihan si trend, Jik. Di jadikan kambing hitam terus. Nanti di mintai pertanggung jawaban, plonga plongo." Manan terkekeh.


"Anggap saja mereka sedang sedekah, Nan. Mubadzir kalau di sia siakan. Rezeki kan Sangkan Paran." Ajimukti pun ikut terkekeh.

__ADS_1


"Sedekah kok aurat, Jik Jik." Manan geleng geleng.


"Namanya juga kimcil syari'ah, Nan." Ajimukti terkekeh, Manan yang mendengar sontak tertawa lebar.


"Iman kuat, Jik, Si Imran yang nggak kuat." Sahut Manan diantara tawanya.


"Tergantung orangnya, Nan. Kamu tahu Bali kan? Kamu tahu bagaimana di Bali. Sak kedepan moto sawangane wong udo, tapi Di sana juga banyak lho para alim yang ngajinya khusyuk. Sementara disini yang nggak ada yang kayak di Bali, tapi ngajinya nggak khusyuk juga nggak sedikit. Gimana itu?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan menaikkan bola matanya, lalu mengangguk.


"Itu kan tergantung kitanya kan, Nan?" Tanya Ajimukti mempertegas.


"Iya, Jik. Kamu benar." Sahut Manan kembali mengangguk.


"Yasudah kita kembali ke pesantren, Nan. Sebentar lagi manjing Maghrib." Ajak Ajimukti kemudian berdiri dari duduknya.


Ajimukti dan Manan pun meninggalkan cakruk itu. Sesekali masih terdengar tawa mereka melanjutkan perbincangan hingga sampai masuk ke area pesantren Fadhlun Muthoriq.


"Dari mana, Bu?" Tanya Ajimukti begitu berpapasan dengan Nyai Kartika di depan pintu ndalem.


"Ini beli oleh oleh. Sibu nitip ya, buat Pak Lek mu Prastowo sama Pak Lek mu Anggoro. Sama sekalian buat Kyai Aminudin." Ucap Nyai Kartika sembari menunjukkan beberapa bungkus barang dalam plastik hitam besar.


"Itu apa, Bu?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Hanya oleh oleh, Le. Sudah pokoknya besok kamu bawa saja." Ucap Nyai Kartika lagi.


Ajimukti hanya mengangguk.


"Oh iya, Le. Nanti Sibu juga mau nitip buat gendhuk." Ucap Nyai Kartika lagi sembari masuk ke dalam.


"Gendhuk?" Ajimukti mengerutkan keningnya.


"Oh, maksud Sibu. Habiba, Le." Sahut Nyai Kartika.


"Nitip apa, Bu?" Tanya Ajimukti menyusul Nyai Kartika.


"Nanti saja Sibu kasih lihat sekalian." Sahut Nyai Kartika sembari menata titipannya untuk dibawa Ajimukti besok.


Ajimukti sekali lagi hanya bisa mengerutkan kening.


"Apa yang mau Sibu berikan pada Habiba?" Batin Ajimukti dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2