BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sandiwara Ajimukti


__ADS_3

Ajimukti berdiri memandang Khalil dan Imam yang terlihat salah tingkah. Tangannya bertolak pinggang. Sementara yang diamati malah semakin terlihat gemetaran.


Manan dan Dullah yang mendengar keributan diluar segera beranjak dari duduknya. Setelah tahu apa yang terjadi diluar kamar, Dullah dan Manan hanya berdiri di ambang pintu kamar Ajimukti.


"Mari masuk kedalam. Kita ngobrol didalam saja sambil ngopi." Ajak Ajimukti kemudian dengan setengah membungkuk.


"Anu. Anu. Emmm. Kita tidak biasa ngopi." Ucap Khalil berusaha menolak.


"Iya. Be...benar kata Khalil. Kita tidak biasa ngopi." Imbuh Imam.


"Sudahlah. Kopi buatan Pak lek ku rasanya bikin ketagihan. Mas mas senior harus cobain. Kan tida baik menolak rejeki. Iya kan?" Ajimukti kini memaksa.


Mereka pun akhirnya bangun dari tempatnya dan menurut saja ketika Ajimukti mengajak mereka masuk.


Didalam kamar mereka seperti masuk kedalam tungku. Keringat dingin mengalir dari kening keduanya. Tubuh mereka kaku membatu. Gemetaran dan bibir pun rasanya kelu.


Dullah segera membuatkan mereka kopi setelah Ajimukti memberinya kode. Sementara Manan hanya diam tak acuh bersandar pada tempat tidur dikamar itu sambil menikmati sisa rokoknya.


"Ketemu tidak yang dicari, Mas?" Tanya Ajimukti kemudian.


Khalil dan Imam saling sikut. Saling melempar pandang.


"Be...belum." Khalil dengan terbata menjawab pertanyaan Ajimukti.


Dullah tak lama datang membawa dua gelas kopi untuk mereka.


"Monggo ngopi dulu, Mas. Mumpung masih panas. Mantap lho ini. Racikannya pas." Ajimukti mempersilahkan mereka setelah gelas kopi disodorkan Dullah ke hadapan mereka.


Mereka hanya diam tertunduk. Ajimukti menyadari itu, ekspresi ketakutan dari kedua seniornya itu.


"Oh iya, Manan. Tadi kita sampai mana ya?" Ucap Ajimukti pada Manan.


Manan melongo. Ia tidak tahu apa maksud pertanyaan Ajimukti. Sepertinya dirinya dan Ajimukti sedang tidak membahas apa apa selain soal bapaknya yang akan kesini.


Ajimukti menyadari Manan gagal paham akan pertanyaannya. Ia lantas memberi kode dengan mengedipkan matanya ke arah Manan. Manan paham sesuatu.


"Oh, itu tadi. Apa ya, Jik. Aku juga lupa." Manan garuk garuk kepala seolah ia benar benar lupa.


"Wah kamu ini. Kurang fokus. Kurang Konsentrasi. Minum dulu gih." Celetuk Ajimukti.


Manan hanya terkekeh.

__ADS_1


"Oh iya, aku ingat, Nan. Soal yang Hadits Riwayat Bukhori nomor 7042 kalau tidak salah."


Manan lagi lagi melongo. Lagi lagi ia hanya garuk garuk kepala. Tapi ia berusaha mengimbangi arah bicara Ajimukti.


"Iya itu, Jik." Sahutnya.


"Itu kalau tidak salah yang dari Ibnu 'Abbas RA kan, Nan?" Lanjut Ajimukti.


"Emmm." Manan seolah olah sedang berfikir. Ditaruhnya jari jempol dan telunjuknya di dagu. Lalu mengangguk angguk perlahan.


"Wamanistama'a ilaa hadisin qaumin wahum lahu kaarihuna au yafirruuna minhu, shubba fii udzunihi ilaanuku yaumal-qiyaamah, gitu kan Nan kalo tidak salah isinya?"


Manan menelan ludah lalu menahan tawa dengan menutup mulutnya. Ia tahu sekarang arah sandiwara Ajimukti.


"Terus artinya apa, Nan."


Manan menegakkan tubuhnya, sebelum bicara ia meraih kembali gelas kopinya. Meneguknya sekali lalu meletakkannya kembali.


"Barang siapa menguping pembicaraan orang lain, sedangkan mereka tidak suka ;kalau pembicaraannya didengarkan selain dari mereka, maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga meleleh pada Hari Kiamat. Hiii" Ucap Manan kemudian dengan suara lirih.


Seketika ekspresi wajah Khalil dan Imam memucat. Mereka masih tertunduk. Terdengar mereka pun menelan ludah. Sementara keringat masih terlihat membanjir dari pori pori dahi mereka.


Ajimukti tersenyum, mwngarahkan pandang kearah Manan dan mengerakkan kedua alisnya. Manan pun hanya kembali bersandar pada tempat tidur di kamar itu.


"Banget, Lek Dul." Imbuh Manan.


"Makanya hindarilah menguping. Diam diam dosanya, Masya Allah." Timpal Ajimukti.


"Ghibah juga, Jik." Imbuh Manan lagi.


"Uhhh, apalagi itu, Nan. Jangan tanya."


"Di surat Al Hujurat ayat 12 sudah jelas, Jik. Bagaimana Allah menggambarkan ghibah. Itu sama dengan memakan daging saudaranya sendiri. Na'udzubillah pokoknya, Jik."


"Na'udzubillah lah, Nan."


Diam diam Ajimukti mengarahkan pandang ke arah Khalil dan Imam yang belum berubah posisi. Mereka tampak semakin gemetaran mendengar sindiran sindiran halus Ajimukti dan Manan.


"Kopinya lho, Mas. Keburu dingin nanti." Ajimukti kembali mempersilahkan Khalil dan Manan. Mereka hanya mengangguk.


"Kalau disini itu ya gini ini, Mas. Santai. Jangan sungkan pokoknya. Apalagi mas mas ini kan senior kami. Kami harus bisa tawaduk pada senior. Ya kan, Mas." Imbuh Dullah kemudian.

__ADS_1


Mereka hanya saling sikut.


"Monggo dinikmati kopinya. Ini kalau mau merokok." Ajimukti menyodorkan rokoknya juga ke arah mereka. Membuat mereka semakin mati kutu dihadapan Ajimukti, Dullah dan Manan.


Tak berselang lama suara adzan ashar berkumandang dari pengeras suara di masjid. Khalil dan Imam tampak saling pandang. Dalam hati mereka berfikir akhirnya bisa mencari alasan untuk sesegera mungkin pergi dari kamar Ajimukti dan terbebas dari rasa yang seperti di dalam oven ini.


"Alhamdulillah adzan, Jik. Lega rasanya ya, Jik?" Sindir Manan. Ajimukti tersenyum kecut. Sementara yang disindir hanya menelan ludah.


"Iya, Nan. Eh Mas Khalil Mas Imam. Monggo kopinya diminum dulu terus kita ke masjid. Sayangkan sudah dibuatin Lek Dul kalau tidak diminum." Untuk kesekian kalinya Ajimukti mempersilahkan Khalil dan Manan meminum kopinya.


Kali ini Khalil mengiyakannya. Diraihnya gelas kopi itu dan meneguknya sekali. Begitu juga Imam.


"Bagaimana? Mantap kan kopi buatan Lek Dul?" Ucap Ajimukti setelah Khalil meletakkan gelas kopinya.


"I...iya. Mantap." Sahut Khalil.


"Racikannya pas." Imbuh Imam.


Ajimukti tersenyum. Ia tahu ucapan mereka tidak sungguh sungguh. Hanya agar mereka bisa segera pergi dari kamar itu.


"Yasudah ya. Ka...kami. Duluan ke. Ke masjidnya." Ucap Khalil kemudian seraya beranjak dari duduknya diikuti Imam. Lutut mereka gemetaran. Jelas sekali terlihat.


"Silahkan, Mas. Tidak enak juga kan kalau santri senior datang ke masjid terlambat." Lagi lagi Ajimukti menyinggung soak kesenioran mereka berdua.


Khalil dan Imam hanya mengangguk dan dengan kaki masih gemetaran mereka tergopoh gopoh keluar dari kamar Ajimukti.


Begitu diluar kamar, setengah berlari mereka pergi meninggalkan kamar Ajimukti.


"Kamu ini, Jik Jik. Ada ada saja." Gumam Manan setelah mereka berlalu.


"Sekali sekali, Jik."


"Tapi tunggu, Jik." Manan mendekatkan wajahnya kearah Ajimukti membuat Ajimukti sedikit risih dengan sikap Manan itu.


"Bagaimana kamu bisa sangat hafal dengan hadits tadi. Begitu lancar bahkan." Ucap Manan kemudian.


Ajimukti tanga garuk garuk kepala belakangnya dan sedikit nyengir.


"Aku sengaja hafalin buat yang kondisi seperti ini, Nan. Itu juga aku browsing di Google kok." Ajimukti berkelit bahkan pada Manan.


Manan menatap curiga. Dia merasa tidak mungkin itu hasil browsing seperti kata Ajimukti. Tidak mudah bagi Manan percaya begitu saja setelah melihat yang barusan terjadi. Tapi untuk kali ini Manan berusaha mengiyakan meski hatinya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Ajimukti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2