
Malam ini selepas Isya' di kediaman Prastowo. Ajimukti, Sobri, Manan dan Prastowo sendiri sedang duduk di ruang tengah. Di atas meja tepat di depan mereka, dari cangkir cangkir kopi di hadapan mereka, masih mengepulkan asap dan menyerbakkan aroma harum kopi hitam.
Suara tawa dan perbincangan sesekali terdengar dari mulut yang lebih sering mengepulkan asap rokok di tangan mereka. Bahkan asbak besar di meja itu hampir penuh dengan abu dan puntung rokok dengan berbagai merk.
"Warsito? Siapa Warsito itu sebenarnya? Kenapa saya baru mendengarnya?" Gumam Ajimukti ditengah tengah perbincangan di ruang tengah kediaman Prastowo itu.
Prastowo pun hanya sesekali menggaruk garuk janggutnya.
"Saya pun tidak tahu, Mas. Baron hanya tahu namanya saja. Soal ada dendam apa dengan sampeyan, Baron ketika menerima tugas itu tidak mau tahu. Bagi orang orang yang bekerja seperti Baron yang terpenting bagi mereka adalah bayaran yang besar." Prastowo menjelaskan.
"Saya pun tidak habis pikir, Lek Pras. Ternyata Bos preman preman itu adalah rekan sampeyan dan bapak semasa muda dulu." Imbuh Sobri sedikit menyela.
"Benar, Sobri. Dan yang kamu hadapi kemarin itu Suko, adiknya Dasman. Dulu, sewaktu ikut Kang Salim, Suko baru berumur enam belas tahun, paling muda diantara kami. Dia putus sekolah karena saking nakalnya. Suka malak, memukul teman di sekolah bahkan gurunya sendiri, oleh karena itu dia akhirnya di keluarkan dari sekolah." Kenang Prastowo mengingat tentang masa lalu Suko.
"Sewaktu berakhirnya masa masa kenakalan kami dulu, Baron juga Suko, yang saya dengar mereka berdua ke Surabaya, katanya kerja disana. Tidak tahunya, saat kematian Dasman dan yang mempertemukan kami kembali. Ternyata mereka kembali melebarkan sayap disana." Prastowo melenguh.
"Jadi mereka di kota ini hanya karena tugas ini, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Tidak, Mas. Setelah kematian Dasman. Suko mengontrak tak jauh dari rumah Almarhum Dasman. Karena saat Dasman meninggal, anaknya Dasman masih berumur sekitar lima tahun, dan satu satunya keluarga Dasman hanya Suko. Tapi, lima tahun setelahnya, istri Dasman menikah lagi, anaknya Dasman itu tidak bisa menerima pernikahan ibunya dengan laki laki lain, lalu diam diam minggat dari rumah." Cerita Prastowo.
"Sementara Baron sendiri, baru beberapa tahun terakhir kembali ke kota ini, dan mengibarkan sayapnya di kota ini. Itulah kenapa kemarin saya berinisiatif mendatangi Baron. Tapi sungguh diluar dugaan, ternyata kedatangan saya justru membuka semua permasalahan ini." Prastowo melanjutkan ceritanya.
"Berarti memang bukan Kyai Aminudin dalang di balik semua penyerangan ini." Manan menyela cerita Prastowo.
"Belum tentu juga, Nan. Bisa jadi, Warsito pun ada kaitannya dengan Aminudin. Bisa jadi, Warsito juga hanya orang suruhan Aminudin." Prastowo berpendapat.
Manan dan Sobri hanya mengangguk menerima pendapat Prastowo itu.
"Kita tidak bisa menuduh dulu, Lek. Maaf. Tapi kita akan tahu semuanya setelah kita menemukan orang yang bernama Warsito itu, juga menemukan alamat Kyai Aminudin." Potong Ajimukti.
"Saya kemarin juga sudah meminta bantuan Baron untuk membantu mencari tahu alamat Aminudin, Mas." Sahut Prastowo kemudian.
"Terima kasih, Lek." Balas Ajimukti setelahnya.
Sementara itu di tempat yang lain dengan jarak cukup jauh dari Pondok Hidayah. Sebuah mobil sedan hitam menepi dan berhenti di tepi jalan dekat dengan pagar bambu yang hampir mengelilingi seluruh halaman di pinggir jalan dekat mobil itu berhenti.
Dari dalam mobil, seorang pria dengan postur tinggi tegap dengan potongan rambut cepak seperti tentara, turun dari mobil itu dan berjalan di jalan setapak yang dibuat dengan bebatuan yang tertata rapi di sepanjang tepi jalan hingga tepat di emperan sebuah rumah. Pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu adalah Suko.
Saat berjalan menuju rumah itu, sekelebat Suko melihat sebuah rumah di sebelah rumah yang ditujunya, di teras rumah itu, di bawah lampu yang sangat terang, seorang laki laki duduk di sebuah kursi. Pandangan Suko kali ini tertuju pada laki laki yang duduk di kursi teras rumah itu.
"Orang itu, sepertinya tidak asing. Hmmm... Tapi siapa?" Gumamnya dengan terus menyusuri jalanan setapak itu.
Tak lama Suko berhenti tepat di depan sebuah pintu rumah yang tertutup. Suko mengetuk pintu rumah itu. Tak lama juga, terdengar jawaban seorang pria dari dalam rumah itu.
"Dik Suko." Sapa seorang laki laki ketika pintu itu terbuka.
"Mas Slamet, maaf bertamu malam malam. Apa Mbak Yu Gitun ada, Mas?" Tanya Suko pada laki laki pemilik rumah yang bernama Slamet itu.
__ADS_1
"Ada, Dik. Baru saja selesai sholat Isya'. Monggo pinarak dulu." Slamet mempersilahkan Suko masuk ke dalam rumah dan begitu tiba di dalam rumah itu, Slamet segera mempersilahkan Suko duduk di kursi ruang tamu itu.
Mendengar ada tamu yang datang, istri Slamet pun segera melihat ke ruang tamu.
"Dik Suko tho. Saya pikir siapa yang datang." Sapa perempuan bernama Gitun, istri Slamet.
"Maaf, Mbak Yu. Kebetulan lewat jadi sekalian mampir." Sahut Suko kemudian.
"Yasudah ngobrol dulu sama Kang Mas mu. Mbak Yu bikin minum dulu." Ucap Gitun sembari berjalan ke belakang.
"Nggak usah repot repot lho, Mbak Yu. Saya tidak lama." Suko nampak sungkan.
"Halah, Opo tho Dik Suko iku. Cuma air. Lagian lama nggak mampir, jadi nggak usah kesusu." Sahut Gitun setengah berteriak dari arah dapur yang tak jauh dari ruang tamu itu, jadi suara Gitun terdengar jelas oleh Suko.
Tak butuh waktu lama, Gitun pun sudah kembali ke ruang tamu itu membawa dua gelas teh hangat dan dua toples berisi kacang telor dan roti kering, lalu kemudian ikut duduk di sebelah suaminya.
"Lho, malah ngrepotin Mbak Yu, tho." Ucap Suko terdengar sungkan.
"Wis tho, ayo gek disambi. Sak anane." Sahut Gitun sangat ramah.
Suko kemudian meraih gelas teh di depannya dan menyesapnya sedikit. Sementara Gitun melihat ada sesuatu di wajah Suko.
"Sampeyan opo habis berantem Dik Suko? Kok Mbak Yu lihat itu ada memar biru biru di pipi Dik Suko." Tanya Gitun melihat luka memar di wajah Suko.
Suko hanya tersenyum, "Biasalah, Mbak Yu. Ada sedikit masalah."
Suko hanya tersenyum. Meski Gitun adalah Kakak iparnya, dan bahkan kini sudah menikah lagi dengan laki laki lain. Tapi baik Suko sudah menganggap Gitun seperti kakak kandungnya sendiri, begitu juga sebaliknya.
"Angga kemana, Mas?" Tanya Suko pada Slamet. Angga adalah anak Gitun dengan Slamet..
"Tadi ke masjid, sekalian ngaji sama Pak Ustadz, Dik." Sahut Slamet.
Suko hanya mengangguk ringan.
"Oh, iya Mbak Yu. Bekas rumah yang dulu saya kontrak, sekarang sudah ada yang ngontrak lagi ya?" Tanya Suko sesaat kemudian.
"Iya, Dik. Baru beberapa Minggu. Belum genap sebulan." Sahut Gitun.
Suko kembali mengangguk.
"Siapa yang ngontrak, Mbak Yu?" Tanya Suko kemudian.
"Mbak Yu masih jarang ketemu. Hanya beberapa kali saja bisa ngobrol tapi itu juga sama yang istrinya. Kalau suaminya jarang sekali terlihat keluar rumah. Istrinya namanya Bu Sarah. Kalau suaminya, Mbak Yu nggak tanya. Mereka sepertinya dari desa kecamatan sebelah. Mereka juga keluarga yang taat beragama. Anak gadis mereka, namanya Mbak Habiba. Bocahe ayu, Mbak Yu sempat ngobrol juga sama anaknya itu, tapi sekarang sudah kembali ke pesantren katanya." Gitun menjelaskan.
Suko sekali lagi hanya mengangguk. Ingatannya seketika terbuka, ia ingat ketika beberapa hari yang lalu Ari menemuinya dan meminta tolong untuk mencari alamat seseorang. Dan laki laki di teras rumah tadi yang sempat di lirik Suko, Suko yakin adalah orang yang dicari Ari.
"Beberapa hari yang lalu, Ari menemui saya, Mbak Yu." Ucap Suko kemudian.
__ADS_1
Seketika itu Gitun terkejut dan langsung menegakkan posisi duduknya.
"Ari, Dik? Terus sekarang dimana Ari?" Tanya Gitun memburu.
"Dia tidak lama, hanya ingin bantuan saya mencarikan alamat orang, itu juga permintaan temannya. Setelah itu dia langsung kembali ke Jogja. Saya sudah suruh mampir tapi anak itu sama keras kepalanya dengan Kang Dasman." Suko mengeluh.
Tiba tiba Gitun tidak bisa lagi menahan air matanya. Bagaimana tidak, sejak pernikahannya dengan Slamet, suaminya yang sekarang, Ari tidak pernah sekalipun menemuinya.
"Dia baik baik saja kan, Dik?" Tanya Gitun cemas.
Suko mengangguk. "Seperti yang sering saya kabarkan, Mbak Yu. Ari baik baik saja."
Slamet menyadari kegelisahan dan rasa rindu Gitun pada anaknya dengan suami sebelumnya, dia lalu mengelus pundak Gitun mencoba menenangkannya.
"Ini salah, Mbak Yu, Dik." Tangis Gitun semakin tidak lagi bisa ditahan.
"Sudahlah, Bune. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kalau dipikir bapak juga salah. Kita sama sama salah karena keegoisan kita." Slamet mengimbuhi.
"Benar kata Mas Slamet, Mbak Yu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi. Saya yakin dalam beberapa hari ke depan akan membawa Ari kesini." Ucap Suko penuh keyakinan.
"Apa mungkin Ari mau, Dik. Bukankah selama ini pun sampeyan sudah mencoba membujuknya. Hasilnya, Ari tetap tidak mau menemui saya kan?" Suara Gitun terdengar putus asa.
"Kali ini berbeda, Mbak Yu. Mbak Yu percaya saja sama saya." Suko meyakinkan Gitun. Gitun mulai memperlihatkan senyumnya.
Tak berselang lama, setelah menghabiskan segelas teh yang disuguhkan Gitun padanya, Suko pun pamit undur diri dari rumah itu. Gitun dan Slamet mengantar Suko sampai depan pintu. Saat berjalan menuju mobilnya, sekali lagi Suko menoleh rumah sebelah, laki laki itu sudah tidak ada disana. Suko segera bergegas menuju mobilnya.
Ketika sudah berada di dalam mobil, Suko tidak segera menyalakan mesin mobilnya, ia justru mengeluarkan ponsel dan melakukan sebuah panggilan. Tak lama terdengar suara dari seberang telfon.
"Ari, Pak Lek sudah dapat informasi alamat yang kamu minta." Ucap Suko setelah terdengar jawaban dari seberang.
"Benarkah, segera kirim ke saya, Lek." Ari alias Godril nampak bersemangat ketika mendengar itu.
"Nama istrinya Sarah, dan punya anak perempuan bernama Habiba, sekarang anaknya itu berada di pesantren." Ucap Suko pada Ari Godril.
"Hmmm, lalu alamat mereka, Lek?" Tanya Ari Godril setelahnya.
"Soal itu Pak Lek ada syarat untukmu, Le." Ucap Suko.
"Syarat? Syarat apa lagi, Lek?" Tanya Ari terdengar malas.
"Kamu datang dan temui emak mu. Kalau sudah disana, kamu telfon Pak Lek, dan Pak Lek akan kasih tahu." Ucap Suko tanpa basa basi.
"Ah, syarat macam apa ini, Lek. Tidak adakah syarat lain?" Ari membantah.
"Hanya itu. Tidak ada yang lain. Semua terserah kamu. Keputusan ada di tanganmu!" Setelah mengatakan itu Suko segera menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban Ari. Suko tahu, jika obrolannya diteruskan, yang ada Ari akan membantah dan beralasan, dan pada akhirnya Suko hanya akan kalah argumen dengan Ari. Terkesan licik, namun Suko tak punya pilihan lain. Bagaimana pun juga, ia ingin Ari bisa menerima Slamet sebagai bapak sambungnya, seperti halnya Slamet yang sejak awal menerima Ari bahkan seperti anaknya sendiri.
Setelah menutup telfon, Suko pun segera menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari tepi jalan depan rumah Gitun itu. Lampu terang dari mobilnya segera menembus jalanan gelap di sepanjang jalan desa itu.
__ADS_1
Bersambung...