BROMOCORAH

BROMOCORAH
Punakawan


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam lebih Dullah bersama Ajimukti dan Manan di rumah Prastowo menunggu kedatangan Anggoro. Kopi yang disuguhkan Prastowo pun sudah mereka minum setengahnya. Dullah nampak tidak sabar, beberapa kali ia menoleh jam di dinding rumah Prastowo yang berlatar belakang foto KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah itu.


"Sudahlah, Dul. Sabar dulu. Paling juga sebentar lagi Anggoro datang." Ucap Prastowo yang melihat Dullah beberapa kali melihat jam di dinding rumahnya.


"Iya, Lek. Mungkin bapak tadi Jum'atan nya agak lama di jalan." Imbuh Manan.


Dullah hanya mengangguk. Ajimukti menepuk lutut Dullah sekedar untuk menenangkan ketidak sabarannya.


Ditengah percakapan itu suara dari halaman rumah Prastowo suara mesin mobil terdengar mendekat dan berhenti.


"Itu suara mobil bapak." Ucap Manan seraya berdiri dari duduknya dan segera kedepan di susul Dullah, Prastowo dan Ajimukti.


Sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih berhenti dihalaman. Tak lama seorang berperawakan tambun keluar dari dalam mobil. Bersarung hijau kotak kotak dengan baju koko yang dibuka kancingnya beberapa. Dari wajahnya mengembang senyum yang merekah diantara kumis hitam dan lebat.


"Anggoro?"


"Dullah?"


Tanpa sungkan Dullah dengan langkah cepat berjalan ke arah Anggoro dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Piye kabar kon, Dul?" Tanya Anggoro kemudian.


"Sudah ngobrolnya di dalam saja. Ayo masuk dulu saja." Seru Prastowo dari teras rumahnya.


Dengan pancaran kebahagiaan Dullah dan Anggoro berjalan ke arah Prastowo, Ajimukti dan Manan berdiri menyambutnya.


"Kok lama, Pak? Lek Dul sudah gelisah dari tadi." Ucap Manan sambil menyalami bapaknya.


Anggoro hanya tertawa, "Sepurane. Saya tadi Jum'atan di jalan perbatasan. Agak lama." Jelas Anggoro kemudian.


Ajimukti pun segera menyalami Anggoro dan mencium tangannya.


"Ini?" Tanya Anggoro sarat keheranan.


"Ajimukti Aufatur Muthoriq." Sahut Dullah.


"Muthoriq?" Anggoro mengerutkan keningnya, "Jadi ini?" Lanjutnya.

__ADS_1


Dullah hanya mengangguk.


"Masya Allah." Seru Anggoro dan tanpa sungkan memeluk Ajimukti. Manan yang melihat itu nampak keheranan.


"Sudah ayo masuk dulu ta." Ajak Prastowo kemudian.


"Saya benar benar tidak menyangka, Dul." Ucap Anggoro kemudian.


"Seperti yang saya bilang waktu itu, San." Sahut Prastowo.


"Oh, iya ya. Sekarang nama kamu Hasan Basri ya?" Potong Dullah.


Anggoro hanya tertawa. "Disini, panggil saja Anggoro. Mau sekarang ganti nama Hasan Basri. Tapi saya tetap Anggoro yang dulu." Lanjut Anggoro.


"Mas, inilah Anggoro. Seperti yang sudah Pak lek ceritakan waktu itu." Ucap Prastowo pada Ajimukti.


"Senang bisa bertemu Pak lek. Semoga silaturahmi kita ini tetap terjaga, Lek." Ucap Ajimukti sedikit tertunduk.


"Pasti itu, Mas Aji. Pasti." Ucap Anggoro. "Dan ini. Abdul Manan anakku juga akan meneruskan perjuangan kita disini." Lanjutnya.


Manan sejak tadi masih tidak begitu paham dengan keadaan ini. Siapa sebenarnya Ajimukti ini, kenapa bapaknya begitu nampak bahagia bertemu dengan Ajimukti.


Dullah hanya membuka lebar tangannya. "Seperti yang kamu lihat, Ro." Lalu terbahak.


Anggoro hanya terbahak.


"Saya tidak menyangka, Ro. Sekarang kamu sukses seperti ini. Hebat kamu." Puji Dullah.


Anggoro tersenyum, lalu menepuk pundak Ajimukti, "Semua ini tidak lepas dari Kang Salim, Dul. Kang Salim mengajarkan saya untuk benar benar berubah. Berubah dalam segalanya, terutama ini," Anggoro menunjuk ulu hatinya.


"Seperti kata Kang Salim. Allah tidak akan melihat hambanya dari mana asalnya bagaimana masa lalunya. Tapi yang Allah lihat adalah kesungguhan dalam diri hambanya untuk mendekat kepadaNya, Dul. fa man tāba mim ba'di ẓulmihī wa aṣlaḥa fa innallāha yatụbu 'alaīh, innallāha gafụrur raḥīm, Maka barangsiapa bertaubat, sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Anggoro menghela nafasnya.


"Dan saya pun ingat, Dul. Kang Salim juga pernah berkata. Tidak akan rugi orang yang mau bertaubat, sebesar apapun dosa yang ia lakukan dimasa lalunya. Justru orang orang yang dengan sungguh sungguh mau bertaubat, dialah orang yang beruntung." Ucap Anggoro dan kembali menghela nafasnya. " Sekarang inilah bagian dari keberuntungan saya, Dul. Tapi semoga kelak disana" Anggoro menunjuk ke atas. "Saya pun golongan orang orang yang beruntung" Lanjutnya kemudian.


"Saya salut, Ro. Benar benar salut sama kamu." Lagi lagi Dullah memuji sahabatnya itu.


"Maaf, Pak. Memotong sebentar. Sebenarnya ada hubungan apa bapak dengan Ajik. Jujur saya belum paham." Ucap Manan kemudian, membuat seluruh pandangan tertuju ke arahnya.

__ADS_1


Anggoro merangkul pundak anaknya itu. "Nan, bapak sudah pernah bercerita tentang masa lalu bapak kan?" Ucap Anggoro kemudian.


Manan hanya mengangguk.


"Nah, Dullah ini tiga dari punakawan yang sering bapak ceritakan padamu." Lanjut Anggoro. Sekali lagi Manan hanya mengangguk.


"Punakawan, Lek?" Tanya Ajimukti yang sejak tadi diam.


"Iya, Mas. Begitu dulu kami menyebut diri kami berempat." Potong Prastowo. "Punakawan itu, ya saya sendiri, Anggoro, Dullah dan Kang Salim." Lanjut Prastowo.


"Itu dulu Pak Zaini mas yang menjuluki kami seperti itu." Sela Dullah.


"Kenapa punakawan, Lek? Apa karena kalian berempat?" Tanya Ajimukti lagi sarat penasaran.


"Itu juga salah satu alasannya, Mas. Tapi lebih dari itu kata Pak Zaini dulu, adalah tentang watak kami yang memang seperti dalam tokoh pewayangan, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Mas." Sahut Prastowo.


"Bisa Pak lek ceritakan itu, sepertinya menarik." Pinta Ajimukti.


Prastowo tersenyum, "Kang Salim itu ibaratnya seorang Semar bagi kami, selain sahabat dia juga bapak bagi kami bertiga, Mas. Saya sendiri di ibaratkan Gareng oleh Pak Zaini kala itu. Sementara Anggoro ini dia adalah seorang Petruk. Lalu..." Prastowo menghentikan ucapannya. Sejenak menghela nafas.


"Lalu apa, Lek?" Tanya Ajimukti nampak begitu penasaran.


"Dulu sebelum saya ikut Kang Salim. Seperti yang diceritakan Prastowo tempo hari, Mas. Ada satu lagi sahabat kami. Namanya, Dasman. Tapi sayang, karena kecelakaan membuat nyawanya tidak dapat tertolong." Potong Dullah.


"Dan sejak saat itu pula, Mas Aji. Dullah lah yang menjadi Bagong dalam punakawan ini." Lanjut Anggoro mengimbuhi.


Ajimukti tertegun. Ternyata begitu banyak kejadian yang sudah mereka lalui selama ini.


Prastowo kembali menghela nafas. "Yasudah saya lanjutkan ceritanya, kenapa kok kami di ibaratkan punakawan oleh Pak Zaini." Ucap Prastowo kemudian.


Ajimukti menyimak baik baik, pandangannya tertuju pada Prastowo.


"Tapi sebelumnya, mbok ya disambi dulu ini." Ucap Prastowo sembari mengarahkan jempolnya ke beberapa piring di meja. Ada gorengan, roti roti kering juga jajanan pasar yang lain.


"Kamu itu lho, Pras. Kenapa selalu repot repot." Seloroh Anggoro.


"Iya ini, Pras. Mentang mentang sudah menjadi juragan ayam potong." Imbuh Dullah sembari tertawa.

__ADS_1


Prastowo hanya ikut tertawa, "Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rohmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umroh, bukan begitu ya?" Ucapnya kemudian.


Bersambung...


__ADS_2