BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sipat Kandhel?


__ADS_3

Malam ini cukup terang tanpa mendung. Dan udara sekitar Pondok Hidayah pun tidak terlalu dingin. Ajimukti ditemani Dullah dan Manan sedang duduk di teras masjid menikmati kopi dan saling menghisap rokok ditangan masing masing.


"Saya masih tidak menyangka ternyata orang yang kita curigai dan sering memata matai Ajimukti itu teman sampeyan, Lek." Ucap Manan di tengah tengah perbincangan mereka.


"Jangankan kamu, Nan. Lha wong saya sendiri saja rasanya masih seperti mimpi kok, bisa bertemu Gandung lagi. Sudah dua puluh lima tahun sejak kejadian sore itu saya sama Gandung tidak lagi saling bertemu." Sahut Dullah sembari menghisap rokok kretek di tangannya.


"Lama juga ya, Lek?" Lanjut Manan.


"Nggak terlalu lama sih, Nan. Baru juga seperempat abad." Sahut Dullah cengengesan.


Manan hanya tertawa mendengar celetukan Dullah yang konyol itu.


"Tapi saya masih bingung soal bapak mertuanya itu, Lek. Emmm, memangnya benda benda bertuah itu apa saja ya, Lek? Dan apa itu bukannya termasuk musyrik?" Ucap Manan kemudian, yang kini mencoba menerawang membayangkan.


"Entahlah. Menurut sampeyan gimana, Mas Aji?" Tanya Dullah beralih pada Ajimukti.


"Entahlah, Lek. Tergantung niat si pemilik saja sih kalau menurut saya." Sahut Ajimukti juga sembari menghisap rokoknya.


Dullah mengangguk ringan lalu mematikan rokok kreteknya ke dalam asbak.


"Jadi memang ada ya Jik benda benda semacam itu?" Manan sedikit penasaran.


"Ya sebagai Wong Jowo, ya kita harus mengakui memang banyak yang meyakini benda benda tertentu sebagai benda bertuah, berkhasiat, linuwih dan bahkan tak jarang yang menganggapnya sebagai jimat lah, sipat kandhel lah dan lain sebagainya. Ya kembali lagi, karena kan di Jawa ini banyak sekali tradisi dan ajaran leluhur yang masih terus berkembang, ya salah satunya ya ilmu kejawen nya yang identik dengan pernak pernik seperti yang sering kita jumpai. Dan bahkan tak hanya di Jawa sih. Diluar Jawa pun ada kok yang mengoleksi benda benda yang dianggap berkekuatan magis." Ucap Ajimukti sedikit menanggapi pertanyaan Manan.


"Sipat kandhel? Itu maksudnya apa ya, Jik?" Manan terlihat asing dengan istilah yang Ajimukti sampaikan.


"Menambah kepercayaan diri, Nan." Sahut Ajimukti. "Kamu pernah dengar kan ada benda benda tertentu yang dianggap bisa membuat kebal si pemakainya, bisa menambah daya tarik bahkan bisa mendatangkan rejeki. Pernah dengar yang begituan kan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan hanya mengangguk.


"Ya seperti itulah. Tapi pada dasarnya, benda tetaplah benda. Kalau dipakai dengan niat sebatas aksesoris nggak masalah. Tapi kalau sudah mempercayai benda itu yang mendatangkan ini itu. Nah, itu yang nggak dibolehkan." Jelas Ajimukti.


"Semisal ini, Nan." Ajimukti melepas cincin akiknya. "Ini kalau saya percaya cincin ini bisa bikin saya punya daya tarik jika saya pakai, bisa dibilang saya syirik. Tapi kalau niat saya menjadikan cincin akik saya ini sebagai wasilah semoga dengan izin Allah setelah saya memakai cincin akik ini saya terlihat lebih menarik. Nah, itu baru dibenarkan, Nan." Lanjut Ajimukti.


"Innamal a'malu binniyat dong, Jik?" Sahut Manan sedikit cengengesan.

__ADS_1


"Ya simple nya begitu, Nan." Sahut Ajimukti, "Tapi kalau saya pribadi sih ini karena kenang kenangan dari bapak saya, Nan. Nggak lebih." Lanjut Ajimukti sembari memakai kembali cincin akiknya.


"Apa ada keterangan dalam hukum Islam, Jik? Saya sering lihat kan para Kyai Kyai rata rata banyak yang suka memakai cincin akik gitu. Kyai Aminudin juga memakainya." Tanya Manan Lagi.


"Saya pernah mendengar sedikit dari salah satu 'alim ulama Mataram beliau bernama Ustadz Muammar, Nan. Kata beliau, Rasulullah juga menggunakan cincin batu akik di jari kelingkingnya. Bahkan, katanya, Rasulullah menggunakan cincin batu akik sebagai stempel ketika mengirim surat penting ke sahabat sahabat beliau, itu bertujuan untuk menyakinkan para sahabat sahabat beliau bahwa surat itu memang dari Rasulullah. Tapi ya Wallahu a'lam bishawab, Nan." Ucap Ajimukti sembari sedikit menaikkan bahunya.


Manan mengangguk ringan, "Begitu ya, Jik?"


"Ada beberapa hadits juga yang meriwayatkan tentang Rasulullah yang juga memakai cincin yang terbuat dari perak dan mata cincin yang dipakai Rasulullah saat itu terbuat dari batu Habasyi." Sambung Ajimukti lagi.


"Batu Habasyi, Jik? Kok saya baru dengar ya, Jik." Manan terlihat mengerutkan kening.


"Gimana ya, Nan? Emmm, Begini. Ini dari beberapa buku yang saya baca ya, Nan. Wallahu a'lam bishawab. Jadi batu mata cincin Rasulullah itu dari jenis batu merjan atau semacam akik karena dihasilkan dari pertambangan batu di Habsyi dan Yaman. Ada pendapat yang mengatakan bahwa batu mata cincinnya itu berwarna seperti warna kulit orang Habasyi atau sekarang Etiopia, yaitu hitam. Tapi ada pendapat lain, Nan. Di dalam kitab al-Mufradat, batu cincin yang berasal dari Habasyi adalah salah satu jenis zamrud yang terdapat di Habasyi, warnanya hijau, bisa menjernihkan mata dan menerangkan pandangan." Ajimukti masih mencoba memberi gambaran pada Manan.


Manan sejak tadi hanya mengangguk mendengarkan setiap apa yang Ajimukti terangkan padanya.


"Lalu bukankah zamrud itu termasuk dalam barang mewah bahkan perhiasan ya, Jik? Emmm, bukankah makruh hukumnya laki laki memakai perhiasan?" Tanya Manan kemudian.


"Walah, gimana ya, Nan? Emmm, Menurut Imam Syafi’i hukum memakai batu mulia atau batu akik seperti batu yaqut, zamrud dan lainnya adalah mubah sepanjang tidak untuk berlebih lebihan dan menyombongkan diri. Setahu saya sih itu, Nan." Sahut Ajimukti kembali menyalakan rokoknya.


"Wah, ilmu ini, Jik. Selama saya mondok baru kali ini tahu tentang yang seperti ini." Ucap Manan sembari tertawa.


"Ya itu juga karena saya kebetulan baca baca saja, Nan. Lebih jelasnya ya tanyakan ke yang lebih mumpuni." Sahut Ajimukti merendah.


"Halah kamu ini, Jik. Sukanya begitu. Kan saya sudah pernah bilang."


"Iya tahu. merendahkan itu tugas orang lain kan?" Potong Ajimukti sembari tertawa dan kembali menghisap rokoknya.


Disaat mereka tengah asik asiknya tertawa tanpa mereka sadari suara dengkuran Dullah menghentikan mereka dan segera mengalihkan pandangan mereka ke arah Dullah yang ternyata sudah tertidur pulas bersandar pada tiang teras masjid.


Ajimukti hanya menggelengkan kepalanya melihat Dullah yang ternyata sudah mendengkur itu.


"Wah, berasa di dongengin ini Lek Dul ya, Jik." Ucap Manan yang juga melihat Dullah sudah tertidur pulas.


"Ya begitulah, Nan. Kalau sudah PW pasti deh gitu." Sekali lagi Ajimukti hanya bisa tertawa di ikuti Manan yang juga tak bisa lagi menahan tawanya.

__ADS_1


"Oh iya, Jik. Lusa Insya Allah bapakku mau kesini lagi." Ucap Manan setelah menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.


"Loh, ada apa lagi, Nan. Bukannya belum lama dari sini?" Tanya Ajimukti penasaran.


"Kemarin itu kan sengaja kesini karena di kabari Pak Dhe Pras kalau ada tamu yang mau ketemu bapak. Ya Lek Dul ini tamunya. Sama kamu." Sahut Manan.


"Terus kalau sekarang?" Tanya Ajimukti lagi.


"Biasa, Jik. Bisyaroh." Jawab Manan lirih sembari menaik naikan alis matanya.


Ajimukti hanya geleng geleng kepala.


"Lek Dul tidak usah dikasih tahu dulu lah, Jik." Manan berbisik.


"Loh lha kenapa, Nan?" Ajimukti mengerutkan keningnya.


"Biar surprise." Manan terlihat cekikikan.


"Halah, kirain apaan, Nan. Tapi boleh juga itu." Manan tertawa.


Ajimukti melirik jam ditangannya. "Sudah hampir jam sepuluh, Nan. Kita masuk saja. Yang lain juga sudah pada masuk kelihatannya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Terus ini, Lek Dul? Biar nunggu masjid atau gimana, Jik?" Manan masih saja berulah.


"Kualat kamu."


Manan hanya tertawa.


Ajimukti segera membangunkan Dullah. Dullah yang sempat tiba tiba terbangun sedikit kaget namun begitu sadar Dullah nampak malu menyembunyikan kedua matanya yang memerah karena pulas tertidur.


Begitu sudah sadar mereka pun segera kembali ke kamar mereka. Dullah nampak sempoyongan karena memang dirinya saat ini masih sangat mengantuk, sementara Ajimukti dan Manan justru cekikikan melihat Dullah yang seperti itu.


Namun tanpa mereka sadari begitu masuk halaman pondok mereka berpapasan dengan trio senior. Khalil dan Imam begitu beradu pandang dengan Ajimukti langsung menyembunyikan wajah mereka dibalik punggung Budi. Sementara Budi nampak menyeringai. Tatapan nya penuh kebencian dan amarah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2