BROMOCORAH

BROMOCORAH
Semangkok Soto


__ADS_3

"Kamu mau langsung kembali ke Hidayah, Dul?" Tanya Prastowo pada Dullah yang masih mencuci tangannya selepas dhuhur itu.


"Mau ke pasar dulu, Pras. Mumpung belum hujan." Sahut Dullah.


"Ke pasar? Mau cari apa? Kenapa tidak pagi tadi?" Tanya Prastowo lagi.


"Hanya mau cari colokan listrik, Pras. Soalnya yang dikamar itu agak kendho, kadang-kadang mak clap gitu kalau buat nyolokin." Sahut Dullah.


"Walah walah, lha apa mau tak anter?" Prastowo mencoba menawarkan diri.


"Halah, tidak perlu, Pras. Kayak jauh saja. Sudah mending itu kamu bereskan dulu, keburu hujan nanti." Sahut Dullah sembari menunjuk ke arah kandang ayam Prastowo yang masih berantakan.


Prastowo hanya kemudian tertawa, "Yasudah kalau begitu, Dul. Ini terima kasih sudah dibantu."


"Sebagai calon besan, Pras." Goda Dullah sembari terbahak.


Mendengar celoteh Dullah itu, Prastowo pun serta merta ikut terbahak bersamanya.


"Yasudah, saya pergi balik dulu, Pras. Wis rodok mrepet, takutnya kedisikan udan. Assalamu'alaikum..." Ucap Dullah yang kemudian berjalan meninggalkan rumah Prastowo.


"Yowis, Dul. Hati-hati. Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Prastowo kemudian hanya melambaikan tangan begitu Dullah berlalu.


Setiba di pasar, suasana masih cukup ramai mesti sudah lewat tengah hari. Masih ada beberapa orang yang kesana kemari berbelanja, juga para pedagang asongan. Beberapa tukang ojek dan sopir angkutan desa juga masih terlihat di beberapa pangkalan menunggu penumpang.


Dullah harus berjalan sedikit menepi karena ada beberapa jalan yang berlubang dan dipenuhi genangan air sisa hujan kemarin sore. Begitu tiba di toko yang dimaksudnya, Dullah segera membeli apa yang dicarinya selagi belum hujan ia ingin segera sampai pesantren.


"Brukkk...!!!" Ketika selesai membeli colokan dan memutar badan hendak meninggalkan toko itu, tiba-tiba Dullah bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf maaf, Pak. Bapak tidak apa apa?" Tanya seorang pemuda yang tanpa sengaja menabrak Dullah itu santun.


"Ah, tidak apa apa, Mas. Saya yang minta maaf karena tidak memperhatikan jalan sewaktu mau melangkah tadi." Sahut Dullah.


Namun ketika berinteraksi dengan pemuda itu, Dullah sedikit menciutkan keningnya, ada rasa tidak asing pada pemuda yang ditemuinya ini.


"Sebentar sebentar, sepertinya saya tidak asing sama kamu. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana?" Ucap Dullah pada pemuda itu sembari mengingat-ingat.


Mendengar itu, pemuda itu pun juga menyipitkan matanya dan memperhatikan Dullah dengan seksama.


"Sebentar, Pak. Saya juga merasa demikian." Ucap pemuda itu.


Namun sesaat kemudian pemuda itu tersenyum.


"Apa bapak ini Pak Abdullah atau biasa dipanggil Lek Dul? Dari Jogja?" Tanya pemuda itu tiba-tiba.


"Benar, Mas. Mas ini kok tahu? Berarti benar kita pernah bertemu kan?" Tanya Dullah kemudian.


"Benar, Pak. Kita pernah bertemu sekali dan itu sudah lama sekali. Di depan pondok Fadhlun Muthoriq. Waktu itu saya makan di warung makan. Kita sempat mengobrol, Pak." Ucap si pemuda itu.


"Oalah, iya iya iya, saya ingat, Mas. Kamu Arya kan?" Tanya Dullah setelah berhasil mengingat pertemuannya dulu dengan pemuda itu, Arya.


"Benar, Pak. Saya Arya. Terima kasih yang waktu itu, Pak." Ucap Arya kemudian.

__ADS_1


"Yang waktu itu?" Tanya Dullah dengan sembari mengingat-ingat saat pertemuannya dengan Arya kala itu.


"Soto semangkok, Pak. Terima kasih sudah mentraktir saya sotonya depan pondok waktu itu." Jelas Arya kemudian.


"Oalah, itu? Sudahlah, Mas. Hanya soal begitu saja. Dan lagi saya ikhlas. Anggap saja seperti saya njajakne anak dewe. Og iya, Mas. Bagaimana kabarnya sekarang, Mas? Sudah besar sekarang. Saya ingat waktu itu kalau tidak salah sampeyan baru lulus SMP kan?" Tanya Dullah kemudian.


"Benar, Pak. Alhamdulillah saya baik, Pak. Pak Dullah sendiri apa kabar? Dan maaf kalau boleh tahu kenapa bapak bisa ada disini?" Tanya Arya setelahnya.


Dullah tersenyum ringan, "Saya nderekne putra Kyai saya, Mas. Kalau Mas Arya sendiri, kalau boleh tahu kenapa bisa ada disini?" Tanya Dullah Balik.


Mendengar itu, Arya agak tersentak. Nderekne putra Kyai, jangan-jangan Dullah ini salah satu pendereknya Ajimukti, batik Arya dalam hati.


"Mas!" Dullah mengagetkan Arya ketika melihat Arya yang tiba-tiba tertegun.


"Ah, iya, Pak. Itu, saya kan asli sini, ya meski agak jauh dari sini rumah saya, Pak. Tapi saya sering ke pasar ini, Pak." Sahut Arya dengan sedikit salah tingkah.


"Oalah, begitu, ya ya ya." Dullah mengangguk anggukan kepalanya paham.


"Maaf, Pak. Apa bapak tinggal di Pondok Hidayah ujung jalan sana itu?" Tanya Arya kemudian.


Dullah mengangguk, "Benar, Mas. Kok Mas bisa tahu?" Tanyanya kemudian.


"Siapa sih Pak yang tidak tahu pesantren itu, apa lagi orang asli daerah sini." Sahut Arya kemudian.


Wajahnya sedikit tersenyum, membenarkan dugaan dalam hatinya bahwasannya Dullah memanglah penderek Ajimukti.


"Yah, kamu benar, Mas. Saya lupa, maaf maaf." Sahut Dullah merasa malu sendiri dengan pertanyaannya.


"Ini!" Sembari menunjukkan colokan dalam plastik kresek yang dibawanya, "Habis beli ini, Mas." Lanjutnya.


"Oh, begitu, Pak. Kalau tidak terburu-buru, bagaimana kalau kita mengobrol dulu, Pak. Karena waktu itu kita belum sempat mengobrol lama. Dan lagi soto di warung sana itu lumayan, Pak. Meski tidak seenak soto yang di depan pesantren Jogja waktu itu." Ajak Arya sembari menunjuk ke salah satu warung di depan tempat mereka berdiri.


Dullah tak langsung menjawab, melihat langit sepintas yang semakin nampak gelap karena mendung, sebenarnya ia ingin segera kembali ke pesantren sebelum hujan turun, tapi mengingat memang ia dan Arya sudah lama tidak bertemu, dan tidak enak untuk menolak ajakan Arya, akhirnya Dullah pun mengiyakan ajakan Arya padanya itu.


"Jadi ceritanya ini balas soto?" Celetuk Dullah.


"Iya, Pak. Kalau balas Budi, kebetulan saya punya teman namanya Budi. Dan tidak sedang disini, jadi tidak bisa saya balas. Salahnya Budi apa saya juga tidak tahu." Balas Arya sembari bercanda.


Mendengar guyonan Arya itu, Dullah pun tidak bisa menyembunyikan tawanya. "Ya ya ya, manut sajalah kalau begitu."


"Oh, iya, Pak. Anak bapak bukankah seumuran saya juga, apa kabarnya sekarang, Pak?" Tanya Arya sembari duduk di salah satu warung.


"Alhamdulillah, Nak. Anak saya juga ikut kesini. Karena anak Kyai saya yang saya derekne kan sekarang meneruskan pesantren itu. Anak saya disuruh bantu-bantu, begitu kira-kira." Sahut Dullah.


Arya mengangguk paham, tapi dalam hatinya berpikir, pastilah salah satu dari orang yang sering bersama Ajimukti. Tentulah sebenarnya Arya sudah tahu, meski belum pasti yang mana anaknya Dullah ini.


"Kamu sendiri setelah liburan waktu itu jadinya kemana? Lanjut ke SMA atau ke....?" Tanya Dullah.


"Seperti saran bapak waktu itu, akhirnya saya melanjutkan ke pesantren, Pak." Potong Arya.


Mendengar jawaban Arya itu seketika senyum Dullah mengembang.

__ADS_1


"Bagus, Cah bagus. Berarti sekarang kamu sudah wareg ilmu agama dong." Puji Dullah sembari menepuk pundak Arya. "Atau jangan-jangan malah sudah jadi ustadz?" Lanjut Dullah.


Mendapati pujian Dullah itu, Arya terbahak. "Tidak, Pak. Saya jadi seperti ini saja dulu. Menasehati diri sendiri saja saya belum bisa, apalagi jadi ustadz, Pak. Yang harus menasehati orang lain. Belum mampu saya, Pak." Sahut Arya.


"Yah, kamu benar, Mas. Anshah nafsak qabla nashah-alakharin, nasehati diri sendiri sebelum menasehati orang lain." Sahut Dullah sembari melempar senyum ke arah Arya.


"Karena menurut saya ketika belum bisa memberi petuah diri sendiri, akan percuma kok pak nuturi orang lain. Maaf itu seperti munafik menurut saya. Jadi saya ingin mernahne diri saya sendiri dulu sampai layak, ya layak bagi saya sendiri juga layak bagi orang lain. Toh, menjadi ustadz atau pengarep itu bukan kemauan kita semata, Pak. Tapi itu karena amanah orang, Pak. Sangat tidak pantas mengajukan diri untuk menjadi pengarep." Ucap Arya kemudian.


"Yah, kamu benar sekali, Cah Bagus. Sekarang ini memang banyak yang mengustadzkan, mengkyaikan dirinya sendiri. Entah itu di masyarakat atau di media media." Imbuh Dullah.


"Iya, Pak. Dan dari semuanya itu kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar ustadz, mana yang hanya mengaku ustadz, karena semuanya sama, Pak. Semua pandai bicara di depan umum." Tambah Arya lagi.


"Yah, untuk saat ini yang paling utama menjaga lisan, Mas. Karena seperti kata Abu Sa'id Al khudri, fain-astaqamtastaqamnaa, wa ina'wajajta'wajajnaa. Jika lurus lisan, luruslah seluruh badan. Namun jika lisan bengkok, bengkok pula seluruh badan. Bukan begitu, Mas?" Ucap Dullah kemudian.


"Benar sekali, Pak. Makanya saya takut sendiri kalau harus nuturi hanya karena saya pernah mondok. Karena itu tadi, Pak. Saya sendiri saja menjaga lisan saya saja kadang masih sering kepleset." Sahut Arya sembari sedikit terbahak.


"Yah, meski begitu, Mas. Saya doakan semoga kelak ilmu yang sampeyan dapatkan semasa di pondok bisa sampeyan amalkan. Karena Al'ilman nafi'an bil-'amalin kan, Mas. Ilmu itu manfaat jika diamalkan." Lanjut Dullah lagi.


"Aamiin, insya Allah, Pak." Sahut Arya.


"Oh, iya, kalau ada waktu mampir-mampir ke pesantren, Mas. Nanti saya kenalkan anak saya. Sekalian sama Gus nya juga, Mas. Kalian masih seumuran saya yakin akan gampang akrab." Ucap Dullah kemudian.


Mendengar perkataan yang seperti itu, Arya seketika menelan ludah. "I...insya... Allah, Pak. Sanes wekdal." Ucapnya sedikit tertahan.


"Saya senang, Mas. Senang melihat anak-anak seusia kamu ini semangat nyaket Gusti." Ucap Dullah sembari sedikit melengkungkan senyumnya.


Arya tak menyahut, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Karena dulu, seusia kamu ini, saya masih sedang sibuk-sibuknya bergulat dengan hawa nafsu, bergulat dengan hal-hal mudharat. Hah, kalau ingat itu, saya rasanya ingin kembali ke masa itu dan menghabiskan masa muda saya ngangsu ilmu sebanyak-banyaknya, Mas. Paling tidak saat tua seperti ini, saya tidak menjadi wong tuo gabuk." Ucap Dullah seolah mengenang masalalunya.


"Mencari ilmu itu kan tidak mengenal usia, Pak. Dan lagi percuma menyesali waktu yang sudah berlalu. Saya justru salut dengan Pak Dullah. Diusia bapak yang sekarang, bapak masih semangat menimba ilmu. Sementara sekarang banyak lho pak yang justru sibuk dengan hal hal dunia." Sahut Arya mencoba mengimbangi obrolannya dengan Dullah.


"Yah, benar, Mas. Meski terlambat tapi saya bersyukur. Setidaknya Allah masih memberi saya kesempatan untuk mengenal-Nya." Sahut Dullah dengan raut wajah sedikit berkaca.


Ditengah obrolan mereka, tak terasa langit diluar semakin hitam dan mendung yang sejak tadi mulai memenuhi langit kini sudah mulai lelah menampung air hujan. Seketika hujan deras pun mengguyur pasar dan sekitarnya.


"Walah, sudah hujan saja, Mas." Ucap Dullah sembari melihat cuaca diluar warung.


"Iya, Pak. Akhir-akhir ini kalau sudah lepas dhuhur pasti langit langsung gelap, tahu-tahu hujan." Sahut Arya.


"Kita disini dulu saja, Pak. Yah, sampai hujan reda." Imbuhnya.


"Iya, Mas. Sudah terlanjur hujan. Balung tuo, sudah tidak berani main hujan-hujanan ini." Sahut Dullah sembari terkekeh.


"Benar, Pak. Di cuaca seperti sekarang ini, kita memang harus lebih lagi menjaga kesehatan." Balas Arya membenarkan.


"Oh, iya, Pak. Kalau boleh tahu, nama Gus nya yang mengasuh pesantren siapa, Pak? Yah, karena meski pun pesantren itu cukup dikenal disini, tapi tidak semua tahu nama pengasuhnya. Lagi pula, sepertinya ini pengasuh baru kan ya, Pak?" Tanyanya kemudian.


"Benar, Mas. Guse memang belum lama menjadi pengasuh di Pondok Hidayah. Dulunya pengasuhnya namanya Kyai Aminudin. Kyai Aminudin ini dulu membantu ngurus santri-santri semasa Pak Kyai masih ada. Tapi setelah Guse selesai mondok, kepengurusan pesantren di kembalikan ke Guse sebagai penerus tunggal Pak Kyai. Nama Guse Ajimukti Aufatur Muthoriq. Biasa di panggil Gus Aufa. Tapi disini lebih dikenal dengan nama Ajimukti." Jelas Dullah dengan suaranya yang agak dinaikan karena bertaut dengan suara deras hujan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2